Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 61. Berhenti Bekerja



Rendra menggenggam tangan Nia, menariknya ke arah mobilnya terparkir. Di tempat parkir khusus Gedung Hartawan Group.


Ia membuka pintu mobil dan meminta Nia masuk ke dalam mobil. Kemudian Ia pun masuk ke dalam mobil.


Andreas dan Anton masih standby di dekat mobil itu terparkir.


Di dalam mobil, Nia menundukkan kepalanya. Rasa takut dan jijik bercampur menjadi satu. Bagaimana bisa Ia bertemu dengan Jason dan temannya yang sangat kentara memiliki kelainan seperti itu. Tatapannya sepert menginginkan Nia secara berlebihan.


" Hei, " ucap Andreas sambil mengusap lembut pipi Nia.


Nia mengangkat kepalanya. Menatap Rendra yang terlihat khawatir kepadanya.


" Kau baik - baik saja? " tanya Rendra.


Nia menganggukkan kepalanya.


" Sedari tadi aku menghubungi ponselmu. Kenapa tidak bisa terhubung? Kau matikan ponselmu? " tanya Rendra.


Nia menggelengkan kepalanya. " Baterainya habis. Aku lupa mengisi dayanya. "


" Besok, jangan seperti ini lagi. " ucap Rendra lembut. " Kau tau betapa takutnya aku tadi? "


Nia menatap Rendra. Tiba - tiba ingatan beberapa waktu lalu menyeruak. Apakah ini benar Rendra yang sama dengan Tuan Narendra saat itu? Yang suka memberiku pekerjaan lebih dan sangat ketus? Yang dingin sedingin es di kutub utara? Batin Nia.


" Aku tau aku tampan. Jadi puas - puaskan menatapku seperti itu. " ucap Rendra.


Ah, jelas ini dia. Sangat narsis! Batin Nia lagi.


Nia mengalihkan pandangannya. Dengan cepat Rendra menahan agar wajah Nia tidak beralih. Kemudian Ia menatapnya lekat - lekat.


" Aku tidak bisa merasa tidak terus - terusan seperti ini. " ucap Rendra.


" Ken.. Kenapa? " tanya Nia.


" Kau tau, nyawamu sendiri seringkali dalam bahaya. Semua itu karena aku. " ucap Rendra.


" Aku minta maaf padamu karena melibatkanmu dalam masalah ini. " ucapnya lagi membuat Nia kebingungan.


" Kenapa bisa begitu? " tanya Nia.


" Sudah, pokoknya aku minta maaf. " ucap Rendra kemudian memeluk Nia.


Nia membalas pelukan itu kemudian segera melepasnya.


" Jangan di sini, ini masih di lingkungan kantor. " ucapnya.


Rendra menatap Nia, dan terdiam sejenak. Kemudian Ia tersenyum.


" Kalau begitu, ayo kita pulang. " ucap Rendra yang dibalas anggukan oleh Nia.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Setelah makan malam, Rendra mengajak Nia untuk berbincang sebentar di dekat kolam renang. Ada hal mendesak yang ingin segera Ia katakan pada Nia.


" Silakan, teh chamomilenya Nona Karunia. " ucap Bi Habsya sembari meletakkan secangkir teh hangat di dekat Nia.


" Terima kasih, Bi. " jawab Nia.


" Ini segelas americano hangat untuk Anda, Tuan. " ucap Bi Habsya.


" Ya, terima kasih. " sahut Rendra.


" Saya pamit, " ucap Bi Habsya yang dibalas anggukan oleh Nia.


Sepeninggal Bi Habsya, Nia meraih secangkir teh hangat yang disajikan untuknya. Aroma chamomile membuatnya merasa lebih rileks. Ia pun menyereput teh itu kemudian meletakkan cangkir kembali ke atas meja.


" Apa yang mau kau sampaikan? " tanya Nia.


" Aku ingin kau keluar dari kantor. Berhentilah bekerja. " jawab Rendra.


Apa aku tidak salah dengar? Batin Nia.


" Kau memintaku untuk... Resign? " tanya Nia.


Rendra membalas hanya dengan anggukan singkat.


" Jika aku tidak mau bagaimana? " tanya Nia lagi.


" Maksudku, aku harus bekerja untuk membayar cicilan hutang orang tuaku dan menebus kembali semua peninggalan orang tuaku yang menjadi jaminan di rentenir itu. " ucap Nia panjang lebar.


" Lagipula, akan menjadi sia - sia jika aku tidak bekerja. Maksudku, orang tuaku sudah menyekolahkanku sampai tahap ini. Walaupun iya, hanya sebatas sarjana. Tapi kan tetap saja, sayang sekali jika aku tidak bekerja. " lanjutnya sambil menggerak - gerakkan kedua tangannya.


" Aku tidak mau menjadi manusia yang tidak produktif yang hanya berdiam di rumah saja. Aku tidak mau pikiranku jadi mati. " omelnya lagi.


Rendra tersenyum kemudian meraih wajah Nia dan mengusapnya dengan lembut.


" Jangan mengalihkan pembicaraan. Kita sedang membahas sesuatu yang serius. " rutuk Nia.


Rendra terkekeh.


" Oke. Yang pertama, aku bukan memintamu berhenti bekerja secara total. Kau masih bisa membuka usaha yang lain. Tapi nanti, ketika suasana sudah jauh lebih aman. " ucap Rendra.


