Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part. 129 Bantuan Bu Aisyah



Selamat Membaca ~


" Sekarang katakan padaku, ke mana kau membawa Karunia dan temannya pergi? " tanya Tommy dengan wajah serius.


Rania yang masih terisak berusaha mengendalikan dirinya. Ia tahu Tommy berniat baik, dia tidak akan menyakiti Nia dan Sarah.


Rania : Aku nya membantu mereka keluar dari kamarnya sampai ke pintu pertukaran barang di bawah. Kemudian mereka berlari ke arah pintu keluar pelabuhan.


" Apa kau yakin mereka dalam keadaan aman? Tidak ada yang mengikuti mereka? " tanya Tommy.


Rania mengangguk.


Rania : Aku sudah memastikan keadaan sekitar aman saat mereka akan meninggalkan kapal ini.


" Baiklah, jika begitu aku akan segera keluar untuk mencari mereka. " ucap Tommy kemudian Ia beranjak dari duduknya.


Rania menahan lengan Tommy.


Rania : Diamlah dulu di sini. Jika Tuan Jason tahu Anda keluar dengan terburu - buru Ia akan curiga kepada Anda. Ia akn tahu jika Anda berbohong.


Tommy terdiam, apa yang disampaikan gadis ini ada betulnya juga. Setidaknya aku harus ada di sini selama satu jam. Batinnya.


" Baiklah. Aku akan di sini selama beberapa saat. Kau bersabarlah, setelah aku pergi kau bisa beristirahat lagi di sini. " ucap Tommy


Rania menganggukkan kepalanya.


Rania : Terima kasih, karena sudah menyelamatkanku dari Tuan Jason tadi.


" Tidak perlu berterima kasih, memang sudah seharusnya manusia itu saling menolong. Kau juga masih terlalu muda, kau masih bisa memiliki masa depan yang cerah. " ucap Tommy.


Rania tersipu. Tuan Tommy sangat baik, Ia seperti kakak dan ayah bagiku. Sangat baik dan selalu memberi nasihat untukku. Batin Rania.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Sementara itu, di rumah Bu Aisyah ~


" Ini, minumlah dulu nak. Ini teh manis, bisa membantu kalian mengembalikan tenaga. " ucap Bu Aisyah sersya menyusun cangkir kecil berisi teh hangat di atas meja.


" Terima kasih, Bu. " ucap Sarah dan Nia bersamaan.


Nia dan Sarah kemudian menyeruput teh manis hangat itu bersamaan. Rasanya begitu hangat dan nyaman di perut. Sudah lama tidak minum teh hangat yang enak seperti ini, batin Nia.


" Apakah kau sedang mengandung? " tanya Bu Aisyah.


Nia mengangguk, " Iya Bu, aku sedang mengandung. " jawab Nia seraya mengelus perutnya.


" Berapa usia kandunganmu, Nak? " tanya Bu Aisyah, lagi.


" Sudah memasuki 17 minggu, Bu. " jawab Nia.


" Auramu sangat terlihat, sepertinya anakmu akan tampan atau cantik seperti ibunya. " ucap Bu Aisyah.


" Terima kasih, Bu. " sahut Nia tersipu.


" Lalu, apa rencana kalian? " tanya Bu Aisyah.


Sarah meletakkan cangkirnya di atas meja.


" Kami ingin pergi dari sini, mencari pertolongan atau menghubungi keluarga kami agar mereka segera menyusul kami. " jawab Sarah.


" Apakah Bu Aisyah memiliki telepon atau ponsel? " tanya Nia.


" Aku tidak memiliki ponsel ataupun telepon rumah, Nak. Tapi seingatku, di dekat sini ada sewa telepon umum. " jawab Bu Aisyah.


" Kalau begitu, bisakah kami meminjam uang untuk nembayar sewa teleponnya? " pinta Nia.


Bu Aisyah mengangguk, Ia kemudian beranjak berjalan menuju kamarnya dan kembali membawa sebuah dompet berukuran sedang.


" Ini, Kalian bisa memakainya. " ucap Bu Aisyah seraya menyodorkan sebuah dompet kepada Nia.


" Bawalah itu semua, siapa tahu kalian memerlukan lebih. " ucap Bu Aisyah.


" Tapi dompetnya? " tanya Nia.


" Aku takut kalian kekurangan uang. " ucap Bu Aisyah.


