
Pagi hari, di mansion Hartawan.
Nia dan Rendra sedang menikmati makan pagi bersama di ruang makan. Rendra tak berhenti menatap lekat kekasihnya yang sedang makan. Nia, si gadis yang sedang diperhatikan ini hanya menikmati makan paginya. Sudah lama Ia tidak merasakan makan pagi yang sangat nikmat, mungkin karena kemarin Rendra pergi selama seminggu.
Bi Habsya dan ART lainnya memperhatikan Tuannya dengan perasaan senang.
" Nia. " panggil Rendra.
" Hm? " sahut Nia yang masih asyik mengunyah makanannya.
" Jika aju, mengajakmu untuk menikah. Bagaimana menurutmu? " tanya Rendra.
" Uhuk uhuk!! " Nia tersedak. Matanya memerah dan mengeluarkan air mata.
Dengan sigap Rendra berdiri dan mengambilkan Nia minum.
" Cepat minum. " ucap Rendra sambil menyodorkan segelas air.
Nia meminumnya perlahan. Berusaha mencerna ucapan Rendra tadi.
" Terima kasih. " ucap Nia.
" Pelan - pelan makannya. Kau lapar ya? " goda Rendra.
Nia mencebik. Padahal gara - gara dia aku sampai tersedak. Omelnya dalam hati.
" Jadi bagaimana menurutmu? " tanya Rendra lagi.
Nia terdiam. Seperti tidak percaya Rendra mengajaknya menikah begitu saja.
Nampaknya, bukan hanya Noa yang terkejut. Tapi Bi Habsya dan ART yang lain pun ikut terkejut.
" Aku... Aku... " jawab Nia gugup.
" Apa kau tidak mau menikah denganku? tanya Rendra dengan ekspresi wajah yang langsung berubah sedingin es.
" Bukan. Bukan begitu. " jawab Nia cepat.
Jika tidak segera diluruskan, bisa - bisa gunung es ini akan mengamuk.
" Maaf, terlalu cepat bagiku. " jawab Nia.
" Bukankah lebih cepat lebih baik? " tanya Rendra. Masih tidak terima dengan jawaban Nia.
" Bukan begitu. Menikah bukanlah urusan cepat atau lembat. " jawab Nia. " Aku merasa mentalku belum siap. "
" Untuk menjadi istrimu, aku merasa aku harus menyempurnakan diriku terlebih dahulu. " lanjut Nia. " Karena bagiku, kau adalah laki - laki yang sangat sempurna. "
" Kenapa kau harus menyempurnakan diri? Kau sudah sangat sempurna bagiku. " ucap Rendra.
Ia tetap tidak terima dengan jawaban Nia.
Nia yang menangkap bahwa Rendra masih tetap tidak akan terima dengan jawabannya, akhirnya menggenggam tangan Rendra untuk menenangkannya.
" Beri aku waktu. " jawab Nia.
" Aku harus menyiapkan diriku. Agar aku merasa benar - benar siap. " ucap Nia lagi. Masih menggenggam erat tangan Rendra.
Kesungguhan yang sangat tampak pada wajah Nia akhirnya membuat Rendra luluh.
" Jangan lama - lama. " ucap Rendra.
Nia tersenyum. " Iyaa, Narendraku.. " ucap Nia.
Narendra....ku? Wajah dingin Rendra seketika berubah menjadi kemerahan.
Bi Habsya dan ART yang ada di sana pun seprti ikut lega mendengar jawaban Nia.
Setelah menyelesaikan makan paginya, Nia dan Rendra bersiap berangkat kerja.
" Berangkat bersamaku saja. " ucap Rendra.
" Jangan. Aku malu. " ucap Nia.
" Malu karena berangkat kerja bersamaku? " tanya Rendra.
Nia terdiam. Pertanyaan menjebak.
" Iya dan tidak. " jawab Nia.
" Iya, karena aku malu jika dilihat orang - orang aku datang bekerja bersamamu. Kau adalah pimpinan tertinggi perusahaan. " jawab Nia.
" Tidak, karena kau sangat tampan dan menggoda. " lanjut Nia asal.
Rendra terkekeh mendengar jawaban kekasihnya.
" Baiklah jika itu maumu. Setidaknya pergilah bersama sopir. Jangan menggunakan ojek online. " ucap Rendra.
