Me And My Cold Hearted Boss

Me And My Cold Hearted Boss
Part 74. Kejutan Rendra



Pagi ini, langit terasa cerah. Udara hangat masuk melalui pintu balkon kamar Nia yang tidak ditutup rapat semalam. Ia selalu membukanya sedikit agar angin malam yang sejuk bisa masuk ke dalam kamarnya, Ia kurang suka menggunakan pendingin ruangan.


Seperti biasa, dia bersiap dengan cepat karena ingin mengantar Rendra sampai keluar pintu untuk bekerja. Yah, selain Ingin bisa makan pagi bersama Rendra tentunya.


Ia mulai terbiasa menjadi seseorang yang harus berdiam diri di rumah. Sesekali Sarah akan datang dan menemaninya di rumah. Bahkan, sekarang Andra dan Jessie sudah menjadi pelampiasan kesepian Nia.


Pekerjaan utama Andra dan Jessie sejak Nia tidak bekerja adalah untum menemani Nia yang belum diijinkan Rendra keluar. Bukannya membatasi pergerakan Nia tanpa alasan, Rendra tidak ingin Nia berada dalam bahaya. Keselamatannya tetap nomor satu.


Nia mengenakan dress selutut berwarna biru muda dan menggerai rambutnya yang lurus sebawah bahu. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan.


Ternyata Rendra sudah ada di meja makan, seperti biasanya. Menunggu Nia keluar dari kamarnya dengan sabar sambil membaca surat kabar hari ini.


" Wah, cantik. " ucap salah satu pelayan lirih membuat Rendra mengalihkan pandangannya dari surat kabar yang sedang Ia baca.


Rendra menatap ke arah pelayan itu dan mengikuti arah pandangan pelayan itu. Pandangannya beralih menatap Nia yang baru datang.


Cantik sekali dia hari ini. Kagum Rendra dalam hati.


Mulutnya memang tidak berucap, tapi ekspresi wajahnya tidak bisa tertutupi. Ia tersenyum sumringah dan pandangannya begitu dalam ke Nia.


Saat ini, pelayan - pelayan sudah tidak hanya fokus karena kedatangan Nia. Tapi juga karena pandangan Rendra ke Nia.


Iyee, pandang - pandangan aja terus. On the way cari kontrakan di pluto nih, begitu mungkin pikir si pelayan.


" Lama menunggu? " tanya Nia seraya menarik kursi makan kemudian duduk di kursi itu.


Rendra tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Nia membalas dengan senyuman. Ia menyiapkan makanan untuk Rendra, menyendokkan nasi serta sayur dan lauk ke piring Rendra.


Rendra menerima piring yang diserahkan Nia dengan mata yang tetap fokus menatap Nia. Garis senyumannya bahkan tidak berkurang satu sentimeter sekali pun.


Benar - benar membuat orang iri. Kuharap suatu saat nanti akan ada orang yang menatapku dengan tatapan seperti itu. Gumam salah satu pelayan yang diikuti anggukan kepala teman - temannya yang lain.


" Pagi ini kau sangat cantik. " ucap Rendra.


Sekali lagi, Nia membalas dengan senyuman. Tentu saja jantungnya tidak aman untuk saat ini, tapi Ia berusaha terlihat baik - baik saja.


" Apa kau ada rencana keluar hari ini? " tanya Rendra.


Nia terkejut mendengar pertanyaan Rendra. Bukankah justru Rendra yang melarangnya keluar dari mansion karena alasan keselamatannya?


" Apa aku boleh keluar? " tanya Nia.


" Tidak boleh. " jawab Rendra cepat.


Nia mencebik, lalu untuk apa dia bertanya seperti itu. Gerutunya dalam hati.


Ia menyuapkan nasi dan sayuran ke dalam mulutnya dengan kasar. Ia pun mengunyahnya tidak kalah kasar.


Rendra terkekeh melihat kelakuan kekasihnya.


" Kalai kau tidak ada acara hari ini, ayo ikut aku saja. " ucap Rendra masih dengan senyum mengejek di wajahnya.


Nia mencebik lagi. Paling - paling dia hanya ingin menggodaku saja. Gerutunya lagi.


Nia menyuapkan makanan lagi tanpa menjawab pertanyaan Rendra.


" Kenapa tidak menjawabku? Aku serius kali ini. " ucap Rendra.


Nia menatap Rendra dalam. Memastikan tidak ada tipuan lagi di matanya. Menelisik begitu dalam hingga matanya memicing sampai nampak seperti sebuah garis lurus.


" Kau serius? " tanya Nia.


Rendra menganggukkan kepalanya mantap. Tidak ada kebohongan dalam ekspresi wajahnya.


