
"Apa ini? Quest?"
"Tapi ..., dari siapa?"
Yamamura memperhatikan dengan teliti jendela bertuliskan informasi-informasi mengenai quest tersebut.
...[ | Special Quest Series |...
...Quest 1...
...Quest Title: Nightmare of Christmas....
...Quest Order (1): Pergilah menuju Winter Region dengan mengikuti penunjuk arah di map....
...Rank: ???...
...Place: Winter Region....
...Reward: ???...
...Client: ???...
Accept?
...○Yes ○No ]...
"Apa ini?" Yamamura memicingkan kedua matanya. "Klien dan rank-nya tidak diketahui, sepertinya quest ini agak berbahaya. Bagaimana kalau ternyata ini quest rank S ke atas?"
"Lokasinya di ... Winter ... Region?"
*deg!!*
Jantung Yamamura berdegup kencang. Wajahnya seketika pucat pasi. Keringat dingin kembali mengaliri tubuhnya.
"I-Itu ...."
Kilasan tentang mimpi buruknya tadi kembali membayangi benaknya. Ketakutan akan kematian kembali menghinggapinya. Lokasi quest tersebut adalah di area bersalju, persis dengan lokasi kematiannya di mimpinya tadi. Dia mulai ragu kalau yang dia alami di dalam mimpinya hanyalah mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi.
"Jangan-jangan ... yang tadi bukan sekedar mimpi?!"
"Jangan-jangan itu ramalan?!"
"Sial .... Tolak atau terima, nih?"
"Tapi kalau aku terima, mungkin aku bisa mati!!"
"Kurasa lebih baik ..., kalau kutolak saja ...."
Telunjuk tangan kanan Yamamura bergerak untuk menekan opsi No. Namun, tombol itu ternyata tidak bisa ditekan.
"Sialan .... Buat apa dia memberiku opsi kalau pada akhirnya aku dipaksa menerima quest ini?!" Ia berdecak kesal.
"Tapi, gimana, nih? Taruhannya nyawaku. Resikonya terlalu besar. Ini bukan game lagi. Orang misterius yang muncul saat insiden force logout waktu itu juga bilang kalau game ini tidak didesain untuk survival maupun death game, tapi ...."
"Dia tidak bilang kalau aku mati di sini maka aku tidak akan mati di dunia nyata, 'kan?"
"Apa jangan-jangan, orang misterius itu memang berniat untuk-"
Yamamura menggigit bibirnya. Dia benar-benar kebingungan.
"Kalau aku mati di sini ..., semua impian ..., semua kenangan ..., dan semua cita-citaku ... akan lenyap tanpa bekas ...."
"Aku akan mati dalam kesia-siaan, tanpa memberikan sesuatu yang layak untuk dikenang oleh orang lain. Seiring waktu berjalan, namaku akan dilupakan .... Aku ... tidak mau mati seperti itu!! Aku bahkan belum membangun relasi di dunia ini. Aku tidak mau mati dalam keadaan tidak siap dan ketakutan!!"
"Aku ... juga belum menemukan sesuatu yang bisa kulindungi."
"Kalau ini seperti di film-film, mungkin aku akan mati secara dramatis demi melindungi sesama player ..., tapi di sini ..., aku sendirian. Tidak ada sesuatu yang bisa kulindungi. Tidak ada sesuatu yang bisa kuanggap berharga. Semuanya ..., tertinggal di dunia asli ...."
"Apa aku akan terus bertarung dengan mempertaruhkan nyawaku, demi tujuan yang tidak jelas seperti ini? Kurasa lebih baik aku berhenti bertarung dan mengabaikan quest ini. Kota ini adalah satu-satunya safe zone yang kupunya sekarang. Jika aku diam di dalam sini, maka aku akan aman."
"Tapi ..., jika aku melakukan itu ... maka aku tidak akan bisa kembali ke dunia nyata. Lagipula, persediaan uang yang diberikan kepadaku sebagai seorang player pemula tidak terlalu banyak. Tak lama lagi, semua uang itu pasti akan habis. Dan jika aku tidak bekerja sama sekali ...."
"Tidak ..., kalau itu aku memilih opsi itu ..., maka aku akan terlihat seperti seorang pengecut .... Kurasa mati karena bertarung itu lebih baik daripada mati sebagai pengecut .... Walaupun ..., aku tidak akan mati sebagai pahlawan ... dan meregang nyawa sebagai seseorang yang gagal ...."
Yamamura mengepalkan tangannya. Keningnya mengkerut. Keseriusan mulai tampak di wajahnya. Tekadnya telah bulat. Dia tidak akan takut lagi. Dia tidak akan berniat untuk kabur lagi. Dia memilih ... untuk bertarung ....
"Kematian memang mengerikan, tapi takut akan kematian lebih buruk dari kematian itu sendiri. Jadi, aku tidak akan takut lagi ...."
"Aku tidak akan lari!!"
To be continued