Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 60. Jauhi Karuniaku!



Andreas melajukan Maybach S580 dengan kecepatan tinggi. Rendra yang berada di kursi penumpang pun terlihat tidak kalah gugup dari Andreas.


Setelah mengendarai sekitar 60 menit, Rendra dan Andreas sampai di bangunan utama Hartawan Group.


Dengan mata elangnya Andreas menyisir lokasi dengan cepat. Mencari di mana Jason dan Thomas berada. Tapi nihil.


Kemudian Andreas pun melakukan panggilan melalui ponselnya.


" Di mana kau sekarang? " tanya Andreas.


" Saya sedang mengikuti Tommy, Tuan. " jawab seseorang di seberang sana.


" Bagaimana kau bisa meninggalkan Nona Karunia tanpa pengawasan? " seru Andreas.


" Tenang Tuan, Nona Karunia dalam keadaan aman. Ada Jessie yang menjaganya, Tuan Anton tadi juga mengabarkan akan segera menyusul ke titik lokasi Nona Karunia. " jawab orang itu.


" Dengarkan Andra, jika sampai terjadi apa - apa dengan Nona Karunia, akan kupatahkan lehermu. " ucap Andreas.


" Maafkan saya Tuan. " sahut Andra.


Kemudian Andreas mengakhiri panggilan teleponnya.


" Di mana dia? " tanya Rendra.


" Dia sedang mengikuti asisten Jason, Tuan. " jawab Andreas.


" Nona Karunia sedang dalam pengawasan Jessie. Saya akan menghubungi Anton. " imbuhnya.


" Ya sudah. Urus semuanya. Aku akan mencoba mencari Nia. " jawab Rendra.


Tanpa pikir panjang, Rendra berjalan cepat menuju lift dan memencet angka 10 dengan tidak sabar.


ting


Pintu lift terbuka. Rendra berlari menuju ruangan Divisi Co & Creative.


Setelah sampai di sana, Ia menyapu pandangan. Ia tidak melihat Nia di meja kerjanya.


Ia melihat Raya dan menghampirinya.


" Di mana Nia? " tanya Rendra.


" Oh, selamat siang Tuan Narendra. " sapa Raya.


" Tadi Nia bilang mau ke toilet. " jawab Raya.


" Tapi, ini sudah terlalu lama... " ucap Raya sambil melihat ke arah jam dinding.


" Apa maksudmu? " tanya Rendra gusar.


" Nia sudah pergi sejak setengah jam yang lalu. " jawab Nia.


Rendra panik. Ke mana perginya dia.


" Coba kau cek ke toilet. Aku akan mengikutimu. " perintah Rendra.


" Baik Tuan. " sahut Raya.


Melihat Rendra panik, Raya pun tersulut panik. Ia berlari menuju arah toilet. Sedangkan Rendra mengikutinya dari belakang.


Raya masuk ke dalam toilet dan memeriksa ruang toilet satu persatu. Tapi nihil. Nia tidak ada di toilet.


Raya keluar dangan wajah masam.


" Ada? " tanya Rendra.


Raya menggeleng.


" Nia... Di mana kau ini... " ucap Rendra gusar.


Ia mengambil ponselnya dan menekan angka 1 di ponselnya. Ia menelepon Nia.


Ia telrihat gelisah. Ia mondar - mandir di depan toilet. Raya pun ikut terlihat gelisah.


" Coba kau telpon Nia. " perintah Rendra.


" Iya Tuan. " sahut Raya.


Raya langsung menelpon Nia dengan ponselnya. Namun langsung terhubung dengan pesan suara. Ia ikut panik.


Sedangkan Rendra nampaknya sedang menelepon orang lain.


" Ada kabar? " tanya Rendra.


" Saya sudah terhubung dengan Anton, Tuan. " jawab Andreas di seberang sana.


" Tapi Ia pun kesulitan mencari Nona Karunia. " lanjutnya.


" Di mana penjaga wanita itu? " tanya Rendra tidak sabar.


" Anton sedang mencoba menghubunginya. " jawab Andreas.


" Terus coba hubungi mereka. " perintah Rendra.


" Baik Tuan. " sahut Andreas.


" Bagaimana? Kau sudsh terhubung dengan Nia? " tanya Rendra pada Raya.


Masih dengan wajah masam, Raya menggelengkan kepalanya.


Sial! Bagaimana bisa aku justru kehilangan Nia! Amuk Rendra dalam hati.


" Kau tetap di sini. Hubungi Andreas jika ada jawaban dari Nia. " ucap Rendra.


" Baik, Tuan. " sahut Raya patuh.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Sementara itu, di sebuah coffe shop ~


Nia terlihat sedang duduk bersama dua orang laki - laki. Ia memegang gelas kopinya dengan gugup. Ponselnya mati karena Ia lupa mengisi daya baterai ponselnya.


Siapa sangka, niatnya yang hanya sekedar membeli minuman untuk menghilangkan kantuknya justru membuatnya terjebak di sini.


flashback on


" Selamat siang. " sapa seorang barista di sebuah coffe shop tidak jauh dari Gedung Utama Hartawan Group.


" Siang Kak. " balas Nia sopan.


" Mau pesan apa? " tanya barista itu.


" Hmm... " Nia tampak sedang melihat menu minuman. " Sebentsr ya Kak. "


" Ice Hazelnut Latte satu ya Kak. Ukurannya mau yang grande. " ucap Nia.


" Ah iya, aku tawari Raya ah. Siapa tau dia juga mau. " gumam Nia.


Ia meraih ponselnya dari saku celana kulotnya.


Yah, mati. Batinnya sambil melihat ponselnya yang sudah kehabisan daya.


Tiba - tiba...


