
Mansion Hartawan ~
Waktu menunjukkan pukul 20.00.
Nia sengaja belum tidur karena menunggu Rendra pulang. Biasanya Ia sudah tertidur karena kelelahan setelah pulang bekerja. Tapi kali ini, rasanya Ia tak memiliki rasa kantuk sama sekali.
Sore tadi mendadak Rendra mengabarkan Ia akan sedikit telat pulang. Ada urusan mendadak yang harus Ia urus.
Sebetulnya Rendra sudah meminta Nia untuk tidak usah menunggunya dan berisitirahat. Namun Nia tidak bisa tenang jika belum menyampaikan uneg - unegnya ke Rendra.
Ia yang awalnya merasa tenang - tenang saja, saat ini benar - benar merasa cemas. Bukan karena gunjingan orang - orang di kantor melainkan ketakutan akan kesalahpahaman antara Ia dan Rendra.
Nia betul - betul takut kehilangan Rendra. Ia sudah pernah kehilangan kedua orang tuanya. Ia pernah merasalan ditinggalkan oleh yang tersayang. Rasanya sangat sakit. Ia tidak ingin hal itu terulang lagi.
Ia duduk di balkon dan menunggu Rendra datang. Dinginnya angin malam Ia abaikan. Ia setia menunggu dan melihat ke arah gerbang mansion. Berharap mobil Rendra segera datang.
Setelah menunggu beberapa saat, Nia akhirnya tertidur. Ia tertidur dalam posisi duduk meringkuk di kursi berbahan rotan yang ada di dekat balkon.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Pukul 22.30
Rendra yang sejak mobilnya memasuki gerbang mansion memperhatikan ke arah balkon kamar Nia terkejut. Sepertinya Ia lupa menutup pintu balkonnya. Cuaca sedang dingin. Batinnya.
Setelah sampai, Ia bergegas ke kamarnya. Rendra bergegas membersihkan tubuh dan berganti pakaian. Hari ini jadwalnya penuh di luar ruangan. Ia tidak mau bertemu Nia dalam keadaan belum berganti pakaian.
tok tok tok
Rendra mengetuk pintu kamar Nia. Namun tidak ada jawaban.
tok tok tok
Ia mengetuk lagi dan masih tetao tidak ada jawaban.
Mungkin Ia sudah tidur. Rendra berbalik menuju kamarnya namun langkahnya terhenti. Jangan - jangan Ia belum menutup pintu balkonnya. Bisa sakit dia nanti, batinnya.
Setelah memperhatikan keadaan sekitar, Rendra membuka pintu kamar Nia perlahan. Padahal ini adalah mansionnya, tapi Ia takut bisa jadi masalah ketika orang lain tahu Ia masuk ke kamar Nia.
Dan, benar saja. Ia mendapati Nia sedang tertidur meringkuk di kursi.
Rendra berjalan ke arah pintu balkon. Ia menuup pintu balkon dengan sangat perlahan. Ia tidak mau menganggu Nia yang nampaknya sangat terlelap.
Setelah berhasil menutup pintu balkon tanpa suara, misi sulit Rendra kali ini adalah menggendong Nia dan memindahkan Nia ke atas kasur.
Perlahan Ia memposisikan tangannya untuk membopong Nia. Dengan amat pelan Ia menggendong Nia, meletakkan tubuh ramping Nia ke atas kasur.
Rendra bahkan berusaha menahan napasnya karena takut Nia terbangun.
Setelah berhasil meletakkan tubuh Nia di kasur. Ia menyelimuti tubuh Nia. Ia memperhatikan wajah cantik Nia yang sedang terlelap.
Setelah merasa puas menatap wajah Nia, Rendra beranjak hendak kembali ke kamarnya. Namun, tiba - tiba aia merasa ada yang mebarik tangannya.
Rendra menoleh ke arah Nia. " Kau terbangun? " tanya Rendra.
Nia mengangguk.
" Bisakah kau di sini dulu? " tanya Nia.
" Ada yang ingin aku bicarakan. " lanjutnya.
" Besok saja bicaranya. Kau perlu istirahat. " ucap Rendra.
Nia menggeleng. " Aku ingin bicara sekarang. " ucap Nia.
Akhirnya Rendra mengalah. Ia urung kembalu ke kamarnya dan duduk di samping Nia yang sedang berbaring.
Nia beranjak dan duduk. Masih di atas kasur.
" Tolong, bisakah kau ambilkan ponselku di atas meja itu? " pinta Nia.
Rendra mengambilkan ponsel Nia di atas meja yang dimaksud, kemudian menyerahkan ke Nia
Nia membuka kunci ponsel dan menyerahkan ponselnya ke Rendra.
" Coba kau lihat. " ucap Nia.
Rendra meraih ponsel Nia.
Ia tersenyum samar. Sesuai dugaannya. Foto Nia dan Jason akan menjadi topik utama hari ini.
Ia menatap ponsel dan Nia bergantian. Terlihat ekspresi Nia seperti menyesal. Wajahnya terlihat sedih.
" Kenapa dengan foto ini? " tanya Rendra seraya mengembalikan ponsel Nia.
Nia menerima ponselnya dengan wajah tertunduk lesu.
" Maafkan aku, seharusnya aku segera memberitahumu jika kemarin ketika aku sedang menemani Raya, aku bertemu dengan seseorang juga. Kami makan malam bersama. " jawab Nia.
