
"Oh. Begitu, ya." Senyum riang terukir di wajah Ryugai. "Baguslah kalau begitu."
"Ngomong-ngomong, kau sekarang bekerja sebagai apa?" tanya Yuukaru.
"Ukh!!" Ryugai nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Bu-Bukan urusanmu!!”
"Apa? Bilang saja." Tatapan mengejek mulai terpancar dari mata Yuukaru.
"Pe-Pengurus panti asuhan ...," jawab Ryugai sembari menundukkan kepalanya karena malu.
"Bhaks!!" Yuukaru yang tak bisa menahan tawanya pun tertawa terbahak-bahak. "Hahahahaha!!!"
"Jangan tertawa, bodoh!! Wajar, 'kan?! Perbuatan kriminal yang kulakukan lebih besar!! Mustahil ada sekolah yang mau menerimaku kembali."
"Hahahaha. Memang, sih." Yuukaru mengelap air mata tertawanya. "Tidak apa, Ryugai. Apapun pekerjaanmu tidak masalah. Yang penting jangan sampai kau melakukan hal kriminal lagi."
"Iya, iya. Aku tahu itu." Ryugai berujar sambil memutar matanya dengan malas dan mengorek-ngorek telinganya menggunakan jari kelingking.
"Ah ..., ngomong-ngomong ..., tentang surat itu ...." Wajah Yuukaru mulai memerah. "Apa jawabanmu?"
"Eh? Yang mana?"
*gedubrak!!!*
Dasar si Ryugai. Merusak adegan bagus saja. Padahal tadi yang tadi itu nyaris saja menjadi adegan romantis yang sempurna.
"Jangan bilang kau lupa." Bulir keringat mulai mengaliri kening Yuukaru.
"Yang mana, sih?" Ryugai berusaha mengingat-ingat.
"YANG KUTINGGALKAN DI BANGKU TAMAN SEBELUM PERGI!!!"
"Oh, iya. Yang itu, ya. Santuy dong, tante. Jangan ngamuk."
"APANYA YANG TANTE?! AKU INI MASIH GADIS, TAHU!!"
"Eh, maaf, mbak."
"MBAK, MBAK. KAU KIRA AKU KASIR SUPERMARKET?!"
"Ah, sial. Jadi cowok memang selalu salah."
(Author: *jewer kuping Yuukaru sama Ryugai*
Yuukaru & Ryugai: Adududuh sakit, thor!!
Author: YANG BENER AKTINGNYA!!! UDAH CAPEK GUA BIKIN SCRIPTNYA, NIH!! >:V
Ryugai: Iya, iya, thor. Baperan amat :((
Author: Bilang sekali lagi .... >:v
Ryugai: Ampun, thor.
Author: Baiklah, hiraukan yang tadi. Mari kita lanjutkan :v Btw ini kok malah jadi adegan komedi dah.)
"Jadi, apa jawabanmu?" Yuukaru memindahkan tangannya dari setir mobil dan menyilangkan kedua lengannya di batas jendela.
"Tentu saja ... aku terima ... pernyataan cintamu ...." Wajah Ryugai juga mulai memerah seperti tomat.
"Benarkah?!"
"Ya .... Sebenarnya yang dikatakan oleh teman-teman di akademi itu benar ...."
"Tanpa kusadari ..., aku juga ... mencintaimu ..., Yuukaru ...."
"Jadi, kau bersedia menikahiku?!"
"Tentu saja."
"HOREEEEE!!!" Kebahagiaan Yuukaru pun langsung meledak. "Kalau begitu, ini nomor teleponku." Wanita muda berambut keemasan itu menyerahkan secarik kertas kecil kepada Ryugai.
"Terima kasih," sahut Ryugai sembari mengambil kertas kecil tersebut.
"Ah, tunggu. Bukannya di sana dilarang parkir?" Kedua pandangan Yuukaru mendadak menangkap sebuah mobil yang sedang parkir di kejauhan, tepat di sebelah papan tanda dilarang parkir. "Maaf, Ryugai. Aku harus bertugas. Sampai nanti!!" seru gadis itu sebelum menginjak pedal gas. Mobil patroli bergegas bergerak maju.
"Ya. Sampai nanti!!" Ryugai melambai-lambaikan tangan kanannya. Tanpa disadari, air mata haru menggenangi sudut matanya. Dia bergegas menyekanya menggunakan jari telunjuk.
"Dasar. Wanita menyebalkan itu sama sekali tidak pernah berubah."
————————————————————————————
Hari pernikahan.
