Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 71. Kena Kau!



Selamat membaca ~


Di dalam ruangan Wakil Walikota A, tampak tiga orang sedang berdiskusi serius tentang suatu hal. Tiga orang itu adalah Ben Walker, Jason Alexander, dan Tommy. Nampaknya mereka sedang mencapi inti diskusi.


“ Jadi berapa jumlah uang yang akan Anda berikan sebagai donasi? “ tanya Ben dengan wajah serius.


“ Itu tergantung berapa permintaan Anda. Saya sangat fleksibel. Berapapun yang Anda minta. “ jawabnya dengan senyum lebar. Penuh percaya diri.


“ Begitukah? Lalu bagaimana dengan… “ Ben memberikan pertanyaan menggantung dengan tujuan untuk semakin memancing Jason.


“ Oh, itu tenang saja. Anda akan mendapatkan hadiah dengan jumlah yang sangat layak. Tenang saja, tidak perlu khawatir. Anda cukup memberikan nomor rekening Anda kepada saya, makan semua akan menjadi mudah. “ jawab Jason.


Ben tersenyum sumringah, Ia harus berperan semaksimal mungkin seperti permintaan Rendra. Walau sebenarnya dalam hati, Ia mengutuk perbuatan Jason.


“ Sepertinya Anda memiliki sebuah usaha yang sangat besar. Apakah benar begitu? “ pancing Ben Lagi.


“ Hanya sebuah usaha kecil – kecilan, di dunia bahan baku. “ jawab Jason.


Ben sedikit kesulitan untuk memancing Jason, Ia ingat apa ang dikatakan Andreas semalam. Andreas berkata jika Jason adalah orang yang sangat licik dan pintar, sedangkan asistennya yang bernama Tommy pun tidak kalah pintar darinya.


“ Apakah saya boleh tahu? Barangkali saya bisa ikut menanamkan modal atau saham. “ ucap Ben menyeringai.


“ Oh, tentu sebuah kehormatan jika Anda ingin bergabung bersama kami. “ sahut Jason.


Kemudian Jason menganggukkan kepalanya, memberi kode kepada Tommy untuk memberikan sebuah map berisi berkas rahasia. Tommy kemudian menyerahkan map itu ke Ben tanpa rasa curiga.


Ben menerima map yang berisi beberapa lembar kertas. Ia bahkan tidak dapat menutupi ekspresi wajahnya yang terkejut setelah membaca isi dari berkas yang Ia pegang.


“ Kenapa Anda terlihat sangat terkejut, Tuan Ben? “ tanya Jason.


“ Oh, tidak kenapa – kenapa. Saya hanya terkejut ternyata keuntungan dari industri seperti ini sangatlah besar. “ kilah Ben.


“ Hahahaha, tentu saja keuntungannya sangat besar Tuan Ben. Bahkan saya ikut menyuplai ke beberapa negara. “ sahut Jason bangga.


“ Wah, begitukah? “ tanya Ben.


“ Tentu saja. “ sahut Jason.


“ Bagaimana, apakah Anda berminat? “ tanyanya.


Ben berpura – pura sedang berpikir. Ia memang akan tetap menanam saham sehingga Ia dapat mengorek informasi lebih lanjut. Itu adalah rencana Rendra.


“ Tentu saja saya berminat, tapi saya ingin melakukan tinjau lokasi dan barang – barang yang telah selesai diproduksi. “ Ben memberikan syarat.


“ Tidak bisa. “ sahut Tommy cepat yang ditahan oleh Jason.


“ Tentu saja bisa Tuan Ben. “ sahut Jason cepat.


“ Tetapi, Tuan.. “ ucap Tommy yang lagi – lagi ditahan oleh Jason.


Jason memberi kode dengan kedipan mata ke Tommy. Seolah menjamin semua akan baik – baik saja.


“ Kapan rencana Tuan akan berkunjung? “ tanya Jason.


“ Kapan Anda siap? “ tanya Ben balik.


Jason menghela napas pelan, ternyata di luar dugaan. Ben Walker, sangat bersemangat untuk menjadi penanam saham di industri obat – obatan terlarangnya.


“ Bagaimana jika tiga hari lagi? “ tawar Jason.


“ Baiklah, tiga hari lagi. “ sahut Ben.


“ Terkait hadiah yang akan Anda berikan kepada saya sebagai imbalan dalam membantu perijinan industri Anda, saya lebih suka menerima dalam bentuk cash karena terlalu riskan jika diberikan melalui cek ataupun transfer. “ ucap Ben.


Jason dan Tommy saling pandang, seolah mereka sedang membuat kesepakatan melalui pandangan matanya.


