Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 87. Masih Hari Pernikahan



Selamat Membaca ~


Riuh undangan terdengar kencang ketika Andreas mengecup singjat pipi Sarah. Wajah Sarah memerah dengan mata membulat sempurna ketika pipinya dikecup oleh Andreas.


Nia ikut berteriak heboh ketika Andreas mengecup pipi Sarah. Ia memang sudah menduga ada apa - apa di antara keduanya.


Rendra juga ikut bahagia karena ternyata Andreas memilih jalan publikasi seperti ini. Ia merasa bangga akhirnya sepupunya itu berani menunjukkan dengan gentle bahwa Ia adalah laki - laki yang telah berpunya.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Acara pesta pernikahan dilanjutkan dengan gala dinner, masih di tempat yang sama. Nia mengenakan gaun sederhana bertema klasik dengan warna yang masih sama, putih. Sedangkan Rendra mengenakan setelan jas berwarna krem muda, terlihat sangat serasi dengan Nia.


Seluruh tamu undangan yang memang mendapat fasilitas menginap di resort milik Rendra pun telah berganti dress code dengan tema warna kuning gading dan putih tulang. Dengan tema busana yang lebih santai.


Nia dan Rendra, sang ratu dan raja malam ini berada dalam meja terpisah dari tamu lainnya. Mereka menikmati makan malam dengan sajian musik pengiring yang dimainkan oleh sebuah band orkestra. Musik jazz dengan irama lembut dimainkan malam itu.


Suasana malam yang cerah bertabur bintang pun sepertinya mendukung penuh acara pernikahan Nia malam ini.


" Apa kau bahagia? " tanya Rendra tiba - tiba.


Nia menoleh kepada laki - laki di sebelahnya, yang kini telah berubah status menjadi suaminya.


" I couldn't be happier. " jawab Nia seraya tersenyum kepada suaminya.


Rendra membalas dengan senyuman, Ia mebgusap lembut pipi istrinya kemudian mengecupnya singkat.


" Sayang, kau tau? Aku ingin punya banyak anak. " ucap Nia seraya menyilangkan jemarinya dan menatap ke arah lampu - lampu hias.


" Benarkah? " tanya Rendra


" Eh hem. " angguk Nia bersemangat.


" Aku adalah anak tunggal, ayah dan ibuku pun anak tunggal. Aku tidak pernah bisa merasakan memiliki saudara, jadi aku suka merasa kesepian. Aku ingin anak kita nanti tidak merasa kesepian. " ucap Nia.


Rendra tersenyum menatap istrinya.


" Sayang, kau tau? Orang bilang hamil itu sangat berat. Melahirkan itu sangat sakit. " ucap Rendra.


Bukannya dia tidak mau punya anak, Ia hanya tidak bisa membayangkan jika nanti ketika Nia mengandung, Nia merasa kesulitan dan merasa kesakitan ketika Ia melahirkan.


" Sayang, " ucap Nia sambil menggenggam tangan Rendra.


" Itulah nikmatnya menjadi seorang wanita. Itu sudah menjadi takdir kami dan nikmat tersendiri bagi kami. " ucap Nia lagi.


" Jangan khawatir. " imbuhnya.


" Baiklah, mari kita lihat kepiawaianmu malam ini. Kau siap? " tanya Rendra berbisik di telinga Nia.


Deg!


Ah, aku lupa! Malam pertama! Orang bilang akan terasa sangat sakit saat melakukannya pertama kali! Pekik Nia dalam hati.


" Hei, jangan tegang. Aku akan melakukannya dengan perlahan. " goda Rendra setelah melihat wajah Nia sedikit pias.


" Hei, tenanglah. Kenapa kau menjadi sangat tegang? " ucap Rendra lagi, terkekeh melihat wajah istrinya yang terlihat sangat tegang.


Entah apa yang sebenarnya dirasakan oleh Nia ketika mendengar bisikan Rendra. Ada rasa lega namun juga kecewa. Ia bingung dengan dirinya sendiri.


