
Setelah vonis dijatuhkan, Jason yang memberi kesan semakin negatif dengan mengamuk di ruang persidangan membuat pengajuan bandingnya ditolak oleh pengadilan selanjutnya. Akhirnya, Jason harus menelan pahitnya jalan hidup yang harus Ia jalani ke depannya. Hukuman seumur hidup sudah menantinya di depan. Ia harus bisa menerimanya.
Lalu, bagaimana dengan Rendra dan Nia? Kehidupan mereka berlanjut. Pun dengan Andreas dan Sarah.
Sesuai dengan ucapan Rudi Hanggono, Ia akan merestui hubungan Andreas dan Sarah untuk menjalin hubungan. Bahkan saat ini mereka sedang mempersiapkan pernikahan mereka.
Rania, gadis tuna wicara yang selalu membantu Nia dan Sarah saat mereka disekap pun nasibnya kian baik. Anton yang memang selalu teringat kepada mendiang putrinya pun menawarkan kepada Rania untuk menjadi orang tua angkatnya. Anton bersedia menyekolahkan Rania hingga pendidikan tertinggi yang diinginkan Rania. Rania sangat bahagia dengan tawaran Anton, sekarang Ia memiliki figur seorang ayah lagi. Ia juga bisa bersekolah, dan masih tetap bisa merawat kakeknya karena Anton juga memboyong kakek Rania untuk pindah tinggal bersamanya.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Di sebuah toko perhiasan mewah di bilangan elite Kota A ~
Nampak seorang wanita yang sedang duduk anggun duduk di sebuah sofa. Ia terlihat memainkan ponselnya, tetap berusaha terlihat tenang walau sebetulnya sudah sangat gelisah.
" Di mana sih dia ini? Menyebalkan sekali. " gerutunya pelan.
" Nona, apakah Anda mau kami menuangkan teh lagi untuk Anda? " tawar seorang staff yang sedang membawa teko kecil.
Sarah mengangguk ramah sebagai jawaban. Kemudian staff itu menuangkan teh bunga kamomil ke dalam cangkir Sarah.
Setelah menunggu lagi sekitar 15 menit, akhirnya orang yang ditunggu datang juga. Dengan langkah terburu, Andreas berjalan menghampiri Sarah yang sudah menekuk wajahnya menjadi beberapa lapisan.
" Maaf. " ucap singkat Andreas dengan wajah datar.
Sarah menghela napasnya dengan sangat perlahan, hampir tidak terdengar. Sungguh sebenarnya Ia merasa kesal karena Andreas terlambat datang. Ini bukan yang pertama kalinya, Andreas yang selalu workaholic sudah cukup sering terlambat ketika ada janji temu dengan Sarah. Termasuk saat mereka harus fitting baju pengantin minggu lalu. Akibat keterlambatan Andreas, agenda fitting baju pengantin minggu lalu terpaksa dibatalkan.
“ Ayo, kita sudah ditunggu. “ ajak Sarah pada Andreas. Ia kemudian beranjak dan berjalan mendahului Andreas menuju ruangan khusus.
Andreas berjalan mengekor di belakang Sarah. Ini adalah pertama kalinya Ia masuk ke dalam toko perhiasan yang sangat mewah seperti ini.
Walau Ia masih saudara sepupu Rendra, Ia memiliki nasib yang sangat jauh berbeda dengan Rendra. Saat masih tinggal bersama kedua orang tuanya, Ia hidup dengan sangat sederhana. Bahkan saat orang tua Rendra mengangkatnya anak dan menyekolahkannya pun, Ia menolak semua fasilitas mewah yang ditawarkan oleh keluarga Rendra. Baginya, bisa melanjutkan hidup dan sekolah saja sudah sangat cukup.
Sarah kembali duduk di sebuah sofa diikuti oleh Andreas. Seorang pria paruh baya menghampiri mereka dengan membawa sebuah katalog.
“ Selamat siang, saya Kurniawan. Saya adalah asisten manajer dari toko perhiasan ini. Silahkan Tuan dan Nona, ini adalah katalog kami. “ ucap Kurniawan seraya menyerahkan sebuah katalog kepada Sarah.
Sarah menerima katalog itu dan membukanya. Ia sengaja meletakkan katalog itu di antara dirinya dan Andreas agar Andreas juga bisa melihat isi dari katalog itu.
“ Bagaimana menurutmu? Mana yang bagus dan cocok untuk pernikahan kita? “ tanya Sarah.
“ Hm… “ Andreas hanya bergumam sambil memperhatikan semua gambar yang ada di katalog. Jujur saja, Ia tidak tahu apa perbedaannya. Semuanya hanyalah gambar perhiasan, cincin pernikahan.
Melihat Andreas yang nampaknya kebingungan, akhirnya Sarah bertanya kepada Kurniawan, “ Apakah ada seri yang diproduksi atau didesain terbatas? “
“ Oh, tentu saja ada Nona. “ sahut Kurniawan. Ia maju beberapa langkah dan menunjukkan beberapa desain cincin pernikahan pada Sarah.
