Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 36. Membungkam



Pukul 20.00 di Denpasar, Bali.


Terlihat seorang laki - laki bertubuh tegap sedang duduk santai di sebuah kursi di tepi kolam renang. Tubuhnya berotot, namun tidak berlebihan. Garis wajahnya tegas dengan alis yang tebal berwarna hitam.


Laki - laki itu sedang memegang ponselnya dan terlihat sedang tersenyum sendiri ketika sedang melihat ke arah ponselnya. Laki - laki itu meraih gelas berisi minuman dan meminumnya seteguk kemudian meletakkan lagi gelas itu di meja.


Seorang laki - laki bertubuh tegap lain menghampiri laki - laki yang sedang duduk santai di kursi itu. Laki - laki itu membawa sebuah i-pad, kemudian menyerahkan i-pad itu kepada laki - laki yang masih asik dengan ponselnya.


" Anda terlihat sangat senang. " ucapnya.


" Tentu saja. Apa ini? " tanya Rendra sambil menunjuk ke arah i-pad yang diserahkan oleh Andreas.


" Jadwal kegiatan Anda besok. Semua kegiatan dijadwalkan selesai pukul 12 siang. Kita akan ke bandara segera kemudian kembali ke A dan diperkirakan tiba di sana pukul 14.00. " jawab Andreas dengan jelas.


Rendra melihat ke arah i-pad. Membaca detail jadwal kegiatannya besok. Dia pun kembali tersenyum.


" Saya akan mengabari orang - orang di kantor dan mansion untuk mempersiapkan kedatangan Anda. " ucap Andreas kemudian merogoh ponsel di saku celananya.


" Jangan! " ucap Rendra setengah berteriak.


Andreas terkejut. Akhir - akhir ini dia merasa Rendra berubah menjadi orang yang terlalu ekspresif. Batinnya.


" Biarkan jadi kejutan. " ucap Rendra.


Andreas memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya. Mengerti betul apa yanh diinginkan Rendra.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Di hari rencana kepulangan Rendra, Ia benar - benar merasa sudah tidak sabar untuk segera bisa melihat Nia. Berulang kali Ia melihat ke arah jam tangannya.


Andreas yang sedari pagi memperhatikan kelakuan sepupunya hanya bisa menghela napas. Ia tahu betul Rendra benar - benar sudah tidak sabar bertemu dengan Nia.


Tiba - tiba Rendra memberi kode kepada Andreas untuk mendekat kepadanya. Andreas yang menangkap kode itu segera berjalan mendekat ke arah Rendra yang duduk di depan ruang rapat.


Andreas membungkukkan badannya agar bisa mendengar intruksi yang akan diberikan oleh Rendra.


" Tidak bisakah dipercepat? Ini sudah jam 10. " ucap Rendra.


" Maaf Tuan, waktu tersisa dua jam lagi. Harap bersabar. " jawab Andreas.


Rendra terlihat kesal dengan respon Andreas. Yah, mau bagaimana lagi. Pekerjaan di sini harus selesai sebelum kembali ke Kota A. Batin Andreas.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Di Ruangan Kerja Divisi Co & Creative, pukul 14.15


Nia terlihat sibuk membawa tumpukan kertas ke ruangan Bu Ratna. Tadi pagi Ia sudah mencetak hasil kerjanya dan siap menyerahkan kepada Bu Ratna. Namun, Lala secara tidak sengaja menumpahkan kopinya ke tumpukan kertas hasil pekerjaan Nia.


Nia tidak memperbesar masalah itu. Toh, human error bisa terjadi di mana saja dan oleh siapa saja, pikir Nia. Walau sebetulnya Ia merasa kesal kepada Lala.


Sejak beberapa hari lalu Nia sebetulnya merasa Lala seperti mencari masalah terus dengannya. Mulai dari selalu membicarakan Nia di belakangnya, tidak mau terlibat dalam satu project dengan Nia, hingga tidak mau mengerjakan tugas bagiannya walau itu sangat mendesak.


Tetapi Nia tidak ambil pusing, selama Ia bisa mengerjakan dan menyelesaikan walau sendiri, Ia akan mengerjakan dan menyelesaikan dengan baik.


tok tok tok


Nia mengetuk pintu ruangan Bu Ratna. Kemudian Ia masuk ke dalam sambil membawa tumpukan kertas hasil pekerjaannya.


Terlihat Bu Ratna sedang berbicara dengan seseorang melaluo telepon. Sepertinya sedang sangat serius.


Bu Ratna memberi kode pada Nia untuk meletakkan laporan di meja dan menunggu Bu Ratna menyelesaikan panggilan teleponnya. Menangkap kode itu dengan jelas, akhirnya Nia berjalan ke arah meja Bu Ratna dan meletakkan hasil pekerjaannya di meja Bu Ratna dan Ia pun duduk di kursi.


Setelah Bu Ratna menyelsaikan panggilannya, beliau mengambil hasil pekerjaan Nia dan terlihat membolak - balikan kertas. Seperti sedang mencari sesuatu.


" Nia. " ucap Bu Ratna.


" Iya Bu? " Nia kemudian beranjak dari kursi dan berjalan ke hadapan Bu Ratna.


" Tidak boleh seperti ini! " ucap Bu Ratna setengah emosi.


Nia terkejut. Apanya yang tidak boleh? batinnya.


" Kau tidak boleh mengambil alih pekerjaan Lala! " ucap Bu Ratna, kali ini dengan penuh emosi.


" Jangan semua hal kau kerjakan sendiri seolah hanya kau saja yang bisa dan mampu bekerja di sini! " lanjut Bu Ratna.


