
Di sebuah bangunan khusus di Daerah O ~
Nia beristirahat sejenak sambil menunggu Rendra yang sedang mengadakan pertemuan mendadak. Ia teringat wajah marah Rendra tadi ketika baru sampai.
Nia merasa wajar jika Rendra marah, tanah tandus dan rusak di mana - mana. Bahkan sebagian wilayah Rendra juga terdampak. Bagian lahan yang berbatasan dengan daerah yang digusur mengalami kerusakan yang cukup parah.
Mata Nia menangkap seorang laki - laki yang sedang duduk tidak jauh darinya. Sepertinya dia sedang sibuk bermain ponsel.
Dari penampilannya, Ia terlihat seperti anak sekolah. Mungkin seumuran siswa SMA. Untuk apa dia di sini? Gumam Nia.
Nia berniat mencari tahu dan menghampiri anak sekolah itu.
" Halo. " sapa Nia.
Andra yang sedang sibuk memainkan game di ponselnya terkejut karena tiba - tiba Nia menghampirinya.
Dengan sigap Andra berdiri dan memberi hormat ke Nia.
Nia terkejut dengan sikap Andra yang tiba - tiba seperti itu.
" Mengapa kau membungkuk hormat padaku? " tanya Nia.
Andra hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.
" Siapa namamu? Kenapa kau tidak sekolah? " tanya Nia.
" Se... Sekolah? " tanya Andra bingung.
" Iya, kau masih SMA kan? Kenapa kau tidak sekolah? " tanya Nia. " Kenapa kau ada di sini? Apa kau sedang menunggu ayahmu bekerja? "
Rasanya ingin meledak dalam tawa, Andra berusaha menahan tawanya. Bisa - bisa meledak kepalaku. Batinnya.
" I.. Iya Kak, saya sedang menunggu ayah saya. " jawab Andra asal.
" Oh, ayahmu bekerja di sini? " tanya Nia.
" Ayahku bekerja pada Tuan Narendra, Nona. Jadi, kemana Tuan Narendra pergi, ayahku ikut bersamanya. " jawab Andra.
" Tidak mungkin! " pekik Nia membuat Andra terkejut.
" Apanya yang tidak mungkin? " tanya Andra.
Jangan - jangan dia tahu kalau aku berbohong. Batin Andra.
" Mana mungkin kau ini anaknya Andreas? " tanya Nia.
" Jika iya, wow keren sekali Andreas. Sangat awet muda. " ucap Nia heboh.
" Hahahaha. " suara tawa mereka bersahutan di lorong.
" Nyaring sekali suara tawamu. " ucap Rendra yang ternyata sudah berada di dekat Nia.
Nia terkejut, Ia menoleh ke arah Rendra yang sudah berwajah dingin.
Matilah aku. Batin Andra.
" Kau sudah selesai rapat? " tanya Nia.
" Sudah. " jawab Rendra singkat dengan wajah dingin.
Ada apa dengan dia? Kenapa tiba - tiba berubah jadi dingin begitu? Batin Nia.
" Kau kenapa? Kenapa tiba - tiba jadi berbeda? " tanya Nia.
Rendra tidak menjawab. Ia hanya menarik tangan Nia agar mengikutinya.
Andra merutuk dalam hati, terlihat sekali Tuan Narendra cemburu. Padahal aku kan tidak berbuat apapun.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Sepanjang perjalanan kembali dari Daerah O, Rendra hanya diam. Sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya.
Nia jadi serba salah, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah hasil rapat tadi sangat buruk.
Nia melirik ke arah jam tangannya. Sudah jam 14.00, sudah lewat jam makan siang. Perutnya mulai lapar. Tadi pagi dia hanya mengambil sedikit nasi untuk porsi makannya.
Perutnya mulai terasa lapar. Tapi karena Rendra sedang dalam mode menakutkan, Ia tidak berani mengajak Rendra bicara.
Diam - diam Nia melirik ke arah Rendra. Rendra tampak memandang ke arah luar dan tidak bergeming.
Apa dia tidak lapar? Ini kan sudah lewat jam makan siang. Guman Nia.
Wajah Nia merah padam. Suasana di dalam mobil yang sunyi karena sedang tidak memutar musik membuat suara perut Nia terdengar sangat jelas. Rasa lapar di perut Nia sudah tidak dapat ditahan.
Rendra menoleh ke arah Nia. Ia menahan senyum.
Sedangkan Anton dan Andreas melirik dari spion dalam. Terlihat kentara Anton berusaha menahan tawanya. Sedangkan Andreas tetap dengan wajah dinginnya.
