
Seperti biasa, Nia minta diturunkan di ujung jalan oleh Rendra. Ia memasang ear buds dan memutar lagu kesukaannya melalui aplikasi pemutar musik. Ia berjalan dengan santai ke arah gedung tempat Ia bekerja. Cuaca cerah hari ini membuat semangatnya meningkat berkali - kali lipat dari biasanya.
Ia bertemu dengan beberapa orang rekan kerjanya. Seperti biasa, Ia menyapa rekan kerjanya dengan ramah. Tapi, kenapa mereka justru tersenyum aneh? Seperti... Sedang tersenyum sinis. Biarkan saja, mungkin hari mereka sedang kurang baik. Batin Nia.
Nia berjalan melalui lobby kantor dengan santai. Asik dengan dunianya sendiri. Ia bernyanyi dengan volume kecil, tak menyadari orang - orang sedang menatap dan membicarakan dirinya.
Saat lift terbuka, Ia bertemu mata dengan Rendra. Sontak Ia menunduk, dan menahan langkahnya.
Rendra menatap Nia. Kenapa Ia tidak masuk? tanyanya dalam hati.
Andreas yang kali ini cukup peka pun, meminta Nia masun ke dalam lift. " Silakan masuk. "
Nia mengangkat kepalanya, terdiam sesaat dan akhirnya masuk ke dalam lift. Suasana canggung kembali muncul di dalam lift. Andreas, Rendra, dan Nia hanya terdiam.
Di lantai selanjutnya lift berhenti, seseorang hendak masuk namun Ia menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak terkejut dan melihat ke arah Rendra dan Nia secara bergantian.
" Masuk. " perintah Rendra dengan nada dingin.
Staff tersebut akhirnya menurut dan masuk ke dalam lift. Keempat orang did alam lift hanya diam dan tak bersuara.
Nia turun di lantai 10, tempat di mana divisi Co & Creative berada. Ia berjalan dengan santai ke arah meja kerjanya. Masih belum menyadari orang - orang sedang menatap dan membicarakan dirinya.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
tok tok tok
Nia membuka pintu ruangan Bu Ratna kemudian masuk ke dalam setelah diberi isyarat ijin masuk oleh Bu Ratna.
" Bu Ratna, ini laporan yang Anda minta. " ucap Nia sambil menyerahkan sebuah map plastik berwarna biru muda.
" Ya ya, kau taruh situ. " ucap Bu Ratna sambil menunjuk ke arah rak kecil di samping meja.
" Baik, " ucap Nia lalu berjalan ke arah rak yang dimaksud.
Ia hendak berbalik menuju mejanya lagi tetapi Bu Ratna memanggilnya.
" Karunia. " panggil Bu Ratna.
Nia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. " Ya Bu? "
" Kemarilah. Aku ingin mengajakmu bicara. " ucap Bu Ratna.
Kemudian Nia dan Bu Ratna berjalan ke arah kursi dan meja kecil di ujung ruangan Bu Ratna.
" Ada apa Bu? " tanya Nia.
Apakah ada kesalahan yang susah kuperbuat? Atau pekerjaanku kurang baik? tanyanya dalam hati.
" Begini, Karunia. Apa kau mendengar desas - desus yang ada akhir - akhir ini? " tanya Bu Ratna.
Nia tampak mengingat - ingat kejadian yang akhir - akhir ini terjadi di kantornya. " Sepertinya, saya belum mendengan kabar terbaru Bu. " jawab Nia.
" Begini Nia, memang kita itu ada kalanya harus sadar dengan kapasitas diri. " ucap Bu Ratna membuatnya bingung.
" Jadi, kita tidak boleh memaksakan suatu keadaan sesuai dengan kehendak kita. " lanjut Bu Ratna.
Nia kebingungan. Ada apa ini? Kenapa tiba - tiba membahas ini? Batin Nia. Ia hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakan Bu Ratna.
" Tidak baik bagi staff biasa seperti kita, apalagi staff baru sepertimu merayu - rayu laki - laki di tempat kerja seperti ini. Apalagi kalau yang kau rayu adalah atasan kita sendiri. " lanjut Bu Ratna lagi.
Nia semakin kebingungan. Keningnya mengkerut.