" Baiklah, Rendra. " sahut Nia.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Setibanya Nia di kantornya, mayoritas staff yang ada langsung menjaga jarak dengannya. Bukannya tidak peka, Nia sadar jika staff lain seperti sedang menjaga sikap dan jarak dengannya.
Aku ke sini untuk bekerja. Untuk membayar hutang - hutang dan menebus kembali rumah dan mobil ayah. Apapun yang mereka lakukan, tidak menjadi urusanku. Ucapnya dalam hati.
Ia melihat meja kerja yang sebelumnya digunakan oleh Lala. Terlihat kosong tanpa asa barang apapun.
" Nia, " tiba - tiba seseorang menyentuh pundaknya lembut. Dia adalah Raya.
Nia menoleh ke arah Raya.
" Apa kau baik - baik saja? " tanya Raya dengan wajah khawatir.
Nia tersenyum dan mengangguk. " Iya, terima kasih sudah mengkhawatirkanku. "
" Dengarkan aku, " ucap Raya.
" Apapun yang orang lain katakan tentangmu, abaikan. " lanjutnya. " Mereka tidak tahu apa - apa tentangmu. Abaikan. "
Sekali lagi Nia tersenyum dan mengangguk. Raya pun membalas dengan senyuman.
" Apakah hari ini kau sudah sarapan? " tanya Raya.
" Iya, sudah. " jawab Nia. " Kau? "
" Aku juga sudah. " jawab Raya. " Jangan pernah telat makan juga. " ucap Raya.
" Ya sudah, ayo kita lanjutkan pekerjaan kita. " ucap Raya.
Nia mengangguk.
Ia sangat bersyukur, Ia dikelilingi orang - orang baik yang sangat menyayanginya. Jika dulu ada Sarah yang sangat menyayanginya seperti adik, sekarang ada Raya yang tak kalah perhatian kepadanya.
Dan sekarang, Ia juga memiliki Rendra. Laki - laki terbaik versinya. Laki - laki yang sangat menyayanginya.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
- Di Ruangan CEO Hartawan Group -
Rendra dan Andreas baru tiba. Setelah melepaskan jasnya, Rendra duduk di kursi kerjanya.
Anna, sekretaris Rendra masuk dan membawa beberapa berkas.
" Selamat pagi Tuan Narendra, " sapa Anna.
" Ini adalah hasil laporan yang Anda minta kemarin. " ucap anna sambil menyerahkan beberapa map berisi laporan.
" Ya. " jawab Rendra.
Setelah memastikan Anna keluar, Andreas mendekat ke arah Rendra.
" Tuan, terkait rencana penggusuran daerah O. " ucap Andreas.
Rendra yang baru saja menyentuh laporan dari Anna, meletakkan kembali berkas laporan itu.
" Bagaimana perkembangannya? " tanya Rendra.
Andreas menyerahkan i-pad yang sedari tadi Ia bawa.
Rendra membaca hasil pemeriksaan yang diserahkan oleh Andreas. Wajahnya berubah menjadi merah padam. Seperti menahan amarah.
" Bukankah lahan kita sudah ada pembatasnya? " tanya Rendra pada Andreas.
" Iya, betul Tuan. Tetapi dengan alasan sebagai tempat penyulingan limbah mereka mengambil sebagian lahan kita. " jawab Andreas.
" Apa tidak ada penjaga di sana? " tanya Rendra.
" Kabarnya walikota ikut turun tangan secara langsung dalam pembukaan lahan. " jawab Andreas.
" Apa hak dia? " tanya Rendra geram.
" Kuasa hukum mengklaim mereka dapat melakukannya dengan dalih pelestarian lingkungan. " jawab Andreas.
Rendra terdiam.
" Aku sudah memikirkan tentang apa yang kau katakan sebelumnya. Terkait ayahku sebagai aktivis lingkungan di sana. " ucap Rendra.
" Coba kau selidiki. Apa motif di balik penggusuran ini. Jika memang untuk membangun industri bahan kimia, cari hukum yang terkait dengan hal itu. " perintah Rendra.
" Baik Tuan. " jawab Andreas.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Kira - kira bagaimana denga hasil pemeriksaan Andreas?
Terus ikuti cerita novel ini yaaa ❤