
Brukk!! " Aww!! "
Nia menoleh ke arah sumber suara. Begitu pula dengan seisi cafe. Terlihat Sarah yang sudah jatuh terduduk di dekat lorong ke arah toilet. Nia berlari menghampiri Sarah.
" Maaf. " ucap seorang laki - laki yang bertabrakan dengan Sarah.
" Aduuh, " Sarah merintih memegang sikunya yang menabrak ujung meja yang berada di dekat lorong menuju toilet.
Nia datang dan membantu Sarah berdiri. Laki - laki yang bertabrakan dengan Sarah hanya berdiri terdiam melihat Sarah yang dibantu Nia untuk berdiri.
" Halo Tuan, seharusnya Anda juga membantu saya untuk berdiri! Anda kan sudah menabrak saya. " Sarah merasa kesal melihat laki - laki itu yang masih berdiri dengan tenang.
" Anda kan bisa berdiri sendiri. Sudah ada teman Anda yang membantu. " jawab laki - laki itu dingin. " Lagipula kejadian tadi tidak murni kesalahan saya saja. " lanjutnya.
" Apa?! " Sarah mendelik.
Nia menoleh, melihat siapa laki - laki itu. Ia hanya tersenyum setelah melihatnya. Another Mister Ice, Andreas.
Nia menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyapa. Andreas pun membalas sapaan Nia dengan anggukan kepala.
" Sudah - sudah, kau mau ke toilet kan? Ayo ku antar. " ucap Nia sambil berusaha mendorong tubuh Sarah.
" Tapi dia benar - benar menyebalkan Nia. Lihat! Dia hanya berdiri di sana dengan wajah tak bersalah! " Sarah mengomel sambil menunjuk ke arah Andreas.
Andreas tetap dengan wajah dingin. Tidak berkespresi, seperti biasa.
" Sudah, ayoo... " akhirnya Nia menarik Sarah ke arah toilet.
Andreas masih berdiri di situ. Menatap Sarah yang masih seperti akan memakinya. Ia tersenyum. Menarik, batinnya. Kemudian Ia berbalik dan pergi meninggalkan cafe itu.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Jam pulang kerja. Lagi - lagi hujan turun cukup deras. Nia enggan untuk pulang, sebetulnya dia merasa segan. Bagaimana Ia bisa pulang. Sedangkan saat ini, Ia sedang ikut menumpang tinggal di mansion Rendra.
Ia masih tetap asik di meja kerjanya, mencoret - coret kertas seperti anak TK yang sedang belajar menggambar.
Mungkin Tuan Rendra sedang sibuk, atau dia sedang ada meeting dan semacamnya? Ia belum menghubungiku hari ini. Batin Nia.
Atau, aku ke mall saja? Ah, Tapi hujan. Batin Nia lagi.
Tampak dari dalam kantor langit begitu gelap untuk jam 4 sore ini. Beberapa teman satu ruangannya pun sudah pulang.
Ia memilih membersihkan dan merapikan meja kerjanya, membuang semua kertas - kertas yang Ia coreti sedari tadi. Kemudian Ia berjalan menuju lift, berniat menunggu Rendra di lobi sambil membaca novel online.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
- Di Ruangan Rendra -
" Andreas. " panggil Rendra.
" Ya, Tuan? " sahut Andreas.
" Apa Nia sudah selesai? " tanyanya sambil masih membolak - balik lembaran kertas dan membacanya dengan serius.
" Sudah waktunya pulang sejak 30 menit yang lalu Tuan. " jawab Andreas.
Rendra meletakkan kertas itu di meja, sedikit keras. " Kenapa kau tidak bilang? Aku tidak bisa menghubunginya hari ini Aku takut mengganggunya bekerja. " ucap Rendra resah.
" Di mana Nia sekarang? Ayo temui. " Rendra beranjak dan berjalan menuju arah gantungan mengambil jasnya yang tergantung dengan rapi di situ.
" Tuan maaf, sebaiknya Anda mengirim teks dulh pada Nona Nia. " saran Andreas.
" Oh ya, betul juga. " Ia segera merogoh ponsel dari saku celananya.
Maaf, apa kau menunggu lama? Ayo kita pulang
Ia mengirim pesan melalui aplikasi chat online ke Nia. Terlihat Nia sudah membaca pesannya dan sedang mengetik balasan.
Baik Tuan,
Balasnya singkat. Rendra tersenyum. Nia ini, sudah kukatakan berulang kali jangan memanggilku tuan - tuan kalau hanya ada kita berdua.
Kita bertemu di lobby.
Nia pun segera membaca dan sedang mengetik balasan
Baik
" Ayo Andreas. Nia akan bertemu kita di lobby. " ucap Rendra segera berjalan dengan terburu - buru keluar dari ruangannya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
- Di dalam mobil -
Suasana canggung. Hening.
Rendra lupa, Ia meminta Nia untuk bertemu di lobby. Tentu saja Nia tidak berani menolak, Nia akan mematuhinya. Sedangkan, lobby kantor sedang banyak orang yang sedang menunggu hujan reda. Banyak orang memperhatikan dan berbisik ketika tadi Rendra mengajak Nia untuk pulang.
Andreas menyetir mobil sambil melirik ke arah kursi penumpang di belakang. Rendra dan Nia sama - sama terdiam.