" Maaf, maksudnya bagaimana ya Bu? " tanya Nia.
" Ya, seperti yang saya katakan tadi. Tidak baik merayu laki - laki apalagi atasan sendiri di tempat kerja. " jawab Bu Ratna sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Nia terdiam. Ia masih berusaha mencerna.
" Iya, tapi saya tidak paham dengan maksud perkataan ibu. " jawab Nia.
" Nanti juga kau akan mengerti. Sekarang kembalilah bekerja. " ucap Bu Ratna kemudian beranjak dari kursi.
Bu Ratna berjalan kembali ke meja kerjanya. Nia pun pamit dari ruangan Bu Ratna. Masih beljm bisa memahami maksud perkataan Bu Ratna.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Sore ini Nia pulang sendiri. Rendra masih meeting conference dengan kolega - koleganya sehingga mereka tidak bisa pulang bersama.
Tadinya Rendra meminta Andreas untuk mengantar Nia pulang, tapi Nia menolak dengan alasan ingin mampir membeli sesuatu terlebih dahulu. Akhirnya Rendra mengijinkan namun tetap dengan pengawalan dua bodyguard secara diam - diam.
Nia memesan ojek online menuju sebuah pusat perbelanjaan. Ia ingin membeli beberapa buku dan menyalurkan hobinya, yaitu berjalan. Olahraga sekaligus cuci mata, begitu prinsip Nia.
Setelah sampai, Ia segera menuju toko buku dan mencari buku - buku yang ingin Ia beli. Saat sedang mencari - cari, Ia tak sengaja bertemu dengan Yudit dan Nura. Mereka adalah staff Hartawan Group dari divisi produksi.
Nia berjalan mendekati hendak menyapa mereka. Namun langkahnya terhenti saat Ia tak sengaja mendengar percakapan mereka.
" Karunia, semakin menjadi. Beberapa waktu lalu Ia jadi bahan gosip karena merebut Tuan Narendra dari Lucy Oong. " ucap Nura.
" Tapi saat itu sudah ada press con kalau sebetulnya mereka tidak pernah bertunangan kan? " sahut Yudit.
Nura terlihat membolak - balikkan halaman buku yang sedang Ia pegang. " Iya, tapi kan tetep aja. Masa cuma staff biasa. Anak baru lagi! PD bener ngedeketin Bos Hartawan. "
" Denger - denger hutang keluarganya banyak. Makanya matre tuh dia! Ngedektin Bos kita. " lanjut Nura.
" Katanya sih, ngejar - ngejar bos kita biar dibantu ngelunasin hutang keluarganya. Sampe rela kasih badannya gitu. " lanjut Nura lagi.
" Masa sih gitu? " tanya Yudit seperti masih tisak percaya.
Nura menutup buku yang sedari tadi hanya Ia bolak - balik saja halaman isinya. " Iya! Tau nggak? Kemarin dia sampe pulang bareng juga loh sama Bos. Dih! Gak tau malu! " lanjut Nura.
" Jangan - jangan udah sampe tinggal serumah! Atau sekamar? " ucap Nura membuat hati Nia merasa teriris.
" Wih, pake pelet apa tuh? Tokcer bener. " sahut Yudit.
" Dukunnya kuat! Hahaha " kekeh Nura diikuti Yudit yang juga tertawa.
Kemudian Yudit dan Nura berjalan keluar dari toko buku. Meninggalkan Nia yang masih menunduk sambil memegang sebuah buku yang hendak Ia beli.
Ia meletakkan kembali buku yang sedari tadi Ia pegang untuk Ia beli. Ia meninggalkan toko buku itu.
Dengan hati sedih, Ia berjalan menyusuri selasar pusat perbelanjaan itu menuju ke arah toilet. Penjaga yang ditugaskan oleh Andreas hanya bisa menjaga dari luar toilet.
Nia terduduk lesu di dalam toilet. Ia merenungkan apa saja yang tadi Ia dengar. Apa sebegitu buruknya Ia di mata orang - orang? Apa salahnya menjadi orang yang kekurangan? Apakah menjadi dosa? Apakah kemudian tidak boleh memiliki hubungan dengan orang yang kebetulan memang "lebih" darinya? isi piiirannya saat ini hanya itu.
