Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 70. Langkah Awal Ben



Selamat Membaca ~


Nia mengerjapkan matanya perlahan. Tangannya Ia tarik ke atas kuat - kuat. Tidurnya semalam benar - benar nyenyak, bahkan Ia tidak terbangun sekalipun.


Mendadak Ia beranjak dan melihat kondisi sekeliling kamarnya. Terakhir kali Ia tidur dengan nyenyak, ternyata ada Rendra yang juga tertidur di sampingnya.


Tapi kosong. Tidak ada siapapun di kamarnya, hanya dirinya sendiri.


Kenapa aku justru membayangkan yang tidak - tidak. Kenapa aku bisa berpikiran kalau Rendra semalam tidur bersamaku. Ia pun tersenyum malu sendiri di atas tempat tidur.


Sebentar! Aku semalam bermimpi berciuman dengannya! Rasanya sangat nyata! Siapa yang aku cium?! Batin Nia seraya menyentuh bibirnya.


Ah, mungkin aku berciuman dengan gulingku. Gumamnya sambil menggaruk kepalanya.


Kemudian Ia berjalan dengan gontai ke toilet dan membersihkan diri. Ia ingin lebih awal keluar kamar agar bisa bertemu dengan Rendra. Ia khawatir Rendra berangkat terlalu pagi seperti kemarin sehingga Ia tidak sempat bertemu terlebih dahulu dengan Rendra.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Setelah membersihkan diri, Nia berjalan menuju ruang makan. Ia mempercepat langkahnya karena sudah merindukan Rendra. Ia juga tidak ingin Rendra menunggunya terlalu lama di meja makan.


Benar saja, Rendra sudah di ruang makan. Ia sedang duduk, membaca surat kabar dengan wajah serius.


Jika serius begini, ketampanannya menjadi berpuluh - puluh kali lipat. Batin Nia.


" Sudah lama menunggu? " tanya Nia seraya menarik kursi makan kemudian duduk di kursi itu.


Rendra mendongakkan kepalanya. Baru saja sebentar Ia tidak bertemu dengan Nia, selain saat Nia terlelap tentunya. Ia merasa Nia semakin cantik.


Wajah Nia yang polos tanpa make up justru tidak melipat gandakan kecantikannya. Wajahnya yang memang ayu dengan mata tajam selalu menjadi pesona tersendiri baginya.


Rendra menatap Nia lekat - lekat. Memperhatikan Nia yang menyendokkan lauk dan sayur ke nasi kemudian menyerahkan ke Rendra.


" Kenapa melihatku seperti itu? " tanya Nia salah tingkah.


Ia tidak sempat memoles wajahnya sedikitpun. Apakah inilah penyebab Rendea menatapnya sedari tadi?


" Tidak kenapa - kenapa. " jawab Rendra singkat.


Rendra meletakkan piring di atas meja kemudian menyendok lauk dan sayur. Kemudian Ia menyuapkannya ke dalam mulutnya, mengunyah perlahan sambil memperhatikan Nia yang juga sedang meniknati makanan.


" Apa kau merasa bosan hanya diam di sini? " tanya Rendra memecah keheningan.


Nia meletakkan sendok dan garpunya.


" Apakah terlihat sekali? " tanya Nia balik.


Rendra tersenyum simpul. " Aku tau kau orang yang sangat produktif. Kau pasti tidak bisa diam dan cepst merasa jenuh jika tidak melakukan apapun. "


Nia terdiam. Memang benar, Ia sudah merasa sangat bosan. Padahal baru beberapa hari dia menjadi, yah sebut saja pengangguran.


“ Aku perhatikan kau sangat suka mendesain. “ ucap Rendra sembari menyuapkan suapan terakhir makanannya.


“ Iya, aku sangat suka dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan desain. “ jawab Nia.


Ke mana arah pembicaraan ini berakhir? Tanyanya dalam hati.