" Kau lapar? " tanya Rendra.
Nia diam. Tidak menjawab. Ia memilih untuk melihat ke arah luar mobil.
Sudah tau pake nanya lagi. Tidak berperasaan. Gerutu Nia dalam hati.
Rendra memberi kode ke Andreas melalui tatapan mereka yang saling bertemu di spion dalam mobil.
Tidak lama, mobil yang membawa mereka pun berbelok ke arah sebuah rumah makan. Salah satu mobil fortuner berwarna hitam sudah berhenti di sana.
Rupanya, Andreas telah menghubungi salah satu mobil yang menjaga mereka untuk memeriksa area rumah makan itu terlebih dahulu.
Setelah mobil berhenti, Rendra mengajak Nia turun.
" Ayo, kita makan dulu. " ajak Rendra.
Mulut Nia mencebik. Sedari tadi Rendra mendiamkannya, sampai Ia kelaparan. Kalau bukan gara - gara perut mengeluarkan suara minta diberi jatah isi tidak akan dia berhenti. Gerutu Nia.
" Ya sudah kalau kau mau diam di mobil saja. " ucap Rendra.
Kemudian Rendra turun dari mobil diikuti Andreas dan Anton.
Nia menjadi semakin kesal. Bisa - bisanya dia malah turun sendiri tanpa mencoba mengajaknya lagi. Gerutu Nia.
Akhirnya Nia turun dan menyusul Rendra. Tentu saja dengan wajahnya yang masih kesal.
Setelah masuk, Nia duduk di kursi yang berjauhan dari Rendra. Padahal, ada satu kursi kosong yang sengaja disediakan untuk Nia di samping Rendra.
Mendapati Nia duduk menjauhinya, Rendra kembali berkespresi dingin.
Ah, Nona Nia. Cari maslaah lagi dia. Batin Andreas.
" Nona, kenapa Anda tidak duduk di kursi samping Tuan Narendra? " tanya Andreas kepada Nia.
" Lebih nyaman di sini. " jawab Nia singkat.
Kemudian Ia membuang pandangannya ke arah yang lain.
Harusnya jika aku berbuat salah, tegur dan beri tahu aku. Jangan seperti itu. Tiba - tiba mendiamkan aku. Memangnya aku dukun bisa tau ada apa? Kalau tidak suka aku ikut bilang sejak awal. Omel Nia dalam hati.
Mendengar jawaban Nia, wajah Rendra menjadi semakin dingin. Brrrr!
Mereka kemudian makan dalam diam . Tidak ada sepatah katapun yang mereka keluarkan.
Setelah selesai makan, mereka pun masih dalam keadaan diam.
Selama dalam perjalanan pun mereka diam Karena kesal merasa diacuhkan, Nia pun lebih memilih untuk memejamkan matanya dan tidur selama perjalanan pulang.
Setelah sampai di mansion Rendra pun, Rendra masih mendiamkan Nia. Nia pun berusaha acuh mendiamkan Rendra.
Mereka kemudian berpisah menuju kamarnya masing - masing. Masih tanpa spatah katapun.
Bi Habsya menangkap ada yang aneh pada Rendra dab Nia. Ia mendekati Andreas.
" Apa ada hal buruk yang terjadi tadi? " tanya Bi Habsya.
" Biasa, anak muda. " jawab Andreas.
Bi Habsya menatap Andreas. Bisanya dia berjata begitu, seperti orang sudah tua saja. Padahal dia sendiru masih umur 30 tahun. Gumam Bi Habsya.
Sementara itu, setelah membersihkan diri, Nia masih merasa kesal pada Rendra. Ia tidak terima jika didiamkan seperti ini.
Setelah memakai baju, tanpa menyisir rambutnya, Ia berjalan ke kamar Rendra. Membuka pintu kamarnya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Ia terperangah melihat pemandangan (uhuk) indah yang ada di depannya. Rendra yang baru keluar dari kamarnya pun ikut terkejut melihat Nia sedang berdiri di pintu kamarnya. Rambutnya yang basah berantakan. Tubuh kekarnya tanpa pakaian, hanya ada handuk kecil yang melilit dari pinggangnya.
Nia reflek keluar dan menutup pintu kamar Rendra. Ia berlari masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
Jantungnya berdegup sangat kencang, tidak beraturan. Baru kali ini dia melihat laki - laki bertelanjang dada dalam jarak begitu dekat. Dan itu pun adalah kekasihnya sendiri.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
jangan lupa like, like, rate, rate, vote, vote, dan komentarnya yaaaa ❤🤗