
ting
Ponsel Rendra berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk Ia terima.
Lapor Tuan, saat ini Nona Nia sedang makan siang di restoran ujung jalan dekat perusahaan bersama dengan seorang laki-laki. Data sudsh kami cari, laki-laki itu adalah Ardian.
Ardian dengan cepat membalas pesan itu.
Selidiki tentang laki - laki itu
Setelah pesan terkirim, Rendra mengajak Andreas untuk menyusul Nia ke restoran. Andreas hanya menuruti perintah atasan sekaligus sepupunya itu sambil menggelengkan kepalanya. Apa lagi kali ini yang akan dia perbuat, batin Andreas.
- Di Restoran -
Mata Rendra dan mata Ardian saling bertemu. Terasa ada kilatan petir di tautan mata mereka. Nia masih saja bengong dengan wajah kepiting rebusnya. Dan Andreas? Ia hanya berdiri sambil menikmati adegan kilatan petir yang ada di depannya.
" Sayang, kenapa tidak mengajakku juga? Aku juga lapar. " ucap Rendra sambil mengalihkan pandangannya ke Nia.
Nia salah tingkah. Apa lagi ini yang sedang Ia rencanakan?
" Kenapa diam? " tanya Rendra sambil mengusap kepala Nia lembut.
Wajah Nia semakin menjadi merah padam. Ia masih tidak menjawab pertanyaan Rendra.
" Sepertinya anda membuat Nia merasa tidak nyaman. " ucap Ardian dengan senyum sebelah.
" Begitukah? " kini Rendra menatap Ardian. Terasa kilatan petir kedua menuala lagi di tautan pandangan mereka.
Merasa suasana semakin tidak merasa nyaman, Nia berusaha menyudahi kilatan - kilatan menyetrum di antara kedua laki - laki itu.
" Dokter Ardian, perkenalkan ini Tuan Narendra. Atasan saya, pemilik perusahaan tempat saya bekerja. " ucap Nia sambil menunjuk sopan ke arah Rendra.
" Narendra. " ucap Rendra sambil menyodorkan tangannya, mengajak Ardian berjabat tangan.
" Ardian. " balas Ardian sambil menjabat tangan Rendra.
Jabatan tangan yang terlihat keras itu tidak segera terlepas. Justru semakin erat dan voltase kilat pada tatapan mereka semakin meningkat.
Nia segera melepaskan jabatan tangan itu sambil tertawa garing. " Oke, mari kita sudahi jabat - menjabat ini. "
Ardian dan Rendra melepaskan jabatan tangan tangan mereka dengan wajah yang sama - sama masih kaku. Andreas tetap saja tidak berkutik. Dengan setia Ia masih berdiri dan menikmati adegan seru di depannya.
" Tuan Andreas, silakan bergabung duduk bersama kami. " Nia menawarkan kursi kosong di samping Ardian kepada Andreas.
" Tidak. Terima kasih. " ucap Andreas singkat kemudian Ia berjalan ke arah meja bar yanh ada di restoran itu.
Nia mencebik. Nggak asisten, nggak bosnya sama aja. Beku. gerutu Nia dalam hati.
" Jadi, Anda adalah atasan Nia? " tanya Ardian basa - basi.
Rendra tersenyum sambil memicingkan matanya. " Kurang jelas tadi apa yang dikatakan Nia? "
Ardian tersenyum tidak kalah sinisnya. " Lantas kenapa atasan ini datang ke sini di saat bawahannya sedang makan siang? Apa anda tidak khawatir dengan gosip? "
Rendra membalas senyuman sinis Ardian dengan tawanya. " Hahaha, apa yang perlu dikhawatirkan. Nia memang milikku. " ucapnya sambil merangkul pundak Nia.
Nia mulai mengeluarkan keringat dingin. Apa yang dua orang ini sedang lakukan. Orang 'orang mulai menatap ke arah kami. Nia mulai gelisah menatap sekeliling mereka.
" Milik Anda? Sejak kapan? Setau saya, Nia masih bebas. Tidak terikat. " Ardian mulai berwajah serius kali ini.
" Sebentar lagi kami akan menikah. " jawab Rendra santai. Tapi tidak dengan Nia.
Nia menoleh ke arah Rendea dengan mata membulat. Beruntung mulutnya tidka ikut terbuka. Benar - benar CEO satu ini, seenak jidat. Batin Nia.
" Masih akan, kan? " tanya Ardian diikuti dengan tawa ejekannya. " Masih ada jalan untukku. "
Rendra melepaskan pelukannya dari pundak Nia. Ia mencodongkan badannya maju ke arah Ardian. " Coba saja. Semoga kau berhasil. " ucapnya angkuh.
Ardian menggertakkan giginya dan menatap dingin ke arah Rendra. Rendea hanya membalas tatapan itu dengan senyuman mengejek. Kemudian Ia memberi kode ke Andreas dan beranjak dari duduknya.
" Sayang ayo, sudah selesai kan makannya? " ajak Rendra.
Rendra mengulurkan tangannya ke arah Nia. Nia hanya terdiam, masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi di depannya. Ia menatap ke arah tangan Rendra namun tetap bergeming.
" Aku pamit dulu dokter Ardian. Terima kasih sudah meluangkan waktu. " baru selesai bicara tangannya sudah ditarik oleh Rendra.
Ardian masih duduk terpaku melihat Nia yang ditarik oleh Rendra. Laki - laki itu telah mengajakku bersaing rupanya. Batin Andreas.
