Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part. 138 Harus Berhasil



Selamat Membaca ~


Di sebuah bangunan kosong di tepi danau, malam hari menuju dini hari ~


" Tuan, " Tommy membangunkan Jason yang tertidur di kursi malas.


Jason bergerak meregangkan tubuhnya.


" Hm? " sahutnya malas.


" Kami sudah memindahkan Karunia dan Sarah ke tempat yang baru. " lapor Tommy.


" Lalu? Hal begitu saja harus kau laporkan padaku? " tanya Jason dengan nada tidak suka.


Tommy menunduk, Ia tahu Jason sedang tidak dalam keadaan mood. Ia tidak mau membuat mood Jason menjadi semakin jelek.


Jason berjalan menuju meja kecil, mengambil sebuah botol kecil berisi minuman beralkohol. Ia membuka tutup botolnya, dan meminum langsung dari mulut botol.


" Aku lelah dan aku butuh pelepasan. Kau bawa gadis penghibur untukku? " tanya Jason.


" Iya, Tuan. Dia sudah menunggu di kamar. " jawab Tommy.


" Baguslah, kali ini jangan ganggu aku sampai aku selesai berurusan dengan wanita malamku. " Jason kemudian berjalan meninggalkan Tommy.


" Baik, Tuan. " sahut Tommy yang barangkali sudah tidak terdengar oleh Jason.


Mungkin ini adalah kesempatan bagiku untuk memberi kabar kepada Narendra. Gumam Tommy.


Ia kemudian berjalan keluar dari ruangan itu, memastikan keadaan sekitar aman. Memastikan bahwa Ia sedang sendirian, tidak ada yang mengikutinya.


Ia memeriksa setiap ruangan. Ia melihat Kevin tertidur di kursi bersama beberapa pengawal.


Ia berjalan mendekati tempat di mana Sarah dan Nia disekap. Setelah memastikan keadaan aman, Ia membuka pintu perlahan.


Terlihat Nia dan Sarah yang masih tertidur di di lantai beralas kardus bekas. Keduanya meringkuk berpelukan di atas alas kardus bekas.


Ada rasa bersalah yang dirasakan oleh Tommy. Rasa bersalah itu semakin membuatnya yakin untuk segera memberi tahu Rendra posisi mereka saat ini, agar Rendra dan timnya bisa menyelamatkan Nia dan Sarah.


Ia mengendap ke sisi luar bangunan. Setelah memastikan keadaan aman, dia mengeluarkan ponsel yang Ia beli diam - diam saat mereka masih di pelabuhan kemarin.


Ingatannya yang cukup tajam masih menyimpan nomor telepon Rendra. Ia mulai menekan angka - angka nomor ponsel Rendra, berharap Rendra mau menjawab panggilannya.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Di saat yang sama, di tempat Rendra dan anak buahnya bermalam ~


" Sudah dipastikan semuanya siap? " tanya Anton.


" Ya, Tuan. Semua sudah siap. " sahut Andra


" Bagus. Kita akan berangkat dalam waktu lima menit lagi. " ucap Anton.


" Baik, Tuan. " sahut Andra.


" Tuan, " sapa Anton saat melihat Rendra dan Andreas datang menghampirinya.


" Sudah dipersiapkan semuanya? " tanya Andreas.


" Sudah, Tuan. Kami siap untuk berangkat. " jawab Anton.


" Bagus. Aku akan menyusul kalian bersama dengan agen kita lainnya yang sedang daa perjalanan kemari. " sahut Andreas.


" Baik, Tuan. " sahut Anton.


Rendra sedang menatap ponselnya sedang mendapat panggilan dari nomor asing. Bukan nomor Indonesia, batinnya.


" Ada apa? " tanya Andreas.


" Tidak kau jawab? " tanya Andreas.


Rendra menggeleng. Kemudian Ia memasukkan ponselnya ke dakam saku celananya.


Tak lama, ponsel Andreas berganti mendapat panggilan dari nomor asing. Kening Andreas berkerut. Ini adalah nomor yang sama dengan nomor yang menghubungi Rendra tadi, batinnya.


Ia memutuskan untuk menjawab panggilan itu, karena sepertinya panggilan itu adalah panggilan penting.


Andreas memberi kode kepada Rendra untuk ikut bersamanya keluar ruangan, Rendra mengangguk dan mengikuti Andreas


" Ada apa? " tanya Rendra.


" Nomor tadi juga menghubungiku. " jawab Andreas.


" Angkat dan loudspeaker. " ucap Rendra.


Andreas mengangguk, kemudian Ia menekan simbol hijau untuk menjawab panggilan telepon.


" Ya? " ucap Andreas membuka panggilan.


" Cukup dengarkan aku, dan jangan menjawab. " terdengar suara di seberang sana.


Rendra dan Andreas terkejut. Mereka seperti pernah mendengar suara ini, terdengar familier. Tapi di mana? Dan, siapa?


" Aku Tommy. Saat ini aku sedang berada di sebuah bangunan di dekat danau. Karunia dan Sarah ada di sini. "


" Kami berjumlah sekitar 15 orang di sini, tapi Jason sudah membayar banyak preman lokal. Jadi kalian harus tetap waspada. "


" Jason tidak main - main. Dia tidak segan membunuh keduanya demi membalas dendamnya kepada Narendra. "


" Dia berniat melakukan transaksi, aku tidak tahu transaksi apa. Aku takut, dia berniat menjual Karunia dan Sarah. "


" Cepat selamatkan mereka. Waktuku tidak banyak. "


Kemudian panggilan terputus.


Rendra dan Andreas saling menatap. Apa benar yang mereka dengar tadi?


" Kita harus bergegas. " ucap Rendra dan Andreas bersamaan.


Mereka kemudian bergegas masuk kembali ke dalam ruangan.


" Anton, segera berangkat. " perintah Rendra.


" Baik, Tuan. " sahut Anton.


" Tim tambahan, berapa lama lagi mereka akan datang? " tanya Rendra.


" Seharusnya dalam waktu 60 menit. " jawab Andreas.


" Apa kita akan menunggu mereka? " tanya Andreas.


" Tidak perlu. Segera berangkatkan tim 1. Tim 2 akan menyusul setelah mereka sampai di sini. " jawab Rendra.


" Baik, Tuan. " sahut Andreas dan Anton.


" Ingat, kali ini kita harus berhasil. " ucap Rendra.


" Baik, Tuan. Kami akan berusaha semaksimal mungkin. " jawab Anton penuh keyakinan.


" Ayo kita berangkat, " ucap Anton kepada timnya.


Kemudian Anton dan timnya pun masuk ke dalam SUV hitam yang akan membawa mereka ke kota sebelah. Ke daerah berdanau, tempat di mana Nia dan Sarah sedang disekap.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