
Selamat Membaca ~
Seperti yang telah Sarah, Nia, dan Raya sepakati tadi pagi. Sore ini, mereka akan keluar dan menikmati waktu bersama.
Sarah sudah sampai di studio Nia dan menunggu sahabatnya itu dengan sabar. Nia dan Raya sedang menemui klien terakhir mereka hari ini. Terasa seperti hari yang sangat sibuk bagi merrka semua.
Setelah mengakhiri pertemuan dengan kliennya, Nia dan Raya menghampiri Sarah yang sedang duduk bermalas - malasan di ruangan Nia.
" Sarah, sudah lama? " tanya Nia seraya berjalan ke mejanya dan meletakkan sebuah buku memo dsn bolpoin.
" Lumayan lah, 30 menitan. " jawab Sarah.
" Yuk, aku sudah lapar lagi. " ucap Raya.
" Kau sudah lapar lagi? Hebat sekali. Badan rampingmu itu benar - benar menipu. " goda Sarah.
" Yah begitulah. " sahut Raya terkekeh.
" Padahal yang sedang hamil dan harusnya mudah lapar kan Nia. Kenapa kau jadi mudah lapar? " ejek Sarah.
" Ini, adalah sebutan untuk aku ikut bahagia atas kehamilan temanku. " jawab Raya membela diri.
" Bisa - bisamu. " Sarah mencebik.
" Sudah sudah, ayo kita berangkat sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin makan lagi. " ucap Nia.
" Let's go! " sahut Raya dan Sarah bersamaan.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Setelah berkendara sekitar 30 menit, mereka telah sampai di pusat kuliner kota A. Tersedia banyak pilihan kuliner di sini, mulai dari kuliner lokal Indonesia sampai ke kuliner eropa, dan lainnya.
Mereka memutuskan untuk membeli cemilan ringan sebagai pembuka wisata kuliner mereka malam ini.
" Aku ingin mencoba milikmu. " ucap Nia pada Sarah.
" Nih, coba. " ucap Sarah menyodorkan cemilan miliknya.
Nia mencoba dan mengunyahnya penuh semangat. " Ini enak. "
" Ya dong, kan pilihan Sarah. " ucap Sarah membanggakan diri.
Setelah mencicipi milik Sarah, Nia pun mulai melirik milik Raya.
" Raya, aku mau mencoba milikmu juga. " ucap Nia manja.
" Iya, ini cobalah. " ucap Raya.
Nia pun mencoba makanan milik Raya. " Kenapa ini juga enak? "
Sarah menggelengkan kepalanya.
" Kau kan tadi memilih punyamu sekarang. Itu kan juga kesukaanmu. " ucap Sarah.
" Tapi punyamu lebih enak, aku mau tukar. " ucap Nia.
" Tidak bisa! Kalau kau mau, belilah sendiri. " ucap Sarah seraya menyembunyikan makanan miliknya.
" Raya lihat, Sarah begitu pelit padaku. " rengek Nia pada Raya.
Raya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ibu hamil satu ini. Ia kemudian mengambil milik Sarah dan memberikannya pada Nia.
" Hei, itu milikku Raya. " ucap Sarah.
" Mengalahlah pada adikmu, lagipula dia ibu hamil. Nanti kau bisa beli lagi. " ucap Raya.
" Terima kasih Raya... " ucap Nia sumringah.
Sarah mencebik. " Baiklah, kali ini aku akan mengalah. Tunggu sampai giliranku yang hamil. " ucap Sarah.
Raya dan Nia pun terkekeh mendengar celotehan Sarah.
Tanpa mereka sadari, mereka sedang diawasi oleh seseorang dari kejauhan. Seorang laki - laki bertubuh tegap, wajah sedikit oriental, dan sedang mengawasi mereka sambil menyeringai.
Wajah Tommy masih lebam pada beberapa bagian. Begitu pula dengan tubuhnya.
" Ya. Duduklah. " ucap Jason.
Tommy kemudian duduk menghadap ke arah Jason.
" Apakah Anda akan segera memulainya? " tanya Tommy.
" Sepertinya... Begitu. " jawab Jason.
Ia membuka sebuah bungkusan rokok dan mengeluarkan isinya. Kemudian Ia membakar ujungnya, dan menghisapnya dalam - dalam.
" Siapa wanita - wanita di sekitar Karunia itu? " tanya Jason.
Tommy memutar tubuhnya berusaha melihat siapa saja yang sedang bersama dengan Nia.
" Itu adalah teman dekat Karunia. " jawab Tommy.
" Tsurayya, dan Sarah Valencya. " lanjutnya.
" Sarah Valencya? " tanya Jason.
" Aku seperti tidak asing dengan namanya. " ucap Jason.
" Sarah Valencya adalah sahabat Karunia sejak lama. Ia merupakan penerus bisnis property milik Rudy Hanggono. " jelas Tommy.
" Oh, pantas saja. Ia sudah mengendalikan Hanggono Property sejak tahun lalu. " ucap Jason.
" Betul, Tuan. " jawab Tommy.
Jason menganggukkan kepalanya. Jika seperti ini, akan sangat mudah. Ia juga bisa mengendalikan Hanggono Property nantinya. Tapi, resikonya sangat besar. Bisa jadi juga, nanti dia akan menghadapi Hartawan dan Hanggono bersamaan. Tsurayya akan menjadi pilihan yabg tepat untuk aksinya selanjutnya.
" Apa yang sedang Anda pikirkan, Tuan? " tanya Tmommy.
Akhir - akhir ini Tommy seringkali takut dengab isi kepala Jason. Ia takut Jason akan berbuat nekat tanpa sepengatahuannya dan dapat membahayakan nyawa banyak orang.
" Sarah Valencya, cantik. Bagaimana jika aku memilikinya saja? Tsurayya. Dia juga cantik. " ucap Jason.
Tommy terkejut mendengar ucapan Jason. " Maksud Anda, Tuan? " tanya Tommy.
" Sudah, tidak usah kau pikirkan. Yang jelas, aku akan menggunakan salah satu dari mereka. " sahut Jason.
Apa lagi yang dia rencanakan sebenarnya? Batin Tommy.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Nia kembali ke mansion tepat pukul 20.00. Rendra sudah menunggunya di depan, tidak sabar bertemu dengan istrinya.
" Terima kasih sudah mengantarku, Sarah. " ucap Nia sebelum menutup pintu mobil.
" Santai. Besok pagi aku akan menjemputmu lagi. " ucap Sarah.
" Oke, hati - hati di jalan. " ucap Nia.
" Hei Narendra! Untuk apa kau berdiri di sana? Aku tidak akan menculik Karuniamu. " seru Sarah dari dalam mobil.
Rendra hanya tersenyum simpul. Nia berjalan menghampiri Rendra dan memeluknya singkat.
" Huuu, pamer kemesraan terus! " celetuk Sarah.
" Iri? Makanya segera dong! " goda Nia.
" Tunggu saja tanggal mainnya! " sahut Sarah.
" Ya, aku akan bilang ke Andreas agar dia bergegas. " ucap Nia.
" Ya, kau bilang saja padanya. Hahaha. " sahut Sarah.
" Ya sudah, aku pulang dulu. Selamat beristirahat. " kemudian Sarah pun pelajukan mobilnya meninggalkan mansion Hartawan.