Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 7: Hari yang Buruk



"Tumben sekali kamu terlambat, Yuzumoto Yamamura." Seorang pria tua yang berkacamata dan berseragam guru berucap sambil menatap bocah laki-laki berambut keemasan di hadapannya. Keduanya tengah berada di ambang pintu kelas.


"Ada apa? Tidak biasanya kamu tidak disiplin begini."


"Ha-Hanya ada sedikit masalah di jalan, Pak ...." Bocah bernama Yamamura itu tersenyum kecut. "Ha ha ha ha ha ...."


"Ugh!! Sialan!! Coba saja tadi anjing itu tidak mengejarku, pasti aku bisa sampai di sekolah tepat waktu,” gerutunya dalam hati.


"Hmmm ...." Guru pria itu menyipitkan matanya, menatap dengan tajam ke arah Yamamura. Tampaknya dia sedang menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambilnya. Otaknya mulai berpikir keras layaknya seorang hakim yang sedang menghadiri sidang pengadilan.


"Sial. Mana yang lagi ngajar guru killer pula. Bisa habis, nih, aku nanti."


Keringat dingin mengucur deras dan mulai membanjiri tubuh Yamamura. Dia sudah pesimis. Mau berharap apa lagi? Berharap guru killer itu memberi toleransi? Percuma saja. Bahkan seisi kelas saat ini sudah menatapnya dengan tatapan yang seolah mengatakan: 'Kasihan, ya.' Itu artinya kesempatan dia selamat dari amukan sang guru sangatlah kecil.



"Uuugghh!! Sial, sial, sial, sial, siaaall!!! Harusnya di hari ulang tahun keberuntunganku menumpuk. Ini malah kesialan yang menumpuk."*



Namun, yang terjadi selanjutnya malah berbanding terbalik dengan perkiraan Yamamura. Sang guru killer menghembuskan napas pelan, lalu membuka mulutnya.


"Baiklah. Karena ini pertama kalinya kamu terlambat, saya akan memberi toleransi. Saya tidak akan menghukum kamu. Tapi ingat!! Jangan diulangi lagi."


"Baik, Pak. Terima kasih." Yamamura membungkukkan badannya, lalu bergegas memasuki kelas dan duduk di kursinya. Ia menghela napas lega.


"Fyuh. Untung saja aku masih selamat. Sepertinya Dewi Keberuntungan sedang berpihak padaku karena ini hari ulang tahunku."


—————————————————————————


Matahari semakin lama semakin meninggi dan kini sudah mencapai puncak langit. Bel pulang untuk SD berbunyi dengan nyaring. Beberapa menit berselang, murid-murid SD berebutan keluar kelas dan meninggalkan gedung sekolah, termasuk Yamamura. Ia menunggu di dekat gerbang sekolah sambil mengedarkan pandangan, mencari adiknya di tengah keramaian.


"Dia di mana, sih?" ucapnya.


"Kakak!!"


Sosok seorang bocah berambut biru muncul dari balik keramaian, tampak sedang berlari ke arah Yamamura. Tampak jelas bahwa dia adalah adiknya, Aojin.


"Akhirnya kau muncul juga." Yamamura menyilangkan tangannya dengan ekspresi yang terlihat kesal.


"Huh? Ada apa? Kenapa kakak kelihatannya sedang ma-"


Kepalan tangan Yamamura mendarat dengan keras di kepala Aojin, memunculkan sebuah benjol yang lumayan besar di sana.


"Adaaaawww!!!" Aojin meraba benjol di kepalanya sembari meringis kesakitan. "Apa, sih?! Tiba-tiba mukul-"


*sraatt!!*


Yamamura menggenggam erat kerah baju Aojin dengan tatapan yang tajam bagaikan pisau. "Kau kenapa tadi pagi meninggalkanku, pengkhianat?! Gara-gara kau tidak membangunkanku aku jadi telat, tahu!!!"


"Egh-Eeeggh .... Itu karena kau gak bangun-bangun meskipun jam weker sudah berbunyi." Aojin menjawab dengan susah payah di tengah cekikan.


"TERUS KENAPA GAK KAU BANGUNKAN?!"


"So-Soalnya ...."


"Hahh ..., sudahlah." Yamamura melepaskan tangannya dari kerah baju Aojin. "Nanti dilihat orang malah dikira aku melakukan bullying."


"Eh?!" Kedua mata Yamamura membelalak ketika dia menyadari bahwa guru killer yang tadi pagi mengajar sudah memperhatikannya sedari tadi dengan muka merah padam.


"A-Anu, Pak!! Itu yang tadi saya cuma bercanda. Ya, 'kan?" Yamamura buru-buru merangkul Aojin supaya tidak kena omel.


"IKUT SAYA KE RUANG GURU!!!"


"Baik ...." Dengan muka pucat dan lesu, bocah berambut keemasan itu pun mengikuti sang guru, sementara adiknya mengekor di belakangnya.


"Benar-benar hari yang buruk ...."


To be continued


Next Chapter:


[Season 2] Chapter 8: Birthday in Loneliness


Hehe Slice of Life dulu kita. Biar gk stres kebanyakan action XD Tenang, di chapter 15-an nanti plot aslinya akan mulai, kok. Author juga gamau nih novel jadi kayak Boruto yang kebanyakan SoL.


Terima kasih sudah membaca chapter ini dan sampai jumpa di chapter berikutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa comment, kritik, dan saran yaa ^^ Bye byee!!


-Author