Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
18. Dilema



Andreas baru saja kembali dari Kalimantan, Rendra menugaskannya ke sana tiga minggu untuk membantu mengaudit perkembangan bisnis tambang Rendra. Setelah tiba di bandara, Ia segera menuju mansion Rendra untuk melaporkan hasil auditnya.


" Terima kasih Andreas, kau benar - benar tangan kananku. Aku pasti tidak sanggup jika harus menghandle semuanya sendirian. " ucap Rendra sambil menepuk pelan bahu Andreas.


" Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya. " jawab Andreas sambil menundukkan kepalanya.


" Sudah kukatakan berulang kali kan, kalau kita sedang berdua bersikaplah santai. Jangan formal. Kau ini, bagaimanapun juga adalah sepupuku. " ucap Rendra.


Andreas hanya tersenyum.


" Andreas. " panggil Rendra lagi.


" Ya, Tuan? " sahut Andreas yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Rendra. Dengan cepat ia menjawab, " Ya, Rendra? "


Rendra tersenyum puas dengan kepatuhan Andreas.


" Bagaimana perkembangan 'itu'? " tanya Rendra.


Suasana yang tadi sudah sedikit mencair kini berubah menjadi tegang. Andreas tahu betul 'itu' yang dimaksud oleh Rendra adalah penyebab kecelakaan dan yang menyerang Rendra beberapa waktu lalu.


" Kita sudah menggunakan jasa penyelidik bayaran kita. Kami menemukan bahwa, 100% dalang utama di balik ini semua adalah pesaing bisnis Anda. Mereka bekerja sama dengan beberapa polisi korup yang membantu mereka menghilangkan bukti - bukti kejadian. Kami masih menyelidiki kemungkinan ikut campur tangan pihak pemerintah Tuan. Sehingga semua tidak bisa diburu - buru. " jelas Andreas.


" Tidak apa - apa. Bukankah akan lebih menyenangkan bisa menjatuhkan mereka semua sekaligus dengan banyak bukti kejahatan sekaligus? " Rendra terkekeh.


" Apakah Anda tidak ingin menempatkan penjaga khusus untuk Anda? " tanya Andreas. " Saya rasa, mereka tidak akan pernah berhenti mengganggu Anda. "


Rendra tampak berpikir sejenak. " Tempatkan di mansion dan di sisiku 2-3 orang. Tapi jangan terlalu kentara. Biarkan mereka tetap berusaha menggangguku. "


" Nona Nia? " tanya Andreas lagi. Dia paham betul orang - orang itu tidak akan berhenti membiat Rendra terganggu. Bahkan sampai ke detail terkecil sekalipun.


" Kirim 2 orang. Jaga jarak, jangan sampai Nia menyadari ada penjaga yang mengikutinya. " ucap Rendra.


" Baik Tuan. Saya akan segera menghubungi pihak penjagaan. " ucap Andreas yang dibalas anggukan oleh Rendra.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


ting


Ada notifikasi pesan masuk di ponsel Nia. Nia membuka pesan itu, pesan dari Ardian.


Nia, sudah lama tidak bertemu. Bisa kita bertemu? Sebentar saja. Aku ingin makan siang bersamamu.


Nia terdiam sejenak. Selama ini Ia selalu menolak dengan alasan banyak pekerjaan karena tidak mau merepotkannya. Terlalu sering menolak, hingga Ia merasa tidak enak pada Ardian. Bagaimanapun Ardian pernah membantunya merawat luka.


Oke dokter. Makan siang di mana?


Pesan terkirim. Tidak lama, balasan pesan dari Ardian masuk.


Restoran ujung jalan dekat tempatmu bekerja boleh juga. Bagaimana?


Nia segera menjawab :


Oke


Setelah membalas pesan Ardian, Nia melanjutkan pekerjaannya. Jam sudah menunjukkan pukul 10.30, waktu makan siang sebentar lagi tiba. Ia harus menyelesaikan satu pekerjaan sebelum jam makan siang.


Pukul 12.00


Seperti yang dijanjikan, Ardian sudah berada di restoran. Ia tidak sabar menunggu kedatangan Nia, Ia merasa excited karena dia akan makan siang dengan Nia.


15 menit kemudian, Nia tiba di restoran. Dengan wajah sumringah Ardian melambaikan tangan memberi kode pada Nia. Nia pun segera menghampiri meja tempat Ardian.


" Aku telat yah, maaf. " ucap Nia sambil menggeser kursi kemudian duduk di kursi itu.


" Tidak. Tidak sama sekali. " Ardian benar - benar tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajah bahagianya.


Tak lama, makanan pun tiba. Mereka menikmati makanan sambil sesekali membuka obrolan. Ardian benar - benar terlihat menikmati saat - saat seperti ini.


