Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 26. Di Sisi Lain



Seseorang nampak berjalan terburu - buru di sebuah lorong menuju ke sebuah ruangan. Sesekali orang itu mengelap keringatnya dengan menggunakan lengan baju yang Ia kenakan.


tok tok tok


Orang itu membuka pintu, kemudian masuk dan menutup pintunya. Terlihat ekspresi ketakutan di wajahnya.


Prang!!


Sebuah asbak dilempar ke dinding. Tepat di sebelah wajah orang itu. Wajahnya nampak semakin pias karena nyaris saja terkena lemparan asbak.


" Dari mana saja kau?! " bentak seorang laki - laki yang sedang duduk di sofa.


" Mm... Mm... Maaf Tuan. " ucap orang itu ketakutan.


" Kemari kau! " perintah orang yang sedang duduk di sofa.


Orang yg sedang ketakutan itu pun mendekat. Dengan penuh rasa takut Ia mendekat.


Plak!!


Sebuah tamparan mendarat di wajahnya yang ditumbuhi rambut - rambut halus. Ia memegang bagian wajahnya yang baru saja kena tampar. Ia menundukkan kepalanya.


" Bagaimana bisa kau gagal?! " bentak orang itu dengan wajah menakutkan.


" Ma.. Maaf Tuan. " pria berusia sekitar 20 tahun itu ketakutan.


" Apa kau katakan siapa yang mengirimmu?! " tanya laki - laki itu, masih dengan duduk santai di sofanya


" Tentu tidak, Tuan. " jawab pria itu. " Sekeras apapun merka menghajar kami, kami tidak membocorkan identitas Anda. "


" Bagus. Ku beri kalian kesempatan untuk hidup sekali lagi. Jika tugas kalian selanjutnya gagal, bersiaplah untun kuhajar sampai kalian memohon ampun. " ucap laki - laki itu sambil mengambil sebatang rokok.


" Tunggu apa lagi?! Pergi sana! " usirnya.


Kemudian laki - laki berusia 20 tahun itu pergi meninggalkan tuannya.


Laki - laki berusia sekitar akhir 30 tahun itu menyalakan korek dan membakar rokok yang Ia sematkan di antara kedua bibirnya. Ia menghisap dalam - dalam rokok itu.


Kepalanya bersandar di sofa, kemudian Ia menghisap lagi rokoknya. Sepertinya Ia sedang memikirkan sesuatu, matanya menerawang ke arah atap ruangan. Senyum sinis tersungging di wajahnya.


" Hahahahahaha! " tiba - tiba Ia tertawa terbahak - bahak.


" Sulit sekali menghancurkan Narendra Hartawan. Sudah kucoba untuk mencelakakannya, bahkan kekasihnya pun sudah kuincar. Tapi memang sulit sekali. " Jason bermonolog.


Ia menghisap rokoknya dalam - dalam.


" Maka, aku harus melakukan kekacauan dari berbagai sisi untuk menghancurkannya. Aku harus bisa membalas kehancuranku dulu dan harus bisa lebih berhasil dari dia! " Jason bermonolog sendiri.


" Hahahahaha! " Ia tertawa lagi.


Ia menghisap lagi rokoknya dalam - dalam kemudian mematikan rokoknya di asbak. Asap rokok Ia semburkan dengan kasar. Ia beranjak dari duduknya. Ia berjalan ke meja kerjanya, mengambil ponselnya dan melakukan sebuah panggilan.


" Selamat siang. " ucapnya membuka pembicaraan.


" Ya, saya Jason Alexander. Saya ingin bicara dengan tuan walikota. " ucapnya lagi.


Ia mendengarkan lawan bicaranya dengan seksama.


" Baik, saya akan datang dalam waktu 30 menit. " kemudian Ia memutus panggilan teleponnya.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


- di sebuah ruangan di pusat pemerintahan -


tok tok tok


" Tuan Walikota, Tuan Jason Alexander sudah siap bertemu Anda. " ucap seorang wanita.


