
Setelah beberapa hari berlalu pun Nia dan Rendra masih saling diam. Nia selalu sengaja berangkat kerja terlebih dahulu agar tidak berangkat bersama dengan Rendra.
Ia sering pulang cepat kemudian mengurung diri di kamar. Ia benar - benar menghindari Rendra. Antara merasa kesal dan merasa malu. Kesal karena Rendra mendiamkannya dan menjadi ketus padanya. Malu karena Ia masuk ke kamar Rendra dan melihat Rendra dalam keadaan yang... Yah, begitulah.
Rendra pun begitu. Melihat Nia yang seperti itu, Ia pun mendiamkannya. Bukannya apa, dia takut salah mengambil sikap. Sama seperti Nia, Ia belum pernah berkomitmen dalam berhubungan sebelumnya.
Ia jadi tidak fokus bekerja. Seringkali Ia meminta Andreas untuk sekedar memeriksa kondisi Nia dengan dalih demi keamanan Nia. Padahal, Ia hanya merindukannya tapi Ia malu untuk mengatakannya terlebih dahulu.
" Andreas, bisakah kau liat Nia? Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia dalam keadaan baik - baik saja? " pinta Rendra.
Andreas menghela napasnya. Hari ini adalah ketiga kalinya Rendra memintanya untuk memeriksa keadan Nia.
Bukankah teknologi sudah sangat baik saat ini? Tidak bisakah dia mengambil ponselnya dan menghubungu Karunia secara langsung?
" Baik Tuan, " sahut Andreas.
Saat Ia melangkah dan hampir keluar ruangan Rendra, Ia berbalik.
" Tuan, cobalah untuk berbaikan dengan Nona Karunia. Tanyalah secara langsung padanya. Itu akan lebih baik. " ucap Andreas kemudian Ia keluar dari ruangan Rendra.
Rendra termenung. Ada benarnya memang. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara memulainya. Nia terlalu kaku dan aku terlalu gengsi. Batin Rendra.
Semua gara - gara rasa cemburu semata, kami menjadi seperti ini. Aah, apa yang harus kulakukan. Aku sudah tidak tahan lagi. Batinnya, lagi.
Tiba - tiba keluar ide mendadak. Brilliant! Okez akan aku lakukan. Serunya dalam hati.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. Rendra berbicara dengan penuh semangat.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Semua sudah direncanakan. Bahkan Rendra sudah meminta Andreas untuk segera menjemput Nia sepulang kerja. Jangan sampai Nia pulang terlebih dahulu.
Rendra sudah stand by di sebuah tempat makan dengan pemandangan yang sangat indah. Tempat makan itu berada di lantai 27, sehingga dapat melihat pemandangan Kota A secara keseluruhan.
Malam ini harus sempurna. Gumam Rendra.
Seorang perfeksionis, selalu ingin semuanya serba sempurna. Tidak ada kesalahan sedikitpun.
ting
Notifikasi pesan masuk dari Andreas.
Andreas *saya sedang dalam perjalanan bersama Nona Karunia
Rendra *Baiklah
Jantung Rendra berdegup kencang. Seahli apapun dia dalam urusan bisnis, dalam hal perasaan dan pasangan seperti ini dia hanyalah seorang newbie.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Di dalam mobil ~
" Jadi kau tetap tidak mau mengatakan padaku, ada apa antara kau dengan Sarah? " tanya Nia.
Dia benar - benar tidak mudah menyerah. Batin Andreas.
" Tidak ada yang perlu saya katakan, " jawab Andreas sambil fokus menyetir.
" Ish, benar - benar. " gerutu Nia.
Andreas melirik ke arah Nia melalui spion dalam mobil. Terlihat wajah Nia kesal menghadap ke arah luar mobil.
" Tapi ingat. Sampai kau ada apa - apa dengan Sarah, awas saja. Aku tidak akan mengjinkan Sarah menjadi ibu sambung dari anakmu! " omel Nia.
" Sarah itu masih gadis. Aku tidak mau dia jadi ibu sambung dari anakmu. Apalagi anakmu sudah sebesar itu. " omel Nia lagi.
Andreas terkejut dengan ucapan Nia.
I... Ibu... Ibu sambung? Dari mana dia bisa berkesimpulan seperti itu?
" Apa maksud Anda? " tanya Andreas.
" Pokoknya, awas saja. Aku sudah mengetahuinya. " ucap Nia.
Andreas lebih memilih mengalah daripada melanjutkan perdebatan dengan Nia. Daripada gadis ini tiba - tiba kabur dari mobil, bisa - bisa dirinya digantung oleh Rendra dari puncak tower.
