
Selamat membaca ~
Setelah tidak sadar selama beberapa hari, Nia menggerak - gerakkan jarinya. Melihat itu, Jessie yang ditugaskan menjaga Nia selama Rendra mengurus berbagai hal segera memencet tombol untuk memanggil petugas yang sedang berjaga.
Tidak lama, dua orang perawat masuk ke dalam ruang VVIP. Tempat di mana Nia mendapat perawatan.
" Ada apa? " tanya salah satu dari mereka.
" Sepertinya pasien mulai sadar, tadi jarinya bergerak. " jawab Jessie.
Nia mulai mengerjapkan matanya. Matanya terbuka perlahan. Wajahnya yang terlihat masih sangat pucat tetap memancarkan aura cantik, membuat dua orang perawat yang ada di situ terpaku melihat kecantikan wajahnya.
" Sus, haloo... " Jessie menjetikkan jarinya berkali - kali di depan wajah kedua perawat itu.
" Oh, maaf. Aku akan segera memanggil dokter jaga. Kau periksa tanda vital pasien. " ucap salah satu perawat kepada rekannya, kemudian Ia bergegas keluar untuk memanggil dokter jaga.
Perawat lainnya segera menghampiri Nia dan memeriksa tanda - tanda vital pasien.
Beberapa menit berselang, perawat tadi datang dengan seorang dokter. Dokter itu segera memeriksa keadaan Nia dengan hati - hati. Tentu saja semua dokter laki - laki di sini sudah mendapat peringatan keras dari direktur rumah sakit untuk tidak sembarangan menyentuh bagian tubuh Nia. Yah, kalau bukan perintah Rendra, siapa lagi.
" Bagaimana Dokter? " tanya Jessie saat dokter akhirnya telah selesai memeriksa keadaan Nia.
" Pasien mengalami kemajuan. Tanda - tanda vitalnya bagus. Tapi pasien masih membutuhkan istirahat yang cukup dan berkualitas. Untuk saat ini, saya minta anda atau keluarga yang lain untuk tetap mendampingi pasien. Jika ada apa - apa, bisa segera menghubungi kami lagi. " jawab sang dokter dengan ramah.
" Baik Dokter, terima kasih. " sahut Jessie.
Dokter dan kedua perawat kemudian pamit undur diri dari ruang perawatan Nia.
" Jess... " panggil Nia dengan lirih.
Mendengar Nia memanggil, Jessie segera menghampiri Nia yang maish terbaring lemah di tempat tidur pasien.
" Ya, Nyonya? " sahut Jessie menatap Nia dengan khawatir.
" Air... " lirih Nia.
Dengan sigap Jessie mengambil segelas air. Ia membantu Nia untuk minum air dari sedotan berwarna putih.
" Jess.. " lirih Nia lagi.
" Iya, ada apa Nyonya? " sahut Jessie seraya meletakkan gelas yang masih berisi air ke atas nakas.
" Rendra... " lirih Nia.
" Oh iya, saya akan segera menghubungi Tuan. Nyonya, tunggu sebentar ya. " jawab Jessie.
Nia mengangguk lemah. Jessie kemudian keluar dari kamar perawatan untuk menelepon Andreas.
" Halo, Tuan Andreas? Saya Jessie. "
" Tuan, Nyonya Karunia baru saja sadar. Beliau mencari Tuan Narendra. "
" Baik... Baik... Siap, Tuan. "
" Nyonya, saya sudah menelepon Tuan Andreas. Tuan Andreas dan Tuan Narendra akan segera kemari. Mungkin sekitar tiga puluh menit lagi sampai. " ujar Jessie.
Nia tidak menyahut, Ia menghadap ke arah langit - langit ruangan. Kedua tangannya berada di atas perutnya yang rata. Ia mengusap perlahan perutnya dengan kedua tangannya.
Jessie yang melihat itu, berusaha menahan air matanya. Tangannya bergetar, ingin rasanya segera menggenggam tangan Nia. Tapi Ia tidak berani. Ia merasa segan karena sedekat apapun, Nia tetaplah istri dari atasannya. Apakah Nyonya sudah tahu jika Ia telah kehilangan janinnya? Bagaimana jika Nyonya tahu Ia telah kehilangan janinnya? Batin Jessie.
" Nyonya... " panggil Jessie dengan suara pelan.
Nia masih tetap tidak menjawab, tangannya terus mengusap perutnya yang rata dengan pandangan yang masih kosong.
" Nyonya... " panggil Jessie lagi.
Air mata lolos dari ujung netra Nia. Melihat Nia menangis, Jessie pun ikut menitikkan air mata.
Ia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Nia yang terus saja mengusap perutnya.
" Nyonya... " lirih Jessie dengan kedua mata yang sudah basah.
" Jessie, kenapa perutku rata? " tanya Nia.
Jessie tidak dapat menjawab, Ia hanya terdiam sambil tetap berusaha menguatkan dirinya.
" Kenapa aku merasa tidak ada anakku di dalam sini? "
" Mana anakku Jessie? "
" Kenapa anakku tidak menendang - nendang? "
" Anakku ke mana? "
" Jessie... "
Jessie hanya terdiam. Ia berusaha menahan agar mulutnya tidak terbuka dan menangis kencang.
" Jessie... " lirih Nia lagi.
" Mana anakku? " Nia pun akhirnya berteriak histeris.
" Nyonya, kuatkan diri Anda Nyonya. Sabar... Sabar... " lirih Jessie.
Nia menarik tangannya yang digenggam oleh Jessie. Kemudian Ia memukul - mukul perut dan kepalanya. Ia menangis dan berteriak histeris.
" Di mana anakku?! "
" Kenape perutku sudah kosong?! Mana anakku?! "
Jessie beruaha menahan agar Nia tidak memukul perut dan kepalanya. Namun rasa sakit hati dan frustasi membuat kekuatan Nia menjadi berkali - kali lipat. Bahkan Jessie tidak dapat menahan tenaga Nia.
Dengan cepat, Jessie menekan tombol untuk memanggil petugas kesehatan agar segera datang.
馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍馃敼锔忦煍革笍