
Cuaca pagi hari ini masih mendung. Sisa - sisa hujan deras semalam masih terasa. Aroma udara yang bersih menambah ketenangan pagi hari ini. Nia sudah bersiap untuk berangkat kerja. Ia mengenakan setelah kemeja berwarna pink dusty dan celana kain panjang berwarna putih. Rambut sebahunya Ia geraikan tanpa diberi hiasan apapun. Ia pun hanya mengenakan riasan tipis seperti biasanya, tidak lupa menambahkan lip tint ombre pada bibir bagian dalam untuk menambah kesan segar pada wajahnya.
Ia keluar dari kamarnya berjalan menuju meja makan. Ia sudah diberitahu kalau Rendra sudah menunggunya di meja makan. Dan ternyata, benar saja Rendea sudah duduk di sana sambil memainkan ponselnya.
" Selamat pagi. " sapa Nia.
Mendengar sapaan Nia, Rendra meletakkan ponselnya dan menatap ke arah Nia. Seperti biasa, selalu cantik. Batin Rendra. Tanpa sadar Ia tersenyum.
Melihat tuan mudanya tersenyum, Habsya pun ikut tersenyum. Beberapa ART lainpun ikut tersenyum, merasa terpesona akan senyuman tuan muda mereka. Beberapa di antara mereka bahkan saling mencubit karena seperti tidak percaya jika tuan mudanya bisa tersenyum seperti itu.
Rendra memang jarang sekali tersenyum. Bahkan untuk sekedar menunjukkan ekspresinya saja, sangat sulit terlihat. Julukan laki - laki gunung es memang sangat cocok disematkan padanya.
" Hentikan. Apa yang kalian lakukan. " bisik Habsya mengingatkan ART lainnya.
Mendengar peringatan dari Habsya, ART lain pun langsung diam dan menundukkan kepalanya.
" Selamat Pagi Tuan Narendra, Nona Nia. Silakan dinikmati makan paginya. " ucap Habsya.
Nia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Mereka berdua adalah manusia yanh sama - sama sangat beruntung. Batin Habsya senang.
Habsya mendekat ke meja makan dan bermaksud untuk mengambilkan makan untuk tuannya namun ditahan oleh Rendra.
" Tidak Perlu Bi, aku akan ambil sendiri. " ucap Rendra membuat Habsya dan ART lainnya terkejut.
Biasanya, Rendra selalu minta semuanya disiapkan. Bahkan Ia tidak mau menyendok nasi sendiri ke piringnya.
" Sama Nia aja. " ucap Nia kemudian meraih sendok nasi dan mulai menyendokkan nasi ke piring Rendra.
Lagi - lagi, Rendra menatap Nia dengan tersenyum. Dan lagi - lagi, seluruh orang di ruang makan menjadi terpesona lagi. Gunung es ini sudah menemukan matahari penghangatnya.
" Baik, kami undur diri. Jika masih ada yang diperlukan bisa panggil saya. " kemudian Bi Habsya meninggalkan ruang makan diikuti oleh ART lainnya.
Nia mengambilkan beberapa lauk untuk Rendra baru kemudian Ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka menikmati sarapan dengan tenang. Tidak ada pembicaraan apapun, hanya Rendra yang diam - diam mencuri pandang ke arah Nia.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Rendra dan Nia berangkat bersama menggunakan satu mobil. Tadinya Nia hendak memesan ojek online tapi Rendra menolaknya dengan keras. Ia bersikukuh Nia harus berangkat bersama dengannya.
" Aku turun di ujung jalan saja. " pinta Nia.
" Kenapa? Sekalian di depan kantor saja. " sahut Rendra.
" Jangan, nanti jadi bahan gosip lagi. " ucap Nia.
Mengerti apa yang Nia takutkan, Rendea kemudian memberi kode agar Andreas menghentikan mobilnya di ujung jalan agar Nia bisa turun di situ. Rendra sadar, tidak semua orang bisa secuek terhadap gosip seperti dirinya.
Setelah Nia turun, Andreas melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
" Andreas, apa jadwal kita hari ini? " tanya Rendra.
" Anna tadi menyampaikan bahwa hari ini ada rapat penentuan tender ekspor kelapa sawit, Tuan. " jawab Andreas.
" Oke, ayo kita menangkan proyek itu. " ucap Rendra bersemangat.
Andreas tersenyum dan mengangguk. Nampaknya, Karunia memang bisa membawa energi positif ke orang - orang di sekitarnya. Batinnya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍癸笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Saat jam makan siang, Nia mendapat pesan dari Sarah untuk makan siang bersama di cafe depan perusahaan. Seperti mengulang kebiasaan ketika mereka dulu saat masih bekerja bersama di Hartawan Grup.
