
"Nah, permainan berburu raja dimulai!!"
Detak jantung dan irama napas Senshi semakin tidak beraturan. Keringat dingin yang dihasilkan hormon adrenalin dan keringat biasa yang dihasilkan dari pergerakan bercampur, membasahi kulitnya. Adrenalin yang mengalir di dalam tubuhnya juga membuat aliran darahnya meningkat. Anehnya, dia justru merasa senang.
"Tidak masuk akal.... Padahal ini situasi antara hidup dan mati, tapi kenapa aku justru merasakan kegembiraan?" batinnya penuh tanda tanya.
"Yah, tapi ini tidak sepenuhnya buruk. Perasaan yang meluap-luap ini membuatku bernostalgia. Sudah lama aku tidak merasakannya."
Menyadari bahwa serigala-serigala yang sedang dia hadapi tidak berlari mendekat untuk menyerangnya lagi, remaja berambut hitam legam tersebut menutup kelopak mata dan mempertajam kelima indranya. Tak lama kemudian, telinganya mendeteksi suara geraman dan hentakan kaki yang samar-samar dari arah belakang. Secara refleks, Senshi berbalik dan mengayunkan pedang. Benar saja. Tepat di depan mata bocah itu, tampak seekor serigala sedang melompat cukup tinggi, bersiap untuk menerkam. Untungnya, Senshi tepat waktu dalam melindungi diri sehingga serigala tersebut hanya menggigit senjata miliknya.
"Sudah kuduga. Kalau mereka langsung lanjut menyerangku, pasti serangannya akan bertabrakan dengan serangan serigala ini dan mengakibatkan cedera. Makanya mereka tadi diam saja."
Senshi terus berusaha mendorong pedangnya yang sedang berada dalam posisi horizontal agar bisa menahan mulut si serigala assassin untuk jangka waktu yang lebih lama lagi. Sekarang, jarak antara mata Senshi dengan mata serigala yang berkilau di tengah kegelapan malam serta memancarkan nafsu membunuh tinggi itu hanya beberapa sentimeter. Namun, remaja tersebut terus berusaha untuk mempertahankan wajah tanpa ekspresinya. Dia memutar matanya sedikit ke arah belakang dan mendapati beberapa serigala lain yang sudah bersiap untuk menerkamnya dari belakang.
"Pertarungan penentuan ini benar-benar tidak main-main. Kemungkinan hasil akhirnya hanya ada dua, kematianku atau kekalahan mereka. Tapi, maaf saja...."
Secepat kilat, Senshi menghunus pisau belati kecil yang disembunyikan di balik pakaiannya, lalu menikam kedua mata serigala itu secara bergilir demi membuatnya buta. Rasa sakit dari tusukan menyebabkan sang serigala melepas pedang yang digigitnya dan menghentakkan kaki ke sana kemari sembari meraung.
"Kalau aku mati sebelum mengeluarkan potensi sebenarnya dari diriku yang sekarang..., maka pembuktiannya akan gagal. Jadi, tidak akan kubiarkan itu terjadi!!"
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, Senshi segera menebas pembuluh arteri di leher canine besar itu untuk menghabisinya. Dia berbalik, menghadap serigala-serigala yang sedang bersiap untuk menyerang. Melihat itu, para serigala tersebut pun mengubah formasi dari kerumunan menjadi satu barisan yang mengarah lurus ke belakang. Mungkin mereka takut terkena sabetan melingkar maut.
"Jadi kalian belajar dari pengalaman, huh...?"
"Menarik sekali!!"
Dilemparkannya belati itu ke mata serigala pertama yang mencoba menerkam, kemudian dia melompat ke punggung serigala tersebut dan menebas serigala kedua serta ketiga yang juga mendekat. Ya, ia berhasil melancarkan dua tebasan di tengah amukan serigala pertama yang ditungganginya!
(Author: Jadi keingat scene pas Ryugai berburu bareng Otomura di awal season 1 :"))
Tak tinggal diam, serigala keempat juga melancarkan serangan. Namun, dengan licik Senshi melompat cukup jauh, bermaksud menjadikan serigala pertama 'tumbal' bagi serangan tersebut. Selanjutnya, dia melempar pisau belati kedua yang mengenai pembuluh arteri di leher serigala keempat dengan telak, membuatnya tewas seketika. Serigala-serigala lain yang menyaksikan kejadian itu pun bertambah marah. Geraman serta gonggongan mereka terdengar semakin intens. Akan tetapi, karena jarak di antara mereka dan Senshi yang cukup jauh, mereka butuh waktu untuk mencapai posisinya. Kesempatan itu dipakai oleh Senshi untuk melakukan analisa cepat.
"Para dire wolf tidak berhenti menyerang walaupun serigala assassin tadi sudah mati, artinya dia bukan pemimpin kawanan mereka. Sesuai dugaanku, strategi yang sama tidak akan mereka gunakan dua kali. Pemimpinnya pasti ada di tempat lain yang juga tersembunyi, tapi di mana?"
Sepasang mata beriris emas milik anak laki-laki tersebut mengedarkan pandangan ke sekeliling, berusaha mencari tempat persembunyian si pemimpin kawanan dire wolves di tengah suasana malam yang hanya diterangi cahaya redup. Dia berhasil menemukannya dalam waktu singkat. Sebuah tumpukan daun serta ranting kering yang terletak di tanah berumput, tak jauh dari batas antara rumahnya dan pepohonan rimbun di hutan. Tumpukan itu tampak aneh, sepertinya merupakan sebuah liang yang disamarkan. Selain itu, letaknya juga dekat dengan posisi para serigala saat ini.
Sambil tersenyum penuh semangat sekali lagi, Senshi membatin:
"Jadi di situ, ya!!"
To be continued
Author: Maap lama gak update (lagi), eheheh :3 Dapetin mood nulis akhir-akhir ini rada susah, cuy. Untung series Great Teacher Onizuka (GTO) berhasil mengembalikan writing spirit saya 🗿