
Malam harinya.
"Wah, itu Kakek Yurato!!" Melihat kedatangan Kakek Yurato, Otomura, dan Yuukaru yang mengunjungi mereka, anak-anak di panti asuhan pun bersorak gembira. Mereka menghentikan aktivitas bermain dan berjejal-jejal menghampiri ketiga orang tersebut dengan senyum ceria terlukis di wajah.
"Dia bersama dua remaja!!"
"Oh, anda datang lagi? Kali ini tidak sendirian?" Salah seorang pengurus di panti asuhan menyambut kedatangan mereka bertiga sembari menyunggingkan senyum ramah.
"Ya, aku datang bersama cucu-cucuku," sahut Kakek Yurato sambil membalas senyuman tersebut.
"Hei, kakek, sejak kapan kami jadi cucumu?" bisik Otomura.
"Tidak apa, 'kan?" Kakek Rato terkekeh. "Keluargaku semuanya sudah tiada. Aku kesepian. Lagipula, kita sudah tinggal dalam satu rumah. Kita sudah seperti sebuah keluarga."
"Tapi, kami, 'kan, cuma menumpang di-"
"Sudahlah, jangan bersikap seolah-olah kau adalah orang asing!!"
"Eh?! Tunggu, kau serius mau mengangkat kami sebagai cucumu?!"
Sementara Kakek Yurato dan Otomura berbincang-bincang, Yuukaru berkenalan dengan anak-anak di panti. Dia berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak-anak itu.
"Siapa nama kalian?" tanyanya sambil tersenyum ramah. Satu persatu, anak-anak yang masih seumuran anak SD itu pun menjawab.
"Blade!!"
"Satoshi!!"
"Isogai!!"
"Hiromu!!"
"Seiichi!!"
"Aku adik kembarnya, Seiji!!"
"Sakuragi!!"
"Hikaru!!"
(KONO HIKARU NARAA\~\~ eh salah server :v silakan lanjut baca :v awokwokwok *ditampol readers*)
"Wah, nama-nama kalian bagus-bagus," ujar Yuukaru. "Nama kakak adalah Yuukaru, dan kakak yang ini ...." Yuukaru menarik pelan bahu Otomura. "Namanya adalah Otomura."
"He-Hei, kenapa tiba-tiba kau menarikku?" protes Otomura.
"Hei, hei. Aku ikut datang ke sini bersama kalian karena dipaksa, lho,” gerutu pemuda berambut keemasan tersebut.
"Oh? Kau mau tidak kubawakan bekal ke akademi besok?" ancam Yuukaru.
"Ba-Baiklah ...." Otomura langsung tertunduk lesu dengan wajah pucat.
"Anu ...." Salah seorang anak membuka pembicaraan sambil tersenyum. "Kakak berdua pacaran, ya?"
"Eh?"
"EEEEEEHHH?!!!" Seketika, wajah Otomura dan Yuukaru memerah. Mereka berdua langsung saling menjauhkan tubuh.
"Ga-Gak!!" Otomura memalingkan mukanya.
"Di-Dia bukan pacarku," jelas Yuukaru salah tingkah. "Lagipula dia lebih tua dariku."
"Ah, masa?" Pengurus panti asuhan menatap dengan sorot mata yang terlihat menyebalkan. "Tidak apa-apa, kok. Umurku saja beda lima tahun dengan suamiku. Kesempatan emas jangan disia-siakan. Lebih baik kalian segera menjalin tali api. Atau, kalian sudah saling suka? Apa betul, kalian tidak pacaran?”
"Betulan!! Aku bicara serius!!" Wajah Otomura semakin memerah dan sekarang terlihat seperti tomat.
"Oh, ya? Tapi kalian cocok, lho." Kakek Yurato ikut menggoda mereka berdua.
"Diam, kakek sialan!!" seru Otomura gusar.
Kakek Yurato, sang pengurus, dan semua anak pun tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahaha!!"
"Jangan menertawaiku, bodoh!!!" seru Otomura.
"HAHAHAHAHA!!!" Sang pengurus mengabaikan seruan Otomura dan terus tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perutnya yang mulai terasa sakit karena terlalu banyak tertawa. "Habisnya ekspresi wajah kalian waktu sedang salah tingkah lucu sekali, sih!!"
"Sudah kubilang, jangan tertawa, bodoh!!!"
To be continued
Saya selaku author dari story ini mengucapkan terima kasih atas waktu yang telah kalian luangkan untuk membaca karya saya :3 Mohon maaf jika ada kesalahan, ketidakrealistisan, dan sebagainya, karena saya hanyalah manusia biasa yang tak sempurna.
Jika kalian memiliki kritik dan saran, silahkan sampaikan di kolom komentar dengan bahasa yang baik dan sopan. Sekian untuk chapter kali ini dan sampai jumpa di chapter berikutnya ^^
Next Chapter:
Day 63: Sakura di Tengah Salju (Part 17)