Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 20. Kejutan Tidak Menyenangkan (1)



tok tok tok tok


Suara ketukan cepat terdengar di pintu kemudi. Rendra dan Nia segera menjaga jarak. Rendra menurunkan kaca mobil, terlihat seorang satpam berdiri di samping mobil Rendra.


" Selamat Siang Pak. " Sapa satpam itu dengan sopan.


" Iya selamat siang pak, " Rendra berusaha menjawab sapaan itu dengan tenang.


" Mohon maaf Pak, ini adalah area publik dan ada cctv di sekelilingnya. Tolong ditahan dulu ya Pak, silakan lakukan hal itu di rumah saja. " ucap satpam itu.


Nia dan Rendra salah tingkah. Saling melemparkan pandangan dan tertawa garing. Kemudian mereka pamit kepada satpam itu dan pergi meninggalkan taman kota.


" Kau, langsung kuantar pulang saja. Andreas akan mengurus ijinmu ke atasanmu. " ucap Rendra.


Nia hanya mengangguk. Ia juga cukup lelah dengan drama kehidupannya hari ini. Perasaannya naik turun tidak karuan dibuat Rendra hari ini.


Nia melemparkan pandangannya ke arah langit yang tampak cukup cerah hari ini. Ia mengingat kejadian tadi, saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Rendra. Ketika puncak hidung mereka saling bertemu, ketika napas mereka saling beradu. Nia menggelengkan kepalanya, cepat - cepat Ia hilangkan bayangan kejadian tadi.


Mobil Rendra berjalan pelan menuju kontrakan Nia. Lagu slow berputar lagi di alat pemutar musik. Perut kenyang, musik lembut, mobil berjalan pelan, membuat Nia merasa mengantuk dan sepeeti di nina bobokan. Perlahan, Nia tertidur di kursi mobil. Rendra yang menyadari Nia tertidur hanya tersenyum sambil sesekali menoleh ke arah Nia.


20 menit kemudian mereka tiba di kontrakan Nia. Melihat Nia yang masih tertidur dengan lelap membuat Rendra enggan membangunkannya.


Ia menatap lekat wajah Nia. Sekali lagi, Ia menagap lekat - lekar dari kening, alis, mata, hidung, kemudian bibir Nia. Bibir tipis dengan warna liptint red cherry itu terlihat sangat menggoda. Rendra berulang kali menahan air liurnya, berusaha menahan. Namun suasana yang mendukung membuat Rendra benar - venar tidak bisa menahan diri. Perlahan Ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nia. Tangannya mengarahkan wajah Nia menghadap ke wajahnya. Rendra mengecup lembut bibir Nia. Ia berusaha menahan agar tidak menghisap bibir Nia supaya Nia tidak terbangun.


Di alam mimpinya, Nia pun sedang merasa seperti sedang berciuman dengan Rendra. Ciuman lembut dan tidak menuntut. Nia sangat menikmati kecupan lembut itu. Hingga Ia akhirnya terbangun dari tidurnya.


" Udah sampe? " tanyanya pada Rendra yang terlihat sedang memainkan ponselnya.


" Sejak 10 menit yang lalu. " jawab Rendra.


" Kenapa tidak membangunkanku? " tanya Nia.


Masih tetap memainkan ponselnya Rendra menjawab, " Berulang kali. Tapi kau tetap tidak bangun. "


" Maaf, " ucap Nia merasa tidak enak. " Makasih yah udah nganter. Aku turun dulu. "


" Mana jasa antarku? " tanya Rendea yang kali ini telah meletakkan ponselnya.


Nia batal membuka pintu, " Jasa... Antar? " tanyanya tidak mengerti.


Rendra menunjuk ke arah pipinya. Bukan ciuman yang Ia dapat, tapi tamparan dari Nia. Tamparan bercanda tentunya, bukan tamparan seperti di telenovela atau film - film india.


" Bercanda terus. Udah ah, makasih ya Tuan Narendra. " ucap Nia kemudian turun dari mobil.


" Hei! Berhenti memanggilku Tuan saat kita hanya sedang berdua! " teriak Rendra dari dalam mobil. Nia buru - buru menutup pintu mobil dan berlari masuk ke dalam kontrakannya.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Hari ini Nia berangkat kerja dijemput oleh Rendra. Rendra bersikukuh untuk menjemput Nia walau jarak mansionnya ke kontrakan Nia cukup jauh. Nia tidak bisa menolak, hanya bisa patuh pada kekasihnya itu. Si yang berhati dingin tapi posesif padanya.