Tak sabar bertemu sahabatnya, Nia berlari kecil menuju cafe dan menghampiri Sarah yang sudah menunggunya di dalam cafe. Mereka berpelukan seolah telah menahan rindu beberapa dekade. Maklum, namanya juga bestie 馃槄
" Coba kulihat wajahmu. " ucap Sarah sambil memperhatikan detail wajah Nia. " Luka jahitan sudah semakin tidak kentara. Tapi kenapa kantong matamu terlihat menghitam? " tanya Sarah.
" Hahaha, bercanda saayyy... " goda Sarah membuat mulut Nia mencebik.
Setelah memesan makanan kesukaan mereka, Sarah pun mulai menginterogasi Nia.
" Katakan padaku. Apa saja yang terjadi padamu sejak aku tidak ada di sini? " tanya Sarah. Sangat to the point.
" Ha? Apanya? Bagian mana? " tanya Nia. Banyak hal yang sudah terjadi membuatnya bingung harus memulai cerita dari mana.
Mata Sarah menyipit, " Jangan membodohiku. "
Nia tergelak. " Kau tau? Kau seperti ibu - ibu yang sedang menginterogasi anak gadisnya. "
Sarah semakin mendekatkan wajahnya ke arah Nia sambil menyilangkan kedua tangannya. " Jadi kau mau jujur atau langsung aku bombardir? " tanya Sarah lagi.
Nia terdiam seketika. Sarah ini memang sangat mengenalnya. Bahkan apapun yang terjadi padanya, selalu saja Sarah sudah memiliki firasat. Seperti firasat seorang ibu pada anaknya, begitulah kira - kira.
" Di mana kau tinggal sekarang? Kemarin aku mengunjungimu. Tapi tidak ada orang, pemilik kontrakanmu mengatakan kau sudah tidak di situ lagi. " ucap Sarah kesal.
" Kau bilang akan selalu cerita. " ucapnya lagi. " Apa kau sudah tidak mau cerita - cerita lagi padaku? " tanya Sarah lagi, kesal. " Bahkan kau pindah kontrakan juga tidak mengabariku! "
" Iya iya, maafkan aku. Aku baru akan menceritakan padamu. " ucap Nia merasa bersalah.
Kemudian Sarah menceritakan semua yang Ia alami. Sarah mendengarkan dengan seksama.
" Lalu kau sekarang tinggal di mana? " tanya Sarah.
Nia yang sedang menyedot matcha latte sontak menyemburkan minumannya. Mengenai wajah Sarah.
" Maafkan aku. " ucap Nia cepat - cepat mengambil tissue dan membersihkan wajah Sarah.
" Oke... " ucap Sarah. " Aku tau cuaca sedang panas dan kau suka matcha latte, dan kau juga suka padaku. " Ia memejamkan matanya. Pasrah wajahnya dibersihkan oleh Nia.
" Bukan berarti kau memandikanku dengan matcha latte. " ucapnya lagi, dengan mendengus.
" Iya iya maaf. " ucap Nia.
" Jadi, jawabannya? " tanya Sarah, gigih.
" Aku tinggal di mansion Tuan Narendra. " jawab Nia setengah berbisik.
" Apa? Aku tidak dengar. " ucap Sarah mendekatkan telinganya ke arah Nia.
" Mansion Tuan Rendra. " jawab Sarah lagi, sedikit menaikkan volume suaranya.
" APA?!!! " Sarah bukan hanya bertanya, Ia bahkan berteriak hingga seisi ruangan saat ini sedang melihat ke arah mereka.
Nia terkejut dan berusaha menutup mulut Sarah. Ia menundukkan kepalanya berulang kali ke pengunjung cafe yang lain sebagai bentuk permintaan maaf. Sarah ini, betul - betul berisik. Batinnya.
" Awww!!! " kini giliran Nia yang berteriak. Sarah mencubitnya dengan cubitan berukuran sangat kecil di bagian pinggang.
Kini, giliran Nia menutup mulutnya sendiri. Dan lagi - lagi Ia menundukkan kepalanya berulang - ulang sebagai permohonan maaf.
Sepertinya pengunjung cafe lainnya memaklumi kelakuan Nia dan Sarah. Mereka sedari tadi memang terlihat paling heboh sendiri.
" Sudah. Aku mau ke toilet. Membersihkan sisa - sisa dosa matcha lattemu! " ucap Sarah kemudian beranjak menuju toilet.
Brukk!! " Aww!! " teriak Sarah.
Apa lagi kali ini 馃樁