Ia berinisiatif memutar musik agar tidak menjadi terlalu canggung. Lagu scientist oleh Coldplay mengalun dengan volume rendah. Rendra melirik ke arah Andreas, seperti berterima kasih telah membantu mengurangi suasana canggung yang ada saat ini.
" Ee... Nia. " ucap Rendra. Berusaha membuka obrolan.
Tidak ada jawaban.
Apakah dia marah padaku? Kenapa dia hanya diam? Batin Rendra sambil melirik ke arah Nia. Nia masih tetap bergeming, menghadap ke arah luar.
" Nia... " panggil Rendra lagi. " Apa kau marah karena aku mengajakmu pulang di hadapan orang - orang? "
Nia masih terdiam. Tidak menjawab. Rendra semakin merasa bersalah.
" Nia.. Jawab aku. " kali ini Rendra memutar badannya menghadap ke Nia.
Nia tetap bergeming. Bahkan masih tetap menatap ke arah jalanan di sisi mobil.
" Nia. Kau marah rupanya. " ucap Rendra lagi. " Baik, aku tidak akan mengulanginya lagi. Lain kali aku akan menjemputmu di luar gedung. Supaya tidak ada yang.... "
Tiba - tiba kepala Nia teratuk kaca mobil. " Aww! " Ia mengaduh setelah kepalanya teratuk kaca.
Nia menoleh ke arah Rendra. Menatapnya bingung.
" Maaf, apa Tuan tadi mengajakku bicara? " tanya Nia sambil mengucek matanya. Matanya nampak merah.
" Kau.... Kau tertidur? " tanya Rendra.
Andreas melirik ke arah spion dalam mobil mobil. Kasihan sekali daritadi Ia bicara dengan orang tidur. Batin Andreas.
" Hehe, maaf... " ucap Nia. " Tadi bicara apa? " tanya Nia.
" Sudah sudah. Lupakan. Tidur lagi saja. " ucap Rendra kesal.
Nia tampak semakin bingung. " Katakan saja, kenapa? " tanya Nia lagi.
Kali ini Rendra membuang pandangannya ke luar mobil. " Sudah. Tidur saja. " jawabnya lagi.
Nia hanya mengangkat pundaknya saja kemudian menghadap ke arah luar mobil dan memejamkan matanya lagi.
Andreas berusaha menahan tawanya. Terlihat Rendra menatap tajam ke arah Andreas melalui spion dalam mobil. Tatapan mata kedua orang itu bertemu, Andreas salah tingkah. Ia hanya berdaham dan pura - pura kembali fokus menyetir.
Maybach hitam itu pun membelah jalanan ibu kota yang nampak lengang karena cuaca sedang hujan dengan kecepatan sedang menuju Mansion Keluarga Hartawan.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Nia tidak segera kembali ke kamarnya setelah makan malam. Ia mengobrol bersama Bi Habsyah di samping kolam renang. Sedangkan Rendra kembali ke ruang kerjanya.
Rendra nampak serius membaca kertas - kertas yang ada di mejanya. Laporan pekerjaan, laporan penyelidikan, dan lainnya.
Di sisi lain, perasaannya terasa bercampur aduk. Layaknya remaja yang sedang jatuh cinta dan ingin memiliki gadisnya seutuhnya. Ia tidak bisa tenang. Ia ingin meminta Nia untuk menikah dengannya. Sesegera mungkin. Tapi Ia tidak ingin terkesan terlalu buru - buru dan terlihat terlalu memaksa.
Ia meraih ponselnya dan menelepon seseorang.
" Bagaimana? " tanyanya pada orang di seberang sana.
Rendra dengan tenang mendengarkan lawan bicaranya. Sesekali Ia mengangguk dan sesekali ber-dehem.
" Oke, semua harus sempurna. Harus tidak bisa dilupakan. " ucap Rendra kemudian menutup panggilannya.
Rendra meletakkan ponselnya dan membuka laci meja kerjanya. Ia mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam dari laci, membuka kotak itu dan tersenyum.
Kemudian Ia meletakkan kembali kotak berwarna hitam itu ke dalam laci. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan untuk mencari Nia. Ia ingin melihat wajah Nia lagi sebelum Nia tidur.
" Bi Habsya, Nia ke mana? " tanya Rendra pada Bi Habsya yang sedang mengawasi ART lain menyusun piring.
" Nona Nia sudah kembali masuk ke kamarnya Tuan, mungkin sudah istirahat. " jawab Habsya.
" Baiklah. " sahut Rendra.
Sayang sekali. Ucap Rendra dalam hati. Ia berbalik dan berjalan kembali menuju kamarnya.
Ia bukanlah tipe laki - laki yang akan membuka pintu kamar Nia tanpa ijin untuk sekedar mengintip apakah Nia sudah tertidur atau belum. Ia memutuskan masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil ponsel dari saku celananya, dan membuka galeri. Melihat foto Nia yang pernah Ia ambil diam - diam. Ia tersenyum, melihat wajah Nia mampu memberinya rasa nyaman. Tak lama kemudian Ia terlelap. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya untuk sementara.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
apakah ada yang penasaran? sebetulnya Andreas itu bisa senyum ngga sih? apa dia selalu berwajah datar?
bisa kok, Andreas itu tetap manusia biasa. Dia juga bisa senyum kok. nih penulis kasih yah, biar ngga penasaran gimana wajah Andreas ketika tersenyum.
...ya emang ngga senyum cerah ceria membahana ya, tapi senyum simpulnya aja udah bisa bikin melting kok...