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
15 menit kemudian Nia dan Andreas tiba di tempat makan yang dituju.
Tapi, kenapa harus dia yang datang? Kenapa bukan orang lain saja jika ini adalah urusan bisnis? Tanya Nia dalam hati.
Ia mengikuti Andreas dengan patuh. Bukannya apa, Ia takut tersesat di tempat sebesar ini. Maklum, Ia belum pernah datang ke tempat seperti ini.
Setelah sampai di lantai 27, Andreas mempersilakan Nia untuk jalan mendahuluinya. Dengan takut - takut Nia berjalan di depan Andreas. Ia tidak tahu siapa yang akan dia temui hari ini. Jadi, Ia memperhatikan ruangan itu dengan seksama.
Tapi, kenapa tidak ada orang sama sekali. Hanya ada beberapa waitress yang berdiri di ujung - ujung ruangan.
Mungkin, tamunya belum datang. Gumam Nia.
Andreas mempersilakan Nia duduk di sebuah kursi. Dekat dengan kaca tembus pandang besar yang membuat Nia dapat melihat semua pemandangan dari dalam.
Nia duduk dan segera fokus memandang ke arah luar. Melihat langit senja yang indah.
Ia terkejut ketika tiba - tiba ada seseorang berdiri di hadapannya. Rendra! Pekik Nia dalam hati.
Awas kau Andreas. Gerutunya dalam hati.
Rendra tersenyum kepadanya, membawa sebuket bunga yang indah. Memakai setelan jas berwarna hitam membuatnya terlihat sangat tampan. Nia terpesona melihat ketampanan kekasihnya itu.
Fokus - fokus. Jangan lemah. Harus jual mahal. Batin Nia.
" Kenapa kau ada di sini? " tanya Nia ketus.
Rendra sedikit membungkuk, memberikan buket bunga kepada Nia. Dengan kikuk Nia menerima buket bunga itu.
Rendra meraih tangan Nia dan mengecup tangan Nia.
" Maafkan aku. " ucapnya singkat.
Kata - kata singkat namun bisa membuat Nia terbang.
Spontan Nia mengangguk dan tersenyum ke arah Rendra. Lemah! Pekiknya dalam hati.
Rendra kemudian menarik kursi di hadapan Jia dan duduk. Cukup lama mereka saling tatap. Seperti meluapakan kerinduan melalui tatapan mereka.
Andreas yang sedari tadi berdiri di ujung ruangan memilih untuk keluar. Bisa - bisanya, untung saja aku adalah manusia dengan tingkat kesabaran sangat tinggi. Batinnya.
Setelah menikmati makan malam bersama, Rendra menyempatkan mengambil potrer wajah Nia.
Kasian, Ia terlihat lelah, namun tetap tersenyum untukku. Benar - benar cantik. Batinnya
Memang terlihat Nia seperti sedang kelelahan. Deadline pengembangan dan pemasaran produk baru membuat Nia harus bekerja ekstra akhir - akhir ini.
Setelah meja makan mereka dibersihkan, Rendra memberi kode seperti yang telah direncanakan. Sekelompok waitress dan ada Andreas juga, menghampiri meja mereka.
Ada yang membawa cake, buket bunga lagi, dan juga beberapa kotak hadiah.
" A... apa ini? " tanya Nia.
Rendra beranjak, Ia mengambil buket bunga yang dibawa Andreas. Menyerahkan pada Nia yang masih kebingungan.
Nia pasrah saja menerima buket bunga lagi.
Musik dinyalakan. Terdengar All of Me by John Legend mengalun lembut. Dibarengi dengan lampu ruangan yang dibuat agak temaram. Nia semakin kebingungan.
Tiba - tiba Rendra seperti berjongkok, menekuk salah satu lututnya di hadapan Nia. Nia terkejut, matanya membulat. Ada apa lagi ini?
Rendra mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam yang sering Ia bawa ke manapun Ia pergi. Ia membuka tutupnya dan mengarahkan ke arah Nia.
" Karunia Orchida, Will you marry me? " wajah Rendra telrihat sangat bersungguh - sungguh.
Tatapannya begitu dalam dan melekat ke arah Nia. Nia terkejut, bahkan tidak dapat mengontrol mulutnya yang setengah terbuka. Ia pun menutup mulutnya dengan tangannya.
Aa... Apa? Apa yang baru saja dia katakan? Apa dia melamarku?
🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️
Yuukk bantu penulis, jangan lupa vote, rate, like, dan komentarnyaaa
Terima kasiiiih ❤