Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 2: Serangan Minotaur (Part 3)



"Hei, kau, 'kan, sudah menang. Jadi, aku harus memberimu hadiah," ucap Otomura sewaktu ia dan Ryugai melintasi jalan yang sesak dan riuh akibat keramaian. Mereka berdua baru saja meninggalkan Gedung Serikat dan sedang berada dalam perjalanan pulang.


"Hm? Hadiah?" Ryugai menoleh ke arah Otomura. Di saat bersamaan, sebuah kereta kuda melintas di sebelah kirinya, membuat suaranya menjadi samar.


"Tentu saja," sahut Otomura sembari tersenyum ramah dan mengeluarkan beberapa keping koin emas dari kantung berisi uang yang ia pegang. Hasil dari pertukaran hasil buruan mereka di Gedung Serikat.


"Tidak usah. Aku tidak tertarik dengan uang," ujar Ryugai sambil menggelengkan kepalanya.


"Hei, hei. Jangan begitu. Perburuan kali ini bisa menghasilkan daging yang banyak karena kau juga," ucap Otomura. "Jangan sungkan-sungkan."


"Tidak mau," ujar Ryugai. "Sebagai gantinya ...."


"Hm?" Otomura mendekatkan telinganya ke mulut Ryugai agar ucapan pemuda itu bisa terdengar lebih jelas serta tidak terganggu oleh suara-suara riuh dari kerumunan penduduk desa ini.


"Berikan seluruh porsi makan malammu kepadaku."


"EEEEEHH?! Daripada kelaparan atau makan makanan hambar, mending aku kasih semua koin emas ini sekalian!!"


Ryugai tersenyum untuk yang pertama kalinya di dunia Purity Online ini. "Cuma bercanda, kok."


"Ah, kau tersenyum! Ini senyuman pertamamu," ucap Otomura dengan riang. "Kukira kau itu orang yang dingin, tapi ternyata kau bisa bercanda dan tersenyum juga, ya?!"


"Diam, ah." Ryugai langsung memadamkan senyum itu dari wajahnya dan memalingkan tubuhnya.


"Cieee~~ malu-malu .... Udah jangan sok dead inside begitu."


"Berisik, kau mau kubunuh?!"


"Bunuhlah, nanti aku gentayangi kamu setiap malam."


"Ya sudahlah, terserah kau saja."


"Dih, ngambek ...."


"Apa yang aku lakukan di sini?" batin Ryugai. "Harusnya aku segera membunuh mereka semua, lalu menjarah dan membakar desa ini, kemudian melarikan diri!!"


"Tapi, entah kenapa ada dorongan dari dalam hatiku yang memintaku untuk mengurungkan niat itu."


"Jangan, Ryugai. Jangan terikat pada keramahtamahan mereka. Ini satu-satunya cara menegakkan keadilan .... Bagi orang lain, ini terlihat kejam, tapi bagiku kekuatan ini adalah satu-satunya cara menegakkan keadilan!!!"


"Satu-satunya cara agar keadilan bisa ditegakkan bagi diriku ..., adalah dengan menegakkannya sendiri..., meski itu berarti aku harus meminjam kekuatan iblis!!!"


"Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Berbeda dengan orang-orang di bumi yang berhati busuk, mereka sangatlah baik. Sial, apa yang aku pikirkan? Harusnya aku cepat bunuh mereka saja!!! Kenapa aku malah jadi sok bersikap seperti malaikat begini?!"


"Ditambah lagi, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku tersenyum, tapi mereka bisa membuatku tersenyum dan bercanda kembali!! Siapa mereka sebenarnya?"


Ryugai memegang dahinya. Telapak tangannya mengusir poni-poni berwarna biru yang berantakan. Ia tampak sedang berpikir keras.


"Ada apa, Ryugai?" tanya Otomura.


"Ah, tidak ada apa-apa," sahut Ryugai sambil menyingkirkan telapak tangannya dari dahinya.


"Baguslah."


Tepat setelah itu, mendadak lingkaran sihir kecil berwarna biru muda dengan motif bulan sabit muncul di depan dada Otomura. Ukurannya kira-kira sebesar telapak tangan manusia dewasa.


"Oh? Apa itu?" tanya Ryugai.


"Sihir komunikasi," jelas Ryugai sebelum menyentuh lingkaran sihir itu. Setelah ia menyentuhnya, wajah seorang pria berpakaian khas prajurit terproyeksi di sana.


"Hei, tampaknya yang lainnya juga dapat," ucap Ryugai sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Terlihat bahwa semua orang yang ada di jalan mendapat notifikasi sihir komunikasi juga dan baru saja hendak menyentuhnya untuk mengetahui isi dari pemberitahuan tersebut.


"Perhatian semuanya!!! Minotaur sedang menuju desa kita untuk kedua kalinya!!! Lekas kemas barang-barang kalian dan mengungsi!! Pasukan keamanan tidak bisa menahan mereka dalam jangka waktu lebih lama lagi!! Jangan berpikir bisa bersembunyi di desa ini. Kecepatan gerak, penglihatan nokturnal, dan kekuatan Minotaur itu sangat luar biasa!! Bahkan prajurit terkuat di desa ini telah mati di tangannya barusan!!! Jika kalian masih sayang nyawa, bergegaslah!!!”


Setelahnya, wajah pria bersetelan prajurit itu langsung padam dari lingkaran sihir milik semua orang. Orang-orang yang menerima notifikasi sihir komunikasi itu langsung terbelalak lebar, begitupun Otomura dan Ryugai.


"Mi-Minotaur?!"


To be continued


Next Chapter:


Day 2: Sang Pahlawan (Part 4)