Makan malam pun berlanjut dengan pertunjukan dari seorang penyanyi yang sengaja diundang untuk memeriahkan acara pernikahan Rendra dan Nia. Penyanyi itu menyanyikan lagu Closest to you by Carpenters dengan apik, membuat semua yang ada di situ ikut terbawa suasana.


Ketika sang penyanyi beralih ke lagu Perfect by Ed Sheran, Rendra beranjak dari duduknya dan "meminta" tangan Nia. Nia menyambutnya dan mereka berdua pun menjadi pembuka dansa malam ini yang diikuti oleh beberapa pasang tamu lainnya.


Seperti malam ini hanya milik mereka berdua, mereka berdansa dalam keadaan mata saling menatap.


" Kau sangat cantik. " ucap Rendra, masih menatap Nia lekat - lekat.


Nia tersipu mendengar pujian dari suaminya. Sepertinya Ia tidak pernah tidak tersipu jika mendapat pujian dari Rendra.


Terbawa suasana dan lagu yang mendukung, keduanya berciuman dengan tubuh yang masih bergerak mengikuti alunan lagu. Keduanya menjadi pusat perhatian, membuat iri undangan yang hadir malam ini.


" Sayang, kau tau? Aku sangat bersyukur telah bertemu denganmu. Kau adalah hadiah terindah yang Tuhan kirimkan untukku. " ucap Nia.


" Benarkah? " tanya Rendra.


" Ya, aku jujur. " jawab Nia.


Rendra tersenyum mendengar jawaban Nia.


" Kalau begitu, kau akan mendapat hadiah lain malam ini. " ucap Rendra kemudian menghentikan gerakan tubuhnya.


Ia mengangkat telapak tangannya dan memberi sebuah kode dengan lambaian tangan. Nia kebingungan melihat tingkah suaminya. Matanya mengikuti arah Rendra memberi kode lambaian tangan.


Sesuatu bergerak masuk ke area taman. Wajah Nia semakin cerah, matanya berbinar. Ia melompat - lompat kecil bahagia kemudian memeluk suaminya dengan erat.


Sebuah mobil tua masuk ke dalam area taman, mobil yang tidak asing bagi Nia. Ateez!


Sarah yang hapal betul bahwa itu adalah mobil milik Nia ikut senang. Ia menunjuk ke arah mobil itu dan berbisik ke Andreas bahwa itu adalah mobil kesayangan milik Ayah Nia.


Andreas hanya membalas dengan senyuman, tentu saja Ia tau itu adalah mobil kesayangan milik ayah Nia. Bahkan, Ia lah yang memproses penebusan mobil itu minggu lalu.


" Suka? " tanya Rendra lagi.


Nia mengangguk bersemangat. Kali ini Ia yang mencium Rendra terlebih dahulu, membuat Rendra terkejut dengan sikap istrinya itu.


Nia berlari mendekati ateez, mobil berjenis sedan berwarna hitam milik ayahnya yang disita oleh pihak rentenir beberapa bulan lalu. Ia membuka pintu dan masuk ke dalamnya, merasa sangat bahagia akhirnya mobil ini bisa Ia dapatkan kembali.


Malam pun berlanjut, kebahagiaan bisa dirasakan oleh semua orang, tidak hanya oleh sang pengantin.


Saat ini Nia kembali ke dalam pelukan suaminya, kembali berdansa diiringi lagu yang lembut. Menikmati malam ini hingga selesai.


Mereka yang sedang larut dalam suasana bahagia tidak menyadari. Sepasang mata menatap penuh kebencian ke arah Nia dan Rendra yang sedang berdansa.


Tunggu saja balasanku! Gumamnya penuh amarah.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Mohon dukungannya dengan cara memeri rate, vote, like dan kementar. Kasih hadiah juga boleh, terima kasihb banyaj ❤