Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
Day 57: Turnamen Maximus Potentia Bagian Empat (Part 5)



Ryugai beserta Arai melangkah memasuki arena. Pintu di belakang mereka tertutup, sedikit berdentang. Semangat yang tinggi tampak dari raut wajah kedua pemuda itu. Mereka melangkah ke arah yang berlawanan, saling mendekati satu sama lain sambil menyiapkan kuda-kuda berpedang.


"Selanjutnya adalah pertandingan penutup untuk hari ini, yakni pertandingan antara Ryugai Yuzumoto dengan Arai Mirakurai!!!" Suara Sang Komentator menggema ke segala arah. Tangannya yang tadi terarah ke atas kini mengarah ke depan. Jari telunjuknya teracung. "Pertandingan dimulai!!!"


Sorakan penonton kembali memenuhi suasana di arena. Entah mengapa, sorakan kali ini terdengar lebih nyaring daripada sorakan di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Tampaknya, mereka sudah menyadari kalau Ryugai adalah Sang Pahlawan yang telah menyelamatkan Desa Arafubi dari monster berkepala banteng bernama Minotaur. Dengan gerakan yang secepat angin, pedang milik Ryugai dan Arai berbenturan, menghasilkan percikan-percikan api yang melayang memenuhi udara. Suara logam beradu terdengar dengan jelas. Mereka berdua melompat  mundur dan kembali beradu pedang selama beberapa saat. Mereka mengganti senjata menjadi busur, kemudian kembali saling menyerang. Namun, tak ada satupun panah yang mengenai sasaran. Akhirnya, mereka berdua kembali mengganti senjatanya menjadi pedang.


"Para penonton akan bosan kalau begini terus." Ryugai tersenyum menantang. Percikan-percikan energi berwarna hitam mulai bermunculan di sekujur tubuhnya.


"Ya," sahut Arai. Percikan-percikan energi merah menyala juga mulai bermunculan di tubuhnya. "Bagaimana kalau kita tunjukkan kepada mereka?"


Kedua jenis percikan energi itu langsung menyebar dan menyelimuti tubuh tuan mereka dengan cepat. Kini, Ryugai terselimuti oleh energi berwarna hitam, sedangkan Arai terselimuti oleh energi berwarna merah. Arai tersenyum penuh semangat. "Kita akan tunjukkan kepada mereka ... potensi asli kita berdua!!!"


Kedua lapisan energi yang berbeda warna tadi merambat, menjalari pedang milik Ryugai dan Arai. Sekali lagi, kedua pemuda itu melakukan adu pedang beruntun. Arai mengayunkan pedangnya ke kaki Ryugai, tapi berhasil dihindari oleh pemuda berambut biru itu. Seolah tak ingin melepaskan mangsanya, Arai membuka telapak tangan kanannya lebar-lebar. Puluhan bola api berkecepatan tinggi melesat menuju Ryugai yang masih melayang di udara. Dengan sigap, Ryugai menciptakan sebuah perisai dari energi kegelapan di depan tubuhnya yang langsung melindunginya dari bola-bola api tersebut.


"Hebat. Kau tak melepaskan targetmu seperti biasa." Ryugai tersenyum, tampak bersemangat.


"Kau juga," sahut Arai. "Kau kuat dan sigap seperti biasanya."


Mereka berdua beradu pedang sekali lagi, kemudian melompat mundur. Ryugai mengeluarkan sebuah benda yang mirip dengan granat, kemudian bergegas melemparnya ke lantai arena. Asap tebal langsung menyebar dan menutupi udara.


"Wah, Ryugai menggunakan teknik dari jurusan Sihir Farmasi dan Kimia!! Seluruh arena tertutup oleh kabut asap yang sangat tebal!! Saya bahkan tidak bisa melihat satu sentimeter pun dari tubuh mereka!!!"


"Ingin menggunakan trik yang sama, ya?" Arai kembali membuka telapak tangannya dan memunculkan sepuluh bola api, kemudian melemparkannya ke belakang. "Tapi, itu tidak akan bekerja lagi terhadapku!!"


"Mustahil, tidak kena?!" Kedua mata Arai membelalak lebar. "Kalau begitu, dari depan!!"


Arai menyabetkan pedangnya ke depan, tapi yang terkena oleh pedang tersebut hanyalah udara kosong.


"Mustahil!! Atas?" Arai melemparkan bola-bola apinya ke atas, tapi mereka hanya menembus langit.


"Bawah, bodoh!!"


"Hah?!" Arai menundukkan kepalanya ke bawah kakinya. Tampak sekilas sosok Ryugai meluncur keluar dari dalam tanah layaknya tikus tanah. Bola energi berwarna hitam kelam tergenggam di tangan pemuda berambut biru dengan gaya rambut acak-acakan itu. Ia hendak menghindar, tapi terlambat. Tubuhnya telah terlebih dulu terpental jauh.


Bukannya menyerah untuk melanjutkan pertandingan, Arai malah tersenyum selagi melayang di udara. "Akhirnya tiba waktunya untuk menggunakan ini."


Ryugai mengangkat kepalanya dengan bangga dan tersenyum penuh kemenangan di balik asap yang tebal, tapi senyumnya itu segera pupus dari wajah begitu ia menyadari kalau sebuah bola api raksasa sedang melesat ke arahnya. Pemuda itu menghindar di saat yang kritis. Bola api tersebut nyaris menghantam kedua kakinya.


Sepercik api timbul di tengah kabut asap, kemudian membesar dan mengusir asap tebal itu. Tampak Arai sedang berada di udara, menunggangi seekor burung besar yang terlihat seperti burung phoenix yang berada di dalam mitologi. Senyum terukir di wajahnya. Ryugai turut tersenyum.


"Teknik Summoning dari jurusan Flora dan Fauna Sihir, ya?"


To be continued