Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part.149 Persidangan



Selamat Membaca ~


Setelah melalui banyak proses dan hambatan, akhirnya Nia dan Sarah bisa kembali ke Indonesia. Mereka berdua sudah tidak sabar menghirup kembali udara Indonesia yang sangat mereka rindukan.


Tidak berbeda dengan dengan Jason. Jason berhasil dibawa kembali ke Indonesia dan segera masuk ke sel isolasi di rumah tahanan dengan pengawalan ketat. Pihak kepolisian dibantu agen - agen Anton memiliki peran yang sangat penting dalam memindahkan Jason ke Indonesia.


Dengan dimasukkannya Jason ke dalam sel isolasi, Rendra dan Rudi merasa lebih tenang. Mereka tidak khawatir Jason akan mendapat tamu atau menemui orang - orang tertentu yang bisa saja membantu Jason kabur dari dalam penjara.


Bagaimana dengan Tommy dan Kevin? Tommy mendapat penangguhan karena Ia dianggap berperan dalam misi penyelamatan Nia dan juga Sarah. Sedangkan Kevin, Ia telah dideportasi dari Indonesia dan dikembalikan ke negara asalnya, Hongkong. Atas kesalahan yang telah Ia perbuat, Kevin akan menjalani persidangan di sana.


Persidangan Jason direncanakan akan digelar dalam waktu dua hari lagi. Rendra menggunakan jasa pengacara terbaik yang ada di negara ini. Ia menekankan berulang - ulang bahwa Jason tidak boleh lolos kali ini.


" Sayang, kau sedang apa? " tanya Nia dari pintu masum ruang kerja Rendra.


Rendra menoleh dan meletakkan sebuah jilidan kertas yang Ia pegang ke atas meja. Ia mengulurkan tangannya memberi kode agar Nia mendekat ke arahnya.


Nia berjalan mendekat, menyambut uluran tangan Rendra.


" Kau sibuk? " tanya Nia.


Rendra menarik tubuh Nia dan mendekapnya lembut. " Tidak. Aku hanya sedang membaca sesuatu. "


" Benar kau tidak sibuk? " tanya Nia lagi.


" Iya, aku tidak sibuk. " sahut Rendra.


Ia kemudian melepas pelukannya dan menatap wajah Nia lekat - lekat. Masih terlihat bekas luka di pelipis dan sedikit memar di pundak Nia. Ia mengusap pelan pundak Nia.


" Apakah masih sakit? " tanya Rendra.


Nia menggeleng sambil tersenyum. " Tidak, sudah tidak sakit. "


Rendra tersenyum.


" Sebentar lagi. Sebentar lagi. " ucap Rendra kemudian memeluk Nia lagi.


" Aku pastikan laki - laki itu mendapat hukuman yang setimpal atas seluruh perbuatannya. " lanjut Rendra.


" Benarkah? Bukankah dia adalah orang yang sangat licin? Dia selalu bisa meloloskan dirinya dari berbagai masalah. " sahut Nia.


" Percayalah padaku. Kali ini kita memiliki data dukung hubukti yang sangat banyak dsn sangat memberatkan Jason. Dia akan menerima hukuman yang pantas. " ujar Rendra.


Nia mengeratkan pelukannya. Bukannya Ia senang orang lain akan menerima hukuman dan tersiksa di dalam penjara, tapi Jason Alexander memang pantas mendapatkannya. Laki - laki itu sangat pantas mendapat hukuman yang sangat adil atas semua perbuatannya.


" Sayang... " bisik Rendra di belakang daun telinga Nia.


" Hh.. Sayang, jangan di situ. " sahut Nia geli.


" Kenapa? " tanya Rendra masih berbisik di belakang daun telinga Nia. Tangannya mulai mengg#rayangi bagian tubuh Nia. Mulai dari bagian atas hingga menuju ke bawah.


" Kenapa? " tanya Rendra yang sepertinya mulai 'on'.


