
Selamat Membaca ~
Rendra sedang berada di president suite room saat seseorang menggedor cepat pintu kamarnya.
Ia segera bangkit dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ia mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu, ternyata Andreas dengan wajah panik yang sedang menggedor pintu kamarnya.
Rendra membuka pintu kamar dan kebingungan melihat wajah panik Andreas. Wajahnya basah, penuh dengan keringat.
" Masuk dulu. " ajak Rendra.
Andreas mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Rendra.
" Tenanglah dulu, " ucap Rendra.
Rendra mengajak Andreas untuk duduk terlebih dahulu di sofa yang ada di dalam kamarnya.
Andreas duduk dan berusaha mengatur napasnya.
" Ada apa? " tanya Rendra.
" Sarah. Sepertinya Sarah sedang dalam masalah. " jawab Andreas panik.
" Ada apa dengan Sarah? " tanya Rendra.
Andreas menunjukkan ponselnya. Tangannya gemetaran saat menunjukkan isi pesan singkat yang dikirim oleh Sarah.
Rendra mengambil ponsel itu dan mengamati dengan seksama, Ia melihat pesan singkat terakhir Sarah hanya berisi lokasi terkini yang dikirim hampir 8 jam yang lalu.
" Kenapa dia berbagi lokasi terkini? Apa dia selalu seperti ini? " tanya Rendra.
Andreas menggeleng.
" Ia tidak pernah seperti ini. " jawab Andreas.
" Dia mengirimkan sekitar jam 4 sore. Jam normal dia menjemput Nia kan? " tanya Rendra.
" Ya, sepertinya dia sedang dalam perjalanan untuk menjemput Nia tapi kemudian dia mendapat masalah. " jawab Andreas.
" Di mana lokasi terakhirnya? " tanya Rendra.
Andreas segera memeriksa lagi ponselnya. Ia mengawasi lokasi terakhir Sarah.
" Ini adalah pelabuhan. Pelabuhan Kota I. " jawab Andreas.
" Simpan semua yang ada. Jadikan sebagai bahan bukti. " perintah Rendra.
" Sudah. " jawab Andreas.
" Apa kau sudah mencoba untuk menghubunginya? " tanya Rendra.
" Berulang kali. Tapi dia tidak mengangkatnya. " jawab Andreas.
" Kenapa kau tadi tidak segera menanyainya ada apa sebenarnya dengan dirinya? " tanya Rendra.
" Tadi kita sedang meeting. Setelah meeting, ternyata ponselku kehabisan baterai. Dan aku lupa untuk mengisi dayanya. " jawab Andreas.
" Semua ini salahku! semua ini salahku! " ucap Andreas seraya meraup wajahnya dengan kasar.
" Tenanglah. Aku akan mencoba menelepon Nia. Mungkin dia tau sesuatu. " ucap Rendra.
Andreas mengangguk. " Aku akan meminta Anton untuk segera kembali terlebih dahulu ke Indonesia. "
" Ya, suruh dia segera kembali. Biarkan Andra dan Jessie tetap di Finlandia. " ucap Rendra.
Rendra berjalan ke samping tempat tidur dan mengambil ponselnya. Ia memeriksa aplikasi pesan singkatnya. Tidak ada pesan masuk, waktu menunjukkan sudah lewat tengah malam.
Nia pasti sudah tidur. Batinnya.
Ia mencoba menelepon Nia. Tapi, teleponnya tidak terhubung dan justru dialihkan. Tidak biasanya Nia mematikan ponselnya seperti ini, batin Rendra.
Tiba - tiba perasaannya tidak enak.
Ia mencoba menelepon Nia berulang kali, namun tetap saja panggilannya tidak terhubung.
" Bagaimana? " tanya Andreas dengan wajah cemas.
" Teleponnya tidak aktif. " jawab Rendra.
" Mungkin dia tertidur, tapi dia tidak pernah mematikan ponselnya seperti ini. " ucap Rendra, Ia mulai gusar.
" Anton. Apa dia sudah terhubung? " tanya Rendra.
" Ya, dia akan segera kembali. Ia akan sampai besok malam waktu Indonesia. " jawab Andreas.
Rendra sedikit lega.
" Ya, selamat malam Tuan? " ucap seseorang di seberang sana, yaitu Bi Habsya.
" Malam Bi Habsya, maaf mengganggu waktu istirahatnya. Apakah Nia ada di mansion? " tanya Rendra.
" Terakhir bibi melihat ada Tuan, " jawab Bi Habsya.
" Jam berapa? " tanya Rendra.
" Sekitar jam 8 malam, Tuan. Terakhir Nyonya masuk ke kamar sekitar jam 8 malam. " jawab Bi Habsya.
" Bi, bisakah kau memeriksa keadaan Nia di kamar? " pinta Rendra.
" Tuan, apakah ada sesuatu yang terjadi? " suara tenang Bi Habsya berubah menjadi seperti sedang terburu - buru.
" Periksa dulu, Bi. " pinta Rendra.
Ia berjalan mondar - mandir. Dinginnya ruangan karena penyejuk ruangan tetap tidak dapat menurunkan suhu tubuh Rendra dan Andreas malam ini.
Terdengar derap langkah cepat di panggilan. Sepertinya Bi Habsya berlari dari kamarnya menuju kamar Rendra dan Nia.
tok tok tok
" Nyonya... " panggil Bi Habsya.
tok tok tok
" Nyonya... " panggil Bi Habsya lagi.
tok tok tok
" Tuan, tidak ada jawaban dari Nyonya. " jawab Bi Habsya.
" Buka pintu kamarnya Bi, Nia tidak pernah mengunci pintu kamar saat sendiri di kamar. " ucap Rendra.
" Baik Tuan, " jawab Bi Habsya.
Perlahan Bi Hasya membuka pintu kamar. Dan benar saja, tidak ada siapapun di dalamnya.
" Kosong Tuan, Nyonya tidak ada di kamar. " ucap Bi Habsya.
Bi Habsya segera berjalan menuju kamar mandi. Kosong.
Ia kemudian berjalan menuju ruang ganti, dan kosong juga.
" Nyknya Nia tidak ada di mana pun, Tuan. " suara Bi Habsya mulai cemas.
" Bi, tenang. " sahut Rendra.
" Sekarang Bi Habsya, temui kepala penjaga. Minta mereka memeriksa cctv. " perintah Rendra.
" Baik Tuan. " jawab Bi Habsya.
" Segera kabari aku perkembangannya Bi, " ucap Rendra.
" Baik, Tuan. " jawab Bi Habsya.
Kemudian Rendra mengakhiri panggilannya.
Pikirannya kalut, memikirkan hal - hal buruk yang bisa saja terjadi pada Nia dan Sarah.
" Bersiaplah Andreas. Kita kembali ke Kota A malam ini. " ucap Rendra.
" Baiklah, aku akan menghubungi pengawal kita agar mereka juga bersiap. " ucap Andreas
Rendra membalas dengan anggukan singkat.
Ia segera bersiap untuk segera kembali ke Kota A malam ini. Pikirannya tidak tenang, perasaannya tidak karuan malam ini. Ia benar - benar merasa tidak enak, ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikirannya malam ini.
Nia... Nia... Ke mana kau sayang? Apa yang terjadi denganmu?
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