
Selamat Membaca ~
Anton dan agennya sudah tiba di bandar udara Internasional Phnom Penh.
Mereka berjalan terpisah seolah tidak saling mengenal. Mereka melakukannya bukan tanpa alasan. Bisa saja, saat ini mereka sedang dalam pengawasan oleh pihak penculik. Mereka juga belum mengetahui dengan pasti, apakah pemimpin negara ini juga memiliki kerja sama tertentu dengan Jason alexander atau tidak.
Anton mengenakan setelan celana dengan kaos berkerah, santai namun tetap rapi. Zyco mengenakan ransel dan topi baseball berwarna putih berjalan dengan jarak 3 meter di belakang Anton. Sementara agen yang lain juga sudah saling menjaga jarak agar tidak terlalu dekat, namun tetap saling dalam pengawasan.
Mereka sengaja menaiki kendaraan umum berbeda. Anton dan Zyco menaiki taksi yang berda, sedangkan agen lain menaiki bus umum untuk menuju ke tempat peristirahatan sementara mereka.
Setelah menempuh perjalanan dengan waktu tempuh yang berbeda, mereka akhirnya samlai di sebuah tempat penginapan yang berjarak cukup dekat dengan pelabuhan.
" Hai, " sapa seseorang dari dalam kamar yang sepertinya dijadikan tempat berkumpup bagi mereka.
" Kau sudah datang terlebih dahulu? " tanya Anton kemudian Ia merebahkan tubuhnya di sofa.
" Iya, Tuan. " jawab orang itu.
" Eh, Andra kapan kau sampai? " tanya Zyco yang baru masuk ke kamar. Ia meletakkan tas ranselnya di lantai dekat tempat tidur.
" Begitulah. " sahut Andra.
" Jessie mana? " tanya Zyco, lagi.
" Dia sedang mencari makanan untuk kalian. Kalian pasti lapar. " jawab Andra.
" Pintar sekai dia, tau saja kami pasti lapar. " sahut Zyco.
" Selamat siang, " ucap 3 orang lain yang baru datang bergabung.
" Hei kalian, masuklah. Tutup pintu itu. " perintah Anton.
" Baik Tuan. " sahut salah satu dari mereka.
Tak lama kemudian, Jessie datang dengan membawa makanan dan mereka pun makan siang bersama sebelum memulai penjelasan rencana penyelamatan Nia dan Sarah.
đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸
Di Kapal Barang yang masih berada di tengah lautan ~
Sarah dan Nia masih berusaha meyakinkan Rania untuk membantu mereka melarikan diri saat kapal berlabuh di pelabuhan nanti.
Sarah : Kumohon, bantu kami. Bantu kami untuk melarikan diri.
Rania : Aku tidak berani. Kalian tahu sendiri, ka berjumlah sangat banyak. Mereka juga bersenjata lengkap.
Sarah : Kumohon. Kau bisa ikut bersama kami. Kita melarkan diri bersama - sama.
Rania : Maaf, aku benar - benar tidak berani.
Ya, wajar jika Rania ketakutan. Saat ini posisi mereka sedang bersama banyak penjaga dengan senjata lengkap.
Jika Rania tidak mau membantu, Nia dan Sarah akan terus - terusan dalam bahaya. Tapi jika Rania membantu, bisa jadi keluarganya di desa yang menganggung akibatnya.
Sarah : Ayolah Rania, tolong bantu kami.
Rania : Tapi aku benar - benar tidak berani. Aku takut mereka akan menyakiti keluargaku di desa.
Nia menghela napas, " Ya sudah, mau bagaimana lagi. Keselamatan keluarga Rania juga penting. Kita tidak bisa memaksanya. "
" Aku yakin, berat juga bagi Rania untuk berada dalam posisinya saat ini. Dia pun pasti ingin membantu kita. " imbuh Nia.
Sarah dan Nia terdiam, mereka menunduk dan saling menggenggam tangan.
" Kita pasti bisa selamat. Kita pasti bisa menyelematkan diri kita. " ucap Nia.
Mereka kemudian saling berpelukan untuk saling menguatkan. Rania trenyuh menatap kedua wanita itu saling menguatkan dan berpelukan seperti itu. Ia pun sebetulnya sangat ingin membantu, tapi bagaimana dengan kakeknya di desa? Ia takut mereka akan menyiksa kakeknya di desa.
" Sebentar Sarah. " ucap Nia mendadak.
Nia berlari ke washatafel dan memuntahkan semua isi perutnya. Sungguh berat menjadi seorang wanita yang sedang mengandung di saat seperti ini.
Sarah berjalan mendekati Nia dan menepuk pelan punggung Nia. Rania pun ikut mendekat ke arah Nia.
Rania memegang lengan Sarah, sebenarnya Ia penasaran. Apakah Nia sedang sakit?
Rania : Apakah dia sedang sakit? Aku sering melihatnya muntah.
Sarah menggelengkan kepalanya.
Sarah : Dia sedang mengandung, bukan sakit. Dia memang sering muntah, karena bawaan mengandung.
Rania trenyuh sekali lagi melihat kondisi Nia. Wajah Nia yang pucat dan seketika tubuhnya menjadi lemas, nembuat Rania merasa iba. Sarah dibantu Rania memapah tubuh Nia dan membantunya duduk di kursi.
Rania : Kenapa mereka jahat sekali melakukan hal ini kepada seorang wanita yang sedang hamil?
Sarah : Kami juga tidak tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan. Bahkan kami tidak tahu, siapa sebenarnya yang melakukan ini pada kami.
Rania : Sungguh jahat sekali. Apa kalian membuat masalah dengan seseorang?
Sarah : aku tidak tahu dengan pasti. Apa kau tau siapa orang - orang itu? Siapa yang ada di balik semua ini?
Rania menggelengkan kepalanya, Sarah tertunduk lesu lagi. Kemudian tiba - tiba Ia menepuk tangan Sarah dengan cepat.
Rania : aku tidak tahu siapa dalang dibalik semua ini. Tapi ada seorang laki - laki baik. Ia selalu diam - diam memberiku makanan atau uang lebih. Bahkan dia juga yang memintaku membawa pakaian bersih untuk kalian. Dia juga selalu memastikan temanmu selalu dalam keadaan baik - baik saja.
Sarah terkejut sekaligus senang, ternyata masih ada orang baik di sini.
Sarah : kau tahu siapa nama orang itu?
Rania : Tommy. Mereka memanggil orang itu dengan sebutan Tuan Tommy.
Sarah terkejut lagi, Tommy? Apakah ini Tommy yang sama dengan Tommy asisten Jason Alexander?
Sarah : kau tau, kapal ini milik siapa?
Rania : kemungkinan milik PT. Angkasa, karena aku dipekerjakan di sini akibat hutang - hutang keluargaku pada PT. Angkasa
Sarah terdiam, br#ngsek memang kau, Jason Alexander !
đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸đšī¸đ¸ī¸