
Di dalam mobil -
" Andreas, " panggil Rendra.
" Iya, Tuan? " sahut Andreas, sambil tetap fokus mengendarai mobil.
" Jika hanya ada kita, kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan tuan. Bagaimanapun, kita masih sepupu. " ucap Rendra.
" Baik, Rendra. " sahut Andreas.
" Dan berhentilah menggunakan bahasa formal jika hanya ada kita berdua. Kau ini! " kata Rendra lagi.
Benar, Andreas masih memiliki ikatan keluarga sebagai sepupu Rendra. Kedua orang tua Andreas meninggal ketika Andreas masih berusia 5 tahun. Kedua orang tua Rendra membesarkan Andreas layaknya anak mereka sendiri. Andreas 3 tahun lebih tua dibanding Rendra. Tumbuh besar bersama, Andreas dan Rendra telah mengenal karakter masing - masing dengan baik. Di mana ada Andreas, di situ ada Rendra. Dan begitu pula sebaliknya.
Almarhum ayah Rendra meminta Andreas untuk selalu mendampingi Rendra. Sebagai bentuk balas budi Andreas, maka Andreas pun segera setuju ketika diminta untuk menjadi asisten pribadi Rendra, adik sepupunya itu.
" Lanjutkan informasi tadi. " perintah Rendra.
" Baik, " sahut Andreas. " Berdasarkan informasi, akibat kecelakaan yang dialami kedua orang tua Karunia, ayahnya harus menjalani berbagai macam prosedur operasi dan menelan biaya sangat banyak. Ia terpaksa meminjam kepada rentenir karena saat itu Ia membutuhkan uang banyak dalam waktu cepat. Bahkan Ia terpaksa menjadikan rumah dan mobilnya sebagai jaminan untuk pembayaran hutangnya. " jelas Andreas.
Rendra masih fokus mendengarkan penjelasan Andreas. " Kemudian luka di kepala dan memar di lehernya. Kau tau? " tanya Rendra.
" Saya melihatnya tadi. Saat ini saya belum tahu. Akan segera saya selidiki. " jawab Andreas.
" Gelang itu? " tanya Rendra lagi.
" Ah, gelang itu. Itu adalah gelang anda bukan? saya rasa seharusnya dia menerima langsung dari anda atau dia mengambil dari orang yang mendapat gelang itu dari anda. " jawab Andreas.
Rendra termenung, " Ya, kau benar. Bulan lalu aku menyerahkan gelang itu kepada seseorang yang menyelamatkanku dari sebuah kecelakaan. Tapi aku tidak sempat bertanya siapa nama orang itu, dan aku tidak ingat wajahnya bagaimana. "
Apakah itu kau? Jika iya, kenapa dunia ini sempit sekali. batin Rendra.
" Kau selidiki lagi lebih lanjut mengenai luka - lukanya, dan gelang itu. " perintah Rendra.
" Baik Tuan, " jawab Andreas lagi.
Rendra menatap ke arah luar jendela mobil. Ia mengingat - ingat kembali semua cerita ibu dan ayahnya. Cerita tentang sahabat kedua orang tuanya. Entah kenapa, timbul rasa simpati pada hati Rendra. Laki - laki yang terkenal dingin kepada wanita itu merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya setiap kali Ia teringat kepada Nia.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Falshback ~
Satu Tahun lalu di sebuah ruangan VVIP rumah sakit ABC.
" Kemarilah nak, " panggil seorang wanita yang sedang terbaring lemah di atas sebuah bed.
" Tolong bantu ibu, carilah sahabat ibu. " wanita itu berusaha meraih tangan Rendra. " Ia bernama Murni. Ia sahabat ibu sejak kecil, Ia dan suaminya adalah orang yang sangat baik. Mereka pernah menyelamatkan ibu, juga ayahmu. Sayangnya, ketika terjadi krisis moneter Ia dan suaminya mendapatkan masalah. Seluruh hartanya habis. Kakekmu melarang aku dan ayahmu untuk membantu mereka. Dan mereka pun kemudian seperti hilang begitu saja. " sesekali wanita itu mengelus dadanya yang terasa nyeri.
