Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 17: The World Where I Truly Belong



Pada hari itu juga, aku melakukan login ke dalam dunia virtual-reality. Aku melarikan diri ke dunia virtual. Aku memainkan lagi game VRMMORPG yang sudah lama tidak kumainkan. Di sana, aku memulai perjalananku ....


Untuk mencari ... tempat yang bisa kusebut sebagai rumah ....


Aku berusaha melakukan semuanya di dunia virtual itu. Hal-hal yang tidak bisa kulakukan di dunia nyata. Semua batasan dan larangan itu ... tidak perlu lagi kupikirkan. Bagiku, dunia virtual-reality adalah dunia yang paling sempurna.


Sejak malam itu ..., aku tidak pernah lagi melakukan kewajibanku. Aku tidak pernah belajar, tidak pergi ke sekolah lagi, dan bolos kursus dalam jangka waktu yang lama. Aku juga tidak pernah lagi bertemu dengan ibuku. Kami saling menghindari. Namun, entah kenapa dia masih memasakkan makanan untukku. Dia juga tidak pernah memaksa masuk ke kamarku atau menyita Virtual Diver milikku. Dia tidak pernah memarahiku. Padahal yang kulakukan saat ini sudah terbilang sangat keterlaluan. Saat itu, aku mulai berpikir bahwa dia mungkin masih menyayangiku. Mungkin selama ini, dia tidak pernah berubah sama sekali. Dia masih ibu yang penyayang, seperti dulu ketika aku masih kecil. Namun, kebodohan dan egoku membuat hatiku menjadi keras. Aku sama sekali tidak peduli dengan apapun saat itu. Bahkan aku sama sekali tidak mengangkat telepon dari guruku. Aku tahu, jika kuangkat maka pasti aku akan disuruh kembali ke neraka itu. Aku akhirnya bisa mendapat kebebasan mutlak, mana mungkin aku akan membiarkannya sirna begitu saja.


Setiap hari kuhabiskan dengan memainkan game VRMMORPG. Aku mencoba berteman dengan banyak orang, menjelajah berbagai tempat, menjadi seorang pro player, bergabung dengan sebuah guild, melakukan farming dan leveling bersama dengan mereka. Semua hal yang tidak bisa kulakukan di dunia nyata bisa kulakukan di dalam dunia fantasi itu. Aku sangat senang dan menikmati kehidupanku di dunia palsu itu. Aku menganggap bahwa dunia itu adalah dunia yang paling sempurna. Namun, di sisi lain, aku juga merasakan sebuah lubang di hatiku yang tidak bisa ditambal dengan cara apapun. Awalnya aku mengira lubang itu timbul karena jumlah teman yang kumiliki belum terlalu banyak dan aku belum sepenuhnya menikmati keindahan dunia itu. Jadi, aku berusaha berteman dengan lebih banyak orang lagi. Aku berusaha mengharumkan nama baik guildku dengan cara memenangkan berbagai turnamen. Aku berusaha melupakan dunia nyata dan menikmati sepenuhnya hidup yang bahagia di dunia buatan ini. Namun ....


Itu semua ... tidak ada gunanya ....


Tidak peduli seberapa keras aku berusaha untuk menikmati hidupku di dunia virtual tersebut, lubang itu tetap masih menganga di hatiku.


Apakah ini pertanda ... kalau dunia virtual ini juga tidak menerimaku?


Tapi, jika dunia virtual dan dunia nyata sama-sama menolakku, di dunia mana aku akan diterima?


Apakah tidak ada dunia ... yang bisa menerima diriku?


Apa aku benar-benar tidak punya tempat untuk pulang?


Apa aku ... benar-benar tidak bisa menemukan tempat yang bisa kusebut sebagai rumah?


Kalau begitu ..., apa aku memang ditakdirkan untuk tidak pernah hidup bahagia?


Seberapa buruk diriku, sampai-sampai semua dunia tidak menerimaku?


Aku pikir aku sudah menemukan kebahagiaanku lagi, tapi rupanya aku salah besar. Kebahagiaan itu hanya kurasakan sesaat, kemudian kehampaan kembali datang menghampiriku.


Semua ini tidak ada gunanya.


Senyuman-senyuman dari anggota-anggota guild-ku sekarang sama memuakkannya dengan pujian-pujian dari guru-guruku. Bersosialisasi dan menjalani hidup di dunia virtual tak lagi menyenangkan bagiku. Semangatku untuk memulai hidup yang baru mulai memudar. Senyumku ... perlahan mulai hilang. Sekarang, hatiku benar-benar sudah mati, baik di dunia virtual maupun dunia nyata. Bibirku menjadi kaku. Sulit bagiku untuk kembali tersenyum.


Kapan kehampaan ini akan berakhir?


Di saat pertanyaan itu masih terngiang-ngiang di dalam kepalaku, sebuah masalah baru muncul. Ibuku mendadak jatuh sakit. Aku terpaksa merawatnya, meski sebenarnya aku masih membencinya. Wajahku saat merawatnya selalu datar tanpa ekspresi. Namun, ibuku selalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadaku, meski dia tahu aku takkan pernah membalas ucapannya itu.


