Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 77. Cerita Andreas dan Sarah (2)



Selamat Membaca ~


Mobil yang dikendarai Andreas melaju dengan kecepatan sedang menembus rintik hujan deras yang turun mengguyur Kota A.


Setelah beberapa menit, mobil itu kemudian berhenti di sebuah tempat makan pinggir jalan. Sangat sederhana, hanya sebuah gerobak, tempat duduk lesehan, dengan atap tenda.


Tanpa berbasa - basi, Andreas turun dari mobil. Sebelum Ia menutup pintu mobilnya, Ia menundukkan kepalanya dan memberi kode kepada Sarah agar ikut turun dengannya.


Sarah patuh, Ia pun turun dari mobil dan berjalan mengikuti Andreas yang sedang berdiri di samping penjual makanan. Sepertinya Andreas sedang memesan makanan.


" Kau pesan apa? " tanya Andreas.


Dengan cepat Sarah menggeleng. " Aku, tidak usah. "


" Cepat pesan. Aku tidak mau suara kelaparan perutmu membuat telingaku sakit. " ucap Andreas ketus.


Hah? Jadi tadi dia dengar suara perutku? Matilah aku. Imagekuu!!!! Teriak Sarah dalam hati.


" Cepat pesan. " perintah Andreas, masih dengan ketus.


" Iya iya, aku akan pesan. " ucap Sarah dengan wajah merah padam.


" Mang, pesan seperti punya dia saja. " ucap Sarah asal tanpa tahu apa yang dipesan oleh Andreas.


" Siap neng. " sahut mamang nasi goreng.


Sarah kemudian berjalan ke arah Andreas yang sudah duduk di tempat yang disediakan. Wajahnya masih tetap dingin walau bukan di kantor. Mungkin dia menyimpan cold pack di setiap pori - pori kulit wajahnya, gerutu Sarah.


Mereka menunggu makanan mereka datang dalam diam. Tidak saling bicara, namun asik dengan isi pikiran mereka masing - masing


Setelah menunggu lima belas menit, mang nasi goreng datang dan menyajikan nasi goreng yang sudah dipesan.


Aroma makanan yang baru datang itu sangat menggoda. Sarah menerima sepiring nasi goreng hangat dengan sumringah. Perutnya yang lapar akan sangat puas dengan makanan yang baru saja datang ini, batinnya.


Jaga image, jaga image. Sarah mengingatkan dirinya sendiri dalam hati. Saat ini Ia sedang bersama dengan mister ice nomor dua. Ia harus jaga penampian dan etika.


Ia menyuapkan nasi goreng sedikit demi sedikit dan mengunyahnya perlahan. Ia menyempatkan melirik Andreas yang sedang makan dengan tenang. Tanpa bersuara, wajah dingin, dan pandangan ke depan. Memandangi kendaraan yang lewat di depan mereka.


Ia mengunyah nasi goreng masih dengan fokus melirik ke arah Andreas. Kemudian Ia merasa ada yang aneh pada dirinya. Tubuhnya terasa gatal dan panas.


Ia meletakkan piring dan melihat kulit tangannya yang sudah mulai berbintik kemerahan. Ia panik, apa yang tadi Ia makan? Kenapa Ia jadi gatal – gatal?


Ia mengambil ponselnya, melihat wajahnya melalui aplikasi kamera. Bahkan bibirnya sudah mulai membengkak. Bagaimana ini?! Ia membuka tasnya dan mencari obat alergi di dalamnya, nihil! Ia tidak membawa obatnya.


Andreas memperhatikan Sarah diam – diam. Kenapa dia tiba – tiba panik? Sepertinya terjadi sesuatu. Tapi Ia enggan bertanya, dia merasa harus tidak terlalu memperlihatkan bahwa dirinya cukup bisa peduli dengan orang lain.


Dengan gemetaran, Sarah akhirnya memberanikan diri menyentuh Andreas.


“ Maaf, bisa kita ke rumah sakit? “ tanya Sarah liirh.


Andreas menatap Sarah. Ada apa dengannya? Kenapa Ia berbicara sambil menunduk seperti itu? Dan kenapa tangannya bergetar.


Ia pun meletakkan piring dan memutar tubuh Sarah agar menghadap ke arahnya. Ia sangat terkejut mendapati Sarah gemetaran, bibirnya bengkak dan kulitnya menjadi sangat merah. Bahkan Ia kesulitan bernapas.


“ Apa yang terjadi padamu? “ tanya Andreas sedikit panik. (Sedikit dulu ya, jangan banyak – banyak).