" Apakah terasa sakit? Akan kupanggilkan dokter. " kata Rendra cemas.
Ibunya menggeleng sambil tersenyum. Dia menatap lagi anak satu - satunya itu. " Ibu dan ayahmu sudah pernah berusaha mencarinya. Tapi kami tidak berhasil menemukannya. Kami tidak maksimal dalam usaha kami mencarinya. " lanjut ibunya, " Tolong cari mereka, dulu saat Murni melahirkan anak perempuannya, kami pernah saling berjanji untuk menjodohkanmu dengan anak mereka. Ibu bahkan lupa siapa nama bayi cantik itu. "
" Ibu, aku akan bantu mencari. Tapi aku tidak suka dijodohkan. " nada bicara Rendra mulai dingin.
" Maafkan ibu nak, pada saat itu ibu dan ayahmu berjanji kepada mereka sebagai sahabat. Sebagai saudara. Mereka adalah penyelamat hidup ayah dan ibu. Ahmad, suami Murni. Ia pernah menyelamatkan ayahmu dari gerombolan penjahat. Tapi kakekmu tidak pernah menganggap bantuan itu berarti. Ketika krisis moneter, ketika seluruh harta Murni dan ahmad mengalami kesulitan, Kakekmu menutup semua akses kami untuk saling berhubungan. " tampak ibunya mulai berkaca - kaca.
" Murni. Ia menikahi laki - laki baik. Ia adalah sahabat ibu sejak kecil, selalu berbagi makanannya dengan ibu. Ahmad menyelamatkan ayahmu dari gerombolan penjahat kala itu, dan saat itu pula ibu baru mengetahui bahwa Ia adalah suami Murni. Dan akhirnya Ahmad dan ayahmu bersahabat. " air mata mulai menetes dari salah satu sudut mata ibunya. " Ibu belum sempat membalas budi nak, "
Rendra. Laki - laki yang selalu bersikap dan berhati dingin itu segera menghapus air mata ibunya dengan tissue. Ia memang berhati dingi terhadap orang lain, terutama wanita - wanita yang selalu datang untuk menggodanya, dengan seluruh pesaing bisnisnya. Tapi tidak dengan ibunya.
" Baiklah Bu, aku akan mencari mereka. " ucap Rendra sambil menggenggam erat tangan ibunya. " Aku akan segera kembali. " ucapnya lagi.
Rendra beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar ruangan, Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Di mana? " tanyanya. " Aku ada tugas untukmu. Cepat kemari. " sambungnya lagi.
Setelah selesai menelepon, Rendra kembali masuk ke kamar. Ia tersentak mendapati layar monitor pasien itu menunjukkan garis lurus. Dengan cepat Ia berlari ke arah bed ibunya. Menekan tombol untuk memanggil staff kesehatan. Tak lama beberapa orang dokter dan perawat datang.
" Silakan keluar dulu Tuan, kami akan segera memeriksa keadaan pasien. " pinta seorang dokter.
Rendra yang masih dalam keadaan terkejut, segera menuruti perintah dokter itu.
Andreas yang baru tiba segera menghampiri Rendra yang terduduk lemas di delan pintu ruangan VVIP itu. Seolah mengerti apa yang sedang terjadi, Andreas menepuk pelan pundak Rendra.
Tak lama kemudian seorang dokter ditemani seorang perawat keluar dari ruang perawatan ibunya dengan wajah tertunduk.
" Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Dengan berat hati kami sampaikan, pasien telah meninggal dunia. "
Serasa dunianya runtuh lagi untuk kedua kalinya. Rendra terduduk lemas kembali. Air matanya menetes tak terkendali. Andreas berusaha menahan agar tubah Rendra tidak roboh.
" Aku akan menepati janjiku padamu Bu, aku akan mencari sahabat ibu, dan membalas budi kepada mereka atas nama ibu dan ayah. " ucap Rendra dengan isakan.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Halo haloo, aku gatal nih mau kasih tau kalian visual Andreas. Laki - laki dingin yang selalu mendampingi Rendra.
...Andreas Hakim - Andreas...
aura dinginnya ngga kalah sama Rendra.