Purity Online - The World For The Fallens

Purity Online - The World For The Fallens
[Season 2] Chapter 53: Colonius Tiger (2)



"Ini gawat .... Benar-benar gawat!!!"


Wajah Yamamura semakin pucat pasi melihat kawanan harimau yang sedang berdiri tak terlalu jauh darinya itu. Ukuran tubuh mereka memang tak terlalu besar, bahkan mungkin lebih kecil daripada Harimau Bali. Namun, dengan jumlah sebanyak itu, ditambah usia Yamamura yang masih belia, skill-nya yang tak terlalu banyak, dan rank-nya yang rendah, harimau-harimau tersebut menjadi ancaman yang amat berbahaya.


"Mereka bisa saja menjadi malaikat maut bagiku. Aku harus berhati-hati ...," batin bocah berambut emas itu sambil terus berusaha agar tidak terlihat ketakutan meskipun keringat dingin mulai mengaliri tubuhnya. Ketika berhadapan dengan hewan buas, terlihat ketakutan akan menjadi sinyal bagi hewan tersebut untuk menyerang.


"Sepertinya kemungkinan aku menang sangat kecil, mengingat kawanan ini mampu bersaing dengan pack Dire Wolf dalam waktu yang cukup lama ...."


Hati Yamamura mulai kecut dan diliputi oleh perasaan putus asa, tapi dia bergegas menguatkan hatinya kembali.


"Tapi ..., kalau aku diam saja ... kemungkinan itu akan menyusut menjadi nol!!"


"Lari juga percuma, karena mereka pasti bisa mengejarku."


"Aku harus melawan ..., tak peduli siapa yang akan menang!!"


"Di dunia di mana hanya yang paling layak yang bisa bertahan ini ..., aku harus terus bertarung tak peduli seperti apapun kondisinya!!"


Yamamura meneguk liurnya dan bersiap untuk bertarung. Beberapa saat kemudian, salah satu dari harimau tersebut berlari dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Secara refleks, adventurer muda itu melindungi diri menggunakan pedangnya. Ia berhasil menangkis serangan harimau pertama, walau tubuhnya harus mendapat beberapa luka memanjang.


"Uwargh!!!"


Yamamura berseru kesakitan saat taring tajam milik harimau kedua menancap di bahunya. Darah mengalir dari luka gigitan tersebut. Namun, ia tetap berusaha untuk tak bergerak demi menjaga agar mulut harimau pertama tak terkatup. Dia bisa melihat harimau ketiga, keempat, dan kelima berjalan ke arahnya.


"Sudah kuduga, aku kalah jumlah!!!"


Ia menggigit bibirnya, tampak putus asa. Darah mengalir semakin deras dari luka-lukanya.


"Apa aku ... akan mati?"


Di saat keputusasaan tersebut sudah hampir mencapai puncaknya, mendadak suara dari system terdengar.


[Pemberitahuan: Besarnya damage yang diterima telah mengaktifkan 'Emergency Mode'. Skill Pyro Arrow naik tingkat menjadi Ignis Arrow untuk sementara waktu.]


"Skill baru? Tidak, lebih tepatnya skill lama yang naik tingkat."


"Aku harus ... tetap hidup untuk mencobanya!!!"


Laser berwarna merah terang terpancar dari kedua mata Yamamura, mengiritasi mata harimau pertama hingga feline buas tersebut mundur dan berguling-guling di tanah. Menyadari bahwa pedangnya telah bebas, bocah itu segera menggunakannya untuk menikam harimau kedua tepat di jantungnya, kemudian ia memunculkan sebuah anak panah dan melemparkannya ke dahi harimau pertama dengan akurasi yang menakjubkan. Kedua harimau tersebut tewas seketika.


(Author: Mungkin harimaunya perlu Insto :v


Yamamura: Sssttt!! Diem, thor!! Lagi adegan bagus, nih. Jangan merusak adegan epic saya _- Sana balik ke ruangan plot creator!!!