" Ingat kata dokter, kita masih belum bisa melakukannya. " ucap Nia berusaha melepas pelukan Rendra namun Rendra justru mempererat pelukannya.


" Jika itu memang belum bisa kita lakukan, ada hal lain yang bisa kita lakukan. " Rendra sepertinya sudah tidak bisa menahan lagi.


Ia melepas pelukannya, berjalan menuju pintu ruang kerjanya dan menguncinya dari dalam.


Nia terlihat panik, Ia ingat betul kata - kata dokter. Karena kemarin Ia mengalami abortus, dokter meminta Ia untuk menunda berhubyngan dulu setidaknya 4 - 6 minggu.


" Ss... Sayang, kita belum bisa melakukannya. " ujar Nia mulai panik.


" Aku tidak akan melepas pakaianmu. Kita bisa melakukannya dengan cara yang berbeda. Tenanglah. " sahut Rendra yang sudah terlihat sangat bern#fsu saat meihat Nia.


Ia melepas ikat pinggangnya hingga telrihat celana boxer berwarna hitam yang Ia kenakan. Ia kemudian melepas kemejanya sehingga telrihat bagian tubuh seperti roti sobek di sana.


Nia menelan salivanya dengan susah payah. Pemandangan yang sudah cukup lama tidak Ia lihat.


Rendra tersenyum melihat ekspresi Nia yanh seperti itu. Ia mendekat dan menarik tangan Nia.


Awalnya, Nia seperti menahan tangannya. Namun saat Rendra mengarahkan tangan Nia ke pusaka miliknya, Nia jadi melunak. Tangannya pun Ia pasrahkan pada Rendra. Terserah Rendra, apa yang akan Ia lakukan pada tangan Nia.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Akhirnya, hari yang ditunggu telah tiba. Persidangan Jason Alexander dilaksanakan di pengadilan Negeri Kota A.


Jason merasa cemas saat ini. Berbeda dengan pengadilan yang sebelumnya pernah Ia jalani. Kali ini Ia tidak bisa menyewa pengacara terbaik karena statusnya memang sudah dideportasi dari Indonesia. Ia mendapatkan bantuan pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum Kota A.


" Kau pasti takut. " ejek Anton yang berdiri di sampingnya. Anton ikut mengawal keberangkatan Jason dari rumah tshanan menuju pengadilan.


" Untuk apa Bapak Tua di sini? " hina Jason.


" Untuk melihat kejatuhanmu yang kesekian kalinya, Jason Alexander. " jawab Anton santai.


Jason benar - benar merasa kesal dengan Anton. Ia kerap kali mengejek Jason dengan sesuka hatinya.


Sebuah bus khusus tahanan datang. Jason masuk ke dalam diikuti Anton, dua orang agen, dan tiga orang polisi lainnya. Pengawalannya benar - benar ketat. Mengingat Jason bisa dikatakan adalah seorang mafia, memiliki catatan kriminal yang banyak dan juga anak buah yang banyak.


Setelah berada di dalam bus selama 20 menit bus akhirnya tiba di pengadilan. Jason snagat terkejut taktala Ia melihat sangat banyak wartawan yang sudah menunggu kedatanganbya di depan pengadilan.


Seperti yang telah diduga, saat Ia turun, Ia dihampiri oleh wartawan yang segera memburunya dengan berbagai macam pertanyaan. Wartawan mengerumuni Jason dan rombongan hingga mereka kesulitan untuk masuk ke dalam ruang persidangan.


Beruntung Ia mendapat kawalan ketat dari pihak kepolisian dan juga agen Anton. Dengan cepat, Ia bisa melewati kerumunan dan berhasil masuk ke dalam ruang persidangan yang sudah sangat penuh dengan audience.


Jason mengedarkan pandangannya ke dalam seisi ruang persidangan. Matanya membelalak seketika ketika melihat siapa saja yang berada di dalam ruang persidangan. Bukan hanya Rendra dan Andreas dan juga tim kuasa hukumnya yang ada di dalam. Tapi juga....


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