Sarah tidak menjawab, bibirnya mengatup rapat. Matanya mulai berkaca – kaca. Rasa takut dan malu bercampur dalam benaknya. Melihat Sarah yang seperti itu, Andreas menjadi semakin panik. Ia beranjak untuk membayar tagihan makan dan membantu Sarah masuk kembali ke dalam mobil.


Ia mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Hujan yang baru saja reda membuat jalanan menjadi ramai, sepertinya orang – orang baru saja keluar dari kediaman mereka semua untuk memulai aktivitas malam mereka.


Sarah menangis tertahan, Ia menggaruk – garuk tangan dan tubuhnya. Melihat itu, Andreas berusaha menahan tangan Sarah agar tidak menggaruk – garuk kulitnya. Ia khawatir Sarah bisa saja melukai dirinya sendiri. Bahkan Ia rela lengan dan tangannya diremas kuat oleh Sarah.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Setelah sekitar 15 menit, seorang perawat menghampirinya.


“ Permisi, apakah Anda kerabat dari pasien Sarah? “ tanya perawat itu.


Andreas diam sejenak, bagaimana Ia harus menjawab?


“ Ya, aku kerabatnya. “ jawab Andreas.


“ Baik, dokter jaga ingin bertemu dengan Anda. Ada yang ingin beliau sampaikan. “ ucap perawat itu.


Andreas itu mengangguk kemudian mereka berjalan menuju tempat dokter jaga UGD.


“ Selamat malam, dengan kerabat pasien Sarah? “ tanya dokter yang terlihat seperti seusia Andreas.


“ Ya, saya Andreas. “ sahut Andreas.


“ Baik Tuan Andreas, saya ingin menjelaskan kondisi Pasien Sarah. “ ucap dokter itu lagi.


“ Ya, bagaimana keadannya? “ tanya Andreas.


“ Nampaknya Pasien Sarah memiliki alergi tertentu. Apakah tadi ada makanan atau minuman tertentu yang dimakan oleh pasien sehingga timbu gejala seperti tadi? “ tanya dokter.


Andreas berusaha mengingat – ingat. Awalnya Ia telrihat baik – baik saja saat pertama bertemu. Bahkan sampai mobilnya dibawa mobil derek pun dia baik – baik saja. Apa karena nasi goring yang Ia makan tadi?


“ Tadi kami sedang makan Dok, kemudian tiba – tiba dia menjadi gemetar dan kesulitan bernapas. “ jawab Andreas.


“ Kalau boleh tau, makananan apa tadi yang dimakan oleh pasien? “ tanya dokter lagi.


“ Kami tadi makan nasi goreng Dok, “ jawab Andreas.


“ Hm, apakah ada hal spesifik dari makanan itu? Mungkin ada seafood, atau hal lain yang khas? “ tanya dokter itu lagi.


Andreas mengingat, “ Sepertinya… Udang dan cumi Dok. “


“ Nah, bisa jadi pasien Sarah memiliki alergi terhadap makanan itu. “ sahut dokter.


“ Ke depannya, tolong berhati – hati terhadap makanan yang dimakan oleh pasien. Alergi makanan bukan merupakan hal sederhana dan bisa aja membahayakan nyawa jika tidak segera diberi pertolongan. Sebaiknya membawa obat alergi juga setiap bepergian. “ jelas dokter.


“ Untuk saat ini pasien sudah kami beri tindakan pengobatan dengan obat – obatan khusus. Mungkin akan membutuhkan waktu sedikit lama sampai pasien menjadi pulih kembali. “ lanjut dokter.


Andreas mendengarkan penjelasan dokter dengan serius dan sesekali menganggukkan kepalanya.


“ Sekarang Anda bisa menemui Pasien. “ ucap dokter.


Andreas menganggukkan kepalanya lagi. “ Baik Dok, terima kasih. “


Ia kemudian beranjak dan berjalan menuju tempat Sarah berisitirahat. Ia melihat Sarah sudah dipasang infus, Ia juga mengenakan selang oksigen. Bibirnya masih sedikit bengkak, wajahnya juga masih kemerahan.


“ Pasien kami beri oksigen karena saturasi oksigennya tadi sempat rendah, Tuan. Jika cairan infusnya hampir habis, Anda bisa segera memanggil petugas. “ ucap seorang perawat.


“ Baik suster, terima kasih. “ sahut Andreas.


Perawat itu kemudian pergi meninggalkan Andreas dan Sarah. Andreas duduk di sebuah kursi yang disediakan di samping ranjang pasien. Ia memperhatikan wajah damai Sarah yang sedang terlelap.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Halo halo, maaf ya kemarin tidak up. Sebelumnya ada kendala dan naskah hampir tidak lolos review.


semoga kedepannya tidak ada kendala dengan review lagi yaaaah.


anw, selamat hari raya idul adha bagi yang merayakaan ❤