Sekali lagi Nia menelisik, akhirnya Ia menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum dan Rendra pun membalas senyuman Nia.


" Aku akan bersiap - siap dulu kalau begitu. " ucap Nia.


" Untuk apa? Kau sudah sangat cantik. " ucap Rendra.


" Benarkah? Aku tidak perlu berganti pakaian? " tanya Nia.


" Tidak perlu. " sahut Rendra sambil tersenyum.


Setelah selesai dengan sarapan mereka, kemudian mereka pun berangkat bersama ke tempat yang dituju oleh Rendra.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Setelah berkendara sekitar dua puluh menit mereka telah sampai di tujuan.


Ia sedang menatap kagum sebuah bangunan bergaya eropa modern dengan cat mayoritas berwarna putih. Ada namanya yang dibuat dengan style modern dan cantik. the ORCHIDA.


Rendra tersenyum puas melihat ekspresi Nia. Kejutan kali ini memang sudah Ia siapkan untuk Nia.


Bukan hanya faktor keamanan Nia yang membuat Rendra melarang Nia berkeliaran di luar. Tapi Rendra juga sudah menyiapkan sebuah kejutan besar untuk Nia.


Nia berjalan ke arah Rendra, masih dengan menutup mulutnya dengan tangan. Sepertinya dia benar - benar terkejut.


Rendra menyambut Nia dan memeluknya dari samping.


" Kau suka? " tanya Rendra.


Nia tidak bisa berkata - kata. Mulutnya yang menganga masih Ia tutupi dengan kedua tangannya.


Rendra tersenyum melihat ekspresi kekasihnya yang seperti itu. Ia kemudian mengecup kening Nia dengan mesra.


" Kau suka? " tanya Rendra lagi.


Nia menganggukkan kepalanya cepat.


" Aapa ini? " tanya Nia setelah mengatur ekspresi wajahnya lagi.


" Ini adalah kejutan untukmu. " jawab Rendra.


" Se... semua ini? " tanya Nia tidak percaya.


" Ya, tentu saja. " jawab Rendra.


Sekali lagi Nia melihat bangunan itu. Sangat luas dan panjang. Ia menatap dari ujung ke ujung berulang kali.


" Kau kan suka menghias, mendesain, dan mendekorasi. Jadi kubuatkan ini untukmu. Aku harap kau mau menerima dan menyukainya. " ucap Rendra.


" Ayo kita ke dalam. " ajak Rendra.


Ia menggenggam tangan Nia dan menariknya perlahan. Dengan patuh, Nia berjalan mengikuti Rendra.


Setelah sampai di dalam, Nia semakin terkejut. Ternyata benar - benar sangat luas di dalam.


" Untuk saat ini, sengaja belum kuisi. Aku ingin kau bisa mengekspresikan dirimu. " ucap Rendra.


Nia berjalan menuju sudut ruangan ke sudut ruangan yang lain. Ia juga menaiki tangga menuju lantai dua.


Di lantai dua ada sebuah ruangan khusus, sudah ada meja dan kursi kerja di dalamnya. Sepertinya itu ruangan khusus untuk pemimpin tempat ini.


Setelah puas berkeliling, Ia berjalan kembali menghampiri Rendra. Memeluknya dengan erat.


" Kau suka? " tanya Rendra.


Nia menganggukkan kepalanya, masih berada dalam pelukan Rendra. " Terima kasih, " ucapnya.


Rendra memeluk Nia semakin erat karena merasa sangat senang.


" Tadinya aku berencana membuatkan satu salon dan spa, kemudian wedding organizer di sini, dan sebuah studio untuk memamerkan hasil dari desainmu. " ucap Rendra.


Nia melepas pelukannya, menatap Rendra lekat - lekat dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.


" Kau suka ide itu? " tanya Rendra.


Nia mengangguk lagi.


" Tapi, aku ingin kau mempersiapkan semuanya ya. Aku ingin semua yang ada di sini sesuai dengan kemauanmu. " ucap Rendra.


" Deal! " seru Nia bahagia.


Mimpi apa, kebaikan apa yang dibuat oleh kedua orang tuaku sampai aku mendapat anugerah seperti ini? Aku benar - benar sangat bersyukur. Terima kasih Tuhan. Ucap Nia dalam hati kemudian memeluk Rendra lagi.


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Duh, peluk - peluk terus deh, kasian Andra dan Andreas kan jadinya pengen. Gimana sih mereka berdua ini.


Hihihi


🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️🔹️🔸️


Haiii, halo readersku tersayang ❤


Mohon dukungannya dengan cara memberi rate, vote, like, dan komentar yah.


Kasih hadiah juga boleh bangettt ❤❤❤