“ Aku berencana membukakan sebuah usaha untukmu, setelah melihat fokus dan bakatmu. “ ucap Rendra yang telah menyelesaikan makannya.


“ Tapi kondisi sekarang sedang tidak baik, keselamatanmu menjadi fokus utamaku saat ini. Maaf kau harus tertahan dulu di sini. “ lanjutnya.


Nia terdiam. Ia menatap Rendra, lurus ke arah mata Rendra dengan dalam. Dia selalu mengkhawatirkanku. Manusia salju yang selalu mengkhawatirkanku.


“ Aku mengerti. “ jawab Nia singkat, masih dengan tatapan mendalam kea rah Rendra.


Mereka saling menatap cukup lama, membuat suasana ruang makan terasa sangat hangat.


“ Uhukk. “ Bi Habsya pura – pura batuk agar dua manusia yang sedang dimabuk itu berhenti saling menatap. Sungguh terlalu kiyowo untuk saat ini, mengingat pegawai lain juga ikut menonton.


“ Baiklah, aku berangkat. “ ucap Rendra tersenyum canggung.


Nia mengangguk cepat, Ia pun beranjak dari duduknya berniat untuk mengantar Rendra ke pintu depan.’


Di dekat mobil sudah ada Andreas yang stand by dengan wajah tenangnya.


“ Aku sudah meminta Andreas untuk mencari beberapa titik lokasi yang kurasa cocok untuk tempat usahamu nanti. Tapi, untuk saat ini, seperti yang aku bilang tadi. Bersabarlah. “ ucap Rendra seraya mengusap kepala Nia dengan lembut.


Nia membalas dengan anggukan kepala. Wajahnya tersenyum sumringah, membuat jantung Rendra berdebar tidak karuan.


“ Baiklah, aku berangkat. Aku akan pulang telat. Aku ada urusan nanti malam. “ ucap Rendra.


Seketika wajah Nia berubah, ekspresinya kini berubah menjadi sendu. Kepalanya menunduk. Ia akan kesepian lagi sampai waktu tidur.


Rendra yang dapat membaca situasi, mengatup wajah Nia dan mengangkatnya sehingga kini mereka saling bertatapan lagi.


“ Aku ingin mengajakmu, tapi ada beberapa hal yang membuatku mengurungkannya. Pertama, keamananmu. Kedua, yaitu kecantikanmu. Aku tidak ingin wajah cantikmu dilihat oleh terlalu banyak laki – laki. “ ucap Rendra.


Lagi – lagi, Nia hanya membalas dengan anggukan. Mau bagaimana lagi, jika Ia bersikukuh untuk ikut keselamatannya menjadi taruhan, yang berarti Ia akan merepotkan Rendra lagi.


Kemudian Ia berjalan dan masuk ke dalam Rolls-Royce Ghost berwarna silver yang sudah siap melaju dengan Andreas yang menjadi pengemudinya.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Sementara itu, di sebuah penthouse yang berada di Kota B ~


Jason nampak bersiap – siap. Ia sudah mengenakan kemeja dengan rapi yang sudah dimasukkan ke dalam celana. Ia menyisir rapi rambutnya ke belakanga agar terkesan formal.


Terdengar suara serak yang berasal dari arah belakangnya.


“ Kau mau ke mana? “ tanya seorang wanita yang menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Sepertinya wanita itu baru bangun, rambutnya berantakan dan wajahnya terlihat masih mengantuk.


“ Aku ada urusan. Kau lanjutkan saja tidurmu dulu. “ ucap Jason seraya merapikan rambutnya lagi.


“ Tidak mau satu ronde lagi? “ tanya wanita itu dengan nada menggoda.


Jason berbalik kemudian berjalan ke arah wanita itu kemudian mengecup bibir wanita itu.


“ Nanti malam. Siapkan dirimu. “ ucap Jason dengan wajah menyeringai.


Wanita itu tersenyum genit, Ia menggigit ujung bibirnya dan menatap Jason dengan manja.


