Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 67. Memulai Pergerakan



Selamat Membaca ~


Hari ini Rendra berangkat lebih pagi dari baisanya karena Ia ada tele-converence dengan koleganya. Ia bahkan melewatkan waktu sarapan dan tidak sempat bertemu dengan Nia pagi tadi.


Mengetahui hal itu, Nia merasa sedikit kecewa. Kenapa Rendra tidak menunggunya dulu? Setidaknya kan Ia bisa menyapa Rendra sebelum Ia berangkat kerja pagi ini.


Nia berjalan kembali ke kamarnya setelah menghabiskan sarapannya. Mulai hari ini, Ia sudah tidak berstatus pegawai utama Hartawan Group sehingga Ia tidak perlu berangkat ke kantor lagi.


Ia melangkah dengan gontai ke arah tempt tidurnya. Kemudian merebahkan tubuhnya dengan malas di atas tempat tidur.


Apa yang harus aku lakukan? Benar – benar terasa sangat membosankan ternyata menjadi pengangguran. Baru juga sehari menjadi pengangguran, tapi aku sudah tidak tahan. Gumam Nia.


Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi sosial media, beralih dari satu akun sosial media kea kun sosial media yang lainnya. Masih tetap terasa membosankan. Ia menyalakan televisi di kamarnya dan mencari chanel kartun kemudian mengubahnya ke chanel khusus film barat. Dan lagi, hanya bertahan satu jam. Ia sudah merasa sangat bosan.


Karena sudah merasa bosan maksimal, akhirnya Nia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia mencari Bi Habsya dan berniat untuk mengobrol dengannya. Ia benar – benar merasa bosan sendiri di kamar tanpa teman.


Ketika Ia membuka pintu kamarnya, Ia mendapati ada seorang gadis seperti seumuran anak sekolah yang sedang duduk di kursi yang berada di dekat pintu kamarnya. Nia mengernyit, sepertinya aku baru melihatnya. Pegawai baru?


Nia berjalan mendekati gadis yang terlihat masih seumuran anak sekolah itu. Gadis itu sedang asik memainkan game yang ada di ponselnya. Sesekali gadis itu memekik pelan karena permainan yang sedang Ia mainkan.


“ Halo. “ sapa Nia.


Gadis itu terkejut karena tiba – tiba Nia sudah berada di dekatnya. Dengan sigap Ia bangkit dari duduknya dan memasukkan ponsel ke dalam celananya.


“ Selamat pagi Nona. “ balas gadis itu ramah.


“ Kau pegawai baru di sini? “ tanya Nia.


“ Iya Nona, saya pegawai baru di sini. “ sahut Nia sambil tersenyum ramah.


Kasihan sekali, kenapa Rendra mengijinkan anak sekolah bekerja di sini? Bukankah Seharusnya ada batas minimal usia pegawai?


“ Benarkah kau pegawai di sini? Kau bukan anak sekolah yang sedang kabur dari jam sekolah kan? “ tanya Nia.


“ Tidak Nona, saya adalah pegawai di sini. Dan saya tidak semuda yang Nona bayangkan. “ jawab Jessie.


“ Jangan berbohong. Apakah kau… Anak Bi Habsya? “ tanya Nia lagi. Masih tidak mempercayai bahwa Jessie bukanlah anak sekolahan seperti yang Ia bayangkan.


Jessie reflek tertawa terbahak – bahak.


Melihat Jessie yang tertawa terbahak – bahak, Nia pun ikut tertawa. Ia tidak tahu apa yang Ia tertawakan. Ia hanya ikut tertawa saja.


“ Bukan Nona, tidak mungkin saya anak Bi Habsya. Karena tidak mungkin Bi Habsya sudah punya anak di usia 15 tahun. “ jawab Jessie.


“ Saya seumuran dengan Anda, Nona. Saya berusia 23 tahun. “ imbuhnya.


Wah, awet muda sekali. Masih seperti anak sekolah. Batin Nia.


“ Apa yang sedang kau lakukan di sini? “ tanya Nia.


“ Oh iya, mari saya kenalkan diri saya. Saya adalah Jessie, pengawal pribadi Nona Karunia. Masih ada satu pengawal lagi Nona, tapi dia sedang berada di bawah. “ jawab Jessie.


“ Baiklah, aku Karunia. Panggil aku Nia. “ ucap Nia menyodorkan tangannya dan disambut oleh Jessie, mereka pun berjabat tangan.


Tak lama, Andra datang menghampiri Nia dan Jessie yang sedang berjabat tangan.


“ Selamat pagi Nona Karunia. “ sapa Andra, sok akrab.


Nia menoleh ke arah sumber suara dan terkejut.


“ Kau? Bukankah kau si anak sekolahan yang sedang menunggu ayahnya yang sedang bekerja? “ tanya Nia.


“ Hehe, iya Nona betul sekali. Saya Andra. Pengawal pribadi yang akan menjamin keselamatan dan keamanan Anda. “ ucap Andra memperkenalkan diri.


Andra? Namanya mirip dengan Andreas. Bisa jadi dia memang anak Andreas walau wajahnya tidak ada mirip – miripnya dengan Andreas, bisa jadi anak ini lebih mirip dengan ibunya. Batin Nia sambil memperhatikan penampilan Andra.


“ Ya, aku Nia. “ ucap Nia sambil mengajak Andra berjabat tangan.


Andra menyambut ajakan untuk berjabat tangan dengan Nia. Ternyata Nona Nia sangat ramah, terkadang wajahnya terlihat sedikit dingin walau tidak sedingin Tuan Rendra dan Tuab Andreas, batin Andra.