Nia berlari kecil mengikuti langkah cepat Rendra di depannya. Langkahnya yang tidak sepanjang Rendra membuatnya sedikit kewalahan mengimbangi langkah Rendra. Karena terburu - buru, Nia bahkan tersandung kakinya sendiri dan hampir terjatuh. Beruntung Rendra dengan sigap menangkap tubuh Nia sebelum terjatuh.
" Hati - hati. " ucap Rendra masih dengan wajah dan nada dingin.
Nia mencebik. Bagaimana bisa aku mau hati - hati. Kau menarik tanganku dan berjalan sangat cepat. Gerutu Nia dalam hati.
Setelah memastikan Nia tidak kenapa - kenapa. Rendra membuka pintu mobil depan dan memberi kode Nia agar dia masuk ke situ. Nia menurut dan masuk ke dalam mobil situ karena tidak mau terkena masalah.
" Andreas. Kau kembalilah ke kantor. Pesan taksi saja. " perintah Rendra kemudian Ia masuk ke dalam mobil.
Sudah mulai kambuh rupanya. Cinta gila. Gerutu Andreas dalam hati. Ia menyesal mengikuti Rendra hari ini. Ia mengambil ponselnya dsn menelepon seseorang.
" Kalian pantau Tuan Narendea dari jauh. Ingat jaga jarak aman. " perintah Andreas, kemudian Ia mematikan panggilan itu.
Setelah mobil Rendra menjauh dan tidak terlihat, Andreas menghentikan sebuah taksi dan menaikinya. Ia kembali ke perusahaan.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Rendra mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Terlihat ekspresi menahan emosi di wajahnya. Nia hanya terdiam, Ia tidak berani bersuara. Sudah lewat jam makan siang, tapi Ia tidak mungkin kena semprot kan. Dia kan sedang pergi mengikuti CEO berhati dingin ini. Bukan untuk membolos bekerja.
Marcedes-maybach berwarna hitam itu melaju membelah jalanan yang tampak lengang. Rendra menyalakan musik, The world as I see it milik Jason Mraz dimainkan dengan volume pelan. Sekedar bersuara, hanya untuk memecah kesunyian.
Beberapa menit kemudian mobil itu terparkir di taman kota. Di bawah rimbunnya pohon - pohon di area taman kota. Musik masih mengalun lembut. Kedua manusia itu masih terdiam. Sepertinya asik dengan isi pikirannya masing - masing.
" Aku tidak suka kau pergi makan siang dengan laki - laki lain. " Rendra membuka pembicaraan.
Nia terdiam sejenak kemudian bertanya, " Kenapa? "
" Bukankah sudah kubilang, kau milikku? " Rendra berbalik tanya.
" Iya, lalu kenapa? " tanya Nia lagi.
" Aku cemburu. " jawab Rendra dengan tatapan tajam ke arah Nia.
Nia tercekat. Ia belum pernah memiliki hubungan sehingga Ia tidak tahu jika Rendra merasa cemburu. Ia menundukkan kepalanya. Merasa tidak enak.
" Angkat kepalamu. Tatap aku. " ucap Rendra.
Dengan takut - takut, Nia mengangkat kepalanya. Menatap Rendra dengan wajah takut.
" Jangan takut, aku hanya ingin menatap wajah gadisku. " ucap Rendra sembari mengusap lembut kepala Nia.
" Nia, kau mau kan jadi kekasihku? " tanya Rendra.
Nia tidak menjawab. Ia masih menatap wajah Rendra, berusaha mencari celah. Ia takut Rendra hanya sedang bercanda.
" Aku tidak bercanda. Maukah kau jadi kekasihku ? " Rendra mengulangi pertanyaannya.
Nia masih menatap mata Rendra lekat - lekat. Ia tidak melihat kebohongan di situ. Perlahan Ia menganggukkan kepalanya.
" Jawab dengan suaramu. Jangan hanya mengangguk. " ucap Rendra dengan senyum tertahan.
" I.. Iya, aku mau. " jawab Nia.
Rendra segera memeluk setelah mendengar jawaban Nia. Ia memeluk Nia dengan sangat erat. Terbawa suasana, Nia pun membalas pelukan Rendra. Merasa pelukannya dibalas Rendra tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.
Alunan lembut Dandelions milik Ruth B. membuat mereka berdua terbawa suasana. Mereka melepaskan pelukannya. Rendra mengusap pelan kepala Nia, menatap satu persatu bagian wajah Nia, kening, alis, mata, hidung, dan kini pandangan Rendra berhenti di bibir Nia. Merasa Rendra sedang menatap bibirnya, reflek Nia menggigit ujung bibirnya karena gugup. Seperti sudah tak sanggup untuk menahan lebih lama, Rendra menangkup wajah Nia, Ia pun mendekatkan wajahnya.
Napas memburu terdengar dari keduanya, wajah Nia sudah memerah lagi. Rendra semakin mengikis jarak, mendekatkan hidung mancungnya ke hidung mancung Nia. Terdiam beberapa saat, kemudian menggesekkan puncak hidungnya pada puncak hidung Nia. Napas terdengar makin memburu dari keduanya.
tok tok tok tok tok
Terdengar ketukan di pintu mobil membuat keduanya terkejut dan segera menjaga jarak.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Hayoooo udah mulai traveling nih jangan - jangan hehee, sabar yaaaa teman - teman readers. Akan tiba di waktu yang tepat hihi