
Nia, Sarah, dan Bu Ratna masuk ke dalam ruanh rapat bersama. Rendra dan Andreas sudah duduk di dalam ruang rapat dengan wajah dingin mereka. Aura saat masuk ke dalam ruang rapat terasa mencekam. Dih, rumah hantu aja kalah. Batin Nia.
" Duduk. " perintah Rendra. Singkat, padat, jelas.
Nia, Sarah, dan Bu Ratna menarik kursi dan duduk dengan sinkronasi yang amat baik. Rendra berusaha menahan tawanya. Kalau mereka bertiga sadar, bagaimana rupa wajah mereka sekarang. Hahaha, sangat konyol. Batin Rendra.
Rendra menatap Nia, Sarah, dan Bu Ratna secara bergantian. Andreas hanya fokus menatap ke arah depan, entah apa yang sedang dia amati.
" Kalian tau kenapa kalian kupanggil kemari? " Rendra memulai percakapan.
Ketiga wanita itu kompak menggelengkan kepala mereka. Lagi - lagi Rendra menahan tawanya.
" Andreas, kasih paham. " ucap Rendra singkat.
Andreas terkejut dan bingung. Bahkan Ia tidak mengetahui jika Rendra memiliki niat datang ke divisi Co & Creative pagi ini. Bagaimana Ia bisa tau apa yang sedang dan akan terjadi?
Andreas dengan tenang menjawab, " Coba Ibu bertiga jelaskan kepada kami. Bagaimana proses pengembangan inovasi yang kalian ajukan. "
Rendra lagi - lagi menahan senyumnya. Kemampuan Andreas untuk berimprovisasi memang luar biasa.
Nia, Sarah, dan Bu Ratna masih saja terdiam. Setelah saling tatap, akhirnya seperti ada ikatan batin, Nia memutuskan untuk bersuara.
" Baik Tuan, saya Nia. Saya akan mencoba menjelaskan tentang inovasi yang telah kami ajukan. " Nia membuka suara.
" Mencoba? Kau seperti tidak yakin atas inovasi yang kau buat. " ucap Rendra dengan senyum sebelah. AC ruangan yang sedari tadi belum menyala serasa sudah menyala dengan pengaturan suhu paling rendah.
Nia terdiam. Apa ada yang salah dari kalimat yanh Ia ucapkan tadi.
" Baik Tuan, saya akan menjelaskan tentang inovasi dan progress pengembangannya saat ini. " ucap Nia berusaha percaya diri.
Kemudian Nia menjelaskan semuanya dengan detail, tanpa hambatan. Dengan penuh rasa yakin.
Rendra terkesima mendengarkan penjelasan dari Nia. Dia benar - benar terlihat percaya diri dan yakin. Padahal dia hanya seorang fresh graduate yang belum memiliki pengalaman kerja sebelumnya.
Idenya fresh, cara penyampaiannya lugas. Bahasa yang Ia pilih sangat mudah dipahami. Wanita ini memang cerdas. Batin Rendra.
Andreas sesekali mencuri pandang ke arah Rendra. Hem, seharusnya dia bisa lebih mengontrol lagi ekspresi mukanya. Berusaha menahan senyuman itu benar - benar membuat wajahnya terlihat aneh. Ucap Andreas dalam hati.
Setelah Nia menjelaskan semuanya dengan detail, Rendra hanya menganggukan kepalanya sekali. Andreas masih saja tetap setia dengan wajahnya yang dingin.
" Oke, cukup. " ucap Andreas memecah keheningan. " Kau datang ke ruanganku, dan bawa laporan pencapaianmu. " sambungnya.
Rendra beranjak dari duduknya diikuti oleh Andreas. Kedua orang itu berjalan keluar dari ruangan rapat meninggalkan tiga orang wanita itu dalam kebingungan.
" Kenapa lagi? Bukannya sudah dijelaskan semua tadi? " Sarah benar - benar tidsk mengerti.
" Ah entahlah, dia benar - benar manusia dingin dan menyebalkan. Aura dinginnya benar - benar serasa seperti di dalam freezer. " ucap Nia kesal.