“ Nomor 1 adalah set cincin pernikahan yang hanya diproduksi dan diperjual belikan khusus di Indonesia. Diproduksi hanya sebanyak tiga pasang. “ ucap Kurniawan.
“ Untuk nomor dua dan tiga, adalah set cincin pernikahan dengan desain khusus, Tidak ada di Indonesia, khusus diperjualbelikan di Eropa. Tetapi jika Tuan dan Nona mau, saya bisa membantu untuk memesankan secara khusus. “ lanjut Kurniawan.
Sarah mengangguk bersemangat. Ia sudah membayangkan salah satu cincin itu melingkar manis di jari manisnya.
“ Bagaimana menurutmu? “ tanya Sarah sumringah kepada Andreas.
“ Hm, terserah kau saja. Aku akan selalu setuju dengan pilihanmu. “ jawab Andreas.
Nampak sedikit kekecewaan di raut wajah Sarah. Ia sungguh sangat tidak peduli, padahal ini kan pernikahanku dengannya! Gerutu Sarah dalam hati.
“ Kau yakin? “ tanya Sarah.
“ Jika nanti hanya aku yang memilih, kau tidak suka. Bisa – bisa kau tidak mau pakai cincinnya. “ gumam Sarah.
“ Kau bilang apa? “ tanya Andreas.
“ Tidak. Tidak ada. “ sahut Sarah dengan nada kesal.
“ Tuan Kurniawan, aku ingin yang nomor dua. Butuh waktu berapa lama sampai barangnya ada di sini? “ tanya Sarah.
“ Akan saya usahakan secepatnya. “ jawab Kurniawan.
“ Baiklah, jika memungkinkan tolong dalam minggu ini sudah ada. Pernikahan kami akan dilaksanakan sepuluh hari lagi. “ ucap Sarah.
“ Akan saya usahakan, Nona. “ sahut Kurniawan.
“ Baiklah, “ sahut Sarah.
“ Kalau begitu, mari saya bantu untuk transaksinya. “ ucap Kurniawan.
Sarah mengangguk.
Andreas hanya diam. Ia merasa, memilih perhiasan seperti ini seharusnya bisa Sarah lakukan sendiri tanpa dirinya. Toh, dia juga tidak ikut memberi pendapat. Dia juga tidak mengerti bagaimana cara memilih perhiasan seperti ini. Bagi Andreas, semuanya nampak sama saja.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Sepanjang perjalanan, Sarah dan Andreas hanya diam. Walau mereka sudah akan menikah, Andreas masih saja sering canggung jika hanya berdua dengan Sarah di dalam mobil. Hidup selama 30 tahun dan belum pernah dekat dengan seorang wanita satupun membuatnya benar – benar seperti mati kutu jika berhadapan dengan seorang wanita.
“ Kau sudah makan? “ tanya Sarah.
“ Hm, sudah. “ jawab Andreas singkat.
Kemudian hening lagi.
Sarah yang sebelumnya sempat merasa kesal pada Andreas, pun lebih memilih diam. Benar – benar pria kutub. Rendra yang sebegitu dinginnya saja selalu berubah menjadi sangat hangat pada Nia. Batin Sarah.
“ Kita sudah sampai. “ ucap Andreas setelah menghentikan mobil di depan pintu masuk gedung apartemen tempat Sarah tinggal.
“ Hm, “ sahut Sarah.
Ia kemudian mengambil tasnya dan membuka pintu mobil. Sebelum melangkahkan kakinya keluar, Sarah menoleh ke arah Andreas.
“ Kau tidak mampir? “ tanya Sarah.
“ Sepertinya tidak, pekerjaanku masih banyak. “ sahut Andreas dengan senyum canggung di wajahnya.
Sarah menghela napasnya sekali lagi. Kemudian Ia turun dari mobil dan menutup pintunya dengan pelan. Sebetulnya, ingin rasanya Ia membanting pintu mobil Andreas untuk meluapkan kekesalannya pada Andreas. Tapi, Ia harus tetap bersikap sebagai wanita anggun.
Tanpa babibu, mobil Andreas pun melaju meninggalkan Sarah yang masih berdiri di depan pintu masuk apartemen.
“ Luar biasa, bahkan dia tidak membuka kaca mobilnya untuk sekedar berpamitan denganku. “ gerutu Sarah.
Sarah pun melangkah masuk ke dalam apartemen dengan langkah kasar. Emosinya terasa sudah hampir tidak bisa Ia tahan lagi.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Halo readersku yang setia, mohon mohon maaf sekali penulis sudah lamaaaaa bangettt ngga up story. Maafkan maafkan.
Walau begitu, jangan lupa tetap dukung penulis yaaaa, biar makin semangat up terus ❤