“ Apa benar kau anak Andreas? Terakhir kau bilang ayahmu bekerja untuk Tuan Narendra dan mengikuti ke manapun Ia pergi. “ tanya Nia mendadak.


Jessie berusaha menahan tawanya dengan susah payah. Sedangkan Andra memberi kode melalui matanya kepada Jessie untuk menjaga sikapnya di depan Nia.


“ 7 Tahun? Berarti Kau berusia 23 tahun sepertiku? “ tanya Nia tidak percaya.


Andra dan Jessie kompak menganggukkan kepala mereka bersamaan.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Sementara itu di ruangan CEO Hartawan Group ~


Anton baru saja tiba di ruangan Rendra. Ia membawa hasil penyelidikan semalam untuk ditunjukkan kepada Andreas dan Rendra. Bisa dibilang, penyelidikan kali ini dia menang banyak. Tanpa usaha yang terlalu tinggi, Ia bisa mendapatkan semua informasi sesuai yang diperintahkan oleh atasannya itu.


Setelah menutup tele-converence dengan kolega – koleganya, Rendra berjalan menghampiri Anton yang sudah duduk menunggunya di sofa yang berada di ruangannya.


“ Apa kau membawa kabar baik? “ tanya Rendra kepada Anton.


“ Tentu saja Tuan. “ jawab Anton dengan penuh percaya diri.


“ Tunjukkan padaku. “ perintah Rendra.


“ Baik Tuan, “ sahut Anton. Kemudian Ia mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna hitam dari sakunya dan menyerahkannya kepada Andreas.


Andreas kemudian menyiapkan screen projector dan memasang flashdisk yang diberikan Anton ke sebuah laptop dan membuka isinya.


Andreas dan Rendra dengan seksama memperhatikan hasil penyelidikan Anton dan agen – agennya yang lain. Rendra menahan kemarahannya karena mengetahui fakta bahwa memang benar pemerintah saat itu berusaha menutup kasus pembunuhan ayahnya. Hanya karena uang, sebuah keadilan diabaikan dan nyawa seseorang menajdi sanfat tidak berharga.


Setelah hasil penyelidikan itu selesai diputar, Rendra termenung. Ia memikirkan langkah apa yang harus Ia lakukan saat ini. Ia ingin membalas kematian mendiang ayahnya. Ia ingin membalas dan menjatuhkan mereka sekaligus hingga orang – orang busuk itu benar – benar merasakan penderitaan yang menyakitkan sehingga mereka mendapat efek jera maksimal.


“ Apa kau memiliki salinannya? “ tanya Rendra pada Anton yang terlihat seperti sedang mengagumi hasil kerjanya bersama anak buahnya.


“ Tentu saja Tuan. Saya telah menggandakannya dalam jumlah yang banyak. “ Jawab Anton dengan penuh percaya diri.


“ Apakah video itu saya publikasikan saja Tuan untuk menjatuhkan mereka? “ tanya Andreas.


“ Jangan. Mereka bermain dengan cara seperti itu, kita harus bermain dengan lebih tampan. “ jawab Rendra.


“ Kita biarkan mereka melambung terlebih dahulu. Kemudian kita balas semua perbuatan mereka tanpa ampun, kita bersihkan mereka hingga ke akar – akarnya. “ lanjutnya.


“ Lalu, langkah apa yang harus kita ambil Tuan? “ tanya Anton.


Anton sudah tidak sabar menyebarkan video hasil penyelidikannya. Dengan tersebarnya video itu, seluruh orang yang terlibat akan merasakan akibatnya. Membayangkan kejatuhan manusia – manusia biad*b itu membuat Anton menjadi semakin tidak sabar.


“ Andreas, buat janji temu dengan Ben Walker. Secepatnya. “ perintah Rendra.


Kenapa justru membuat janji temu dengan Ben Walker? Rendra dan Anton merasa bingung dengan pemikiran Rendra.


“ Maaf Tuan, kenapa harus membuat janji temu dengan Ben Walker? “ tanya Andreas tidak mengerti.


“ Sudah, kau buatkan saja. Kalau bisa sore ini kita bertemu dengannya. “ jawab Rendra.


“ Nyawanya sedang dalam bahaya. “ imbuhnya


Andreas menganggukkan kepalanya. Ia mengerti apa yang dimaksud oleh Rendra. Kemudian Ia meraih ponselnya dan mencari sebuah nomor kemudian menghubunginya untuk membuat janji temu dengan Ben Walker, wakil walikota Kota A.


“ Pertemuan sudah dijadwalkan petang ini Tuan, jam makan malam kita akan bertemu dengan Ben Walker di kediamannya. “ lapor Andreas kepada Rendra beberapa menit kemudian.


Wah, hebat sekali Tuan Andreas. Bahkan membuat janji temu dengan wakil walikota hanya dalam hitungan beberapa menit. Memang hanya orang – orang terbaik saja yang dipekerjakan oleh Tuan Narendra. Anton menatap Andreas dengan tatapan kagum.


“ Bagus, kalian persiapkan malam ini agar sesuai dengan harapan kita. Pastikan pihak keamanan kita juga dalam status siaga. “ ucap Rendra.


“ Anton, kirimkan beberapa anak buahmu untuk menjaga Ben Walker dari jarak yang cukup aman. Ia perlu pengamanan. “ perintah Rendra.


“ Baik Tuan, “ sahut Anton.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Hayoloh ya, dendam itu tidak baik. Jadi jangan simpan – simpan dendam terus. Tidak baik bagi kesehatan yaa Den Bagus Narendra….


Teman – teman readers, jangan lupa dukung penulis dengan memberi rate, vote, like, dan komentar yang banyak pada karya penulis yaaaaaah…


Kasih hadiah juga boleh boleh bangeetttt….


Terima kasih ❤