Ryugai POV
Suasana di gedung pernikahan tampak sangat meriah. Kupikir Yuukaru tak punya banyak kenalan, tapi ternyata banyak juga yang datang ke pesta pernikahan kami. Mayoritas adalah teman-teman seangkatannya dulu, sisanya adalah sesama pengurus panti asuhan tempatku bekerja, anak-anak panti asuhan, pemilik apartemen tempatku tinggal, dan kenalan-kenalanku. Ya, apa boleh buat. Mungkin mereka semua merasa bersalah sudah membuat Yuukaru menderita di masa lalu. Lagipula, Yuukaru adalah gadis yang periang dan ceria. Bukan hal yang aneh jika dia bisa berteman dengan sangat cepat.
Yang berada di hadapanku saat ini adalah calon istriku sendiri, dengan rambut keemasan yang diikat menggulung ke belakang dan tubuh ramping yang dibalut oleh gaun pengantin. Dia terlihat benar-benar cantik, membuat wajahku merona. Senyum segera tergambar di wajahku.
"Dengan ini. Kalian sudah resmi menjadi suami-istri," ucap Sang Pendeta.
"Terima kasih banyak, Pak Pendeta," ujar Yuukaru sembari tersenyum ramah, kemudian dia menggenggam tangan kananku. Sensasi ini membuat jantungku berdebar kencang.
"Hihihi ...." Aku cekikikan sendiri entah kenapa.
"Kenapa? Dasar aneh." Yuukaru turut cekikikan.
"Tidak. Aku merasa aneh saja. Dulu sikap kita berdua terhadap satu sama lain seperti kucing dan anjing. Sekarang kita malah saling jatuh cinta. Ini drama atau apa, ya? Apa aku sedang bermimpi?"
"Bodoh. Kalau kau sedang bermimpi, pasti aku sudah menamparmu sampai terbangun."
"Kau masih tetap gadis yang kasar dan menyebalkan, ya."
"Mau kujitak? Lumayan sekalian nostalgia. Sudah lama aku tidak menjitakmu."
"Hoi, nanti dilihat para undangan. Hahahaha."
(TN: Maap gadak adegan ciuman, takut banyak readers anak kecil baca trus mulai main pacar-pacaran sejak dini. Ntar author yang disalahin lagi :"v)
————————————————————————————
Sepuluh tahun kemudian.
23 Desember 2088.
Tokyo New Central Trading Center.
"Wah, pohon natal yang bagus!!" Seorang anak lelaki berambut biru pendek berlari-lari dengan riang mendekati pohon natal besar yang berhiaskan pernak-pernik natal.
"Ya, benar-benar bagus!!" Anak lelaki lainnya menyusul si anak berambut biru. Gaya rambutnya agak acak-acakan dan berwarna keemasan.
"Hei, hei. Awas jatuh." Ayah dari kedua anak tersebut berjalan dengan santai mendekati mereka berdua. Ryugai Yuzumoto. Rambutnya masih berwarna biru, hanya saja sekarang gaya rambutnya terlihat lebih rapi, walau kesan acak-acakannya masih sedikit terlihat. "Kalian mau difoto?"
"Boleh!!" sahut kedua anak tersebut serempak.
"Mereka berdua mengingatkanku kepada anak-anak panti asuhan di dunia virtual itu." Yuukaru yang sedang berdiri di samping Ryugai menimpali. Masih dengan rambut keemasan panjangnya, hanya saja sekarang rambutnya dibiarkan tergerai bebas.
"Maksudmu Purity Online?" Ryugai menoleh menatap istrinya.
"Sudah lama sekali sejak kita meninggalkan dunia itu, ya ...." Ryugai memandangi bintang natal yang tergantung di puncak pohon natal. "Otomura ..., pemuda itu apa kabarnya sekarang, ya?"
"Entahlah. Tapi, kurasa dengan berbekal pelajaran berharga dari beta test Purity Online, kehidupan dunia yang keras bukan lagi penghambat baginya. Mungkin saat ini dia sudah hidup bahagia, sama seperti kita."
"Semoga saja kita bisa bertemu lagi dengannya ...."
"Ya ...."
"Hei, ayah, ibu!! Apa yang kalian bicarakan? Aku juga mau dengar!!" Anak-anak dari Ryugai dan Yuukaru menghampiri mereka berdua.
"Ah, ini hanya obrolan orang dewasa," sahut Ryugai. "Ngomong-ngomong, kalian jadi difoto?"
"Jadi, dong!!"
"Kalau begitu, bersiaplah." Ryugai memunculkan sebuah kamera hologram tepat di depan wajahnya melalui cincin chip di jari telunjuk tangan kanannya. “Yuukaru, kau juga ikut. Tenang saja, aku juga akan ikut berfoto nanti."
"Baik," ujar Yuukaru sambil berjalan dan menempatkan dirinya di samping kedua putranya.
"Siap, ya!! Senyum ...."
"Bilang ... cis!!"
