
Selamat Membaca ~
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rendra baru saja sampai di mansionnya. Suasana sudah sangat sunyi, hanya ada security yang sedang berjaga dan juga Bi Habsya yang setia menunggu kedatangannya.
“ Malam sekali Tuan Muda? “ sambut Bi Habsya di pintu masuk mansion.
Rendra menyerahkan jaket jasnya ke Bi Habsya sambil tersenyum. Walau merasa lelah, Ia berusaha tersenyum kepada Bi Habsya.
“ Iya Bi, banyak yang harus dikerjakan di kantor. “ jawab Rendra seadanya.
“ Apa Tuan Muda sudah makan malam? Ingin dimasakkan sesuatu? “ tanya Bi Habsya.
Rendra dengan cepat menggelengkan kepalanya. “ Aku sudah makan Bi, terima kasih. “
Rendra mulai berjalan masuk diikuti oleh Bi Habsya yang mengalungkan jaket jas Rendra di lengannya.
“ Mungkin secangkir teh hangat? “ tanya Bi Habsya lagi.
Rendra menghentikan langkahnya. Ia menangkap maksud dari Bi Habsya, mungkin Ia ingin mengobrol dengannya. Kemudian Ia berbalik menghadap Bi Habsya.
“ Boleh, ayo kita mengobrol.” Jawab Rendra.
Bi Habsya membalas dengan anggukan dan senyuman ramah. Ia kemudian berjalan menuju dapur untuk menyiapkan secangkir teh hangat untuk Rendra.
Rendra kemudian berjalan menuju ke meja makan dengan gontai. Sebetulnya Ia sudah merasa sangat lelah, namun bagaimana lagi. Nampaknya ada yang ingin disampaikan oleh Bi Habsya.
Bi Habsya adalah pegawai di rumah ini yang bisa dibilang adalah pegawai terlama. Ia membantu merawat Rendra sejak Ia masih kecil. Ketika Renata, ibu Rendra, sakit Ia pun yang merawat Renata dengan maksimal.
Tak lama, Bi Habsya datang membawa dua cangkir teh hangat di atas nampan. Wajahnya yang sudah terlihat sepuh karena usianya yang sudah senja tetap dihiasi senyuman kala membawa minuman itu ke arah meja makan.
“ Ini adalah teh daun mint dan earl grey, bisa membantu Anda istirahat dengan baik malam ini. “ ucap Bi Habsya sembari menghidangkan teh hangat itu di depan Rendra.
Rendra dengan segera meraih cangkir berisi teh hangat itu dan menghirup aromanya dalam – dalam. Ini adalah the favorit ibu, bahkan Bi Habsya masih suka membuatnya walau ibu sudah tidak ada. Batinnya.
Kemudian Ia menyeruput teh perlahan. Menikmati rasa dan aroma mint yang kuat dari teh itu.
“ Ada apa Bi? Sepertinya ada yang ingin dibicarakan. “ tanya Rendra sembari meletakkan cangkir teh ke atas meja lagi.
Bi Habsya tersenyum.
“ Bibi perhatikan, Tuan Muda akhir – akhir ini sangat sibuk. Apakah Tuan Muda cukup istirahat? “ tanya Bi Habsya.
“ Iya Bi, tenang saja. Aku makan dan istirahat dengan cukup. Jangan khawatir. “ jawab Rendra.
“ Mengenai Nona Karunia, apakah Anda tidak berniat untuk segera menikahinya? Kalian sudah cukup lama bersama. “ ucap Bi Habsya.
“ Setiap wanita perlu kepastian. “ imbuhnya.
Rendra menatap Bi Habsya. Ternyata Bi Habsya juga mengkhawatirkan Nia. Ia merasa senang dan tenang akan hal itu.
“ Tenang saja Bi, aku akan menikahinya. “ jawab Rendra.
“ Tapi tidak sekarang. “ imbuhnya.
Bi Habsya terlihat bingung. Alisnya terangkat sebelah kala mendengar jawaban Rendra.
“ Ada hal yang harus segera aku selesaikan Bi, ini adalah masalah yang sangat berat. Dan aku ingin focus kepada hal ini terlebih dahulu. “ ucap Rendra dengan wajah bersungguh – sungguh.
“ Sedikit saja kulitnya tergores, aku akan merasa sangat sedih. “ imbuhnya.
