
Selamat Membaca ~
Andreas terpaku melihat notifikasi pesan singkat dari Nia, sebuah rekaman suara. Ia meletakkan kembali ponselnya dan kembali menghadap layar laptopnya. Ia bertekad harus menyelesaikan pekerjaannya agar Ia bisa fokus pada pernikahannya. Totalitas dalam pesta dan bulan madunya nanti, tanpa terbebani pekerjaan yang belum Ia selesaikan.
Tapi, Ia teringat ancaman Nia tadi. Dia juga terbayang ekspresi kecewa Sarah yang selalu disembunyikan Sarah dari dirinya. Ia meraih ponselnya lagi dan memutar rekaman suara yang dikirimkan oleh Nia. Rekaman suara berdurasi sekitar 10 menit itu Ia dengarkan dengan seksama. Sebuah rekaman suara yang berhasil membuatnya terkejut. Ternyata, Sarah sampai berpikiran untuk memikirkan ulang pernikahan mereka.
Ia merasa sangat bersalah pada Sarah. Di satu sisi, ia harus segera meyelesaikan pekerjaannya. Tapi di sisi lain, Ia merasa bersalah kepada Sarah. Memang, sejak satu bulan menuju pernikahan mereka Andreas menjadi sangat sibuk karena Rendra mempercayakan padanya sebuah proyek besar.
Ia menyimpan smeua hasil pekerjaannya dan mematikannya. Ia mengambil jasnya yang tergantung di kursi dan ponselnya di atas meja. Ia bergegas menuju basement tempat di mana mobilnya terparkir.
Dengan terburu – buru Ia melajukan mobilnya ke arah apartemen Sarah. Jalanan yang sedang lengang seolah mendukung keputusan Andreas untuk menuju ke apartemen Sarah.
Sementara itu, Sarah yang masih merasa malas untuk kembali ke apartemennya mampir di sebuah supermarket. Ia berpikir untuk mengisi kulkasnya yang kosong dengan bahan makanan karena kesibukannya akhir – akhir ini membuatnya tidak sempat mengurus dirinya sendiri.
Ia berbelanja bahan makanan cukup banyak kemudian menghela napas berat ketika di kasir. Kenapa juga aku berbelanja begitu banyak, padahal aku hanya hidup seorang diri. Gerutunya dalam hati.
Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Ia berjalan menuju sebuah restoran masakan korea dan membeli beberapa jenis makanan ringan untuk Ia bawa pulang. Dia sedang malas makan, jadi dia hanya membeli makanan ringan untuk pengganti makan malam kali ini. Lalu buat apa dia membeli bahan makanan di supermarket tadi? Huh! Wanita! Kutuknya sendiri dalam hati.
Setelah selesai menyelesaikan pembayaran, dengan kedua tangan yang penuh dengan bahan makanan dan makanan ringan yang Ia beli, Ia berjalan menuju taksi online yang sudah Ia pesan. Perasaannya menjadi lebih tenang setelah melakukan hal kesukaannya itu.
Berbeda dengan wanita lain pada umumnya, Sarah dan Nia tidak terlalu suka berbelanja pakaian dan tas atau perhiasan. Mereka berdua lebih suka berkeliling di supermarket, melihat anek macam sayur dan buah yang dipajang. Mereka juga suka membeli makanan ringan, terutama tteokboki dan odeng. Dua jenis makanan ringan korea kesukaan mereka.
Setelah sampai di apartemen, Sarah yang tidak tahu apa yang sedang menantinya berjalan dengan santai tanpa beban. Eh, dengan beban. Dia sedang membawa dua buah kantong belanja yang cukup besar di tangan kanan dan sebuah kantong berisi 4 kotak makanan ringan yang Ia beli tadi.
Ia memencet tombol angka pengaman pintu apartemen dan kemudian membuka pintunya. Ia masuk ke dalam dan meletakkan kantong belanjaannya di lantai. Ia duduk dan melepas sepatu bootsnya, pandangannya terpaku pada sepasang sepatu.
