Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Pohon Sakura (Part 10)



"Terima kasih makanannya!!" seru Iruna dengan riang sambil meletakkan garpu beserta sendoknya di piring, kemudian mengelap mulutnya menggunakan tisu.


"Ce-Cepat amat moodnya riang lagi ...." Sebutir keringat mengalir di kening Otomura."Ya, apa boleh buat. Dia periang, sih."


"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Iruna.


"Ya," ucap Otomura sembari mengangkat piring-piring kotor dari meja makan dan melangkah menuju dapur. "Setelah aku menyelesaikan cucian piring. Kita akan memulainya. Acara yang utama, acara kelulusanmu."


"Baik."


——————————————————————————————


Salah satu sofa di ruang keluarga tampak sudah disingkirkan dan sebuah meja belajar menggantikan tempatnya. Meja belajar lain tampak terletak beberapa puluh sentimeter di depannya. Otomura mendorong kursi roda Iruna memasuki ruang keluarga. Ditempatkannya kursi roda tersebut di belakang meja, kemudian dia berjalan menuju meja belajar yang satu lagi dan berdiri di belakangnya. Entah kenapa, setelah sampai di balik meja, Otomura membalikkan tubuhnya.


"Ka-Kakak? Kenapa?" Sang Adik mulai merasa heran karena tingkah laku aneh kakaknya itu.


"Jangan panggil aku kakak ...."


"Hah?" Iruna terlihat kebingungan.


Otomura membalikkan kembali badannya hingga menghadap Iruna. Sebuah kumis palsu berwarna hitam kini tertempel di atas mulutnya. "Panggil aku ... SHIVA!!!”


(*plak!!!*


Author: Narator sialan, udah dibilang jangan ganti-ganti script seenaknya!!! >:v lagi adegan mengharukan juga.


Narator: ya canda thor baperan amat :(( *digeplak lagi*


Author: cepetan ulang lagi!!! >:v kalo kaga gaji lu bulan ini gua potong 100%!!


Narator: hiks :”( author kejam)


“Panggil aku ... Pak Guru!!!"


Iruna hanya terdiam dengan tatapan yang terlihat jijik. "Tidak mirip," ucapnya.


*gedubrak!!!* Otomura langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai hingga kedua kakinya menungging ke atas.


"Tidak mirip, 'kah? Apa aku tidak pantas memerankan guru?" Kini pemuda konyol itu pundung di sudut ruangan.


"Eehh, bukan begitu maksudku, kakak ...." Iruna mulai salah tingkah. "Da-Daripada begitu, bukankah lebih baik selesaikan dulu acara ini?"


"Ah, benar juga," sahut Otomura sambil bangkit berdiri dan melangkah kembali ke balik meja. Sesekali dia membetulkan posisi kumis palsunya. Wajahnya kini terlihat serius. "Baiklah, mari kita mulai."


"Perhatian, perhatian!! Sebentar lagi upacara kelulusan akan dimulai!!!" Mendadak, Otomura mengeluarkan sebuah pengeras suara dari laci meja dan bicara di depan speaker-nya, membuat suaranya menjadi nyaring sampai memekakkan telinga. Iruna sampai harus menutup kedua telinganya supaya gendang telinganya tidak pecah.


"Nanti dimarahi tetangga, kakak!!"


"Ah, iya juga." Otomura meletakkan pengeras suara itu di meja, kemudian menggaruk-garuk kepalanya sambil cengengesan.


"Lagipula dari mana pengeras suara itu?" Iruna terdiam dengan bulir keringat mengaliri kening.


"Aku menemukannya di gudang juga. Ah, lupakan saja. Mari kita mulai. Pertama-tama, kita akan mulai dari pidato perwakilan murid yang akan lulus! Dipersilakan, Iruna Yamato!"


"Eh? A-Aku?!" Iruna terbelalak sembari menunjuk dirinya sendiri. "A-Apa yang harus kukatakan?"


"Santai saja, tak usah formal." Otomura tertawa kecil. "Ini, 'kan, bukan upacara kelulusan betulan."


"Ba-Baik."