" Sst, hati - hati dengan bicaramu. Bahkan dinding di sini pun punya mata dan telinga. " ucap Bu Ratna. " Nia, segera ke ruangan Tuan rendra. "
Nia hanya mengangguk dan segera berjalan menuju ruangan Rendra.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Saat Nia berjalan ke arah ruangan Rendra, Ia melihat seorang wanita yang seperinya tidak asing baginya. Wanita itu sedang berdebat dengan sekretaris Rendra.
" Kau jangan melarang - larangku buat masuk! Aku adalah orang terdekat CEO mu! Aku adalah Lucya Oong! " bentak Lucy kepada sekretaris Rendra.
Nia berdiri terdiam. Ia kebingungan, apa yang harus Ia lakukan. Ia ingin berbicara dengan sekretaris Rendra mengenai tujuannya ke sini. Tapi Lucya terlihat benar - benar sedang murka saat ini.
Mendapati Nia dia berdiri sambil terdiam, sekretaris itu pun memanggil Nia.
" Apakah anda Nia? Dari divisi Co & cteative? " tanya Anna, sekretaris Rendra.
Nia tidak berani bersuara karena Lucy masih di sana dan memasang ekspresi siap menerkam siapapun yang mengganggunya. Nia hanya mengangguk kecil.
" Silakan masuk, Tuan Rendra sedang menunggu anda. " sekretaris itu kemudian membukakan pintu untuk Nia.
Mendapat hal itu, makin berontaklah seorang Lucyna Oong.
" Kau buka pintu untuk dia sedangkan aku kau larang buat masuk?! " bentak Lucy. " Jangan lupa! Aku adalah tunangan CEO mu! "
Sepertinya, suara bentakan Lucy terdengar sampai ke dalam ruangan Rendra. Andreas tiba - tiba keluar dari ruangan Rendra. Dengan mata tajam Ia melihat ke arah Lucy. Kemudian mengalihkan pandangannya ke Nia.
" Nona Karunia, silakan masuk ke dalam. Tuan Rendra sudah menunggu anda. " ucap Andreas.
Nia mengangguk, kemudian Ia berjalan masuk ke dalam ruangan Rendra. Tatapan marah Lucy yang mengarah kepadanya Ia abaikan.
Setelah Nia masuk ke dalam ruangan Rendra, Andreas mendekati Lucy hingga jarak di antara mereka tidak sampai 30 cm.
Lucy terdiam. Mati kutu. Anna dan Maria, sekretaris Rendra berusaha menahan senyum di wajah mereka.
" Awas saja ya kalian berdua, tunggu sampai aku jadi istri Rendra. Aku pecat kalian semua! " bentak Lucy lagi. " Dan kau Andreas, awas kau! " ucapnya lagi.
" Kenapa? " tanya Andreas dingin. Ia memperpendek jaraknya dengan Lucy.
Lucy merasa terpojok. Akhirnya Ia pergi meninggalkan Andreas dan kedua sekretaris Rendra yang sudah tidak bisa menahan tawanya.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
- Di dalam ruangan Rendra -
" Kemarilah. " perintah Rendra.
Nia berjalan mendekati Rendra.
" Jelaskan lagi. " perintah Rendra lagi.
Nia menghelakan napas tertahan dengan sangat pelan. Katanya pandai, sudah S3, kenapa memintaku menjelaskan berulang - ulang. Rutuk Nia dalam hati.
Walau merasa kesal, Nia tetap menjelaskan lagi semua hal yang telah Ia jelaskan sebelumnya di ruang rapat tadi. Lagi - lagi, Rendra benar - benar berusaha menahan senyumannya. Mendengarkan penjelasan Nia membuatnya memiliki alasan untuk menatap wajah Nia lebih lama.
Kontrol wajahmu Rendra, batin Andreas yang baru saja masuk ke dalam ruangan Rendra dan mendapati Rendra yang sedang senyum - senyum tanpa berkedip. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat ekspresi sepupunya itu.