" Jadi Nia, apa ada laki - laki yang mendekatimu? " Ardian tiba - tiba menanyakan pertanyaan dengan topik berbeda.


Nia tersedak, Ardian dengan respon cepat menyodorkan segelas air putih pada Nia.


" Kenapa tiba - tiba tanya itu? Tadi padahal lagi ngobrolin masalah kerjaan. " ucap Nia.


Ardian tersenyum, " Ya tidak kenapa - kenapa. Sekedar bertanya. Tidak masalah bukan? " Rendra bertanya lagi.


Nia tidak menjawab, Ia hanya tersenyum sambil memasukkan sesuap makanannya lagi.


" Bagaimana? Kenapa tidak dijawab? Kalau tidak ada, berarti peluangku sangat besar bukan? " tanya Ardian membuat Nia tersedak untuk kedua kalinya.


Ardian kembali menyodorkan segelas air putih ke Nia sambil terbahak.


" Jangan salah tingkah dong. " ucap Ardian.


Nia mengambil gelas itu dan meminumnya, kemudian Ia mengelap mulutnya dengan tissue. " Aku tidak salah tingkah. Hanya... Terkejut. " ucap Nia berusaha tenang.


Nia sudah menduga bahwa Ardian memiliki perasaan padanya. Ia bukanlah tipikal yang tidak peka. Namun, Ia memang tidak bisa membalas perasaan Ardian. Di sisi lain, Ia memang tidak pernah memiliki hubungan dengan laki - laki sebelumnya. Selain itu, Ia merasakan sudah mulai muncul rasa nyaman dan spesial kepada Rendra.


Selama ini, semua pesan singkat Ardian selalu Ia balas seperlunya saja Hal itu Ia lakukan agar Ardian tidak semakin berharap kepadanya. Namun ternyata, Ardian masih tetap menyimpan rasa suka kepadanya. Dilema. Sama seperti judul lagu yang sedang diputar di dalam restoran.


Ardian melihat Nia sedang merasa canggung. Ia merasa bersalah. Seharusnya makan siang ini bisa menjadi pemicu kedekatan mereka, namun Ia justru membuat Nia merasa canggung.


" Nia, makanan apa yang kau pesan itu? Kelihatan enak. " Ardian melontarkan pertanyaan.


Konyol! Serunya dalam hati. Jelas - jelas Ia yang menyampaikan pesanan kepada waitress tadi. Bagaimana bisa Ia justru bertanya nama makanan yang Nia pesan.


Nia terlihat bingung, namun Ia tetap menjawab dengan tenang. " Oh ini beef fettuccine. "


" Oh iya, haha. Terlihat enak. " jawab Ardian canggung.


Kemudian mereka melanjutkan makan siang mereka dalam mode hening. Sepertinya mereka sedang asik dengan isi pikirannya masing - masing.


Lamunan mereka buyar ketika tiba - tiba ada seseorang datang dan menyapa Nia. Bukan hanya menyapa, tapi juga merangkul pundak Nia dari belakang.


" Selamat siang sayang, kenapa makan siang tidak mengajakku? " sapa Rendra.


Nia dan Ardian sama - sama terkejut melihat kedatangan Rendra. Bagaimana bisa Rendra tahu mereka sedang makan siang di sini?


" Boleh bergabung ya. " tanpa dipersilakan, Rendra menarik kursi dan duduk di sebelah Nia. Wajahnya terlihat sumringan dan langsung terfokus menatap ke arah Nia yang salah tingkah.


Siapa dia? Bukankah dia pemilik dan pewaris Hartawan Grup? Dia juga pemilik rumah sakit tempatku bekerja kan? Andreas berusaha mengingat - ingat wajah Rendra. Tampak tidak asing baginya.


Wajah Ardian merah padam ketika Rendra tiba - tiba mengambil tissue dan membersihkan ujung bibir Nia yang belepotan saus. Bahkan Nia pun, sudah berubah menjadi kepiting rebus saat ini.


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Gimana caranya yah Rendra bisa tau kalau Nia dan Ardian lagi makan siang bareng di restoran itu? Dan gimana nih kelanjutan Ardian dan Nia?


Teman readers, rela ngga nih Ardian bertepuk sebelah tangan? Duh duh duh, Ardian kan ganteng jugaaaa. Gimana doooong. DILEMA!


馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍


Anw guys, teman2 readersku yang baik. Mohon maaf yah penulis lambat banget up nya, lagi momen mudik nih. Kebetulan penulis bisa mudik tahun ini setelah 3 tahun ngga bisa pulang sejak ada pandemi. Mohon maaf lahir batin dan selamat merayakan hari raya idul fitri bagi teman2 readers yang merayakan.


Terus dukung karya penulis yaah, dengan cara like, komen, dan vote. Terima kasih 馃