“ Baiklah, aku akan ada di sini sebelum kau pulang, “ sahut wanita itu, tangannya masih menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut.


Jason kemudian keluar dari kamarnya menuju basement, tempat di mana Tommy sudah menunggunya.


Hari ini Ia berencana untuk bertemu dengan Ben Walker. Ia ingin membuat perjanjian kerja sama dengan dalih melakukan donasi pada warga yang terdampak penggusuran. Sungguh picik, dia yang menyogok untuk menggusur, tapi dia juga yang memberi bantuan kepada warga yang terdampak penggusuran.


Setelah berkendara lebih dari tiga jam, akhirnya Ia tiba di kantor pemerintahan Kota A. Dengan penuh rasa percaya diri, Ia segera menuju ruangan wakil walikota.


“ Saya ingin bertemu dengan Tuan Ben Walker, “ ucap Jason ke sekretaris Ben.


“ Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya? “ tanya sekretaris itu.


“ Sudah, atas nama Jason Alexander. “ sahut Tommy.


“ Baik, saya hubungi beliau terlebih dahulu. “ ucap sekretaris itu kemudian mengambil telepon dan menelepon seseorang.


Sambil menunggu, Jason dan Tommy duduk di kursi yang disediakan di dekat meja sekretaris.


Setelah selesai berbincang, sekretaris itu meletakkan gagang teleponnya.


“ Tuan- tuan, silakan masuk. Tuan Ben sudah menunggu di dalam. “ ucapnya.


Jason dan Tommy kemudian beranjak dan berjalan menuju ruangan Ben Walker. Setelah masuk ke dalam, tampak Ben menyambut mereka dan segera mempersilakan duduk di sofa.


“ Mari mari, silakan duduk. “ucap Ben mempersilakan Jason dan Tommy duduk di sofa dengan ramah.


“ Terima kasih Tuan Ben Walker. “ sahut Jason.


“ Ada apa gerangan? “ tanya Ben.


Kemudian Tommy menjelaskan maksud kedatangan mereka, yaitu untuk membantu warga yang terdampak penggusuran di Daerah O. Ben terlihat sangat antusias mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Tommy. Berulang kali kepalanya mengangguk, sepertinya sangat mengerti apa yang disampaikan oleh Tommy.


“ Jika seperti itu, tidak ada alasan bagi saya untuk menolak niatan baik seperti ini. “ ucap Ben.


“ Terima kasih Tuan, “ sahut Jason.


“ Tidak masalah, jika itu untuk kepentingan warga saya pasti mendukung. “ jawab Ben.


“ Sebenarnya Tuan Ben Walker, selain hal itu kami ada maksud lain. “ ucap Jason.


“ Oh, apa itu? Ada yang bisa saya bantu? “ tanya Ben bersemangat.


“ Terkait tujuan penggusuran. Sebetulanya akan dibangun sebuah industri besar di situ. Saya bisa menjamin bisa meningkatkan pendapatan perkapitasi Kota A. “ ucap Jason.


“ Dengan begitu bisa meningkatkan kondisi perekonomian di Kota A. “ lanjutnya.


“ Lalu? “ tanya Ben berpura – pura tidak mengerti.


“ Terkait perijinannya, saya harap Anda mempermudah urusan kami. Saya berjanji akan memberi hadiah yang layak untuk Anda. “ ucap Jason.


KENA KAU! Seru Ben dalam hati.


Satu hal yang tak disadari oleh Jason dan Tommy ketika memasuki ruangan Ben, adalah adanya cctv yang dipasang di beberapa sudut ruangan. Rendra secara khusus meminta Anton untuk mempersiapkan segalanya karena mereka tahu Jason akan segera datang menemui Ben.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Halo haloo, jangan lupa dukung dan dukung penulis yaaaa


Beri rate, vote, like, dan komentar yaaah


Mau kasih hadiah juga boleh bangeeetttt