Setelah Nia menjelaskan, Rendra masih saja menatap ke arah wajah Nia. Andreas berdehem memecah kesunyian ruangan Rendra.
" Sudah selesai? " Rendra berushaa memasang ekspresi wajahnya yang dingin lagi.
" Sudah Tuan, " jawab Nia dengan tenang.
" Kalau begitu kau boleh pergi kembali ke ruanganmu. " ucap Rendra.
Nia tertegun. Hanya begini saja? Bukankah sudah cukup penjelasanku tadi di ruang rapat? Batin Nia. Namun akhirnya Nia hanya menganggukkan kepalanya.
" Baik, saya permisi Tuan Narendra. Tuan Andreas, " Nia menganggukkan kepalanya lagi.
" Ah! " ucap Rendra secara mendadak. Membuat Nia menghentikan langkahnya.
" Setiap minggu, kau punya tugas untuk menjelaskan progressnya! Kepadaku langsung. Di ruangan ini. " perintah Rendra.
Nia kembali terkejut. Setiap minggu? Batinnya.
" Maaf Tuan, bukankah itu tugas dari divisi produksi? Saya kan dari Divisi Co & Creative. Hanya bertugas dalam menemukan ide atau inovasi baru untuk pengembangan produk. " sanggah Nia.
" Kau tidak mau? " tanya Rendra dengan nada dan wajahnya yang dingin.
Merasa tengkuknya seperti beku. Nia mengangguk cepat, " Baik Tuan, saya akan melaporkan kepada anda. "
" Keluarlah! " perintah Rendra lagi kemudian Ia memutarkan kursinya menghadap ke arah luar bangunan.
" Baik, permisi Tuan. " kemudian Nia berjalan keluar meninggalkan Rendra dan Andreas.
Sepeninggal Nia, Andreas berjalan mendekati Rendra.
" Kenapa anda melakukan ini, Tuan? Saya yakin anda langsung paham mendengarkan penjelasannya pada saat itu. Dan kenapa Ia harus melaporkan kepada anda secara langsung? tanya Andreas.
" Karena... Dia menarik. " jawab Rendra sambil memejamkan matanya. Terlihat jelas senyuman di wajahnya yang tampan.
Ah ya, tentu saja. Akhirnya kau jatuh cinta bukan? Rasa simpati dan ingin balas budi untuk kedua orang tuamu berubah menjadi cinta. Batin Andreas.
" Oh ya Tuan, tadi Nona Lucyana memaksa ingin bertemu dengan anda dan membuat keributan di depan. " ucap Andreas.
" Sudah kau usir dia? " tanya Rendra.
" Ia pergi dengan sendirinya. " jawab Andreas.
" Haha! Bagus! Makin lama aku makin muak padanya. " ucap Rendra. " Andreas, kau bisa beristirahat. Aku ingin sendiri. "
" Baik Tuan. " sahut Andreas. Kemudian Ia pergi meninggalkan Rendra di dalam ruangan.
Rendra mengingat kejadian 10 tahun silam saat dirinya masih SMA. Ketika Ia menyelamatkan gadis berseragam SMA yang hendak bunuh diri. Gadis itu terlihat cukup cantik walau dengan air matanya yang terus mengalir deras. Setelah diselamatkan olehnya, Rendra membawanya ke rumah sakit. Ayah dari gadis itu menyusul gadis itu ke rumah sakit. Usut punya usut, ternyata gadis itu berasal dari keluarga broken home. Ibunya berselingkuh dengan laki - laki lain dan Ia merasa kecewa hingga ingin bunuh diri karena merasa keluarganya telah berantakan.
Ayah dari gadis itu sangat berterima kasih kepada Rendra karena telah menyelamatkan nyawa gadis itu. Ia bahkan mengatakan bahwa Rendra boleh memperistri anaknya kelak jika mereka sudah lulus sekolah. Gadis yang telah Rendra selamatkan pun menyetujuinya. Gadis itu mau menjadi istri Rendra kelak.
Gadis itu, adalah Lucyana Oong.