Kemudian Bi Habsya meminum tehnya dengan tenang. Kemudian Ia meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja.
“ Jika memang begitu, maka segera selesiakan urusan Anda dengan baik. Dan segera nikahi Nona Karunia. “ ucap Bi Habsya.
“ Bibi sangat menyukainya. Dia gadis yang baik dan santun. “ lanjutnya dengan wajah tersenyum.
“ Begitukah? “ tanya Rendra.
Bi Habsya mengangguk dengan wajah tersenyum.
“ Apa yang Nia lakukan sepanjang hari ini Bi? Aku sangat sibuk hingga tak sempat menanyakan kabarnya. “ tanya Rendra.
“ Seharian ini Nona Karunia mengobrol bersama penjaga pribadinya. Dua anak muda itu benar – benar bisa menghibur Nona Karunia. “ jawab Bi Habsya.
Rendra merasa lega setelah mendengar jawaban Bi Habsya. Bersabarlah, aku juga ingin semua segera selesai dan kau bisa segera beraktivitas seperti biasa Nia. Batinnya.
“ Baiklah, aku pamit istirahat Bi. “ ucap Rendra kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Setelah membersihkan diri, Rendra berniat untuk melihat keadaan Nia. Apakah Nia tidur dengan nyenyak atau tidak.
Ia berjalan perlahan ke arah kamar Nia. Membuka pintu kamar Nia perlahan agar tidak mengejutkan Nia dan menutupnya kembali dengan perlahan.
Ia berjalan mendekati Nia. Nia terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya, Ia memeluk guling dengan selimut yang tidak menutupi tubuhnya. Kaos yang Nia kenakan berbahan tipis dan tersingkap hingga memperlihatkan perut ratanya dengan kulit berwarna putih bersih.
Perlahan Rendra berusaha menarik kaos yang tersingkap kemudian berushaa menyelimuti tubuh Nia agar Ia beristirahat dengan nyaman. Namun yang terjadi justru Nia melempar selimutnya dan menarik kaosnya ke atas. Tentu saja Ia melakukannya tanpa sadar karena Ia sedang tidur lelap.
Sekali lagi, tubuh Nia yang ramping terkespos. Kulitnya yang putih mulus terkena sinar temaram lampu tidur yang ada di dekat tempat tidurnya.
Rendra menelan air liurnya dengan kasar. Ia mulai terpancing. Ia merasa sesuatu dalam tubuhnya menggelora dan menyeruak ingin muncul.
Jangan sekarang, jangan sekarang. Tahan, harus bisa tahan! Serunya dalam hati.
Sekali lagi Ia menarik kaos Nia dan menutup tubuh Nia dengan selimut. Jika terus terbuka seperti tadi, bisa – bisa macan asia dalam tubuhnya menyeruak keluar dan menuntut banyak hal.
Setelah menutupi tubuh Nia dengan selimut, Rendra mengusap kepala Nia dengan lembut. Helaian rambut Nia yang tipis seperti rambut bayi terasa sangat lembut di telapak tangan Rendra yang besar.
Seperti terhipnotis, Rendra mendekatkan wajahnya kemudian mengecup kening Nia dengan lembut. Dari kening, Ia mengecup puncak hidung mancung Nia perlahan. Kemudian kecupan itu beralih ke bibir Nia yang tipis menggoda. Mengecupnya dengan lembut, namun tidak disangka Nia justru membalas ciuman Rendra.
Rendra terkejut, apakah Ia membangunkan Nia? Setelah Ia memperhatikan, ternyata Nia masih tertidur dengan lelap.
Sekali lagi Ia mengecup bibir Nia lembut, Ia memagutnya perlahan. Dan seperti sebelumnya, Nia membalas pagutan bibir Rendra dengan menuntut. Sepertinya Ia semakin ahli dalam berciuman, batin Rendra.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Nia ih, tidur aja nyiumnya jago bener sampe Rendra kaget loh. Udah jadi pro player nih kayanya, ahsik lah lanjuut…
Eh, jangan dulu. Tahan - tahan dulu boss, jari ini sebetulnya juga gatal sebenernya. Tapi gimana dong, harus ditahan dulu. Hihi
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Readersku tersayang, mohon dukungannya yaa dengan cara memberi rate, vote, like, dan komentar yaaah. Yuk tanggal muda kasih hadiah juga boleh hihii