
Selamat Membaca ~
Kevin mencari Rania di tempat Rania biasanya beristirahat, sebuah kamar kecil berukuran tidak lebih dari 2 x 3 m.
Brak!
Kevin membuka pintu dengan kasar. Benar saja, Rania sedang tertidur di kasur lipat berukuran kecil yang ada di dalam kamar itu.
" Hei kau gadis bisu! Bangun! " teriak Kevin membuat Rania terbangun.
Dengan lemas Rania terbangun, Ia mengucek matanya yang terasa lengket.
" Kau bawa ke mana gadis - gadis sandera itu?! " tanya Kevin dengan nada membentak.
Seketika wajah Rania memucat.
Rania : Aku tidak tahu
Rania menjawab dengan bafasa isyarat.
" Tidak mungkin kau tidak tahu! Jelas - jelas hanya kau yang kuberi akses untuk bertemu dengan mereka! " bentak Kevin.
Rania menggerakkan tangannya, kepalanya menggeleng kuat.
Namun, wajah pucatnya membuat Kevin menjadi semakin curiga. Ia menarik tangan Rania dan membawanya dengan paksa untuk menemui Jason.
Rania berusaha memberontak. Ia takut akan mendapat kekerasan dari Kevin, mengingat Kevin sedang sangat emosi. Wajahnya yang tampan tetap saja terlihat menakutkan dengan amarah yang terlihat jelas di wajahnya.
Tapi Kevin tetaplah Kevin, Ia makin mencengkeram kuat pergelangan tangan Rania. Ia menariknya dengan paksa, mengabaikan Rania yang berusaha menarik tangannya dan jua memukul - mukul tangan Kevin.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Kevin menghempaskan tubuh Rania dengan kasar di depan Jason.
Rania tersungkur di depan Jason dan Tommy. Ingin rasanya Tommy membantu, tapi tidak bisa.
Jika Ia membantu Rania, bisa - bisa Jason menjadi semakin murka. Bisa - bisa Jason tahu jika selama ini Tommy berkomunikasi dengan Rania.
Rania berusaha bangkit, Ia terlihat meringis menahan sakit. Ia menggosok - gosok lengannya yang terlihat sedikit kemerahan dan lecet.
" Katakan di depan Tuan Jason! Apa yang sudah kau perbuat pada dua wanita itu! " perintah Kevin, penuh dengan amarah.
Jason yang sedari tadi bersikap acuh tak acuh, segera mengalihkan pandangannya ke arah Rania yang terlihat ketakutan.
Rania hanya menggelengkan kepalanya.
" Kau bantu mereka melarikan diri kan?! " tuduh Kevin.
Lagi - lagi Rania menggelengkan kepalanya, air mata sudah jatuh dari kedua matanya.
" Hentikan air mata buayamu! " bentak Kevin lagi.
Jason beranjak dan berjalan mendekat ke arah Rania. Ia berjongkok di depan Rania. Dengan satu tangannya, Ia mengangkat wajah Rania yang menunduk.
" Jawab pertanyaannya. " ucap Jason dengan nada lembut, namun tatapan mata yang tajam.
Rania : Aku tidak tahu apa - apa. Sungguh. Aku hanya di kamar sedari tadi.
Rania menjawab dengan bahasa isyarat.
" Tidak usah beralasan! Hanya kau yang bisa memberi akses mereka keluar masuk! " bentsk Kevin.
Rania hanya menangis, tatapannya mengiba ke arah Tommy. Namun, karena tidak ingin memberi lebih banyak masalah, Tommy lebih memilih untuk mengabaikan tatapan mengiba Rania.
Plakk!
Sebuah tamparan melayang ke wajah mungil Rania. Tangan kekar milik Kevin itu tanpa rasa iba memberi rasa sakit dan perih di wajah Rania.
Tommy membelalakkan matanya. Bagaimana bisa Ia memukul gadis kecil seperti itu! Pekiknya dalam hati.
Rania memegang pipinya. Air matanya mengalir lebig deras. Ia sadar, inilah konsekuensi yang harus Ia terima jika Ia membantu Nia dan Sarah.
Kevin bersiap mengangkat tangannya untuk melayangkan sebuah tamparan lagi, namun Tommy menahannya. Jason hanya tersenyum melihat sikap Tommy.
" Beri kesempatan baginya untuk menjelaskan. " ucap Tommy menahan kesal.