" Untuk apa kau ambil bagian pekerjaan Lala? " tanya Bu Ratna.


" Maaf Bu, saya tidak pernah mengambil bagian pekerjaan Lala. Untuk berpikirann sepertu itu saja tidak pernah. " jawab Nia.


" Saya tidak suka kamu seperti ini. Jika kamu begini, staff lain tidak akan bisa berkembang. " kali ini nada bicara Bu Ratna lebih rendah daripada sebelumnya.


" Maaf, maksudnya bagaimana ya Bu? " tanya Nia tidak mengerti.


Bukan pura - pura tidak mengerti, tapi memang Ia tidak mengerti.


" Ya, saya mendapat laporan katanya kau mengambil alih semua pekerjaannya. Kamu ambil alih, karena Ia tidak becus bekerja. " jawab Bu Ratna.


Nia semakin tidak mengerti.


" Untuk apa kau berbuat seperti itu? Demi pujian? " tanya Bu Ratna.


" Kerjakan dengan baik bagianmu, maka kau akan cukup mendapat pujian. Tidak perlu dengan mengambil alih pekerjaan orang lain dan menganggapnya tidak becus. " lanjut Bu Ratna.


" Maksud Ibu? Saya merasa tidak pernah berbuat demikian. " ucap Nia.


" Lala tadi menyampaikan demikian. Ingat intropeksi. Saya tidak suka kejadian seperti ini terulang lagi. " ucap Bu Ratna.


" Silakan kembali ke ruanganmu. " ucap Bu Ratna lagi.


Dengan hati yang merasa sakit, Nia keluar dari ruangan Bu Ratna. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan, dan Bu Ratna hanya menyalahkan dia terus menerus.


Nia kembali ke ruangannya bermaksud untuk mengonfirmasi langsung pada Lala. Jangan sampai situasi bekerja menjadi tidak enak.


Dengan tergesa Ia berlari ke arah ruangannya dan segera menuju meja kerja Lala.


" Aku ingin bicara. " ucap Nia memecah keheningan ruangan.


Lala dengan malas melihat ke arah Nia. Tangannya masih asik memainkan ponselnya.


" Ayo kita bicara. " ucap Nia lagi.


Lala masih menatapnya dengan sinis. " Bicara saja. "


" Tidak di sini. " ucap Nia.


" Kalau mau, ya katakan saja di sini. Sekarang. " ucap Lala ketus. " Kau tidak berani? "


" Bukan perkara berani atau tidak. " jawab Nia. " Ayo kita bicara di luar. " ucap Nia lagi.


" Aku bilang katakan di sini! Ya katakan di sini! " tiba - tiba Lala berbicara dengan nada tinggi.


Seisi ruangan kini menatap ke arah keduanya. Tidak ada yang berani melerai ataupun menenangkan. Mereka tau karakter Lala keras dan suka mencari ribut.


Nia menghela napas sambil memejamkan matanya sesaat.


" Ya sudah, kalau maumu begitu. " ucap Nia.


" Apa yang kau sampaikan ke Bu Ratna? " tanya Nia.


" Kenapa kau bilang aku mengambil alih pekerjaanmu, dan sengaja membuatmu tidak bisa belajar? " tanya Nia.


Lala tersenyum sinis.


" Bukankah kenyataan? Memang kau itu tidak suka kan padaku? Makanya kau ambil alih pekerjaanku? Jadi supaya kau yang dapat pujian dan aku terlihat bodoh?! " bentak Lala.


Nia tetap berusaha tenang.


" Bisa - bisanya kau berkata begitu? Bukankah kau sendiri yang tidak mau mengerjakannya? " tanya Nia.


" Kapan?! " Lala membentak seraya mendelikkan matanya.


Raya berjalan mendekati mereka berdua, berupaya untuk melerai. Namun Nia memberi kode agar Raya tetap di tempat. Nia takut, Raya akan terkena imbasnya.


" Kemarin kau bilang kalau aku buru - buru, kerjakan saja semuanya sendiri. " jawab Nia.


" Ya kan kalau buru - buru? Kenapa juga kau jadi manusia tidak sabaran?! Kemarin aku sangat sibuk! " Lala tidak mau kalah.


" Kau juga tau kan, hari ini sudah harus dikumpulkan. Makanya, data kemarin sudah harus selesai untuk aku olah. " jawab Nia.


" Terus kalau kau yang suruh, aku harus menuruti perintahmu?! Kau pikir kau siapa?! " tanya Lala, masih dengan nada tinggi.


" Atau kau kira, kau sudah berhasil memenangkan hati Tuan Narendra?! Makanya kau jadi sok! " bentak Lala.


" Wanita murahan! Halu! " bentak Lala lagi.


Nia terlihat shock. Ia bahkan hanya terdiam. Seisi ruangan benar - benar terkejut dengan apa yang baru saja Lala katakan.


" Wanita murahan! Kau tawarkan muka dan badanmu yang pas - pasan itu ke Tuan Narendra kan?! " Lala terus saja menghina Nia tanpa jeda.


" Cukup. "


Tiba - tiba terdengar suara berat dari arah pintu masuk ruangan. Tidak membentak, namun teedengar dingin dan mengintimidasi.


Seluruh orang di dalam ruangan mengarahkan pandangannya ke arag sumber suara. Mendadak wajah Lala berubah menjadi pias.


" **.... Tuan? " ucap Lala terbata.


Ya, Tuan Narendra yang sedari tadi diungkit Lala sudah ada di dalam ruangan.