“ Baiklah, itu bisa diatur. Yang jelas sekarang saya sudah mendapat persetujuan bantuan dari Anda. “ ucap Jason.


Ben tersenyum, merasa lega karena Jason dan Tommy masuk ke dalam permainannya.


“ Bukan masalah besar. “ sahut Ben.


“ Baiklah, saya rasa sudah cukup untuk hari ini. “ ucap Jason.


“ Karena kita sudah mencapai kesepakatan, maka kami berdua undur diri. “ pamit Jason kemudian beranjak dari sofa. Diikuti oleh Tommy dan Ben.


Jason menyodorkan tangannya. Mengajak Ben untuk berjabat tangan.


Ben menyambutnya dan menjabat tangan Jason dengan tersenyum. Semoga dengan begini, apa yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan baik dan mereka tidak akan pernah merasa curiga padanya.


“ Kami pamit undur diri. “ ucap Jason.


Kemudian Ben mengantarkan Jason dan Tommy menuju pintu ruangannya.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Malam hari di kediaman Ben Walker ~


Ben sedang melakukan panggilan video dengan Andreas dan juga Rendra. Mereka mencegah melakukan pertemuan langsung agar tidak menimbulkan kecurigaan.


" Apakah hari ini berjalan dengan lancar, Tuan? " tanya Rendra.


Ben menganggukkan kepalanya.


" Semua berjalan dengan lancar, sesuai dengan rencana kita. " jawab Ben.


" Baik, terima kasih atas kerja keras Anda. " ucap Rendra tulus.


Rendra berharap kali ini Ia berhasil memenjarakan Thomas Alfredo dan kelompoknya. Ia juga ingin membersihkan manusia - manusia busuk yang selalu merugikan masyarakat itu.


" Kapan rencana Anda akan bertemu mereka lagi? " tanya Rendra.


" Sekitar tiga hari lagi, Tuan. " jawab Ben.


" Baiklah, demi kemanan Anda, saya akan mengirimkan dua orang agen untuk menjaga Anda. Anggap saja, mereka adalah ajudan Anda. " ucap Rendra.


" Terima kasih atas pertolongan Anda, Tuan. " sahut Ben.


Ya, keamanan dan keselamatan adalah yang terpenting. Tujuan utama Ben adalah membongkar semua kebusuka rezim - rezim pencuri keuntunngan yang telah merugikan masyarakat. Ia juga ingin generasi muda terbebas dari jerat obat - obatan terlarang.


" Tuan Ben, " ucap Andreas dari sudut lain.


" Ya? " sahut Ben.


" Besok akan ada orang kami yang akan menemui Anda. Ia akan memberikan set alat yang harus Anda bawa setiap kali anda akan melakukan pertemuan dengan Tuan Jason. " ucap Andreas seraya menunjukkan sebuah alat kecil berwarna hitam.


Ben menganggukkan kepalanya.


" Apakah benda itu akan aman bersama saya? Maksud saya, saya khawatir akan dilakukan pemeriksaan ketat saat saya akan masuk ke dalam pabriknya. " ucap Ben.


" Tenang saja, Tuan. " jawab Andreas.


" Selain ukurannya yang sangat kecil, alat ini akan dipasang di titik tubuh Anda yang kemungkinan besar akan tidak diperiksa atau mudah untuk ditutupi. " lanjutnya.


Ben menganggukkan kepalanya lagi.


" Tenang saja, Tuan. Ajudan spesial Anda besok akan menunjukkan bagaimana caranya. " ucap Rendra menenangkan.


" Baiklah kalau begitu. Saya rasa sudah cukup untuk hari ini. " ucap Ben ingin mengakhiri tele-converence.


" Baiklah Tuan. Selamat beristirahat. " sahut Rendra.


Andreas dan Ben menganggukkan kepala mereka bersamaan. Kemudian tele-concerence itu pun berakhir.


Rendra masih terpaku ke layar macbook-nya. Ia benar - benar berharap ini semua segera usai. Ia ingin segera bisa menikahi Nia. Menjadikan Nia miliknya, seutuhnya.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Duh, semoga segera selesai yah Bang Rendra. Kasian udah pengen cepet - cepet nikah sama Nia,


Readers, mohon dibantu doa yah Bang Rendranya, biar cepet selesai nih urusan yang tak berkesudahannya 🤭


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Halo halo, maafin yah kemarin penulis ga bisa up episode karena ada urusan mendasak yang harus segera diselesaikan 🥲


Jangan lupa baca episode - episode selanjutnya yah, dukung penulis dengan cara memberi rate, vote,like, dan komentar. Kasih hadiah juga boleh banget.


Apapun bentuk dukungannya, sangat berarti untuk penulis ❤