
Selamat Membaca ~
Sarah mengerjapkan matanya, hari sudah pagi. Tidak terasa, hari bahagianya dengan Andreas akan berlangsung dalam waktu kurang dari tujuh hari. Ia berguling, berpindah posisi menghadap sisi lain kamarnya.
Hari ini Ia dijadwalkan untuk mulai melakukan perawatan sebelum pernikahan. Teringat akan hal itu, Ia pun segera bangkit dari tidurnya. Ia meregangkan tubuhnya di samping tempat tidur kemudian berjalan kea rah meja riasnya. Ia memandang pantulan dirinya di cermin.
Apakah aku benar – benar siap? Apakah aku cukup layak? Apakah aku akan bahagia setelah menikah dengannya nanti? Apakah dia akan tetap bersikap seperti laki – laki dingin padaku setelah menikah?
Jemarinya mengusap wajahnya perlahan. Isi pikiran tadi terus – menerus berputar di dalam kepalanya akhir – akhir ini. Sikap Andreas yang masih saja terlalu dingin baginya membuatnya merasa kurang percaya diri.
Ah, sudahlah. Lebih baik aku bersiap – siap saja.
Setelah bersiap – siap, Sarah meraih ponselnya. Ia mengirim pesan singkat kepada Andreas tentang jadwalnya hari ini.
Hari ini aku akan melakukan perawatan yang sudah dijadwalkan. Apakah kau bisa menjemputku nanti? Kita bisa makan siang setelahnya.
Sarah menatap ponselnya beberapa detik, berharap Andreas akan segera membalas pesannya. Namun, tentu saja yang baru saja Ia hubungi adalah Andreas. Ia kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan masuk ke dalam taksi yang sudah Ia pesan tadi.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Setelah sekitar 3 jam, Sarah telah selesai melakukan serangkaian perawatan yang telah dijadwalkan. Ia duduk manis di sebuah sofa nyaman di ruang tunggu body spa. Ia membuka aplikasi pesan singkat dan melihat pesan yang Ia kirim kepada Andreas tadi pagi belum dibaca oleh Andreas.
Ia mendengus kesal. Ia mencari sebuah nomor di ponselnya dan segera melakukan panggilan telepon.
“ Apakah kau di rumah? Kau sibuk? Ayo kita bertemu. Aku tunggu di café biasa. “ berondong Sarah tanpa jeda dalam sekali napas kemudian menutup panggilan teleponnya.
Sarah membuang napas kasar. Ia merasa kesal sekali. Dasar manusia kutub!
Ia kemudian keluar dan masuk ke dalam taksi yang sudah stand by di depan body spa.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Sementara itu, di mansion Hartawan ~
“ Siapa? “ tanya seorang pria dengan suara berat dan napas terengah – engah.
“ Sarah. “ jawab Nia dengan wajah bingung bercampur napas yang memburu. Tubuhnya penuh dengan keringat karena baru saja menyelesaikan olahraga berat satu ronde dengan suaminya.
“ Mau apa dia? “ tanya Rendra dengan posisi masih menindih tubuh Nia.
“ Dia ingin bertemu di café biasa. Sepertinya dia sedang sangat marah. “ jawab Nia kemudian meletakkan ponselnya di atas meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya.
“ Abaikan saja dulu. “ bisik Rendra di telinga kanan Nia dengan suara dan napas berat.
Nia merasa geli tapi juga bergairah.
“ Sarah sudah menungguku. “ ucap Nia dengan geli karena Rendra terus saja bermain dengan jarinya di pinggang Nia.
“ Dia akan mengerti. “ bisik Rendra lagi di telinga Nia.
Rendra mulai mencumbunya lagi, membuat Nia tidak dapat bergairah dan tidak dapat menolaknya. Dan akhirnya, ronde kedua mereka lakukan saat itu juga.
Maaf ya Sarah, aku yakin suatu saat kau akan mengerti. Batin Nia di tengah – tengah olahraga beratnya.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Sarah berdecak kesal. Ia menyeruput ice thai tea nya. Ini sudah gelas kedua dan Nia tidak juga muncul menunjukkan batang hidungnya.