Ya, Tommy memang bekerja pada orang yang bisa dibilang, memiliki dunia hitam. Tapi Ia tidak mau terlibat dalam pembunuhan dan kekerasan, apalagi kepada seorang wanita. Sebuah pantangan besar baginya jika harus memukul seorang wanita.
Rania : Aku tidak tahu apa - apa. Aku hanya mengantar makanan untuk Karunia dan Sarah seperti yang telah diperintahkan.
Tommy merasa ada yang aneh, dia baru saja menyebut siapa? Sarah?
" Sebentar. Kau bilang kau mengantar makanan untuk Karunia dan Sarah? " tanya Tommy.
Rania mengangguk.
" Kau yakin tidak salah? Seharusnya yang berada di dalam situ adalah Tsurayya dan Karunia. " tanya Tommy lagi.
Jason yang awalnya tak acuh menjadi tertarik dengan pembicaraan Tommy dan Rania.
Rania menganggukkan kepalanya berulang kali.
Rania : Dia mengatakan kalau namanya adalah Sarah.
Tommy mendelik ke arah Kevin.
" Jangan mengada - ada! Wanita yang ada di daa sana adalah Karunia dan Raya, Tsurayya! " bentak Kevin.
" Kuhajar kau jika mengada - ada terus! " ancam Kevin, Ia sudah menggulung lengan bajunya lebih tinggi.
" Sudah! Kau kira kau ini sedang di mana?! " bentak Jason.
" Kau ini sedang ada di ruanganku! Tapi kau berteriak - teriak di depanku! Membuat telingaku sakit! " seru Jason.
Kevin spontan menunduk, pertana meminta maaf.
" Katakan ada apa, Tommy? " tanya Jason.
" Gadis ini mengatakan, wanita yang ada di ruang sandera adalah Karunia dan Sarah. Bukan Tsurayya. " jawab Tommy.
Kening Jason mengkerut.
" Kau salah sasaran?! " tanya Jason kepada Kevin, lebih tepatnya seperti membentak.
" Ti.. Tidak mungkin Tuan, saya yakin orang yang saya bawa adalah Tsurayya. Bukan Sarah. " elak Kevin.
" Bagaimana bisa kau sangat yakin? " tanya Jason dengan nada mengejek.
" Saya mengajaknya berkenalan dan Ia mengaku bahwa bernama Raya, Tsurayya. " jawab Kevin dengan yakin.
Tatapan Jason menelisik.
" Bawa kemari kumpulan foto itu! " perintah Jason pada Tommy.
Tommy menyerahkan map coklat yang berisi foto dan data Nia dan juga orang - orang yang ada di sekitarnya.
Jason mengambul beberapa lembar foto. Tangannya bergerak memberi kode agar Kevin mendekat.
Dengan penuh keyakinan, Kevin mendekat. Ia yakin bahwa Ia tidak akan salah sasaran.
" Mana yang kau bawa dari orang - orang yang ada di sini? " tanya Jason seraya menyodorkan beberapa lembar foto.
Dengan mantap Kevin menunjuk dua buah foto. Senyum kemenangan sudah nampak jelas di wajahnya. Namun, ekspresi Jason tidak dapat diartikan setelah melihat jawaban Kevin.
" Hei kau! Gadis bisu! Kemari! " panggil Jason.
Dengan takut - takut, Rania mendekat ke arah Jason. Ia takutakan dipukul jika Ia memberi jawaban yang salah.
" Mana dari orang - orang ini, yang selalu kau antar makanan? " tanya Jason.
Rania terdiam sejenak. Ia tahu betul wajah orang - orang yang Ia tolong. Ia melirik ke arah Kevin yang sudah tersenyum penuh kemenangan.
Ia kemudian menunjuk dua lembar foto dengan yakin walau pada awalnya Ia bergetar karena merasa takut.
Melihat jawaban Rania, ekspresi Jason semakin tidak dapat diartikan. Tommy yang mengetahui akan hal itu hanya terdiam, akan ada adegan menyenangkan sebentar lagi. Batinnya.
Ia beranjak dari kursi tempat Ia duduk, Ia menghampiri Kevin.
Kevin yang merasa bahwa Ia tidak salah, tersenyum seolah bersiap mendapat kejutan berupa hadiah yang sangat menyenangkan.
Jason menghampiri Kevin, Ia mengatup wajah Kevin. Membelainya lembut, kemudian semakin kasar. Dan akhirnya Ia menampar wajah Kevin dua kali.
" Bodoh! " bentak Jason.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