" Yang kedua, aku akan membantumu melunasi hutang - hutang orang tuamu dan menebus semua peninggalan orang tuamu. " lanjutnya.


" Sebentar! " seru Nia sambil mangangkat tangannya.


" Aku tidak mau kau ikut - ikut dalam urusan hutang orang tuaku. " Nia memperingatkan Rendra dengan wajah serius.


" Bukan begitu maksudku. Jika kau memang tidak mau aku ikut campur, maka anggaplah ini adalah pinjaman. Pinjaman tanpa bunga. " Rendra menimpali sambil menggenggam tangan Nia.


" Kenapa kau sangat ingin aku berhenti? Apakah aku sangat buruk dalam pekerjaanku? " tanya Nia.


" Bukan begitu, berhentilah berpikir yang tidak - tidak. " jawab Rendra.


" Bagaimana aku mau tidak berpikir yang tidak - tidak? Aku kan wanita. Suka merasa insecure tanpa sebab. " sahut Nia.


Ia memutar posisi badannya hingga kini Ia memunggungi Rendra.


" Iya, iya maafkan Aku. " ucap Rendra.


(Nah kan Rendra ngerasain sekarang. Mau dia gantengnya ngga ketulungan, raja dalam dunia bisnis, dingin kayak es abadi tetep aja di depan wanita yang Ia sayangi jadinya tidak akan berkutik)


" Mengertilah, aku melakakukan ini demi kau sendiri. Aku ingin kau selalu dalam kondisi aman. " ucap Rendra sambil memeluk pundak Nia.


" Kau tau bagaimana kacaunya aku tadi? " tanya Rendra.


Nia masih bergeming. Ia masih tetap kekeuh memunggungi Rendra.


" Apa kau tau Jason dan sepupunya itu, Thomas itu, berniat buruk padamu dan aku? " tanya Rendra.


" Aku pernah kehilangan orang yang aku cintai, salah satunya akibat perbuatan mereka. Dan sekarang, kau pun terancam dalam bahaya. Aku tidak mau kau kenapa - kenapa. " ucap Rendra.


" Jika ada lecet sedikit saja padamu yang disebabkan olehku, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. " lanjutnya.


Perlahan, Nia memutar kembali posisi tubuhnya menghadap Rendra.


" Tolong. Sekali ini saja, demi keselamatan dirimu juga. " ucap Rendra bersungguh - sungguh.


" Tapi, aku tidak suka menganggur. " ucap Nia.


" Kau bisa bermain ke tempat Sarah, aku akan mengirim penjaga bersamamu. Kau bisa mengasah hobimu yang lain. Atau kau bisa mengambil kelas tambahan online tentang desain. " jawab Rendra.


Nia tampak berpikir, selama ini Ia sudah menyulitkan Rendra. Ia sudah menumpang, membuat Rendra mengalami beberapa masalah. Jika keselamatannya sendiri juga bisa menjadi sumber masalah, sebaiknya memang aku diam di sini saja.


" Baiklah, aku akan menurutimu. Dengan catatan, pembayaran cicilan hutang orang tuaku adalah pinjam. Bukan dibayar cuma - cuma. " ucap Nia seraya mengangkat jari telunjuknya.


Rendra mengangguk. Apapun akan aku lakukan, asal kau selamat. Batinnya.


" Aku tau kau suka dengan kegiatan merencanakan suatu kegiatan, menyusun acara, menghias dan lainnya. Aku akan membuka usaha untukmu, sebuah usaha seperti event organizer ketika suasana sudah memungkinkan. " ucap Rendra.


Nia merasa trenyuh. Rendra benar - benar sangat memperhatikannya. Rendra tau apa yang menjadi kesukaan Nia dan ya, Nia memang bercita - cita memiliki usaha Wediing Oragnizer.


" Aku akan mengurus berkas berhentimu besok. " ucap Rendra.


Nia pun mengangguk.


Rendra memeluk tubuh ramping Nia. Ia merasa senang Nia benar - benar gadis yang baik dan penurut.


Tiba - tiba Nia mendorong tubuh Rendra.


" Ah, satu hal lagi! " seru Nia tiba - tiba sambil mengangkat jari telunjuknya lagi.


" Aku tau kau tidak akan membuka mulutmu jika ini terkait dengan Andreas. " ucap Nia.


" Aku merasa ada yang aneh antara Andreas dan Sarah. Aku tau itu karena aku adalah orang yang sangat peka. " lanjutnya.


" Tapi aku tidak terima jika Sarah harus menjadi seorang ibu sambung! Apalagi dari seorang anak SMA seperti itu! " serunya lagi penuh semangat.


" Aku sangat tidak menyangka wajah Andreas yang seperti itu ternyata adalah seorang ayah beranak satu. " ucap Nia lagi sambil menggelengkan kepalanya.


Rendra hanya terheran - heran mendengar celotehan Nia. Andreas? Dengan Sarah? Ibu sambung? Ayah beranak satu? Anak Andreas sudah SMA? Apa sebenarnya yang sedang dibicarakan gadis ini?


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Halooo, penulis berusaha untuk up lebih dari satu episode ya untuk beberapa hari ke depan. Mohon dukungannyaa


Jangan lupa rate, vote, like, dan tinggalkan jejak komentar. Mau kasih hadiah juga boleh bangettt kokkk 馃き