Yuukaru beserta kedua anaknya bergegas berpose dan tersenyum. Suara jepretan kamera terdengar setelahnya.
"Berpartisipasi dalam eksperimen Purity Online yang menyebalkan itu ... ternyata bukan sebuah keputusan yang salah."
"Sekarang, aku berhasil mendapatkan tujuan hidupku yang baru. Aku memang sudah berpisah dengan orang-orang dari Purity Online, tapi masih ada orang-orang baru yang harus kulindungi. Kedua putraku, Yamamura dan Aojin. Aku akan membangun masa depan untuk mereka berdua."
"Mungkin ke depannya, perjalanan hidupku tidak akan berjalan dengan mulus. Berhasil lolos dari takdir yang kejam bukan berarti aku takkan bertemu lagi dengan takdir yang sama kejamnya. Tapi, aku tak akan lari dari hidup yang pahit dengan melakukan tindakan kriminal lagi. Aku akan menghadapi takdir kejam itu ... dengan tanganku sendiri ...."
"Seperti seorang pahlawan yang berdiri sendirian dengan tekadnya yang teguh di tengah medan pertempuran. Tak gentar, meski lawannya terlihat seratus kali lipat lebih kuat daripada dirinya."
—————————————————————————————
Sementara itu ....
"Ah, sial!! Kenapa otakku malah buntu di saat seperti ini?!" Otomura yang sedang duduk menjatuhkan kepalanya ke meja kerjanya. Sebuah komputer dan papan ketik hologram terletak di depan wajahnya, memberi sedikit cahaya pada kamar yang gelap tersebut. Ya, Otomura. Masih dengan rambut emasnya yang pendek, hanya saja sekarang rambutnya terlihat lebih acak-acakan. Mungkin efek dari sering kerja lembur.
"Sial .... Kenapa aku malah memilih pekerjaan ini? Ya ..., tapi ini salah satu pekerjaan yang paling mulia, sih. Profesi yang mengarahkan orang-orang ke jalan cahaya melalui kisah-kisah dan tulisan-tulisan yang lahir dari imajinasi."
"Lagipula, sedari awal aku mulai masuk dunia kepenulisan bukan karena uang, tapi karena aku ingin memotivasi orang-orang untuk mewujudkan dunia tanpa penderitaan, ratapan, dan kutukan."
"Yuukaru dan Ryugai .... apa kabar mereka sekarang, ya? Atau jangan-jangan mereka sekarang sudah menikah? Sudah 17 tahun kami tidak bertemu."
Otomura bangkit berdiri dari kursinya dan melangkah menuju beranda, lalu dia membuka jendela yang menjadi pembatas antara kamar dengan beranda, berniat mencari udara segar. Namun, yang dia dapatkan malah suara bising alarm yang membuat jantungnya nyaris melompat keluar dari rongga dada, disusul oleh suara gebrakan pintu. Otomura menoleh dan mendapati bahwa editornyalah yang membuka pintu kamarnya secara kasar.
"Apa yang anda lakukan?! Anda mau kabur, ya?!"
"Eh, tidak!! Aku cuma mau mencari udara seg-"
"Halah, jangan bohong!! Pokoknya bapak tidak boleh keluar selangkah pun dari kamar ini sampai naskahnya selesai!!!"
"EEEEHH?! KOK BEGITU?!"
"Titik!! Gak ada koma." Sang Editor berujar dengan nada tegas tanpa menoleh. Dia meninggalkan kamar, kemudian menutup pintu.
"Tunggu, Pak Editor!! Itu terlalu kejam untuk saya."
"Saya tidak peduli!!" seru editor tersebut dari luar kamar.
"Heeeeiii!!!"
(Author: awokwokwokwok
Otomura: Jangan ketawa lu >:v)
"Sialan!!" Dengan mata yang setengah tertutup karena kurang tidur, Otomura membanting bokongnya ke kursinya sembari menggerutu. "Sampai memasang alarm begitu, editor otoriter itu niat sekali, sih!!"
"Sekarang ..., apa yang harus kutulis? Aku sudah kehabisan ide. Sial. Mana deadline-nya sudah dekat."
"Eh, tunggu, tunggu!!" Mendadak, sebuah ide terlintas di kepala Otomura. "Kenapa aku tidak mengambil plot dari masa laluku saja?! Dari pengalaman yang satu itu .... Pengalaman yang paling berharga dalam hidupku, beta test itu!!"
Semangat Otomura untuk menulis novel mulai meningkat pesat. Jari-jemarinya mulai menekan tombol-tombol tipis di keyboard hologram hingga menghasilkan suara yang berirama. Senyum penuh semangat tergambar di bibirnya.
"Bodohnya aku. Kenapa aku tidak terpikir ide ini dari awal? Padahal banyak bagian dari masa laluku yang bisa dijadikan bahan plot."
