Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 63: Dua Orang yang Menolak Takdir (Part 18)



Hari terakhir dari eksperimen Purity Online.


Enam puluh tiga hari sudah berlalu semenjak Yuukaru dan Otomura pertama kali menjejakkan kaki mereka ke dunia Purity Online. Yang berarti, beta test mereka sudah berakhir. Mereka harus segera kembali ke dunia nyata.


Bulan sudah nyaris mencapai puncak dari langit biru tua, yang menandakan bahwa sebentar lagi hari ke-63 akan berakhir. Yuukaru, Otomura, Kakek Yurato, beserta warga-warga desa berkumpul di luar desa Arafubi, dekat dengan gerbang desa. Dipimpin oleh Kakek Yurato selaku kepala desa, mereka semua mengucapkan salam perpisahan kepada Yuukaru dan Otomura yang akan segera meninggalkan dunia ini dan kembali ke dunia nyata.


"Jadi, kalian sudah mau pergi?" tanya Kakek Yurato.


"Ya," sahut Otomura. "Kami harus kembali ke negeri asal kami, karena kami hanyalah pengembara. Kami tidak bisa berada selamanya di desa ini."


"Begitu ...," sahut Kakek Yurato. "Kalau begitu, kami takkan menghalangi kalian. Jagalah kesehatan kalian."


Yuukaru menatap seluruh warga yang berkumpul untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Senyum ramah terukir di wajahnya. "Terima kasih banyak atas semua kebaikan dan bantuan yang sudah kalian lakukan selama ini. Aku belum pernah bertemu dengan orang-orang seramah dan sebaik kalian sebelumnya. Terutama Kakek Yurato, Sang Kepala Desa. Jika kakek tidak datang, pasti kami akan tersesat selamanya di hutan itu."


"Waktu itu aku hanya kebetulan lewat," ujar Kakek Yurato sambil tersenyum. "Kurasa siapapun akan melakukan itu jika menjadi aku."


"Dan ...." Yuukaru mengalihkan pandangannya ke arah teman-teman sekolahnya di Akademi Sihir Zanz. "Kepada teman-temanku di akademi, terima kasih sudah menjadi teman yang baik."


"Ya, ya," sahut salah seorang teman sekelas Yuukaru. "Tak usah memuji begitu, bodoh. Kau pikir kami akan terpukau, begitu? Haha. Tidak akan. Jangan lupa jaga kesehatanmu, ya?”


Teman perempuan Yuukaru melangkah maju, kemudian meraba pundaknya. "Sehat-sehat di sana, Yuukaru."


"Ya," ujar Yuukaru. "Tentu."


“Sehat-sehat, kakek tua.” Otomura melangkah maju, kemudian mengulurkan tangannya dengan senyum tergambar di bibir. Kakek Rato segera membalas uluran tangan itu. Mereka berdua bersalaman.


“Dasar. Meski dua bulan sudah berlalu, kau masih gak ada akhlak, ya.” Kakek Yurato terkekeh.


"Kalau begitu, kami pamit." Otomura menghentikan kegiatan salaman dan melambaikan tangannya. "Sampai jumpa lagi, semuanya!!”


"Ya!!"


"Sampai juga lagi!!"


"Sehat-sehat di sana!!"


"Otomura, jangan lupa bernapas!!"


"Hei, ucapan perpisahan macam apa itu?!"


"Lha? 'Kan, yang penting mengekspresikan kepedulian."


"Gak gitu juga, bodoh!! Harusnya lebih dramatis."


"Oh, jadi kita harus bangun tugu pengingat?"


"Terserah kau, lah."


"Hei, hei, aku cuma bercanda."


Selagi para warga beserta teman-teman Yuukaru dan Otomura di akademi melambai-lambaikan lengan mereka sembari mengucapkan kata-kata perpisahan, Otomura dan Yuukaru membalikkan tubuh mereka. Selang beberapa detik, suara khas sistem terdengar.


Bersamaan dengan terdengarnya suara itu, sepasang jendela sistem muncul tepat di depan Yuukaru serta Otomura dengan tulisan ‘LOG OUT’ tertera jelas di bagian tengahnya. Kedua pemuda-pemudi tersebut mengulurkan tangan mereka. Telunjuk mereka bersiap menyentuh tulisan ‘LOG OUT.’ Namun, ada sesuatu dari dalam hati yang menghentikan gerakan tangan mereka.


“Apakah dengan kembali ke dunia nyata ... kehidupan kami akan menjadi lebih baik?” Yuukaru mulai membatin. Kedua kubu di dalam dirinya mulai bergumul. Otomura juga terlihat mengalami hal yang sama.


“Dunia busuk itu terlalu keras untuk kami. Kurasa kami takkan bisa bertahan. Mungkin, sebenarnya kami memang tidak ditakdirkan untuk tinggal di dunia itu.”


“Dunia ini sempurna. Dipenuhi oleh orang-orang yang baik dan ramah, walaupun sebenarnya mereka adalah kumpulan data. Dunia inilah yang paling cocok dengan kami. Takdir kami adalah berada di dunia ini. Kami takkan mendapat kebahagiaan jika tinggal di dunia nyata. Kebahagiaan abadi hanya bisa kami dapatkan di sini.”


“Melarikan diri dari takdir? Kurasa tidak. Keputusan ini lebih ke ‘mengubah takdir.’”


“Kuharap, dengan begini hidup kami akan menjadi lebih baik. Mungkin, ini adalah pilihan yang terbaik untuk kami.”


“Tetap tinggal di sini ... kurasa merupakan pilihan yang tepat ....”


Seruan-seruan perpisahan yang terdengar dari belakang mereka berdua mulai lenyap, digantikan oleh kesunyian dan suara-suara serangga malam. Para warga mulai keheranan melihat Yuukaru dan Otomura yang masih diam di tempat padahal mereka bilang akan pulang.


“Ada apa?” tanya Kakek Yurato.


“Semuanya ....” Yuukaru membalikkan tubuhnya. Rambut emasnya sedikit berkibar dihembus angin malam. “Kami rasa ... kami akan terus tinggal di sini. Takdir kami adalah di sini. Di sinilah kami bisa mendapat kebahagiaan abadi. Lagipula, kami tak mau membuat kalian bersedih.”


“Benarkah?!”


“HOREEE!!!”


Teman-teman akademi dari Yuukaru dan Otomura bersorak gembira sambil saling melakukan tos satu sama lain, sementara para warga hanya tersenyum. Kakek Yurato juga tersenyum senang mendengar itu.


“Apa tidak apa-apa?” tanya pria paruh baya itu.


“Ya,” ujar Otomura sambil tersenyum. “Kami akan tinggal di sini selamanya.”


——————————————————————————


“Setelahnya, Kak Otomura menceritakan kepadaku tentang adik perempuannya. Dia juga memintaku menjadi adik angkatnya untuk mengobati rasa rindunya terhadap adiknya yang sudah tiada. Aku tak punya alasan untuk menolaknya sehingga aku menerimanya.”


“Itulah kisah ... tentang bagaimana keluarga virtual kami ini terbentuk ....”


“Dan itulah ....”


“Kisah tentang bagaimana aku dan Kak Otomura bertemu ....”


“Dan bagaimana kami menolak takdir ....”


To be continued


Next Chapter:


Day 63: Menerima Takdir (Part 19)