“ Hm? Sepatu Andreas? Kenapa ada di sini? “ gumamnya.
Ia kemudian menyusun rapi sepatu boots yang Ia kenakan dan sepatu Andreas ke rak sepatu. Ia berjalan ke dalam dengan membawa kantong belanjaannya. Masih clueless.
Ia memencet tombol lampu ruang tengah apartemen. Betapa terkejutnya dia ketika melihat ada rangkaian bunga mawar merah berukuran cukup besar dan balon berbentuk huruf tersusun rapi di sofa. Balon dengan bentuk huruf itu tersusun rapi membentuk kata “sorry”.
Ia juga melihat Andreas yang sedang menggeliat di sofa lain, nampaknya Ia tertidur karena menunggu Sarah yang tidak juga kunjung datang.
Sarah berlari menghampiri Andreas dan memeluknya sambil menangis tersedu, membangunkan Andreas yang masih berada di alam mimpi.
“ Kau sudah datang? “ tanya Andreas dengan suara serak.
Sarah mengangguk dengan kedua mata yang sudah basah. Ia merasa terharu dengan kejutan Andreas.
Andreas bangkit dan memeluk Sarah.
Sarah menggelengkan kepalanya, “ Maaf, aku datang terlambat. “
Andreas melepas pelukan dan mengusap pipi Sarah yang basah dengan air mata.
“ Maafkan aku yang menjadi sangat egois, tidak peka terhadap perasaanmu, dan semua kesulitanmu yang lain. “ ucap Andreas kemudian menangkup wajha Sarah.
Lagi – lagi Sarah menggeleng. “ Tidak, aku yang minta maaf. Maafkan aku karena tidak bisa menyampaikan apa yang aku rasakan padamu. “
Andreas tersenyum kemudian mengusap pucuk kepala Sarah perlahan.
“ Ke depannya, katakana semua yang kau rasakan padaku. Aku adalah laki – laki yang tidak cukup peka. Jangan pernah merasa tidak enak untuk menyampaikan apa yang kau rasakan. Jadikan aku bagian dari semua cerita dan keseharianmu. “ ucap Andreas sambil menangkup wajah Sarah lagi.
Sarah mengangguk dan tersenyum.
Wajah kedua insan yang tadinya berjarak cukup dekat itu menjadi semakin dekat sehingga tidak ada jarak sama sekali antar keduanya. Andreas memberanikan diri untuk mengecup bibir Sarah. Sebuah langkah berani untuk laki – laki dingin yang berasal dari Kutub Selatan. Ini adalah ciuman pertama mereka.
Ciuman yang kikuk namun perlahan menjadi ciuman yang intim itu terpaksa berhenti karena suara perut yang terdengar cukup nyaring.
“ Maaf, “ ucap Sarah sambil tersenyum.
“ Kau lapar? “ tanya Andreas.
Sarah mengangguk. “ Tadinya aku tidak merasa lapar, jadi aku hanya membeli beberapa makanan ringan. “
“ Sepertinya kau membeli bahan makanan juga? “ tanya Andreas.
“ Iya, aku membeli beberapa bahan makanan untuk isi kulkas. “ jawab Sarah.
“ Ke depannya, kau bisa mengajakku berbelanja agar kau tida kesulitan membawa semua barang belanjaanmu itu. Ayo kita susun bahan makanan yang sudah kau beli. “ ajak Andreas.
Sarah mengangguk bersemangat. “ Aku akan menghangatkan makanan ringan yang aku beli. “
“ Aku juga akan memesan makan untuk kita. “ imbuhnya.
Andreas tersenyum melihat senyuman sudah terpancar lagi di wajah Sarah.
Setelah membereskan semua barang belanja Sarah, Andreas membantu Sarah menyiapkan makanan ringan dan juga menerima makanan yang sudah dipesan oleh Sarah.
Setelah menghabiskan makanan, malam itu mereka habiskan dengan mengobrol dan menonton televisi.