" Suruh dia masuk. " perintah seorang laki - laki yang ternyata adalah walikota dari Kota A.


" Baik Tuan. " ucap wanita itu.


Kemudian seorang laki - laki menggunakan jas berwarna abu - abu masuk ke dalam ruangan.


Jason Alexander, seorang pengusaha kaya raya. Dia adalah pemilik Angkasa Group. Sebuah company business yang bergerak dalam bidang produksi obat - obatan dan bahan kimia.


Beberapa tahun lalu usahanya sempat mengalami kebangkrutan karena terjegal kasus penipuab. Namun saat ini, usahanya kembali bangkit dan meroket.


Semua itu tidak putus dari usahanya membayar sejumlah uang kepada pemerintah dan aparat agar industrinya tetap diperbolehkan berproduksi.


" Selamat siang Tuan Walikota. " sapanya dari pintu.


Walikota tersenyum sumringah melihat Jason yang berdiri di pintu.


" Mari mari masuk. Silakan duduk. " walikota mempersilakan Jason Alexander untuk masuk dan duduk di sofa yang terlihat antik dan mahal.


" Baik terima kasih. " ucap Jason.


Kemudian Ia duduk di sofa dengan jarak cukup dekat dengan walikota.


" Ada perlu apa, siang - siang datang kemari? " tanya walikota. " Apakah produksi anda berjalan lancar? "


Jason tersenyum. " Anda sepertinya sudah tau maksud kedatangan saya. "


" Hahahaha, ya ya ya. Bagaimana? Apa ada hal lain yang bisa saya bantu kali ini? " tanya walikota lagi.


" Baik langsung ke intinya saja Tuan walikota. " ucap Jason. Sangat to the point.


" Bisa bisa. Di mana rencana Anda membuka lahan? " tanya walikota lagi.


Datang lagi uang. Ucap walikota dalam hati. Sunggu jiwa matrealistis.


" Di daerah O. " jawab Jason.


" Akan sangat mudah bagiku untuk memperoleh bahan baku dan juga mendistribusikan barang hasil produksi. " lanjutnya.


Walikota tampak berpikir. Daerah O adalah wilayah yang sungguh bermasalah. Warga - warga di situ adalah warga yang sangat menjaga lingkungan. Belum lagi di dekat situ ada wilayah yang dikuasai oleh Keluarga Hartawan.


" Jenis industri apa yang akan Anda jalankan di daerah O ? " tanya walikota.


" Seperti usahaku yang lain. Bahan kimia. " jawab Jason santai.


Walikota nampak terdiam sesaat. Akan sangat sulit untuk membuka lahan industri bahan kimia di situ. Pasti akan terjadi demo besar - besaran.


" Tapi Tuan Jason, warga di daerah O sangat melindungi kondisi lingkungannya. Mereka pasti menolak jika akan dibuka lahan untuk industri bahan kimia. " ucap walikota.


" Bahkan pohon - pohon di sana sangat rimbun, warga benar - benar menentang penggundulan area situ. " imbuhnya.


" Itulah mengapa saya membutuhkan bantuan Anda, Tuan Walikota. " ucap Jason sambil menepuk pelan pundak walikota.


" Kita kan sudah menjalin kerja sama cukup lama. Bukan hanya sekedar dua atau 3 tahun saja. " lanjut Jason. " Bahkan saya sangat berkontribusi dalam kampanye Anda, bukan begitu? " tanya Jason lagi.


Walikota nampak berpikir keras. Ia memijit pelan pelipisnya. Bagai buah simalakama, jika Ia membantu Jason, Ia akan didemo oleh warga. Namun jika tidak, Ia akan kehilangan banyak uang. Dan bisa jadi, untuk pencalonan periode selanjutnya Jason tidak akan mau menjadi penyumbang dana kampanyenya.