"Novel ini akan bercerita tentang seorang remaja lelaki bernama Otomura Yamato yang sudah dihadapkan kepada kejamnya hidup sejak dini hingga dia terjerumus ke dalam kriminalitas. Dia kemudian dipenjara dan ditawari kesempatan oleh kepolisian untuk menjalani beta test dari sebuah game rehabilitasi untuk para pembunuh."
"Judul dari novel ini ... adalah ... Purity Online!!!"
"Hmph, sepertinya ide ini bagus juga. Baiklah, mari kita lanjut menulis!!"
———————————————————————————
Seminggu kemudian.
"Setelah masa eksperimen Purity Online milik Ryugai usai, Otomura Yamato akhirnya kembali ke dunia nyata setelah satu kali menolak takdir. Dia harus berpisah dengan Ryugai dan Yuukaru, tapi kali ini dia tidak lagi menjalani kehidupan dengan penuh kebencian dan tak pernah lagi melakukan kriminalitas."
"Tujuh belas tahun berlalu. Kini, Otomura menjadi seorang novelis yang terkenal hingga ke negara-negara tetangga. Tentu saja dia melakukannya bukan demi uang, tapi karena dia ingin mewujudkan dunia kebahagiaan yang diimpikan oleh adiknya, Iruna Yamato. Ketika writer block mulai menghampiri dirinya, Otomura mendapat ide untuk menciptakan plot novel berdasarkan masa lalunya. Judul dari novel tersebut adalah ...."
"Purity Online ...."
"Dan ..., tamat!!" Ryugai menutup buku yang sedang dibacakannya kepada anak-anak kembarnya, Yamamura dan Aojin. Meski teknologi sudah sangat maju di era ini, masih ada beberapa negara yang tidak mau meninggalkan sistem literasi karena mereka merasa bahwa sistem itu berdampak lebih positif terhadap perkembangan otak daripada sistem online. Jepang adalah salah satunya.
"Hei!! Ceritanya sudah tamat, lho!!" Ryugai menoleh ke arah kedua anaknya yang sedari tadi hanya diam saja. "Ah. Sudah tidur, ya?"
Pria berambut biru tersebut menatap tulisan 'Purity Online' dan 'Otomura Yamato' yang terukir jelas di cover buku, kemudian pandangannya beralih memandang keempat cincin elemen yang masih terpasang di jari-jari tangan kirinya.
"Semuanya ...."
"Kelihatannya ..., kita sudah mencapainya ...."
"'Happy Ending' yang selalu kita impi-impikan ...."
-END-
TERIMA KASIH BANYAK ATAS SUPPORT KALIAN SELAMA INI. TANPA KALIAN NOVEL INI MUNGKIN TAKKAN BISA TAMAT KARENA TANPA BATERAI (DUKUNGAN DARI READERS) SEBUAH ROBOT (SEORANG AUTHOR) TIDAK ADA GUNANYA.
———————————————————————————
"Haaahh ..., melelahkan sekali ...." Sang remaja lelaki berambut hitam pendek berhenti mengetik, kemudian meregangkan tubuhnya sejenak. Layar-layar yang menampilkan gambar-gambar dari dunia novel Purity Online mulai dipenuhi oleh warna hitam legam.
"Ending yang cukup mengharukan. Semoga saja para readers suka dengan ending yang satu ini. Baiklah, selanjutnya adalah SpiRaTenGami. Aku tidak akan berhenti menulis ..., selama ide masih mengalir deras di dalam kepalaku seperti air terjun!!!" Si remaja tersenyum penuh semangat, sementara layar-layar yang tadinya berwarna hitam mulai menampilkan gambar-gambar dari dunia 'Spirit God Kara, Tensei Shitara Shinigami Ni Natta?!', tepatnya dari arc Perampok Bertopeng.
"Sibuk sekali, ya, Creator-sama?" ucap seorang pemuda berambut putih sambil meletakkan secangkir teh di meja kerja si remaja. "Tak perlu terlalu memaksakan diri anda. Minum teh saja dulu."
"Ah. Terima kasih, Shiro," ucap remaja yang ternyata merupakan Sang Creator. "Eh?! Tunggu!!" Tiba-tiba wajah remaja itu memucat. "Bukannya Shiro sudah kubunuh saat arc Turnamen Maximus Potentia kemarin?!"
"Berarti ...." Dengan gerakan kaku bagaikan robot karena takut, Creator menolehkan kepalanya ke samping. Tampak Shiro tak ada di tempat dia tadi berdiri.
"WAAAAAAAAA!!! HANTU!!!"
(Ryugai: Plot Creator tapi kok takut sama hantu -_-' Anda Creator betulan atau bohongan, sih? Payah sekali.
Author: Diam kau, character lacknad!! >:v)