Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part. 143 Sebuah Trauma



Selamat Membaca ~


Saat ini, sebuah SUV hitam yang dikawal oleh sebuah mobil lain yang juga berwarna hitam melaju kencang menuju sebuah rumah sakit yang ada di Phnom Penh. Jalanan yang masih relatif sepi mempermudah dua mobil itu mencapai tujuan yang mereka tuju.


Setelah sampai, Andreas segera keluar bergegas keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang. Dibantu oleh agen yang lain, Ia membantu Sarah keluar dari mobil dan membantunya duduk di kursi roda.


Sedangkan Rendra juga segera membantu Nia. Ia menggendong tubuh Nia yang sudah sangat lemah ke dalam ruangan unit gawat darurat.


Darah segar yang mengalir di kaki Nia membuat Rendra merasa takut. Takut kehilangan calon anak mereka, dan takut kehilangan Nia.


Setelah meletakkan tubuh Nia di salah satu bed ruang ugd, dokter meminta semua orang untuk menunggu di ruang tunggu.


Rendra mengacak rambutnya frustasi, Ia sudah membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.


Melihat saudaranya sedang terpuruk, Andreas datang menghampiri Rendra yang terduduk lesu di kursi ruang tunggu. Ia menepuk pelan bahu Rendra kemudian duduk di samping Rendra.


" Tenang. Saat ini, hanya doa yang bisa membuat kejaiaban terjadi. " ucap Andreas.


Rendra tidak menyahut, Ia hanya terdiam. Kepalanya terus menunduk, menatap noda darah yang ada di celana dan sepatunya. Noda darah yang Ia dapat saat tadi membopong tubuh Nia.


" Jika terjadi sesuatu pada Nia dan calon anak kami, aku benar - benar tidak akan melepaskan Jason. " gumamnya.


" Tentu saja. Kita harus membuatnya benar - benar tidak lolos kali ini. " sahut Andreas.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Di sisi lain, Anton masih bersama agen lainnya, termasuk Andra dan Zyco. Mereka sedang menunggu polisi lokal untuk membantu mereka membawa Jason dan seluruh anak buahnya.


Tommy dibantu seorang agen sedang menekan luka tembak pada bahu dan kaki Jason untuk mengurangi resiko pendarahan.


Jason terus menerus mengerang kesakitan saat lukanya ditekan. Mendengar suara erangannya, Anton yang sudah tidak sabar menghampirinya dengan wajah jengah.


" Tutup mulutmu! Hanya luka segini saja kau terus saja merengek berteriak kesakitan! " hardik Anton.


" Diam kau laki - laki tua! " sahut Jason yang masih saja bisa mengeluarkan kata - kata kasar walau sedang dalam keadaan terluka.


Anton berlutut menghadapkan wajahnya ke arah wajah Jason. Tangan kanannya meraih wajah Jason dan mencengkeram geraham Jason.


" Kau! Sudah tidak berdaya begini saja masih banyak sekali bicaramu! " ucap Anton seraya mendekatkan wajahnya ke arah Jason.


" Tentu saja, apa lagi yang bisa dimiliki oleh sampah masyarakat sepertimu, selain mulut besarmu? " lanjut Anton.


Jason terpaku mendengar hinaan Anton kepadanya. Ia tidak berkutik dan hanya diam saja.


Setelah sekitar 10 menit, tiga buah mobil polisi berjenis truck dan sebuah ambulance datang. Petugas kepolisian lokal yang datang berjumlah sekitar 20 orang itu kemudian menggiring semua anak buah Jason. Karena sedang terluka, Jason dibawa dengan menggunakan ambulance namun tetap dengan pengawalan ketat.


Anton dan sisa agen yang ada di sana ditugaskan oleh Andreas untuk ikut mengawal polisi lokal membawa anak buah Jason dan Jason ke tempat yang seharusnya.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Pagi menjelang, waktu menunjukkan pukul 7 pagi waktu setempat. Sudah dua jam Nia berada di ruang tindakan. Sarah pun masih ada di dalam ruangan unit gawat darurat. Rendra dan Andreas masih tetap menunggu di kursi tunggu dengan perasaan gelisah.


" Keluarga Sarah valencya Hanggono. " panggil seorang perawat wanita di depan pintu ruang unit gawat darurat.


" Ya, saya. " sahut Andreas reflek.


