
Matahari semakin condong ke arah barat. Jarum pendek jam sudah menunjuk angka lima. Langit biru yang tadi memancarkan begitu banyak cahaya mulai sedikit meredup, menandakan bahwa hari telah sore. Meskipun begitu, Ryugai dan Yuukaru belum juga pulang. Namun, Yamamura masih saja menunggu dengan wajah penuh harap di sofa dekat pintu masuk, di ruang tamu.
"Mereka masih belum datang juga, ya, kakak?" tanya Aojin sambil memasuki ruang tamu selagi mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Dia baru saja selesai mandi.
"Ya." Yamamura menyahut tanpa menoleh, kemudian menghela napas berat. "Sepertinya mereka benar-benar lupa."
"Kita tunggu saja," ujar Aojin.
"Tapi ..., tinggal satu jam sampai waktu kelahiranku."
"Sudahlah. Setidaknya masih ada harapan."
"Kau benar. Baiklah."
——————————————————————————
Sementara itu, di tempat Yuukaru ....
"Lain kali, lihat-lihat papan rambu dulu baru parkir, ya," nasihat Yuukaru sambil meletakkan surat tilang di atas mobil.
"Baik. Maaf, ya." Si pelanggar membungkukkan badannya. Dia baru saja ditegur dan diminta membayar sejumlah uang denda karena parkir di wilayah dilarang parkir. Ia agak ceroboh karena tidak memerhatikan papan hologram bergambar huruf P dicoret yang terletak tak jauh darinya.
"Baiklah. Anda boleh pergi." Yuukaru melangkah mundur, mempersilakan sang pengendara untuk kembali masuk ke dalam mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
"Huft. Hari ini lumayan banyak juga pelanggarnya." Polisi wanita tersebut menghela napas. Dia tersenyum sembari memerhatikan pohon-pohon sakura cantik yang berderet rapi di bahu jalan. Angin berhembus diiringi suara mesin kendaraan yang sudah tidak sebising dekade-dekade sebelumnya karena sudah ramah lingkungan.
"Sakura yang indah. Keindahan musim semi memang tidak pernah hilang ditelan oleh zaman."
"Eh? Tunggu dulu. Musim semi?" Sesuatu melintas di kepalanya. Dia berpikir keras, berusaha mengingat-ingat apa sesuatu itu. Akhirnya sel otaknya berhasil menemukan berkas yang sedari tadi dicarinya. Kedua mata Yuukaru membelalak seketika.
"Oh, ya!! Aku lupa!!"
Wanita berambut keemasan itu bergegas menekan tombol di jam tangan hologram yang melingkari pergelangan tangannya. Sebuah layar hologram segera muncul, menampilkan tanggal hari ini, yakni 17 April 2091.
"ASTAGA!!! AKU LUPA!!!" jeritnya, membuat pejalan kaki di sekitar kaget.
"Eh?"
"Ada apa, Bu Polwan?"
Yuukaru segera memasuki mobil polisi miliknya, menginjak pedal gas, dan pergi dari sana untuk menghindari malu sekaligus menghemat waktu. Dia melihat sekali lagi ke arah jam tangan hologram miliknya. Tertera angka 17:10.
"50 menit. Kira-kira sempat atau tidak, ya?" ucapnya. "Ah, sudahlah!! Bodo amat. Yang penting, izin dulu."
Yuukaru mengambil hologram phone miliknya, lalu segera menelepon suaminya. Di panti asuhan, dering pertanda telepon dari ponsel hologram terdengar oleh Ryugai. Dia mengambilnya dan wajah Yuukaru muncul di layar tipis transparan tersebut.
"Ada apa, Yuukaru?" tanyanya. "Kukira kau sedang sibuk berpatroli."
"Ini lebih penting dari patroli, Ryugai!!" ujar Yuukaru.
"Apa yang lebih penting daripada pekerjaan?" Ryugai menautkan alisnya.
"Kau lupa? Hari ini tanggal 17 April!!"
"Apa?!" Ryugai terperanjat. "Berarti ...."
"Ya. Hari ulang tahun Yamamura. Dan kita malah sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing di sini. Dia pasti sudah menunggu kita dengan perasaan hampir putus asa di rumah!!"
"Tunggu, bagaimana caramu mengajukan izin?"
"Aku akan berpura-pura tidak enak badan nanti."
“Wah, skill aktingmu masih ada, tidak, ya?”
"Bodoh!! Sekarang bukan saatnya untuk membicarakan itu. Tinggal 45 menit lagi sampai waktu kelahiran Yamamura, lho!!"
"Ya, ya. Aku paham. Baiklah, aku juga akan bersiap-siap."
"Cepatlah!! Nanti kita terlambat."
To be continued
Next Chapter:
[Season 2] Chapter 10: Hadiah