"Namaku Iruna Yamato. Sebelumnya, aku mengalami hari-hari di sekolah yang sangat menyenangkan. Tapi, karena suatu musibah, maka aku harus kehilangan segalanya. Dan yang sekarang kumiliki hanyalah kakakku, Otomura Yamato. Dia adalah sosok yang sangat dewasa dan penyayang. Dialah yang merawatku dan menyemangatiku. Berkat dia jugalah, aku berhasil lulus dari sisi gelapku. Kepada kakakku, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak!!" Kalimat terakhir diakhiri oleh Iruna dengan cara membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.


"Padahal selama ini dialah yang selalu menyemangatiku. Aku yang berhutang budi kepadanya. Dasar adik bodoh."


"Selanjutnya adalah penyerahan piagam kelulusan!! Iruna Yamato, dipersilakan maju ke depan!!"


"Ya." Iruna pun menggerakkan roda dari kursi rodanya menuju meja Otomura, kemudian menerima piagam tersebut dan menatapnya. Senyum terukir di wajahnya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Otomura.


"Bagus," ucap Iruna. "Walaupun piagam ini hanya tulisan tangan, banyak coret-coretannya, dan tulisannya banyak yang tidak jelas."


"Kau ini memuji atau menghina, sih? Aku sudah susah payah menyiapkan semua ini sendirian karena ingin membuat kejutan untukmu, lho!" Otomura langsung pundung di pojokan.


"Eh, maksudku bukan begitu." Untuk kedua kalinya, Iruna salah tingkah melihat perilaku kakaknya. "Ah, ya, ada sesuatu yang lupa kuberikan."


"Hah?" Otomura yang pundung di pojokan langsung bangkit berdiri dan melesat ke balik mejanya secepat kilat. "Sesuatu? Apa maksudmu?"


Iruna merogoh sesuatu dari saku pakaiannya. "Ini!!" ucapnya sambil menyerahkan sekuntum bunga sakura kepada kakaknya dan tersenyum riang.


"Eh? Sakura?” Otomura meraih bunga itu dan menatapnya. “Ini dari pohon di depan rumah?"


"Ya."


"Kapan kau mengambilnya?"


"Kemarin. Untuk jaga-jaga agar tidak layu, aku memasukkannya ke dalam vas berisi air di kamarku."


"Ah, sepertinya aku luput melihatnya." Otomura menoleh ke luar jendela. Tampak sebuah pohon sakura menjulang tinggi di halaman rumah, memamerkan kelopak-kelopak merah mudanya yang indah dan pantang menyerah meski terus-terusan diterjang oleh angin. "Tidak terasa, ya. Sekarang dia sudah sebesar itu. Dulu kita yang menanamnya, 'kan?"


"Ya." Iruna mengangguk pelan. "Bersama ayah dan ibu."


"Indah sekali, ya." Gadis kecil itu ikut menatap pohon sakura tersebut.


“Bunga-bunganya menakjubkan,” ucap Otomura. “Terus berusaha untuk bertahan di ranting meski dihembus oleh angin kencang dari sana-sini. Sekalinya mereka jatuh, mereka tak menyerah dan masih berusaha untuk memberi manfaat dengan cara memperindah jalan-jalan.”


“Ya,” ujar Iruna. “Aku harap kita bisa menjadi seperti mereka.”


“Ah, ya. Sudah jamnya untuk membawamu jalan-jalan ke luar.” Otomura mengalihkan pandangannya dari ranting-ranting pohon sakura yang tak henti-hentinya bergoyang-goyang diterpa angin. “Sebentar, ya. Aku akan membereskan semua ini dulu.”


“Ya. Rasanya sudah lama, ya, aku tidak jalan-jalan ke luar.”


“Ini waktu yang tepat. Pemandangan bunga-bunga sakura yang indah akan memanjakan hati kita.”


“Wah, aku jadi tak sabar!!”


“Pada saat itu, aku sempat berpikir ....”


“Seandainya saja, hari-hari kami akan indah dan berwarna-warni seperti ini selamanya ....”


“Tapi, ternyata kedamaian ini adalah awal dari sebuah badai petir.”


“Aku tak pernah menduganya.”


“Bahwa di tahun itu juga.”


“Aku akan kehilangan ... hartaku yang paling berharga ....”


To be continued