" Mari ikut dengan saya. " ucap perawat itu.


Seolah mengerti, Rendra menepuk pelan pundak Andreas. " Pergilah, mungkin tindakan pada Sarah sudah selesai. Dia pasti membutuhkanmu. "


Andreas mengangguk kemudian beranjak menghampiri perawat itu.


" Mari, ikut saya. Dokter jaga ingin berbicara dengan Anda. " ucap perawat itu.


" Anda keluarga Sarah Valencya Hanggono? " tanya dokter.


" Ya, betul. " jawab Andreas.


" Aoa hubungan keluarga Anda dengan pasien? " tanya dokter.


Andreas terdiam sesaat, kemudian menjawab dengan penuh keyakinan, " Saya calon suaminya. "


" Baiklah, saya akan menjelaskan kondisi pasien. Pasien Sarah menderita dehidrasi sedang sehingga mengalami kenaikan suhu tubuh. Tekanan darahnya juga sedikit rendah sehingga harus memerlukan banyak istirahat. Kami sudah memberikan cairan infus untuk mengurangi dehidrasi dan menurunkan suhu tubuhnya. " jelas sang dokter.


" Pasien juga mengalami retak pada tulang jari telunjuk dan jari tengah kanan. Tapi tenang saja, tidak parah dan akan bisa segera pulih. " lanjutnya.


Andreas mendengarkan dengan tenang. Syukurlah, Sarah pasti bisa cepat pulih, batinnya.


" Tapi nampaknya, apa yang telah dialami oleh pasien telah menimbulkan semacam gangguan stabilitas emosinya. " ucap dokter.


" Maksud Anda, bagaimana dokter? " tanya Andreas.


" Sepertinya pasien Sarah seperti mengalami semacam trauma. Ia sempat histeris tadi saat kami hendak menberikan tindakan, sehingga kami terpaksa memberinya obat penenang. " jawab dokter.


Perasaan Andreas seketika berubah menjadi sedih. Siksaan apa yang telah kau terima samlai kau histeris dan trauma seperti itu? Apa yang sudah mereka lakukan padamu? Batin Andreas trenyuh.


" Saat ini pasien sedang tertidur. Saya minta Anda untuk mendampingi pasien ketika Ia sadar. Dan saya sarankan Anda untuk membawa pasien ke rumah sakit yang lebih baik, rumah sakit yang memiliki psikiater untuk membantu mengatasi permasalahan trauma yang dialami oleh pasien. " ucap dokter lagi.


" Baik, Dokter. Terima kasih. " sahut Andreas.


Kemudian dokter itu pamit untuk memeriksa pasien gawat darurat lainnya yang baru saja datang ke ruang unit gawat darurat.


Andreas berjalan lesu ke arah ruang tunggu, tempat di mana Rendra masih terduduk dengan lesu menunggu hasil pemeriksaan Nia.


" Jadi, bagaimana dia? " tanya Rendra.


Andreas tersenyum simpul.


" Dokter mengatakan, Sarah mengalami dehidrasi sedang dan demam. Tulang jarinya juga retak tapi tidak parah. " jawab Andreas.


" Hanya saja... " ucapnya terputus.


" Hanya saja? " tanya Rendra.


" Dokter mengatakan Sarah sepertinya mengalami trauma. Ia histeris tadi saat akan diberi tindakan pengobatan. Dokter terpaksa memberi obat penenang agar Sarah bisa beristirahat. " jawab Andreas.


Rendra menepuk pelan bahu saudaranya itu. " Tenanglah, Sarah adalah wanita kuat seperti Nia. Dia pasti bisa melalui ini semua. "


Andreas mengangguk.


Tiba - tiba...


" Keluarga pasien Karunia? " panggil seorang dokter di depan ruang tindakan gawat darurat. Seorang perawat juga telrihat berdiri di belakang dokter itu.


Rendra dan Andreas segera beranjak dan menghampiri sang dokter.


" Ya, saya Dokter. Saya keluarga Karunia, saya suaminya. " ucap Rendra.


Wajah dokter itu nampak sedih. Melihat ekspresi sang dokter, membuat Rendra dan Andreas semakin cemas.


" Katakan bagaimana keadaan istriku dan calon anak kami! " seru Rendra yang sudah tidak dapat membendung isi pikirannya yang kalut.


" Maafkan kami, Tuan. " sahut sang dokter dengan kepala tertunduk.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