Hari ini Nia sedikit berdandan. Ia merapikan rambutnya dengan cantik, dan memoles tipis wajahnya. Ia mengenakan rok hitam selutut yang dipadupadankan dengan kemeja berwarna coklat susu, membuat kulit wajahnya terlihat semakin cerah.


Aku hampir sampai


Nia tersenyum. Ia mengambil tas selempang dan flatshoesnya. Ia membuka pintu dan meletakkan sepatunya di depan pintu. Ia melihat ada sebuah kotak seperti kiriman paket. Setelah mengunci pintu kontrakan dan mengenakan sepatunya, Ia mendekati paket itu. Ia baca alamat penerima paket itu, tertera namanya sebagai penerima.


Aku tidak pesan barang apapun, kenapa ada paket datang dengan namaku ya? batin Nia. Tak lama mobil Rendra sampai, Nia pun menghampiri sambil tetap membawa paket itu.


" Selamat pagi. " sapa Nia dibalas dengan senyuman di wajah Rendra.


Rendra dan Nia duduk di kursi penumpang belakang sedangkan Andreas memegang kemudi mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.


" Apa itu? " tanya Rendra sambil memperhatikan Nia yang membolak - balikkan box paket itu.


" Tidak tahu. Aku tidak memesan apapun, tapi paket ini tertulis namaku sebagai penerimanya. " ucap Nia.


Seperti tau apa yang sedang terjadi, tatapan Andreas dan Rendra bertemu melalui spion tengah. Tanpa diberi komando, Andreas menepikan mobil.


" Coba berikan box itu. Biar aku saja yang membukanya. " ucap Rendra.


Nia dengan patuh memberikan box paket itu pada Rendra. Andreas pun segera mengambil box itu dari Rendra dan membawa keluar dari mobil. Rendra dan Nia pun mengikuti Andreas keluar dari mobil.


Andreas mengeluarkan cutter dari laci dashboard mobil, dan membukanya perlahan. Kita tidak pernah tahu apa isi box itu bukan, kita harus tetap waspada. Rendra seolah bisa membaca isi pikiran Andreas.


" Kyaaaaaa!!! " Nia spontan menjerit setelah melihat isi dari box itu. Rendra pun segera menutup mata Nia dan mengarahkan Nia ke dalam pelukannya.


Rendra dan Andreas menatap isi box itu masih dengan tatapan tidak percaya. Seekor tikus got berukuran besar, dengan masing - masing kaki yang dipaku ke sebuah papan kayu. Perut tikus itu terbelah dan ususnya terburai keluar. Di dalamnya berisi penuh darah dari bangkai tikus itu. Aroma bangkai tercium kuat dari box itu.


" Andreas. Kau tau apa yang harus kau lakukan! " Rendra merasa geram.


Andreas mengangguk. Ia segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.


" Kalian, kembali ke tempat tinggal Nona Nia. Berjaga di sana. Dan cari tahu, siapa tahu manusia kurang ajar itu akan mengirim paket lainnya! " perintah Andreas.


" Tuan Narendra dan Nona Nia, silakan masuk ke dalam mobil. " Andreas membuka pintu mobil.


Rendra membantu Nia masuk ke dalam mobil. Kaki Nia terasa lemas setelah melihat isi box itu. Siapa yang dengan kejamnya mengirim paket itu padanya.


Tak lama, dua buah mobil berwarna hitam mendekat. Enam orang laki - laki berbadan tegap keluar dari mobil - mobil itu. Andreas terlihat memberi intruksi pada mereka. Setelah selesai dengan urusannya, Andreas masuk ke dalam mobil.


" Andreas, ke mansion sekarang. " perintah Rendra. Andreas mengangguk dan memberi intruksi pada pengawal yang ada di depan mereka.


Nia masih berada dalam pelukan Rendra. Keringat dingin keluar begitu deras dari tubuhnya. Ia benar - benar shock akan apa yang baru saja Ia alami. Tidak bisa dibayangkan jika box itu Ia buka dengan tangannya sendiri.


Mobil berwarna hitam itu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mansion Rendra dengan dikawal mobil bodyguard di sisi depan dan belakangnya.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Duh, siapa sih jahat banget kirim - kirim paketan isi begituan ke Nia? Nia salah apa? Apa ada musuh Nia yang lain? Atau ini adalah pesaing bisnis Rendra?