
Pagi hari, Nia mengerjapkan matanya. Ia membuka matanya perlahan. Sayup - sayup terdengar dengkuran halus di sisi tempat Ia berbaring.
Ia mengangkat tangannya yang terasa sedikit sakit. Ia melihat infus terpasang di tangannya.
Ia juga melihat ada seseorang yang sedang tidur di sampingnya. Orang itu tidur dalam posisi duduk, kepalanya berbantal tangannya sendiri. Rendra.
Nia tersenyum tipis. Ia mengusap lembut kepala Rendra. Merasa sangat bersyukur bahwa ada orang yang sangat perhatian padanya. Padahal Rendra adalah atasannya, walau Rendra sudah mendeklarasikan bahwa Nia adalah miliknya. Tapi, Nia belum membalas bisa membalas perasaan Rendra. Ia terlalu takut dan merasa rendah diri.
Rendra menggeliat. Tangan Nia masih mengusap kepalanya lembut. Rendra merasa ada belaian lembut di kepalanya, terasa hangat. Ia pun bangun dari tidurnya.
Ia terkejut melihat Nia yang sudah terbangun. Tangan Nia yang tadi mengusap lembut kepalanya pun langsung Ia genggam.
Keduanya saling pandang dan tersenyum. Saling merasa hangat karena satu sama lainnya. Rendra mengusap tangan Nia lembut kemudian mengecupnya lembut.
" Sudah enakan? " tanya Rendra.
Nia tersenyum, mengangguk.
" Syukurlah. Aku akan menghubungi Silva agar dia memeriksa kondisimu. " ucap Rendra.
Lagi - lagi Nia hanya tersenyum dan mengangguk.
" Istirahatlah, aku akan segera kembali. " ucap Rendra kemudian beranjak dan berjalan keluar kamar.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Hari ini hari Sabtu, Nia tidak berangkat bekerja. Begitu pula dengan Rendra. Rendra benar - benar ingin menghabiskan waktu bersama dengan Nia. Memastikan Nia bisa pulih dengan cepat.
Selang infus sudah dilepas dari tangan Nia pagi ini. Dokter Silva sudah meresepkan vitamin agar Nia tidak mudah lelah dan sakit.
Saat ini Nia sedang duduk bersantai di dekat kolam renang. Ia merasakan hangat matahari menyentuh sekujur tubuhnya. Ia merasa lebih tenang hari ini.
" Kau sedang apa? " tanya Rendra.
Rendra datang diikuti beberapa ART yang membawakan mereka makanan dan minuman.
Nia menoleh ke arah Rendra. Ia tersenyum, " Berfotosintesis. " jawabnya
Rendra terkekeh mendengarkan jawaban Nia.
Setelah meletakkan makanan dan minhman di meja, ART itu pun kembali masuk ke dalam. Meninggalkan Nia dan Rendea berdua di dekat kolam.
" Nia, ada yang ingin kubicarakan. " ucap Rendra.
" Ya? " sahut Nia.
" Aku... Aku ingin, mengatakan sesuatu. " nada bicara Rendra mulai terdengar serius.
Mendengar suara dalam Rendra, Nia menegakkan duduknya. Ia mengarahkan pandangannya sepenuhnya ke arah Rendra.
" Aku ingin mengatakan.. " ucap Rendra.
" Ya? " Nia jadi tidak sabar mendengarkan apa yang akan Rendra katakan.
" Aku, ingin mengatakan bahwa, kau tahu kan aku memiliki perasaan padamu. " ucap Rendra. " Kau juga tahu kan bahwa aku selalu mengatakan bahwa kau adalah milikku. "
Nia membalas dengan anggukan kepala.
" Dan kau belum menjawab atau membalasnya. " lanjut Rendra.
" Apakah kau juga ada perasaan padaku? " tanya Rendra.
Nia terdiam. Bagaimana Ia pantas untuk memiliki perasaan pada orang yang dapat diibaratkan langit dan dia hanya bumi. Bagaimana mungkin dia yang berasal dari kalangan biasa saja tapi berani memiliki perasaan kepada seorang konglomerat?
" Kenapa kau diam saja? " tanya Rendra, nada bicaranya terdengar mulai tidak bersemangat.