Ke mana anak ini! Sudah sejam lebih aku menunggunya. Gerutu Sarah.
Akhirnya, yang ditunggu datang juga. Seorang wanita dengan midi dress berwarna biru pastel baru saja keluar dari mobil dan berlari kecil kea rah café.
Sarah menatap tajam ke arah Nia yang menghampirinya. Datang dengan senyum anak polos wajah tidak berdosa.
“ Sudah satu jam lebih aku menunggumu. “ gerutu Sarah.
“ Maaf, maaf. Aku ada urusan mendesak tadi. Jadi harus segera diselesaikan. “ sahut Nia sambil menangkupkan kedua tangannya.
Nia membolak – balikkan halaman pada buku menu kemudian menunjukkan jari telunjuknya ke sebuah gambar.
“ Mas, mau ice matcha latte satu yah. Salad tuna juga yah, satu. “ ucap Nia ramah.
“ Baik, saya ulangi pesanannya. Satu ice matcha latte dan satu salad tuna. “ ucap waitress itu dengan hati – hati.
“ Yap, terima kasih. “ sahut Nia kemudian menyerahkan lagi buku menu kepada waitress.
“ Kenapa kau tiba – tiba menelpon dan meminta bertemu segera? Di sini? Di jam segini? “ tanya Nia.
“ Kau terdengar sangat kesal tadi. “ sambungnya.
Sarah memperhatikan Nia dengan seksama. Ada sesuatu yang mengganjal pada Nia. Ada yang mengganggu penampilan Nia siang ini. Tapi apa ya? Batin Sarah.
“ Kenapa kau hanya diam? “ tanya Nia dengan wajah bingung.
Sarah masih memperhatikan Nia.
“ Got you! “ pekik Sarah.
“ Apa? Ada apa? “ tanya Nia.
“ Lehermu! “ seru Sarah sambil menunjuk ek arah leher Nia.
Nia yang mulai panik segera mencari sebuah scarf di tasnya dan memasangnya di lehernya.
“ Apakah sangat terlihat jelas? “ tanya Nia malu – malu.
Sarah mendelik.
“ Aku sudah berusaha menutupinya dengan menggunakan concealer. “ ucap Nia malu.
“ Kau! Kau membuatku menunggumu lama karena kau masih asik bercinta di siang hari? Di jam segini?! “ seru Sarah emosi.
Dengan cepat Nia menutup mulut Sarah dengan kedua tangannya.
“ Sstt!! Kau gila?! “ bisik Nia.
Sarah melepas tangan Nia yang menutup mulutnya.
“ Kau ini! Tega sekali membuatku menunggu karena itu! Seperti tidak ada waktu dan kesempatan lain saja! “ gerutu Sarah lagi.
“ Iya iya, maafkan aku. “ ucap Nia dengan wajah penuh penyesalan.
“ Sekarang katakana padaku, kenapa kau tadi terdengar sangat marah? Apa ada masalah besar? “ tanya Nia.
Ya, masalah besar. Walau Sarah bisa dibilang memiliki karakte rlebih meledak – ledak disbanding Nia, tapi Ia juga lebih dewasa. Ia selalu bisa tenang dalam menghadapi berbagai masalah.
Seorang waitress datang dengan membawa pesanan Nia. Ia meletakkan makanan dan minuman pesanan Nia dengan perlahan di atas meja. Kemudian waitress itu meninggalkan Nia dan Sarah yang sudah siap untuk melanjutkan perbincangan serius mereka.
“ Sekarang ayo, katakan padaku. “ ucap Nia lagi.
Sarah terdiam, Ia nampak berpikir.
“ Aku… “ ucap Sarah terputus.
Kenapa firasatku tidak enak? Tanya Nia dalam hati setelah melihat wajah Sarah yang berubah drastis.
“ Aku pikir, aku harus memikirkan ulang tentang pernikahanku dengan Andreas. “ ucap Sarah dengan wajah datar.
“ HAH?! “ pekik Nia membuat seisi ruangan menoleh ke arah mereka
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Mohon dukungannya yah ❤