" Selamat siang Karunia. " sapa seseorang yang tiba - tiba berada di belakangnya.


Nia spontan menoleh ke arah sumber suara berasal. Tuan Jason? Dan siapa itu yang sedang berdiri di sampingnya? Terlihat menakutkan. Batin Nia.


" Selamat siang Tuan Jason. " sapa Nia.


" Kau sedang memesan minuman? " tanya Jason.


" Eh, iya Tuan. " jawab Nia.


" Hmm... Biar aku yang bayar tagihan minumanmu. " Jason menawarkan diri.


" Jangan Tuan, terima kasih. Saya sudah membayarnya. " tolak Nia dengan halus.


Ia tidak ingin merasa memiliki hutang kepada orang lain.


" Kalau begitu, duduklah di kursi sana. " ucap Jason sambil menunjum ke arah meja dan kursi yang sedang kosong


" Ayo kita mengobrol. " ajak Jason.


Bukannya tidak mau menolak, tapi Nia sendiri merasa takut. Ponselnya mati, Ia tidak bisa menghubungi Rendra. Tapi jika Ia menuruti, Ia takut Jason akan berbuat macam - macam dengannya.


" Baik Tuan. " jawab Nia.


flashback off


Thomas menyeruput espressonya. Matanya terus menatap tajam ke arah Nia. Membuat Nia merasa semakin tidak nyaman.


Bagaimana caranya aku melepaskan diri dari mereka. Laki - laki ini terlihat sangat menakutkan. Batinnya.


" Kenapa? Apa kau tidak nyaman? tanya Jason.


" Oh, tidak Tuan. Hanya saja, ini masih jam kerja. Saya khawatir rekan kerja saya mencari saya. " jawab Nia.


" Begitukah? Baiklah. Ayo kami antar kembali ke kantormu. " ucap Jason.


Nia mengangguk.


Mereka bertiga pun berjalan kaki kembali ke arsh gedung utama Hartawan Group.


Saat akan sampai, Nia melihat Rendra berlari je arahnya. Nia tersenyum masam ke arah Rendra.


" Sayang, dari mana saja? Aku mencarimu. " ucap Rendra.


" Beli kopi. " jawab Nia sembari menunjukkan gelas kopi miliknya.


" Selamat siang, Tuan Narendra. " sapa Jason.


Rendra menoleh ke sumber suara. Ia melihat ada Jason dan Thomas yang sedang berdiri tak jauh darinya dan Nia.


Reflek Ia menarik tubuh Nia ke belakangnya.


" Selamat siang. " jawab Rendra


Andreas dan Anton kemudian tiba menyusul Rendra dan Nia.


Rendra dan Jason masih saling beradu pandang.


" Apa Anda sedang ada keperluan di sekitar sini? " tanya Rendra.


" Oh, tidak. Saya hanya sedang... Mencari angin segar. " jawab Jason dengan wajah menyeringai. Ia menatap tajam ke arah Nia.


Melihat respon Jason, Andreas dan Anton maju beberapa langkah mensejajari Rendra. Mereka kini saling menatap satu sama lain.


Terlihat wajah Thomas yang sepertinya setengah mabuk, menyeringai ke arah Nia.


" Baik kalau begitu. Kami undur diri. " ucap Andreas. Berusaha mencegah terjadinya baku hantam antara mereka, mengingat ini masih ada di kawasan perkantoran milik Hartawan Group.


" Kenapa terburu - buru? Mari kita duduk santai dan minum - minum terlebih dahulu. Supaya kita lebih akrab. " tawar Jason.


" Kami sangat sibuk. " jawab Andreas.


Rendra menganggukkan kepalanya tanda pamit. Ia berbalik sambil merengkuh pundak Nia.


" Oh, ayolah. " ucap Jason lagi, masih belum menyerah.


" Biarkan kami menikmati pemandangan indah itu. Jangan kau ambil sendiri. " Thomas menimpali.


Mendengar ucapan Thomas yang sedang setengah mabuk, Rendra berbalik geram. Andreas dan Anton berusaha menahan tubuh Rendra agar tidak mendekat ke arah Jason dan Thomas.


" Sepertinya teman Anda sedang mabuk, sebaiknya kalian kembali ke tempat asal kalian. " ucap Andreas.


" Jangan memancing keributan di wilayah kami. " imbuh Anton.


Thomas terbahak. Ia menyeringai dan berusaha melihat ke arah Nia dengan liar.


" Sebaiknya Anda bawa teman Anda pulang. Sepertinya Ia sudah tidak bisa mengontrol sikapnya. " ucap Rendra.


" Oh, bukan begitu Tuan Narendra. Dia hanya sedang berusaha mengenal dekat Nona Karunia. " jawab Jason.


" Apapun itu. Sebaiknya Kalian segera meninggalkan wilayah kami. " ucap Andreas yang terlihat berusaha mengendalikan emosinya.


" Kenapa? Aku hanya ingin sering - sering bertemu Karunia. " jawab Jason.


Mendengar namanya disebut - sebut, Nia mencengkeram lengan baju Rendra. Ia beringsut sembunyi di belakang Rendra.


" Jauhi Karuniaku! " hardik Rendra.


" Kenapa? Kami hanya berteman, bukan begitu Karunia? " tanya Jason.


Rendra mengabaikan perkataan Jason. Ia menarik Nia kembali ke arah gedung utama. Menggenggam tangan Nia yang terasa sedingin es.


Andreas dan Anton mengikuti Rendra dan Nia. Tentunya masih dalam mode waspada.


" Aku ingin wanita itu. " ucap Thomas.


" Jika kau berhasil membantuku menghancurkan Hartawan, wanita itu adalah bonus untukmu. " ucap Jason.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