Nia menatap Rendra.
" Aku... Aku merasa tidak percaya diri untum berani menyukaimu. " jawab Nia.
Nia menundukkan kepalanya.
" Disukai olehmu adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Tapi aku tidak berani menyukaimu. Kita seperti berada dalam tingkat kehidupan yang berbeda. " ucap Nia.
" Kau sangat baik padaku. " lanjut Nia.
" Tidak bisakah, kau mencoba? " tanya Rendra.
" Aku... Sejujurnya aku merasa sangat nyaman berada disampingmu. Berasa dalam dekapanmu. Tapi.. " Nia berucap sambil masih menundukkan kepalanya.
Rendra meraih wajah Nia. Ia menopang wajah Nia yang terlihat sangat kecil dalam kedua tangannya.
" Maksudku, tidak bisakah kau mencoba menerima dirimu sendiri? " tanya Rendra.
" Kau itu adalah seseorang yang sangat berharga. Kau tau? Kau itu sangat berharga bagiku. " ucap Rendra sambil masih menangkup wajah Nia.
" Jadi jangan pernah mengatakan kau itu berhak atau tidak untuk menyukaiku. " ucap Rendra.
Wajah Nia bersemu merah. Pipinya memerah seperti tomat.
" Maukah kau mencoba untuk menerimaku? Mencoba menerima perasaanku? " tanya Rendra.
Nia menatap Rendra lekat - lekat. Akhirnya Ia mengangguk dan tersenyum.
Rendra tersenyum lebar. Spontan Ia memeluk Nia sangat erat. Nia pun membalas pelukan Rendra.
Dari dalam rumah, Bi Habsya dan ART lainnya mengawasi tuan mudanya. Mereka merasa ikut senang, tuan mudanya yang selalu merasa kesepian kini sudah ada yang mendampingi. Bahkan gunung es yang sangat kokoh itupun kini sudah meleleh, bertemu dengan pusat tata suryanya yang selalu memberinya kehangatan.
Bahkan, tukang kebun dan penjaga - penjaga rumah pun diam - diam ikut mengawasi tuan mudanya. Rasanya, mansion yang telah lama terasa kosong ini akan dipenuhi kehangatan sejak saat ini.
" Ee... Jadi, mau sampai kapan aku dipeluk? " tanya Nia. Lama - lama Ia merasa malu dipeluk oleh Rendra siang bolong begini. Apalagi di tempat terbuka seperti ini.
Rendra melepas pelukannya. Menatap Nia lekat - lekat. Betapa Ia bersyukur Nia mau menerima perasaannya. Terlebih lagi, Nia mau mencoba untuk membalas perasaannya.
Ia mengusap lembut kepala Nia. Berjanji akan menjaga Nia baik - baik.
" Tapi aku ingin mengajukan syarat. " ucap Nia.
Rendra mengerutkan dahinya. Syarat?
" Syarat apa? " tanya Rendra.
" Aku ingin kita menjaga kerahasiaan hubungan kita. " jawab Nia.
" Bukan aku tidak mau mengakui atau apapun itu. Aku hanya, tidak ingin mendapat perlakuan spesial dari siapapun selama aku bekerja. " lanjut Nia.
Rendra terdiam. Bagaimana bisa, umumnya orang - orang ingin mendapat perlakuan spesial. Ingin mendapatkan pengakuan. Ingin dihormati. Bagainana Nia bisa tidak menginginkannya?
Rendra mengusap lembut pipi Nia. " Baiklah, jika itu yang kau inginkan. "
" Tapi ingat, kau adalah milikku. " ucap Rendra lagi.
Terdengar begitu posesif, namun Nia sangat menyukainya. Sepertinya, Nia jadi suka dengan tipe laki - laki yang sangat posesif.
Ia mengangguk. " Iya, dan kau adalah milikku. " ucap Nia.
Rendra tersenyum mendengar jawaban Nia.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍
Duh, kalo lagi jatuh cinta berasa dunia milik berdua aja yaaaaa
Sampe ngga sadar tuh Rendra dan Nia lagi dilihatin sama penghuni mansion lainnya 馃槄
Yuk, ditunggu kelanjutannya yaaahh 馃