" Aku sudah terlalu tua dan kakiku sering sakit, jadi tidak bisa mengantar kalian. Jadi pergilah, aku yakin kalian orang baik. Kalian tidak akan memanfaatkan kepercayaanku. " lanjutnya.


" Baik Bu, terima kasih. Ke mana arah tempat sewa telepon umum? " tanya Nia.


" Kalian berjalanlah ke arah kanan. Kemudian setelah sekitar 50 meter, akan ada seperti sebuah gang kecil. Belok, tempatnya di dekat situ. " jelas Bu Aisyah.


" Baiklah, Bu. Kami akan segera kembali. " ucap Sarah.


Kemudian Nia dan Sarah bergegas menuju tempat sewa telepon umum yang telah dijelaskan oleh Bu Aisyah.


Mereka berjalan dengan hati - hati sembari memperhatikan keadaan sekitar. Semua tampak normal, orang - orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing - masing. Ada yang membersihkan sampah, ada yang mengangkut ikan, dan lainnya.


Tapi, mereka tidak sadar. Ada 4 orang berjarak cukup jauh yang sedang berada di belakang mereka.


Dua orang pertama adalah orang suruhan Kevin yang sudah mengikuti mereka sejak mereka keluar dari gang rumah Bu Aisyah.


Sedangkan dua orang lainnya yang berjarak lebih jauh adalah Jessie dan Andra yang curiga terhadap gelagat dua orang yang ada di depannya. Dari penampilan jelas dua orang di depan mereka bukanlah warga lokal. Gerak - gerik mereka terlihat sangat mencurigakan.


" Nia, berjalanlah lebih perlahan. Kau ini sedang mengandung. " ucap Sarah saat tiba - tiba Nia mempercepat langkahnya.


" Aku merasa ada yang mengikuti kita, Sarah. " ucap Nia dengan nada takut.


Sarah berbalik dan memperhatikan keadaan sekitar. Namun bagi Sarah, keadaan aman terkendali.


" Aman, tidak ada yang mengikuti kita. " ucap Sarah.


" Tapi tetap saja, lebih cepat lebih baik. " ucap Nia.


Ia tetap mempercepat langkahnya dan Sarah pun berusaha mengimbangi kecepatan langkah Nia.


Orang yang sedang mengikuti mereka berpura - pura membaur dengan warga sekitar saat Sarah berbalik, sehingga Sarah tidak dapat mengetahui jika ada yang sedang mengikutinya.


Saat dua orang itu sedang sibuk berbaur, Jessie dan Andra juga ikut berpura - pura sibuk berbaur dengan kesibukan warga.


" Andra, kenapa kita harus mengikuti orang - orang itu? Kita kan harus mencari Nyonya Karunia dan temannya. " gerutu Jessie.


" Di sini sangat panas. Aku tidak tahan. " gerutu Jessie lagi.


" Kau ini! Kau sebut dirimu agen? " tanya Andra dengan nada menghina.


" Bukannya terlihat jelas? Kedua orang itu bergelagat aneh. Mereka sangat mencurigakan. Dari wajahnya, mereka jelas - jelas bukan warga lokal. " jelas Andra.


" Begitukah? " tanya Jessie.


" Lalu kenapa kita harus mengikuti mereka? " tanya Jessie lagi.


" Kau ini! Sepertinya isi otakmu benar - benar sudah menguap karena terkena suhu tinggi di sini ya! " hardik Andra.


" Siapa tahu mereka sedang mengawasi dan mengikuti Nyonya Karunia dan temannya! " jelas Andra tidak sabaran.


" Oh begitu, " sahut Jessie.


" Dan kau sebut dirimu adalah agen! " hardik Andra.


" Dan kedua orang itu, sudah pergi sejak tadi. " ucap Jessie.


" Hah? Sial! Aku kehilangan mereka! " gerutu Andra.


Ia mencari - cari di sekitatnya. Ke mana dua orang itu tadi? Batinnya.


" Lihat, dan kau sebut dirimu agen! " hina Jessie.


" Kau! Semua ini gara - gara kau! Kalau kau tidak bodoh, aku tidak perlu menjelaskan dan kita tidak akan kehilangan mereka! " omel Andra.


" Sudah, ayo kita cari saja daripada kau hanya mengomel. " ucap Jessie kemudian berlalu berjalan mendahului Andra.


" Gadis itu benar - benar menyebalkan! Seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu! " seru Andra.