
Selamat Membaca ~
Beberapa saat sebelum Nia bertemu dengan Sarah, di mansion Hartawan.
Nia sedang bersiap – siap untuk bertemu dengan Sarah. Ia sedang menyisir rapi rambutnya yang baru saja Ia keringkan dengan hairdryer. Rendra yang masih mengenakan handuk saja di pinggangnya mendekati Nia dan mengecup singkat bagian belakang leher Nia.
“ Eits, tidak ada ronde tambahan kali ini. Sarah sudah menungguku. “ ucap Nia sambil mengangkat telunjuk jarinya.
Rendra berdecak.
“ Kenapa juga orang itu mengajak bertemu di saat seperti ini. “ gerutu Rendra.
“ Entah, tapi dari suaranya tadi sepertinya dia sedang marah. “ sahut Nia.
Rendra menanggapi dengan senyum sebelah di wajahnya. Kemudian Ia terlihat seperti sedang berpikir. Ia berjalan ke arah balkon, mengingat apa saja yang terjadi akhir - akhir ini pada Andreas di kantor.
“ Aku sudah siap. “ ucap Nia kemudian beranjak dari kursi riasnya.
Ia berjalan ke arah Rendra yang sedang menghadap keluar, kedua tangannya sedang dalam posisi bersilang di depan dadanya. Nia merasa tidak enak, apakah Rendra marah karena Ia lebih memilih untuk bertemu dengan Sarah?
Nia memeluk tubuh suaminya dari belakang, “ Apa yang sedang kau pikirkan? “
“ Hm? “ Rendra berbalik menghadap tubuh Nia kemudian memeluk tubuh istrinya.
“ Duduklah dulu. “ ucap Rendra.
Dengan patuh, Nia duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya menatap bingung ke arah sang suami yang mendadak berubah menjadi serius.
“ Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu? “ tanya Nia khawatir.
“ Ini tentang Sarah dan Andreas, sepertinya aku tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka. “ ucap Rendra.
“ Apakah ada masalah yang terjadi di antara mereka? “ tanya Nia khawatir.
Pernikahan Sarah dan Andreas akan dilaksanakan dalam hitungan hari, jangan sampai ada masalah besar yang bisa menjadi penyebab rusaknya hubungan dua teman dekatnya itu. Mengingat Nia tahu betul Sarah dan Andreas saling mencintai.
“ Akhir – akhir ini Andreas bekerja terlalu keras. Ia sering lembur untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. “ ucap Rendra.
“ Bukan begitu, aku sudah mengatakan padanya untuk tetap santai saja dalam bekerja. Lagipula sudah ada Lucky dan Carlos yang membantunya menyelesaikan pekerjaan. “ sahut Rendra.
“ Tapi bukan Andreas namanya jika tidak ingin menyelesaikan semuanya sendiri. Ia ingin menyelesaikan semuanya tepat waktu dan sesempurna mungkin. Ia ingin di saat pernikahan nanti dia merasa tenang dan tidak terganggu dengan pekerjaan, jadi dia benar – benar berusaha menyelesaikan semuanya sekarang. “ lanjut Rendra.
“ Sebenarnya beberapa hari lalu, aku melihatnya sedang gusar. Lalu aku menanyakan padanya, tentang persiapan pernikahannya. Ia mengatakan bahwa Ia baru saja kembali dari mencoba cincin pernikahan bersama Sarah. Tapi Ia merasa tidak enak karena tidak bisa menemani Sarah untuk kegiatan lainnya karena Ia sangat sibuk. “
“ Apa Ia pernah mengatakan pada Sarah alasan sibuknya? “ tanya Nia. Ia tahu betul sahabatnya yang satu itu suka memiliki isi pikiran yang selalu traveling.
“ Aku yakin tidak, namanya juga Andreas. Dia juga bilang, Sarah tidak pernah keberatan dan mengatakan apapun padanya. “ jawab Rendra.
“ Itu karena Sarah tidak terlalu pandai dalam menyampaikan apa isi hatinya. “ sahut Nia.
“ Sekarang aku sudah tahu apa yang sedang terjadi. “ imbuh Nia.
“ Sayang, aku ijin menghubungi Andreas yah. Ini tentang Sarah, jadi jangan cemburu. “ Nia ijin kepada Rendra. Bukan tanpa alasan, Rendra yang memang bisa terbilang bucin itu memang suka cemburu buta jika Nia berkomunikasi dengan laki – laki lain. Walau itu Andreas sekalipun.
Rendra menatapnya tajam. “ Di sini saja, sekarang. Menggunakan ponselku. “
Nia menghela napasnya, “Baiklah. “
Memang dasar laki – laki bucin pencemburu. Gerutu Nia dalam hati.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Saat Nia baru tiba di café untuk bertemu dengan Sarah.
“ Halo, “ sapa Nia pada seseorang di sana.
“ Aku sudah sampai di café, nanti aku akan mengirimimu pesan singkat atau pesan suara atau semacamnya. “ lanjut Nia.
“ Baiklah. Tapi ingat, jika sampai kau sakiti sahabatku. Akan kuhabisi kau, bahkan seorang King Narendra Hartawan tidak akan bisa menghentikanku. “ ancam Nia sebelum Ia mematikan ponselnya.
Kemudian Nia membuka pintu mobil dan berlari kecil ke arah pintu masuk cafe, seperti sedang tidak terjadi apa - apa.
Ia sudah tahu, Sarah sudah sampai di dalam dan sudah menjelma menjadi seekor singa karena menunggunya terlalu lama.