
Selamat Membaca ~
" Tuan, Jessie baru saja menelepon. Karunia sudah sadar dan mencari Anda. " bisik Andreas.
" Syukurlah, kita akan kembali 10 menit lagi. " sahut Rendra bersemangat.
Mendengar kabar istrinya sudah sadar, Rendra segera mengakhiri pertemuannya dengan koleganya. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Nia. Tidak sabar melihat wajah istrinya.
" Sebelum ke rumah sakit, kita ke toko bunga yang ada di kota ini. " ujar Rendra dari kursi penumpang.
" Baik, " sahut Andreas dan sopir.
Setelah sampai di toko bunga, Rendra dengan bersemangat turun dan memesan sebuah buket bunga lily dan anggrek bulan. Dua bunga kesukaan Nia. Setelah mendapatkan buket yang Ia butuhkan, Ia oun meluncur ke rumah sakit tempat Nia dirawat.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Setelah sampai di rumah sakit, Rendra dengan tidak sabar setengah berlari menuju ruang VVIP tempat Nia dirawat.
Saat Ia sudah hampir sampai di kamar Nia, Ia mendapati seorang dokter dan seorang perawat baru saja keluar dari ruang tempat Nia dirawat. Terlihat juga Jessie sedang bersama mereka.
" Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu? " tanya Rendra.
" Bagaimana keadaan istri saya Dok? " tanya Rendra.
" Selamat siang, Tuan Narendra. Mari bicara di ruangan saya. Supaya lebih nyaman. " ajak sang dokter.
Mendapat ada hal serius yang akan disampaikan oleh sang dokter, Rendra lantas menyetujui ajakan dokter.
Rendra ditemani Andreas mengikuti dokter yang sedang berjalan menuju ruangannya. Buket bunga yang tadi dia bawa sudah diserahkan ke Jessie, untuk diberikan kepada Nia. Rendra memberikan buket bunga itu tanpa tahu bagaimana keadaan Nia saat ini.
" Mari, silakan duduk. " ujar sang dokter.
" Terima kasih. " sahut Rendra.
Kemudian Rendra dan Andreas pun duduk di kursi. Mereka merasa sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh sang dokter. Wajah dokter yang menjadi ketua tim perawatan Nia ini terlihat sangat serius.
" Ada apa sebenarnya Dok? Bagaimana keadaan istri saya? " tanya Rendra tidak sabar. Ia merasa sangat cemas dengan keadaan Nia.
" Tuan Narendra. Untuk saat ini Nyonya Karunia secara fisik sudah mengalami cukup banyak perkembangan. Ia sudah tidak dehidrasi dan tanda - tanda vitalnya sudah menunjukkan perbaikan. " jawab sang dokter.
Rendra dan Andreas bernapas lega bersamaan setelah mendengar jawaban dari dokter.
" Hanya saja... " lanjut dokter namun terputus.
" Hanya saja bagaimana Dok? " tanya Rendra lagi.
" Proses kuretase yang telah dilaksanakan memang telah sukses. Bisa dipastikan kondisi rahim Nyonya Karunia sedang aman - aman saja. Tapi psikis dari Nyonya Karunia, saya khawatir Nyonya Karunia tidak siap menerima semua yang terjadi padanya. " jawab dokter.
" Tadi saya mendapat laporan bahwa setelah sadar, Nyonya Karunia sempat histeris dan memukul dirinya sendiri." lanjut sang dokter.
" Itulah yang menyebabkan saya, terpaksa memberikan suntikan obat penenang karena Nyonya Karunia beresiko menyakiti dirinya terus menerus. " lanjut dokter.
Rendra terkejut mendengar penjelasan dari dokter.
" Betul, Tuan. Saat awal saya datang ke ruang perawatan Nyonya Karunia, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa Nyonya sedang memukul kepala dan tubuhnya bergantian. Wanita yang menjaganya sampai kewalahan saat mencegah Nyonya memukul kepalanya sendiri. " jawab dokter.
" Itulah mengapa, saya terpaksa memberikan suntikan obat penenang. " imbuh sang dokter.
Rendra ******* - ***** tangannya saat mendengat penjelasan dokter. Tidak bisa dibayangkan apa yang sudah dialami Nia sampai dia menjadi seperti itu. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bagaimana cara membuat Jason mendapatkan balasan yang setimpal.
" Untuk saat ini, tolong dampingi Nyonya Karunia. Yang dia butuhkan saat ini adalah dukungan moral dari orang - orang terdekatnya. " lanjut dokter.
" Baik Dok, terima kasih. Kapan kira - kira saya bisa membawa istri saya kembali ke Indonesia? " tanya Rendra.
" Jika keadaan pasien sudah stabil, Anda bisa membawa istri Anda kembali ke Indonesia. " jawab dokter.
" Baik, terima kasih Dokter. " sahut Rendra.
Kemudian Ia berpamitan pada Dokter untuk kembali ke ruang perawatan Nia.
Saat melihat Rendra dan Andra kembali, Jessie segera keluar ruangan. Andreas pun tidak ikut masuk ke dalam ruang perawatan Nia. Memberi kesempatan bagi Rendra dan Nia untuk memiliki waktu berdua.
Di dalam ruangan, Rendra memperhatikan wajah damai Nia yang terlelap. Terlihat sisa air mata di ujung mata Nia, ada bekas cakaran di pipinya.
Tanganya terulur, mengusap lembut wajah Nia dengan jarinya. Tidak terasa air matanya menetes saat mengusap wajah Nia.
" Sabar, kita akan segera pulang setelah ini. Kuatkan dirimu. " ucap Rendra sambil masih mengusap wajah Nia.
Mata Nia mengerjap, Ia terbangun karena tidurnya terusik.
" Hm? " mata Nia membulat saat melihat Rendra di hadapannya.
Rendra membalas tatapan Nia dengan tatapan lembut. Tangannya terus mengusap wajah Nia.
Mendadak wajah Nia berubah menjadi sendu. Setitik air mata keluar dari ujung netranya. Dengan cepat, Rendra menghapus air mata Nia dengan ujung jarinya.
" Kenapa menangis? " tanya Rendra.
" Maafkan aku... " ujar Nia sambil menangis tersedu - sedu.
" Sshh sshh. Sudah sudah. " ucap Rendra kemudian memeluk Nia.
" Tapi... Aku membuat kita kehilangan anak kita. " tangisan Nia semakin kencang.
" Aku kehilangan janinku.... "
Rendra mempererat pelukannya.
" Sayang, sudah. Tidak apa - apa. Ssh sshh. " Rendra menepuk pelan punggung Nia.
Rendra berusaha tegar sambil tetap memeluk tubuh Nia. Padahal, dirinya sendiri saat ini tidak dapat membendung air matanya sendiri.
Tangisan pilu Nia semakin menjadi mengingat bagaimana Ia harus kehilangan calon bayinya. Dan pelukan Rendra semakin erat, berharap dapat meringankan rasa sakit yang dirasakan oleh Nia.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