Penjaga yang bertugas mengawasi Nia masih setia menunggu di depan toilet. Namun mereka mulai gusar karena Nia sudah 30 menit di dalam toilet dan tidak kunjung keluar dari toilet.
Beberapa menit kemudian Nia keluar dari toilet. Ia berjalan dengan loyo keluar dari pusat perbelanjaan. Ia masih belum menyadari bahwa ada dua orang pria yang sedang mengawasinya dari tadi.
Ia berjalan kaki tanpa tau arah yang Ia tuju. Langit mulai gelap, namun Ia tetap melangkahkan kakinya tanpa tujuan. Ia bahkan mengabaikan dering panggilan masuk di ponselnya.
Apa aku harus pindah lagi saja dari rumah Rendra? Sebaiknya begitu. Tidak baik jika belum ada ikatan pernikahan tapi tinggal dalam satu atap. Walau untuk alasan keselamatan sekalipun. Batinnya.
Kedua bodyguard masih menjaga jarak aman dari Nia. Mereka menjaga jarak sekitar 15 meter dari Nia agar tidak terlalu mencolok jika nereka sedang mengawasi Nia.
Nia memindahkan posisi selempang tasnya dari ke pundaknya yang lain saat tiba - tiba ada orang yang berusaha merebut tas yang Ia kenakan.
Apa aku sedang dijambret? Batin Nia sambil masih berusaha mempertahankan tas yang Ia kenakan. Ia bahkan terseret mengikuti tas yang sedang direbut oleh penjambret yang berada di atas motor.
Kedua bodyguard yang ditugaskan menjaganya segera berlari ke arah Nia. Namun telat, tas milik Nia berhadil direbut oleh penjambret dan Nia terjatuh.
" Kejar penjambret itu! " titah salah seorang dari mereka melalui panggilan ponsel.
Salah satu dari bodyguard itu membantu Nia bangkit. Tampak ujung matanya memar karena teratuk ujung trotoar. Bagian tubuh lainnya pun mengalami luka lecet.
Matilah aku! Bisa - bisa Tuan Narendra mengahajarku habis - habisan! Batin mereka.
" Nona Nia, tenanglah. Tasmu akan segera kembali. " ucap salah satu dari mereka seraya membantu Nia berdiri.
" Mari kita ke rumah sakit dulu untuk mengobati luka - luka Anda. " ucap bodyguard yang lain.
Tak lama, sebuah mobil berjenis sedan berwarna hitam berhenti dan seseorang keluar dari sana untuk membuka pintu mobil.
" Silakan masuk Nona. " ucap salah satu dari bodyguard itu.
Nia yang masih tercengang hanya mematuhi apa yang sikatakan oleh bodyguard itu.
Aduh, semoga segera didapat. Aku harus transfer cicilan hutang. Batin Nia.
- di ruangan CEO Hartawan Grup -
Andreas nampak sedang menerima panggilan dari seseorang melalui ponselnya. Wajahnya menegang.
" Kau urus secepatnya. Jangan sampai gagal. " ucapnya kemudian memutus panggilan.
Rendra masih melakukan meeting conference dan Andreas tidak mau mengganggu. Setelah Rendra mengakhiri meeting, barulah Andreas mendekati Rendra dan memberi tahu perihal kejadian yang dialami Nia.
" Kenapa kau baru bilang?! " Rendea segera beranjak dari kursinya.
" Maaf, Anda sedang sibuk tadi. " jawab Andreas
" Sesibuk apapun aku, Nia adalah prioritas bagiku! " ucap Rendra.
Ia mengambil jasnya yang menggantung di gantungan.
" Di mana Nia sekarang? " tanya Rendea tidak sabar.
" Nona Nia sudah dibawa ke rumah sakit untuk penanganan luka yang Ia alami. " jawab Andreas.
" Apa? Dia terluka?! " Rendra benar - benar terlihat marah.
" Awas saja mereka semua. Akan kuberi mereka pelajaran. " ucap Rendra.
Ia berjalan dengan langkah cepat menuju lift dan menekan tombol lift dengan tidak sabar.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Apakah penjambret itu akan berhasil ditangkap?
Ketangkep ngga nih? Yuk, dibaca lanjutannyaaa ❤