" Tapi, tentu saya tidak bisa bergerak sendiri. " ucap Walikota.


" Anda tidak usah mengkhawatirkan hal itu. " ucap Jason sambil terkekeh. " Bukankah kita juga punya teman dekat di kepolisian? "


" Akan menjadi sangat mudah bukan? " ucap Jason.


Walikota menganggukkan kepalanya. " Tapi Tuan Jason, lahan itu bersebalahan dengan wilayah Hartawan. Pesaing bisnis Anda. " ucap walikota lagi.


" Lantas? " tanya Jason. " Apa teman dekatku yang adalah seorang walikota ini sangat takut kepada Hartawan? " kali ini Jason bertanya dengan intonasi seperti mengancam.


" Bukan begitu.. " Walikota mulai merasa takut.


" Maka urus semua sampai selesai. Sebutkan saja kebutuhan lainnya bagaimana. " ucap Jason.


" Tapi tanah di situ adalah milik warga daerah O dan Hartawan Group memiliki lahan di sekitar situ. " ucap walikota lagi.


" Seperti yang kubilang sebelumnya. Apa walikota kita ini sangat takut pada Hartawan Grup? " tanya Jason.


" Bukan begitu, Tuan Jason. " ucap Walikota.


" Rupanya Anda sudah tidak suka dengan uang ya? " Jason berucap dengan tersenyum sinis.


Lagi - lagi Tuan Walikota terdiam sejenak. Nampak seperti berpikir keras.


" Baiklah Tuan Jason. Saya akan bekerja sekuat tenaga untuk membuka lahan dan menggusur warga daerah O. " ucap walikota.


" Namun, seperti yang kita ketahui. Keluarga Hartawan yang merupakan pemilik Hartawan Group adalah salah satu penggerak kegiatan industri ramah lingkungan. " lanjutnya.


" Hartawan Group dari dulu selalu saja menjadi penghambatku dalam mengembangkan bisnisku.


" Sudah sudah, intinya saja. " ucap Jason.


" Akan butuh banyak biaya. Anda juga harus bersiap dengan kuasa hukum dan lainnya. " walikota menjelaskan dengan wajah yang sangat serius.


" Itu tidak udah kau khawatirkan. Yang penting Anda kerjakan saja. Buka saja lahannya. " ucap Jason.


" Baik, baik Tuan Jason. " sahut walikota.


" Hahahahaha. Begitu kan bagus. " ucap Jason senang.


Walikota tersenyum. Semoga kali ini aku bisa mendapat banyak uang dari pekerjaan ini, batinnya.


Jason merogoh ponselnya dari saku celana. Ia melakukan panggilan,


" Ya halo! Tommy, segera transfer uang ke rekening Tuan Walikota. " ucap Jason membuat walikota tersenyum sumringah.


" Ya ya, 100 juta dulu saja. " kemudian Jason memutus panggilannya.


" Baik Tuan Walikota, saya pamit dulu. Sisanya akan segera saya transfer ketika Anda akan mulai membuka lahan. " ucap Jason.


" Baik Tuan Jason, senang berbisnis dengan Anda. " jawab Walikota.


Kedua laki - laki itu beranjak dari duduknya kemudian berjabat tangan. Jason pun keluar dari ruangan walikota.


Hartawan, dulu kalian sudah pernah menghancurkan bisnisku. Sekarang, aku kembangkan industriku untuk menyaingi kalian. Akan kuhancurkan kalian perlahan. Tunggu saja. Ucap Jason dalam hati, sudah merasa penuh kemenangan.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Teman- teman readers, penasaran ngga kenapa kok Jason dendam banget sih ke Hartawan Group?


Lanjutkan bacanya yaaah. Maafkan penulis terlambat dalam up story, karena udah mulai masuk kerja nih. Mulai remvong, hihi


anw, ini adalah visual dari Jason alexander yah



...Mr. Jason Alexander...