" Jadi kalian bertiga? " tanya Rendra.
Nia mengangguk. Masih dengan kepala menunduk.
" Lalu kenapa hanya kau dan laki - laki itu saja yang berada dalam satu foto? " tanya Rendra dengan wajah yang dibuat marah.
" Aku.. aku juga tidak tahu. Kenapa dalam foto itu hanya ada aku dan Tuan Jason. Seharusnya Raya juga ada dalam satu frame dengan kami. " jawab Nia.
" Tuan... Jason? " tanya Rendra.
" Iya, namanya Tuan Jason. Jika tidak salah Jason Alexander. " jawab Nia.
" Bagaimana kau bisa kenal dengannya? " tanya Rendra dengan nada bicara yang dibuat ketus.
Mendengar nada bicara Rendra, Nia menjadi semakin ciut.
" Tidak mau menjawab? " tanya Rendra.
Sungguh, saat ini Rendra sebetulnya ingin tertawa terbahak - bahak. Ia ingin memeluk kekasihnya yang terlihat lucu ketika ketakutan seperti itu. Tapi Ia harus menahannya sekuat tenaga.
" Awalnya, kami tidak sengaja bertemu saat jam makan siang... " jawab Nia.
Nia kemudian menceritakan awal mula Ia dan Raya bertemh dengan Jason. Bahkan setiap detail Nia ceritakan kepada Rendra. Termasuk ketika Nia tidak sengaja bertemu dengan Jason saat Ia menemani Sarah berbelanja.
Rendra tertegun. Apa sebetulnya yang direncanakan oleh Jason? Kenapa Ia mendekati Nia hingga seperti itu. Sudah pasti ada yang tidak beres. Batin Rendra.
" Kenapa kau diam saja? Tolong jawab aku. " ucap Nia dengan wajah memelas.
Rendra terkejut. Rupanya Ia tadi asik dengan isi pikirannya sendiri sampai tidak dengar apa yang dikatakan oleh Nia.
" Kau bilang apa tadi? " tanya Rendra.
Nia tertegun. Bisa - bisanya Rendra tidak mendengarkan dirihya, padahal Ia sudah berbicara panjang lebar. Tapi demi dimaafkan dan menghilangkan kesalahpahaman, Ia akan menahan emosinya juga kali ini.
" Aku bilang, maafkan aku Tolong jangan marah padaku. " ucap Nia.
" Kenapa? " tanya Rendra.
" Aku. Aku tidak bisa jika kau marah padaku. " jawab Nia.
" Ketika orang lain marah dan salah paham padaku, aku tidak peduli. Asal jangan engkau, Rendra. Jangan kau yang marah dan salah paham padaku. " lanjut Nia.
" Kenapa? " tanya Rendra lagi.
" Karena.. Aku tidak bisa. Aku tidak sanggup dibenci oleh laki - laki yang sangat aku sayangi. " jawab Nia dengan kepala menunduk.
Akhirnya! Sorak Rendra dalam hati.
" Jadi, sekarang kau mengakui perasaanmu? Kalau kau sangat menyayangiku? " tanya Rendra.
Ups! Matilah aku! Bodoh! Gerutu Nia dalam hati.
Nia menganggukan kepalanya.
" Aku tidak menerima jawaban dengan bahasa isyarat. " ucap Rendra ketus.
Diam - diam Rendra mengambil ponselnya dan menyalakan kamera ponsel mode video.
" Iya! Aku sangat menyayangimu! Jadi tolong jangan marah dan salah paham padaku! Akh tidak bisa! " seru Nia.
Seruan lantang Nia disambut tawa oleh Rendra.
Nia mengangkat kepalanya. Betapa terkejutnya Ia ternyata Rendra merekam apa yang baru saja diucapkan Nia.
Reflek Nia memutar posisi badannya. Ia menutup wajahnya. Wajahnya terasa panas. Sepertinya Nia sudah berubah menjadi kepiting rebus kali ini.
Rendra meletakkan ponselnya sembari menyelesaikan tawanya hingga puas.
Ia mendekati Nia, memeluk Nia dari belakang dengan lembut dan hangat. Ia mencium pundak Nia lembut, membuat Nia merespon dengan cara sedikit menggeliat di dalam pelukan Rendra.
Rendra memutar posisi tubuh Nia, hingga kini mereka berhadapan.
" Aku tidak akan pernah marah padamu. Tentang apa yang terjadi, aku sudah tau semuanya. Tenanah. Kau tetap milikku, dan aku tetap milikmu. " ucap Rendra.
Kemudian Rendra mengusap lembut wajah Nia yang masih memerah. Ia meraih dagu Nia dan mendekatkan wajah Nia ke arah wajahnya.
Tak butuh waktu lama, Rendra pun mendaratkan ciuman yang lembut ke bibir Nia. Nia pun menyambut ciuman Rendra. Pagutan bibir mereka terasa semakin menuntut. Semakin kuat. Hingga terdengar suara kecupan - kecupan yang seperti alunan musik romantis malam itu.
Malam itu, diterangi sinar lampu temaran dan cahaya bulan yang malu - malu menyelinap melalui celah gordyn, sepasang kekasih itu menikmati waktu mereka dengan ciuman - ciuman yang membuat suhu ruangan terasa panas.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Eits, jangan kelewatan dulu imajinasinya. Belum saatnya... Belum saatnya....