Author: Iya, iya. Galak amat.


Melihat dua rekannya tewas, harimau ketiga, keempat, dan kelima pun semakin murka. Mereka berlari dengan cepat ke arah Yamamura. Namun, sambil tersenyum jahil, bocah itu memunculkan Ignis Arrow serta melemparkannya ke tanah berlapis dedaunan dan ranting kering. Secepat kilat, api membesar dan membakar lantai hutan. Ketiga harimau tadi langsung melompat kaget dan berjalan mundur dengan ketakutan.


"Ignis Arrow punya kecepatan menyebarkan api yang lebih tinggi daripada Pyro Arrow dan kobaran apinya lebih dahsyat. Ditambah dedaunan dan ranting kering yang melapisi lantai hutan serta cuaca yang terik. Benar-benar combo yang hebat!!!" batinnya sambil menyeringai, mengagumi strategi buatannya.


"Sekarang yang perlu kulakukan hanya satu!!"


Yamamura memunculkan tujuh buah Ignis Arrow lagi dan melemparkannya ke tujuh arah mata angin yang tersisa secara berurutan searah jarum jam. Api menyebar dengan amat cepat, membentuk lingkaran api yang mengelilinginya. Para harimau terlihat ragu-ragu dan tak berani maju kembali. Kesempatan itu digunakan oleh Yamamura untuk menyembuhkan diri.


"Hewan liar mana yang tidak takut dengan api? Selapar apapun mereka, tak mungkin mereka nekat menembus api dan membiarkan tubuh mereka terbakar. Apalagi mereka sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana apiku membunuh teman mereka tadi."


"Tapi, bagi manusia modern yang telah melalui tahap homo erectus ..., api ini sudah seperti seorang kawan baik!!"


Setelah diam di tempat selama beberapa menit, akhirnya pemimpin kawanan harimau memberi sinyal kepada anggota-anggota kawanannya untuk pergi. Mereka memutuskan untuk mencari mangsa lain yang lebih mudah dibunuh. Tak lama kemudian, suara khas system terdengar.


[Pemberitahuan: Masa aktif 'Emergency Mode' telah berakhir. Kenaikan tingkat yang diberikan akan segera ditarik kembali.]


[Pemberitahuan: Sehubungan dengan banyaknya EXP yang didapat dari pembantaian satu kawanan Colonius Tiger, anda naik level dari level 18 menjadi level 20.]


"Akhirnya mereka pergi juga ...."


Yamamura terduduk kelelahan sambil menghela napas lega. Napasnya perlahan menjadi teratur kembali. Luka-luka di tubuhnya mulai menutup berkat skill regenerasinya.


"Tadinya aku berniat beristirahat untuk menghemat cadangan air di dalam tubuh, tapi pada akhirnya cadangan air itu tetap terbuang lewat keringat yang keluar saat aku bertarung. Sial. Bukannya merasa lebih baik, sekarang aku malah jadi semakin haus. Mana aku juga belum makan."


Adventurer muda itu menengadah, menatap langit biru yang dihiasi awan-awan. Matahari yang berada hampir tepat di arah barat laut menunjukkan bahwa sore hari semakin dekat.


"Wah, sudah mau sore," ucapnya. "Aku harus segera menemukan makanan, minuman, serta tempat untuk berlindung."


"Tapi, untuk sekarang ...."


Dia bangkit berdiri, kemudian berjalan ke arah pohon yang tadi digunakannya untuk berteduh dan duduk di bawahnya.


"Aku akan memulihkan tenaga dan meminimalisir penguapan cairan tubuh terlebih dahulu. Setidaknya untuk tiga puluh menit ke depan."


To be continued


Seperti biasa, terima kasih telah membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, rate, dan comment. Saya selaku author pamit maju diri, eh undur diri. Bye bye!!


Next Chapter:


[Season 2] Chapter 54: Hukum Piramida Kehidupan