Kondisi ibuku semakin memburuk. Hatiku memang masih dipenuhi oleh kebencian, tapi bagaimanapun dia tetaplah ibuku. Sangat tidak manusiawi mengabaikannya di saat kondisinya seperti ini, jadi aku menawarkan untuk membawanya ke dokter. Namun, dia menolak tawaranku itu.


"Apa maksudmu? Apa kau ingin kondisimu semakin parah?"


"Tidak perlu. Kau selama ini sudah banyak menderita karena ibu. Kau tidak perlu merepotkan dirimu sendiri lagi."


"Maafkan ibu."


(Bisa diputar soundtrack ini biar feelsnya lebih terasa. https://youtu.be/RwV4xT6DhnM)


"Selama ini ..., ibu sudah menjadi ibu yang sangat buruk. Benar apa yang kau katakan. Ibu bahkan tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Ibu sudah merenggut semua hak dan kebahagiaanmu."


"Ibu melakukan semua itu karena ibu khawatir pada masa depanmu. Ibu tidak ingin kau memiliki masa depan yang suram. Ibu tidak ingin kau menjalani hidup yang tidak layak. Tapi, rupanya semua yang ibu lakukan tidak membangun dirimu sama sekali. Semua perlakuan itu malah menjatuhkanmu."


"Ibu menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi kepadamu. Ego ibu yang terlalu tinggi sudah menyiksamu. Mulai sekarang, kau tidak perlu lagi berpikir tentang menjadi yang terbaik. Jadilah dirimu sendiri."


"Kau tidak perlu khawatir lagi tentang masa depanmu, nilaimu, rankingmu, prestasimu, atau apapun itu. Selama kau terus berusaha, ibu yakin kalau kau pasti bisa meraih masa depan yang cerah."


"Ibu yakin kalau kau bisa melakukannya, karena kau adalah anakku yang sangat hebat."


Kata-kata itu ... berhasil mencairkan hatiku yang beku. Tanpa kusadari, air mata mulai mengaliri sudut mataku.


"Jangan bodoh," ucapku, berusaha menyembunyikan kesedihanku. "Aku sudah lama tidak masuk sekolah, pasti nilai sikapku sudah nol sekarang. Aku juga sudah lama tidak belajar lagi. Aku tidak yakin apakah kemampuanku masih ada atau tidak."


"Aku tidak akan bisa ... kembali menjadi seperti diriku yang dulu."


Ibuku tersenyum sekali lagi, meski dia tampak menderita karena sakitnya. "Kau pasti bisa melakukannya. Kau masih anak pintar seperti hari itu. Kau tidak berubah sedikitpun. Kau masih sama hebatnya dengan dulu."


"Ya ...," sahutku dengan suara pelan. "Aku akan berusaha."


Malam itu ... adalah malam terakhirku bersama ibuku. Dia meninggal dunia pada keesokan paginya.


Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal? Aku tidak perlu lagi mencari tempat yang bisa kusebut sebagai rumah. Sejak awal, tempat itu sudah ada. Hanya aku saja yang tidak menyadarinya. Dunia di mana aku seharusnya berada ... adalah dunia nyata. Dunia itulah tempatku lahir, dibesarkan, dan tempat bagiku untuk pulang. Ibuku juga sebenarnya sama sekali tidak pernah berubah. Dia masih ibu yang hebat, ramah, dan penyayang seperti dulu. Hanya aku saja yang menganggapnya sudah berubah karena terlalu tenggelam dalam egoku sendiri.


Semenjak kematian ibuku, aku berusaha keras untuk meraih kembali prestasiku. Itu benar-benar sulit. Saingan baru selalu muncul dan kemampuanku sudah tidak sama dengan aku yang dulu lagi. Ditambah lagi, aku harus membagi waktu belajar dan bekerja sambilan. Namun, berkat usaha kerasku, aku berhasil lulus dengan nilai terbaik dan kembali mencetak berbagai prestasi, bahkan diterima di sebuah universitas ternama. Kali ini semua prestasiku bisa terwujud bukan karena terpaksa, melainkan karena aku bertekad untuk membangun masa depan yang lebih baik. Semua prestasi itu ... bisa tercapai karena ibuku ....


Dia memang bukan ibu yang sempurna, juga bukan ibu yang baik. Bahkan bisa dibilang dia adalah ibu paling buruk yang pernah ada. Namun ..., jika bukan karena dirinya semua pencapaianku tidak akan pernah terwujud.


Bagiku ..., dia adalah ... ibu yang terbaik ....


To be continued


Author: Cieee yang nangis 😏 *digeplak readers*


Readers: Sampe kapan lo mau nyiksa chara woy!!!


Author: Sampe puas XD *menghindar dari timpukan readers* Sekian untuk chapter kali ini, sampai jumpa di chapter selanjutnya!! Dadaaahh!! *kabur*


Next Chapter:


[Season 2] Chapter 18: The Ruler Of All